Connect with us

Tanya Jawab

Habib Luthfi Menjawab – Cara Berdzikir Meresap ke Dalam Hati?

Published

on

Pertanyaan: Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang saya hormati, ada yang ingin saya tanyakan. Bagaimanakah cara berwirid dan berdzikir yang tidak sebatas lisan, melainkan juga bisa meresap ke dalam hati, sehingga bisa membuka hijab?

Jawaban Habib Luthfi: Agar dzikir kita bisa masuk sampai ke hati, maka kita harus bisa merasakan secara lahir dan batin dzikir kita ini kepada Allah swt. Dan untuk itu, kita mesti memenuhi beberapa syarat; Pertama, tingkatan rasa memerlukan Allah Swt.

Kedua, setelah kita merasa memerlukan Allah swt, maka kita akan mendekat kepada-Nya dan janganlah membawa perasaan ‘siapa saya’. Maksudnya, janganlah menampilkan amalan-amalan karena kita sudah mampu membaca ini, bisa membaca itu, bisa menyelesaikan bacaan sekian dan sekian. Tinggalkanlah perasaan mampu itu, justru kita menghadap kepada Allah Swt dengan perasaan hamba yang sangat fakir, dengan segala kerendahan hati.

Baca juga: Habib Luthfi Menjawab – Bolehkan Mengamalkan Hizib Tanpa Ijazah?

Ketiga, belajarlah dan berlatihlah untuk sampai pada keyakinan bahwa apa yang kita baca, didengar oleh Allah Yang Maha Mendengar.

Semua itu insya Allah akan mencetak individu yang merasa didengar dan dilihat oleh Allah Swt, Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, yang akhirnya akan membatasi diri kita untuk melakukan hal- hal yang tidak diridhai oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Apabila sudah demikian, barulah individu itu akan mendapatkan cahaya yang dapat menerangi lahir dan batinnya, sehingga setiap langkahnya akan disinari oleh sinar kebenaran dari Allah Swt. Wallahua’lam.

Sumber: Umat Bertanya Habib Luthfi Menjawab

Tanya Jawab

Habib Luthfi Menjawab – Bolehkan Mengamalkan Hizib Tanpa Ijazah?

Published

on

By

Pertanyaan: Habib Luthfi yang saya hormati, saya ingin minta penjelasan dari Habib, apakah mengamalkan kitab-kitab yang berisikan wirid, misalnya Kitab Khulashah al-Madad an Nabawi, karya Habib Umar bin Hafidz, harus dengan ijazah?

Selama ini saya sudah mengamalkan sebagian kitab tersebut, sebab menurut teman saya yang juga seorang habib, boleh mengamalkan kitab itu dengan tanpa ijazah. Akan tetapi saya tetap merasa kurang mantap, karena dalam kitab tersebut terdapat Hizib al Bahr dan Hizib an-Nawawi yang sepengetahuan saya mengamalkan hizib itu harus dengan ijazah.

Jawaban Habib Luthfi: Kaitannya dengan kitab yang Anda sebutkan itu, semua kitab yang berkaitan dengan aurad (segala wiridan), alangkah afdhalnya apabila diijazahkan. Jangankan kitab aurad, kitab manaqib auliya’ yang menceritakan kisah hidup para wali Allah swt pun terkadang terdapat bahasa-bahasa (dalam bahasa tasawuf) yang sangat tinggi maknawiyahnya. Apabila kita tidak mengetahuinya, maka akan timbul kesalahfahaman.

Misalnya Imam Ahmad Ibnu Athaillah as-Sakandari ra pernah berkata ‘Zayyin nafsaka bilma’ashi wa la tuzayyin nafsaka biththa’ah.’ Arti harfiah ungkapan itu: ‘Hiasilah dirimu dengan segala kemaksiatan dan jangan hiasi dirimu dengan ketaatan.’ Padahal yang dimaksud bukan itu. al-ma’ashi artinya perbuatan maksiat, tetapi di sini al-ma’ashi maknanya berdosa, yakni yang dimaksudkan adalah dosanya. Nah, di sini yang diambil makna dosanya, bukan perbuatannya.

Jadi makna ungkapan Imam Ahmad Athaillah di sini yakni hiasilah dirimu dengan penuh perasaan banyak dosa, bukan dengan maksiatnya. Apabila kita merasa banyak dosa, maka hal itu akan mendorong kita untuk berbuat kebaikan dan selalu menambah kebaikan. Dan janganlah hiasi dirimu dengan perasaan penuh dengan amal-amal kebaikan, karena apabila kita sudah merasa memiliki banyak amal baik, yang akan timbul adalah sifat ananiyah, egoisme dan keakuan, yang apabila hal itu muncul justru hanya akan mendorong dan menambah kebodohan. Nah, untuk menghindarkan makna yang tidak dimengerti maksudnya yang persis, wajib berguru. Disinilah letaknya wajib berguru dalam mengaji kitab.

Sumber: Umat Bertanya Habib Luthfi Menjawab

Continue Reading

Tanya Jawab

Habib Luthfi Menjawab – Apakah Tarekat Naqsyabandiyah Kadirun Yahya Mu’tabarah?

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Habib Luthfi bin Yahya mengungkapkan Tarekat Naqsyabandiyah hanya mutlak dari Imam Muhammad Rahauddin an-Naqsyabandi. Hal ini merupakan jawaban dari salah satu muhibbbin beliau. Berikut lengkap pertanyaannya;

“Apakah tarekat Naqsyabandiyah Kadirun Yahya itu termasuk mu’tabarah, sebab di desa saya para pengikut tarekat tersebut ‘lebih mengutamakan wiridan daripada shalat lima waktu’. Mohon penjelasan Habib.”

