Habib Puang Makka: Jangan Banding-bandingkan para Wali Allah

“Pesan para mursyid, jangan membanding-bandingkan antara wali yang satu dengan wali lain, wali-wali Allah semuanya terbaik, dan menggambarkan sifat Al Ghani-nya Allah,” demikian ungkap Al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf pada acara Muzakarah Tarekat JATMAN Sulsel ke 12, Senin (07/09/20).

Menurut Habib Puang Makka, ada sedikit kecenderungan manusia ketika menemukan produk baru, seakan-akan produk lama itu direndahkan. Oleh karenanya salik tidak dibenarkan membandingkan para wali Allah kemudian merendahkan satu sama lain.

Lebih lanjut Puang Makka mengatakan bahwa konsep sufistik sendiri itu disusun oleh para sufi berdasarkan pengalaman spiritual yang dirasakan pada dirinya. Kemudian pengalaman spiritual itu dituangkan dalam sebuah bahasa tulisan maupun lisan.
“Masing-masing wali Allah memiliki pengalaman batin,” imbuhnya.

Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassariy itu mencontohkan bahwa Syekh Hasan Al-Basri ra memiliki konsep tasawuf sendiri, begitupun dari murid ke muridnya. Masing-masing memiliki konsep khusus. Namun, semua konsep yang dikeluarkan itu memiliki korelasi satu sama lain.

“Mengambil dan memastikan hanya satu konsep yang paling benar di antara lainnya, adalah sikap perbuatan yang harus ditinggalkan bagi pesuluk,” tegas Rais Awal Idarah Aliyah JATMAN itu.

Berdasarkan pengalaman, Habib Puang bertemu dan mengambil hikmah dari para masyaikh. Di antara trik-trik bertarekat dari para syekh terdekat ialah Murabbi Habib Husen yang setiap malam membaca 10 ribu shalawat. Lalu Syekh Karim yang suluknya sibuk dengan mendaras hafalan al-Qur’an. Ada juga Syekh Mbah Mujni yang suluknya sibuk zikir dari waktu maghrib hingga pukul 22.00 dan makan hanya sedikit, begitu pula Syekh Mbah Toha.

Kemudian Syekh Al-‘Allamah KH Muh. Nur setelah subuh yang selalu murajaah al-Qur’an. Syekh Puang Ramma, shalat wajib bagi dirinya ada tujuh, yaitu shalat fardhu yang lima ditambah shalat lail dan dhuha. Ada pula seorang wali besar Mbah Lien yang kadang perbuatannya khariqul adat (di luar kebiasaan).

“Karenanya tidak boleh membanding-bandingkan dan membangga-banggakan satu amalan dari wali Allah dengan wali Allah yang lain. Karena seluruh amaliyah di atas kedudukannya kembali lagi kepada qalbu,” pungkas Habib Puang Makka.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...