Connect with us

Berita

Habib Luthfi Raih Pengharagaan Ulama yang Menggelorakan Nasionalisme

Published

on

Semarang, JATMAN.OR.ID – Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya mendapatkan penghargaan dari Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2020. Habib Luthfi diberikan langsung piagam dan sertifikat penghargaan di kediamannya di pekalongan pada Selasa (24/11) Sore.

Sebelumnya Habib Luthfi menerima penghargaan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Semarang dalam bidang Komunikasi Dakwah dan Sejarah Kebangsaan.

Gerakan dakwah cinta tanah air yang dilakukan oleh Habib Luthfi memiliki peran penting untuk menumbuhkan nasionalisme. Syiar Islam yang dibawanya terdapat karakteristik tersendiri sehingga mudah diterima semua kalangan. Berdasarkan perjuangannya itu, Jawa Pos Radar Semarang terpanggil memberikan apresiasi. Habib Luthfi menerima penghargaan untuk kategori Ulama yang Menggelorakan Nasionalisme dan NKRI.

Dikutip dari Jawa Pos Radar Semarang, terdapat hal menarik saat direksi dan manajemen Jawa Pos Radar Semarang ketika menemui Habib Luthfi di ruangannya. Ada kue spesial yang disuguhkan Habib Luthfi kepada tetamunya. Yakni, kue kamir.

Kemudian Habib Luthfi mempersilahkan rombongan Jawa Pos Radar Semarang untuk memakan kue kamir dan suguhan lainnya. “Monggo, silakan (dimakan), ini bukan sajen,” kata Habib Luthfi, dengan nada bercanda.

“Kalau di tempat saya, ini namanya kamir,” kata Iskandar, GM Jawa Pos Radar Semarang kepada Habib Luthfi sembari mencomot kamir dan melahapnya. Sugiyanto Wiyono, Manajer Komunikasi Bisnis Jawa Pos Radar Semarang, menimpali, “Kalau di tempat saya, ini namanya apem.”

Sugiyanto juga mencomot kue kamir yang tersuguh persis di depan Habib Luthfi. Bagaimana dengan Habib Luthfi? “Saya lebih suka menyebut apem. Soalnya ndak enak, kalau ada yang namanya Amir, terus Mir..Amir..ini makan kamirnya. Mosok Amir makan kamir,” canda Habib Luthfi, membuat yang mendengarnya spontan tertawa.

Habib Luthfi yang ramah dan sangat menghormati tetamunya, berulangkali mengingatkan jajaran manajemen Jawa Pos untuk memakan suguhan yang telah disediakan. “Monggo (dimakan), ini bukan sajen.” Lagi-lagi Habib Luthfi membuat para tetamunya tertawa mendengar candaannya. Pertemuan yang berlangsung selama hampir dua jam tersebut, berlangsung hangat. Habib Luthfi banyak memberikan pitutur bijak.

Habib Luthfi diterima semua kalangan karena perilaku dan sifatnya menyesuaikan tamu yang hadir. Habib Lutfi juga selalu memberikan pesan-pesan yang damai kepada para tamunya.

Turut hadir dalam acara ini General Manager Jawa Pos Radar Semarang Iskandar, Pemimpin Redaksi Arif Riyanto, Manajer Iklan Sugiyanto Wiyono, Manajer Keuangan Indah Fajarwati, Redaktur Pelaksana Ida Nor Layla, Redaktur Rizal Kurniawan dan karyawan lainnya. (ap)

Berita

Bahas Cinta, MATAN UINSA Bedah Buku

Tak sedikit yang membicarakan tentang cinta, namun hanya beberapa yang dapat mengetahui maknanya. Tuhan itu tidak bisa dikonsepsikan, akan tetapi Tuhan bisa direfleksikan dengan kebaikan dan cinta, maka menyatu dengan Tuhan itu berarti menyatu dengan kebaikan dan cinta.

Published

on

Cinta

Surabaya, JATMAN.OR.ID: Hal itu yang disampaikan Merita Dian Erina saat mengisi Kajian Tematik Bedah Buku: Virus Cinta, Penghancur Stigma yang diselenggarakan oleh Pengurus Komisariat Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Ahad (18/4).

Penulis buku Virus Cinta, Penghancur Stigma menjelaskan tentang inspirasi ia menulis buku adalah meluruskan asumsi masyarakat tentang cinta yang kurang pas.