Jawaban Habib Luthfi: Tarekat Naqsyabandiyah hanya mutlak dari Imam Muhammad Rahauddin an-Naqsyabandi. Diantara mujaddidnya ada Imam Sayyid Abdullah al-Ahrar, maka pengikutnya disebut peng ikut Tarekat Naqsyabandiyah al-Ahrariyah. Ada juga mujadid lain, Imam Muhammad al-Faruqi, maka pengikutnya disebut pengikut Tarekat Naqsyabandiyah Faruqiyah. Dan pada zaman Maulana Khalid sebagai mujaddidnya, pengikutnya pun disebut pengikut Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Tetapi semua sumbernya adalah Naqsyabandiyah.

Adapun istilah atau nama Naqsyabandiyah Kadirun Yahya’ tidak ada, yang ada Naqsyabandiyah Khalidiyah yang diikuti oleh Kadirun Yahya. Karena yang mengajarkan adalah Kadirun Yahya disebut ‘Naqsyabandiyah ‘ala Kadirun Yahya.’ Naqsyabandiyah sendiri adalah tarekat yang mu’tabarah.

Mengenai mengutamakan wiridan dari pada shalat 5 waktu, artinya ia masih menjalankan shalat lima waktu. Nah, lima waktu itu terbatas tata caranya. Misalkan, membaca subhanallah dalam ruku,‘ kan batasnya 3 (tiga) kali. Terus kalau dibaca 1000 (seribu) bagimana? Tentu itu lepas dari tuntunan Baginda Rasulullah saw.

Kemudian, mengutamakan aurad merupakan pendukung untuk shalat itu sendiri, karena shalat ditentukan oleh arkan (rukun-rukun) dan syarat-syarat shalat. Di dalam shalat itu sudah tertentu, takbiratul ihram, do’a ifiitah, fatihah, setelah membaca Surat al Fatihah, ruku’ itidal dan seterusnya, dengan bacaan-bacaan yang sudah ditentukan oleh Rasulullah saw, maka aurad itu untuk mendukung shalat kita. Perdekatan kita kepada Allah Swt itu tidak hanya dalam shalat, dan tarekat adalah sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt di luar shalat lima waktu.

Jadi, maaf saja, kalau kita mengutamakan aurad itu, yang tidak bisa dibenarkan adalah apabila aurad nya diperbanyak sampai mengakhirkan shalatnya, sudah mendekati masuknya waktu Shalat Asar, misalkan, wiridan Dzuhur masih terus saja dibaca. Maka, apabila mengutamakan aurad selagi shalatnya masih terjaga, sebagaimana ketentuan yang ada, hal itu masih dikategorikan mengutamakan shalat daripada wiridan. Wallahua’lam.

Sumber: Umat Bertanya Habib Luthfi Menjawab

Continue Reading

Tanya Jawab

Bolehkah Belum Berthariqah Membaca Manakib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani?

Published

on

Masyarakat Indonesia memiliki tradisi membaca manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Bahkan di beberapa daerah di Jawa, manakib disertai dengan menyembelih ayam karena Syaikh Abdul Qadir sangat menyukai ayam seperti disebutkan dalam manakib Nurul Burhani. Tradisi tersebut tidak hanya dilakukan oleh penganut Thariqah Qadiriyah, namun juga dilakukan oleh masyarakat secara umum.

Pertanyaan: Apakah boleh orang yang belum masuk thariqah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani membaca manakibnya?

Jawaban:

Dalam keputusan Muktamar II JATMAN di Pekalongan Tanggal 8 Jumadil Ula 1379H/ 9 November 1959 H, para ulama bersepakat bahwa bagi orang yang belum berthariqah diperbolehkan untuk membaca manakib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Pembaca tersebut termasuk pecinta Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Keputusan ini didasarkan dalam Shahih Bukhari: “Merekalah orang-orang yang teman duduknya tidak celaka.”

Dalam kitab Riyadh al-shaalihiin disebutkan bahwa apabila kamu melewati taman surga, maka berhentilah untuk turut menikmatinya. Juga berdasar hadis Abdullah bin Umar, ia berkata: “Seorang laki-laki menemui Rasulullah saw. kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda tentang orang yang mencintai suatu kaum padahal mereka tidak pernah bertemu dengannya?” Rasulullah saw. bersabda: Seseorang akan bersama orang yang dicintainya kelak di akhirat”.

Di samping itu, dalam kitab Jalaa’ al-Zhalaam ‘alaa Aqidah al-‘Awaam dikatakan, “Ketahuilah bahwa seyogyanya setiap muslim yang mencari keutamaan dan kebaikan itu mencari berkah. Pancaran rohani, terkabulnya doa dan turunnya rahmat di hadirat para wali di majlis-majlis mereka, baik mereka itu masih hidup maupun sudah wafat, di makam-makam mereka, pada saat mereka disebut-sebut ketika banyak orang berkumpul dalam rangka berziarah kepada mereka dan ketika keutamaan serta manakib mereka dibacakan dan dihayati.”

Sedangkan mendengarkan bacaan manakib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani itu diperbolehkan seperti membaca sendiri. Adapun pendengar itu termasuk pecintanya sebagaimana tersebut di atas.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending