Portal Berita & Informasi JATMAN

Habib Luthfi: Hakikat Maulid dan Shalawat

0 161

Maulid Nabi untuk mengingatkan kembali kepada kita, untuk meningkatkan kecintaan kita kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Sebab iman kita semua adalah tergantung cinta kita kepada baginda Nabi Muhammad saw. Bilamana kita mencintai Rasulullah dengan sebenar-benarnya, iman kita akan semakin kuat dan bertambah. Bilamana kita mencintai baginda Nabi semakin melentur (melemah), iman kita pun sama semakin melentur. “Kadar bobot iman seseorang tergantung kecintaannya kepada aku,” hadits ini Rasulullah sabdakan setelah turun ayat, ‘Katakanlah (Nabi Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang’.” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Untuk menyambung tali al mahabbah (cinta) ada pintu pintunya. Diantara tanda tanda orang yang mahabbah kepada Rasulullah, akan mencintai sahabatnya, akan mencintai keluarganya Saw, mencintai pewarisnya (yaitu) para ulama dan para aulia, dan mencintai sesama kita al mukmin akhul mukmin (saudara semukmin) al muslim akhul muslim (saudara semuslim). Ini pintu atau tandanya kita cinta kepada baginda Nabi Saw.

Mengapa masalah mahabbah (cinta) diutamakan dan didukung oleh shalawat. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab: 56).

Shalawatnya Allah ta’ala kepada Nabi adalah rahmah yang diberikan kepada Nabi serta memuliakan dan mengagungkannya. Kalau shalawatnya malaikat (berarti) magfirah, shalawatnya mukmin (berarti) doa. Tapi hakikat daripada shalawat itu, pertama adalah tali temali yang menyambung hubungan komunikasi kita selaku umat sayyidina Muhammad Saw kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Kedua, menyambung tali silaturahmi kepada sahabat, kepada keluarga nabi sampai sesama mukmin akhul mukmin (saudara semukmin).

Di dalam shalawat mutlak, memang kalimat wa ‘ala ali hubungannya dengan keluarga baginda nabi, tapi di dalam maqamat ad du’a (kedudukan doa) hubungannya wa ‘ala ali sayyidina Muhammad adalah umat Nabi saw, artinya orang membaca shalawat itu tidak langsung kepada Rasulullah saja tapi hubungan emosi kita (juga) kepada sahabat, para ahli bait nabi, para pewaris nabi, kepada sesama kita (yang) selalu berhubungan nonstop.

Setiap lima waktu dan selain dari itupun kita masih membaca shalawat, lebih-lebih shalawat menjadi bagian rukun di dalam shalat. Ada yang istimewa (dalam shalawat di dalam shalat), hubungan menggunakan kalimat mukhatab. Mukhatab itu langsung  “kepadamu” dan kalimat mukhatab disini istihdhari jadi seolah olah sewaktu kita mengucapkan assalamualaika ayyuhan nabiyyu warahamatullahi wabarakatuh, seolah-olah baginda Nabi itu (hadir) di depan kita.

Bilamana shalawat ini sudah menyambung tali silaturahmi yang setiap hari akan mewujudkan kalau dalam dunia thariqah disebut rabithah. Selalu membayangkan wajahnya guru tapi bukan berati mendewakan, jangan salah paham!. Waktu kita belajar dengan guru, apa nasehat guru? kitab yang diajarkan kepada kita apa? dari tafsir dari hadits dari kitab kitab yang lain, selalu terngiang di telinga kita suara guru ketika mengajar bagian nasehat untuk kita semua. Sehingga dengan rabithah itu tadi membangkitkan kami untuk meningkatkan ibadah dan menjauhkan per-individu dari larangan Allah swt, karena selalu berhubungan dengan guru, itu disebut rabithah.

Bilamana kita selalu merasa sering menghadap kepada baginda Nabi saw, kitapun akan merasa segala kekurangan yang kita banyak tidak mengikuti jejak-jejak sunah-sunah baginda Nabi saw, (hal itu) karena kita selalu  berhubungan dengan baginda Nabi saw, lebih-lebih antar mukmin al mukmin akhul mukmin.

Rasulullah tidak kekurangan rahmat, dikira shalawat kita itu membanjiri rahmat kepada Rasulullah? Tidak. Rasulullah sudah (mendapatkan) lebih lebih dari Allah swt. Lalu shalawat kita untuk siapa? Untuk kita sebenarnya. (Eep)

Sumber: Diambil dari tausiyah Maulana Habib Luthfi bin Yahya di Alun-Alun Kidul Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada Senin, 19 November 2018.

Comments
Loading...