Habib Puang Makka: Baik Sangka Terhadap Covid-19 (bagian 1/2)

Syekh Sayyid Abdurrahim Assegaf Puang Makka berbicara menyangkut masalah Corona yang dihadapi oleh beberapa negara termasuk Indonesia.

Sejak awal, Habib Puang Makka mengingatkan bahwa masalah yang kita hadapi bukan hanya Corona. Namun, perhatian kita lebih banyak tersedot padanya.

“Sesungguhnya masih banyak lagi sisi lain kehidupan yang kadarnya hampir sama dan bahkan lebih besar problemnya dengan problem kemanusiaan sekarang,” ucapnya.

Persoalan kehidupan dimulai sejak Nabi Adam as. Habib Puang Makka mengingatkan bahwa yang namanya hidup adalah problem dan masalah. Bersyukur sebagai muslim karena senantiasa memiliki pegangan yakni Al Qur’an dan As Sunnah.

Nabi Muhammad Saw berpesan, “apabila kita berpegang pada keduanya insya Allah akan memperoleh keselamatan dan tidak akan tersesat dalam hidup dan kehidupan,” ujarnya.

Rasulullah Saw sebagai teladan, mencontohkan bagaimana menghadapi permasalahan dan problematika kehidupan. Para nabi dan para Auliya serta hamba pilihan-Nya pun demikian bisa kita contoh bagaimana cara menyelesaikan masalah.

Habib Puang Makka menyatakan bahwa manusia dibekali dua potensi kekuatan dalam menghadapi kehidupan. Pertama kekuatan ikhtiar (lahir) dan kedua kekuatan doa (batin).

Rais Awal Idarah Aliyah JATMAN ini menilai bahwa penanganan virus Corona ini sebagaimana diberitakan di media, lebih banyak didominasi oleh ikhtiar secara lahiriah. Kendati demikian, itu sudah baik karena berdasarkan tuntutan Al Qur’an dan Sunnah, memang sudah sepatutnya manusia berikhtiar maksimal.

“Akan tetapi, selain ikhtiar hendaknya kita tidak meninggalkan kekuatan hati, kekuatan iman, kekuatan batin, dan kekuatan aqidah. Bahwa dalam kehidupan kita, ada Zat Yang Maha segala-galanya, pemilik kehidupan, tempat berlindung semua persoalan makhluk,” jelas Mursyid Tarekat Khalwatiyah tersebut.

Dalam al-Qur’an kita dituntun dalam surah An Nas,

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,

مَلِكِ ٱلنَّاسِ

Raja manusia,

إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ

sembahan manusia.

Ayat tersebut semuanya menunjuk wujud Tuhan yang Maha segala-galanya. Lalu di surah lainnya,

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ, مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan. (QS. Al-Falaq : 1-2).

Serta ayat al Qur’an lainnya yang menuntun agar seorang hamba dalam bersikap mengedepankan dan mengandalkan kekuatan ilahiyah di dalam jasad dan hati. Serta berusaha mengoptimalkan hati mempengaruhi pikiran selaku orang beriman.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...