Habib Luthfi: Tarekat dan Nasionalisme

0

PEKALONGAN – Jam’iyyah Ahith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah bukan saja organisasi keagamaan, dan lahan perjuangan bagi pengamal ajaran tarekat al mu’tabarah, yang merupakan salah satu pilar dari ajaran Islam ala ahlussunnah wal jamaah yang telah dirintis dan dikembangkan oleh para salafus shalihin. Yang bersumber dari Rasulullah saw, malaikat Jibril alaihis salam atas petunjuk Allah swt dengan sanad yang mutthashil (bersambung). Namun lebih dari itu keberadaan JATMAN senantiasa merespon segala fenomena yang terjadi dalam kehidupan umat termasuk gerakan nasionalisme.

Dimulai dari spirit melawan kebiadaban penjajah, perjuangan meraih kemerdekaan, hingga mengisi dan mempertahankannya merupakan satu paket yang harus dilalui dan dihadapi. Tidak ada kamusnya bagi setiap pengamal tarekat untuk berpangku tangan tanpa berbuat yang terbaik bagi yang lain. Karena pada diri pengamal tarekat terbersit satu keyakinan bahwa totalitas perjuangan sebagaimana yang diperankan Rasulullah saw merupakan untaian ibadah.

Pancaran cahaya sampai lubuk hati, perilaku mereka yang selalu tazkiyatun nufus, di mana sejatinya itulah tarekat, sehingga memberikan pembelajaran buat kita bahwa tarekat bukan ajang politik, juga bukan bamper politik, namun kewajiban hamba mengabdi pada tuhan, mengabdi pada rasul, patuh pada ulama, menjunjung tinggi auliya’, sadar bahwa umat ini selalu banyak tantangan dan godaan.

Peranan ahli tarekat adalah bagaimana kita memunculkan kesadaran untuk bisa bergaul berama kita dengan baik (ihsan), karena ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan engkau melihat-Nya dan kalaupun engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat kamu.

Cahaya bidzikrillah dengan demikian berarti sudah masuk di dalam lubuk hati, nur iman kalau sudah merasuk di dalam hati dan menyatu menjadi integritas dirinya maka akan berpancar pada yang digerakkan tangan, yang didengar oleh telinga, dan ucapan mulai tutur kata. Yang paling utama mari lisan kita latih dengan kalimat lailaha illallah karena dengannya akan mencetak geralan-gerakan reflek dari kita khususnya ketika sakaratul maut.

Tujuan tarekat keluar dari dunia membawa lailaha illallah, juga menata hati bahwa kalimat thayyibah membawa ketenangan pada dirinya ala bidzikrillah tathmainnul qulub (ar Ra’du 28), yauma la yanfa’u (asy Syu’ara 88-89). Ingat bahwasannya hasanah fiddunya yang dapat menuju hasanah fil akhirah, ila bidzikrillah. Oleh karena itu tarekat bisa melahirkan sikap syukur kepada Allah, ladzdzatul iman (lezatnya iman) bisa meningggikan mahabbah kepada Allah dan rasulullah, karena maqam mahabbah itu di bawah ridha Allah (maqamatul mahabbati tahta maqamaturridha) itulah sebabnya Allah swt berfirman Qul in kuntum tuhibbunallah fattabi’uni yuhbibkumullah wa yaghfir lakum dzunubakum. (Ali Imran: 31)

Orang yang memiliki kesadaran atau kepedulian terhadap sadar diri pasti akan memanusiakan manusia, dimana ada dua asma Allah yang dilabelkan pada diri nabi yaitu raufur-rahim. Ketika sahabat nabi bertanya mata akuna mu’minan shadiqan ya Rasulullah? (Kapan aku dianggap sebagai mu’min ang benar wahai rasul?) Rasul menjawab yaitu ketika engkau mencintai Allah dan mencintai Rasulullah, cinta pada sunah atau tarekatnya dan cinta kepada orang yang dicintainya.

Walyutafattinnasu fil imani ala qadri tafawutihim fi mahabbatih (kalau cintanya pada rasul besar, bisa jadi iman ia besar. Sebaliknya kalau cintanya luntur, maka bisa jadi imannya luntur) melunturkan cinta pada nabi dengan cara menjauhinya dan melunturkan cinta kepada bangsanya.

Dari corak berpikir seperti itulah kemudian dalam sejarah ke-Indonesia-an wujud pejuang-pejuang tangguh, ampuh, dan tulus (mukhlisun) hanya limardhatillah, seperti Syaikh Yusuf al Makassari, Syaikh Abdus Shamad al Palimbani, Pangeran Diponegoro, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Badruddin Kalam dan lain-lain. Itu pun baru sedikit potret bagi sederet Auliyaillah yang juga pejuang bangsa ini. Rasa-rasanya tidak cukup ucapan terima kasih dan pemberian kita kepada mereka kalau dengan hanya mengakomodir mereka sebagai Pahlawan Nasional dan memasang tongkat bersimbol merah putih di dekat pusaranya. Justru yang terpenting adalah mendoakan, mencontoh, dan melestarikan spirit perjuangan mereka hingga akhir zaman.

Dikutip dari Sambutan Rais Aam Jatman pada buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme cet. I 2018

Comments
Loading...