“Inspirasi saya menulis buku ini berawal dari karya Buya Kamba Mencintai Allah Secara Merdeka. Meluruskan anggapan bahwa cinta itu sebatas antara laki-laki dan perempuan, padahal makna cinta itu luas. Juga meluruskan bahwa tasawuf bukan identik dengan dukun” jelas penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Erin mengatakan bahwa konsep wahdah al-wujud itu ketika menyatu dengan Tuhan maka yang akan lahir dari perbuatan adalah kebaikan. Semua perbuatan yang dilandasi dengan mahabbah maka eksistensinya akan kembali kepada diri sendiri.

mahabbah itu al-Ibbah berarti biji-bijian, biji yang dimaksud di sini yakni benih kehidupan. Sebenarnya kita hidup di dunia itu sangat memerlukan cinta, di mana pun dan kapan pun. Ketika sudah mulai mencintai maka tidak memikirkan apa pun kecuali apa yang dicintai”, kata Mahasiswi Psikoterapi ini.

Erin menjelaskan proses terbentuknya stigma, berawal dari kognitif dilanjut persepsi kemudian stigma.

“Stigmasi bermula dari kemampuan individu dalam proses berpikir, di dalamnya muncul persepsi, bisa jadi buruk, baik, visual tergantung kita memandang objek tersebut. Dari sini akan muncul stigma, yakni ciri negatif yang muncul dalam diri pribadi”, ujar delegasi International Youth Leader Batch 21.

Erin berpesan agar kita menghindari stigma. Tipe stigma banyak sekali ada kecacatan tubuh, suku, budaya.

“Bentuk stigma sangat beragam, semisal dalam kondisi sekarang, batuk sedikit dianggap korona, bajunya compang-camping dianggap miskin, kita pasti langsung prasangka begitu. Itulah stigma, hal yang harus kita basmi”, pesan kader PMII ini.[Ahmad Rizkiansah Rahman (Ketua MATAN UINSA Surabaya, Mahasiswa IAT UINSA Surabaya)]

Continue Reading

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

Berita

Kiai Nafis: Jatman Tidak Boleh Berpolitik atau Dipolitisasi

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Usai Laporan Penanggung Jawaban dari pesreta Idaroh Su’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thorioqh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Seluruh DKI Jakarta pada kegiatan Musyawarah Idaroh Su’biyyah JATMAN Seluruh DKI Jakarta di Ruang STC Kantor Pusat Tarekat Idrisiyyah Jakarta pada Minggu (11/4), Mudir Idaroh Wustho Jatman DKI Jakarta KH. Muhammad Danial Nafis, S.E., M.Si memberikan arahan terkait akselerasi kepengurusan kepada seluruh peserta musyawarah.

” Ngapunten sanged (red. Mohon maaf yang sedalam-dalamnya), kepengurusan su’biyyah di Jakarta yang tidak jalan ini saya memberikan solusi akselerasi agar kepengurusan Jatman berjalan dengan baik” kata Kyai Nafis.

Menanggapi pernyataan salah satu peserta soal Idaroh Wustho Jatman DKI yang tidak pernah audiensi ke pemerintahan, Kyai Nafis mengingatkan pesan Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Bin Yahya kepadanya bahwa Jatman tidak boleh berpolitik dan dipolitisasi.

“Habib Luthfi Bin Yahya Hafidzahullah menuturkan kepada saya saat sowan setelah saya ditunjuk oleh Kyai Wafi untuk menjadi Mudir Jatman DKI, beliau berpesan agar Jatman DKI jangan bermain politik dan jangan dipolitisasi”, ujarnya.

Khodim Zawiyah Arraudhah itu mencontohkan sejarah kehidupan para Auliya Allah seperti Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, dan Syekh Ahmad At-Tijani yang tidak mendatangi politikus atau pemerintah saat itu, namun sebaliknya mereka yang didatangi dan meminta pertolongan kepada para syekh.

“Lihatlah para wali quthb kita semua, Syekh Abul Hasan Ali-Syadzili, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, Syekh Ahmad At-Tijani RA, beliau semua tidak pernah mendekati politikus atau pemerintah namun mereka sendiri yang mendekati para masyayikh” pungkasnya.

Selain itu ia menambahkan bahwa Ahlith Thoriqoh harus mampu mandiri, melayani umat dan tugas utamanya yaitu mentarbiyah masyarakat agar paham thoriqoh yang mu’tabar.

“Tugas utama Jatman yaitu mentarbiyah masyarakat agar paham Thoriqoh yang mu’tabar (Thoriqoh yang bersanad) dan juga harus mandiri demi melayani umat yang ada di Jakarta ini” imbuh Kyai Nafis.

Kemudian Kyai Nafis menggagas slogan Idaroh Wustho Jatman DKI Jakarta dengan ajakan #ayoberdzikir sebagai momentum menyambut bulan suci ramadhan dan dzikir merupakan titik temu antara amalan-amalan tarekat yang ada dalam naungan Jatman. #Idaroh Wustho JATMAN DKI JAKARTA #AyoBerdzikir

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending