Connect with us

Dawuh

Habib Luthfi: NKRI Harga Mati Bukan Basa Basi

Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mengatakan, slogan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Harga Mati bukan sekedar slogan basa-basi yang hanya diucapkan.

Published

on

Photo: NU Online

“NKRI bukan basa basi mengandung konsekuensi untuk memelihara, mempertahankan, dan memperjuangkan agar Indonesia tetap utuh satu dan tidak terpecah belah,” ujar Habib Luthfi.

Hal itu disampaikannya saat memimpin upacara detik-detik proklamasi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Republik Indonesia (RI) di kediamannya Jl dr Wahidin Gang 7, Noyontaan, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (17/8).

Dikatakan, jika melihat perjalanan sejarah sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu, semestinya akan membangkitkan bangsa Indonesia berupa ‘rasa memiliki’ republik ini.

“Bilamana hal ini sudah tumbuh di setiap sanubari kita, maka saya yakin kesadaran semakin tinggi dan kita tidak mudah dibenturkan antarsesama bangsa. Bagi mereka, dengan membenturkan antarsesama anak bangsa, maka NKRI akan mudah digoyahkan,” tegasnya.

Menurut Habib Luthfi, jikalau ideologi kuat dan Pancasila selalu di dada, pasti kita tidak mudah diadu-domba. Karena kita akan selalu bercermin kepada para leluhur kita.

Syair Cinta Tanah Air

Dalam pidato singkatnya, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini kemudian mengutip syair dalam lagu ‘Cinta Tanah Air’ karangannya sendiri yang sangat fenomenal, yakni:

Keindahan bumi pertiwi
Terhias untaian mutiara
Pembangun bangsa yang sejati
Harum namanya di Nusantara

Jejak-jejak para Pendahulu
Sejarah saksi kehidupannya
Tersurat tersirat masa lalu
Jadi bekal untuk penerusnya (2x)

Merah putih melekat di dada
Disinari pancaran imannya
Di manapun ia berada
Tetap cinta Indonesia

Dalam kegiatan upacara peringatan detik-detik proklamasi, Habib Luthfi menggunakan pakaian serba putih, diikuti oleh berbagai komponen berjalan cukup khidmat.

Diawali dengan pengibaran bendera merah putih oleh petugas, dilanjutkan pembacaan teks Proklamasi dan Pancasila oleh Inspektur Upacara Habib Luthfi dan diikuti oleh seluruh peserta upacara.

Dalam amanahnya, Habib Luthfi berpesan bahwa peringatan detik-detik proklamasi yang kita lakukan saat ini seharusnya membangkitkan kita semua untuk munculnya rasa memiliki bercermin kepada para leluhur dan pendiri bangsa ini.

“Apakah kita menjadi bangsa yang memiliki nasionalisme yang luntur, dan menjadi bangsa yang mengecewakan dan memalukan para leluhur dan pendiri bangsa ini,” ujarnya.

Kecintaan Habib Luthfi kepada bangsa dan senantiasa menggemakan persatuan dan kesatuan demi keutuhan NKRI dapat disaksikan dalam berbagai kesempatan.

Wakil Ketua PCNU Kota Pekalongan, H Zainal Muhibbin menyebut, sosok Habib Luthfi adalah tokoh panutan yang layak kita contoh dalam menggelorakan semangat persatuan demi keutuhan NKRI.

“Saking Cintanya terhadap NKRI, Habib Luthfi mendirikan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Pecinta Tanah Air Indonesia (Petanesia) yang dalam waktu dekat akan meresmikan jajaran pengurusnya,” ungkap H Zainal.

Hal ini tidak lain karena Habib Luthfi menanamkan pentingnya ‘Hubbul Wathan minal iman’ agar bangsa ini tidak terpecah belah dalam keberbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan. “Habib Luthfi ingin Indonesia tetap utuh,” pungkasnya.

Sumber: NU Online

Dawuh

Ratib dan Hizb perlu Ijazahkah dalam Mengamalkannya?

Habib Luthfi menjelaskan ratib berasal dari kata rataba yang maknanya susunan. Hizb dan ratib, dilihat dari susunan­nya, sebenarnya sama dari hadist. Yakni, sama-sama kumpulan ayat, dzikir; dan doa yang dipilih dan disusun oleh ulama salafush shalih yang termasyhur sebagai waliyullah (Kekasih Allah).

Published

on

By

Menurutnya yang membedakan suatu ratib dengan ratib lain, atau hizb dengan hizb lainnya, adalah asrar atau rahasia-rahasia yang terkandung dalam setiap rangkaian ayat, doa, atau kutipan hadits, yang disesuaikan dengan waqi’iyyah (latar belakang penyusunan)-nya.

Namun, meski muncul pada waqi’ yang sama dan oleh penyusun yang sama, ratib sejak awal dirancang oleh para awliya untuk konsumsi umum, meski tetap mustajab. Semua orang bisa mengamalkan untuk memperkuat benteng dirinya, bahkan tanpa perlu ijazah. Meski tentu jika dengan ijazah lebih afdhal.

Rois ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabarah (JATMAN) menjelaskan sementara dengan hizb, sejak awal dirancang untuk kalangan tertentu yang oleh sang wali (penyusun) dianggap memiliki kemampuan lebih, karena itu mengandung dosis yang sangat tinggi. Hizb juga biasanya mengandung banyak sirr (rahasia) yang tidak mudah dipahami oleh orang awam, seperti kutipan ayat yang isinya terkadang seperti tidak terkait dengan rangkaian do’a sebelumnya padahal yang terkait adalah asbabun nuzul-nya. Hizb juga biasanya mengandung lebih banyak Ismul A’zham (asma Allah yang agung), yang tidak ada dalam ratib.

Habib Luthfi melanjutkan pembahasannya, dan yang pasti, hizb tidak disusun berdasarkan keinginan sang ulama, karena hizb rata-rata merupakan ilham dari Allah SWT: Ada juga yang mendapatkannya langsung dari Rasulullah SAW seperti Hizbul Bahr, Hizbul Nasr, Hizbul Khofi, yang disusun oleh Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili ; Hizb Nawawi, yang disusun oleh Imam an Nawawi. Karena itulah, hizb mempunyai fadhilah dan khasiat yang luar biasa.

Selanjutnya, Habib Luthfi ketika menjelaskan hizb dan ratib mengibaratkannya seperti kapsul, atau tablet, tentu tidak mempunyai dosis yang sama. Demikian juga dosis obat antibiotik dan vitamin. Jika yang satu bisa diminum sehari tiga kali, yang lain mungkin hanya boleh diminum satu kali dalam sehari. Bahkan vitamin, yang jelas-jelas berguna pun jika diminum melebihi dosis yang ditentukan dokter; efeknya akan berakibat buruk bagi tubuh. Badan bisa meriang atau bahkan kera­cunan. Begitu pula halnya dengan hizb dan ratib bukan langsung mengambil dari maknanya yang baik dan hebat saja agar nantinya tidak over dosis.

Habib Lutfi juga menejelaskan bahwa ratib itu dosisnya sudah direndahkan karena diambil langsung dari lisan baginda Rasulullah supaya siapapun boleh membaca dan mengamalkannya. Misalnya Ratib Al Hadad, Ratib Al Athas. Setiap ratib juga memiliki keistimewahan tersendiri dan saling melengkapi serta tidak saling berebut. Jadi, jangan sekali-kali merendahkan salah satu ratib, karena itu mencakup tentang akhlak dan adab. Ada juga Ratibul Kubra, kenapa dinamakannya seperti itu? Karena fatihah didalamnya waliyul kutub semuanya maka disebut ratibul kubra, jadi ini bukan ratib kubra.

Menurutnya sedangkan dalam hizb, ada syarat usia yang cukup bagi pengamal hizb. Sebab orang yang sudah mengamalkan hizb biasanya tidak lepas dari ujian. Ada yang hatinya mudah panas, sehingga cepat marah. Ada yang, karena Allah SWT, menampakkan salah satu hizbnya dalam bentuk kehebatan, lalu pengamalnya kehilangan kontrol terhadap hatinya dan menjadi sombong. Ada juga yang berpengaruh ke rezeki, yang selalu terasa panas sehingga sering menguap tanpa bekas, dan sebagainya.

Karena itu pula diperlukan ijazah dari seorang ulama yang benar-benar mumpuni dalam arti mempunyai sanad ijazah hizb tersebut yang bersambung dan mengerti dosis hizb. Selain itu juga diperlukan guru yang shalih yang mengerti ilmu hati untuk mendampingi dan ikut membantu si pengamal dalam menata hati dan menghindari efek negatif hizb.

Habib Lutfhi mengingatkan dalam pengamalan ratib atau hizb bisa dilaksanakan secara istiqamah karena istiqamah sangat penting dan sangat sulit untuk melakukannya.

Continue Reading

Dawuh

Dakwah JOL seperti Petani di Pegunungan

“Jadilah seperti petani di pegunungan,” pesan Abah, panggilan akrab Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya kepada JATMAN Online saat berkunjung ke dalem Beliau di Pekalongan, Rabu (7/10) kemarin.

Published

on

By

Silaturrahmi yang diwakili oleh Pemimpin Umum JATMAN Online, Ir. H. Aman Subagio ini hendak meminta izin dan nasehat Abah tentang pengelolaan media online JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah) yang sering disebut JOL.

Abah dawuh agar dakwah JOL seperti petani di pegunungan, berbeda dengan dakwah yang dilakukan PBNU, seperti petani modern, walaupun kedua-duanya, hasilnya untuk PBNU.

Lihatlah petani di pegunungan, ia mengerti manajemen air, kapan hujan turun dan kapan ia menggunakan air dari sungai, ia mengerti keterbatasan jumlah air yang ada.

Sawah dan ladang akan mendapat air dari sawah dan ladang yang ada di atasnya. Tidak bisa sebaliknya. Maka ambillah hikmah dari perumpamaan ini.

“Jika sawah atau ladang di pegunungan hijau dan berhasil maka penduduk pesisir akan berkaca kepada petani di pegunungan,” jelas Abah.

Air hujan yang turun, air sungai di pegunungan yang masih jernih dan bersih ini ibarat ilmu yang murni. Ilmu yang kemudian diajarkan secara berjenjang seperti sawah dan ladang, dari atas ke bawah. Jadilah seperti petani di pegunungan.[Aman]

Continue Reading

Dawuh

Lentera Islami – Dakwah Habib Luthfi Bin Yahya

Lentera Islami – Dakwah Habib Luthfi Bin Yahya Seolah Bisa Dirasakan Dalam Langkahnya

Published

on

By

Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending