Portal Berita & Informasi JATMAN

Habib Ali Al-Jufri: Hakikat Dakwah Bukan untuk Membenci

0 3,487

Jakarta – Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri dalam kunjungan dakwahnya di Indonesia, tepatnya di Gedung Darul Aitam Halimatus Sa’diyah, Tanah Abang, Jakarta, 12 April 2018, menyampaikan di hadapan ribuan hadirin betapa pentingnya memahami hakikat dakwah yang dibawa oleh para ulama terdahulu seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Habib Ali al-Jufri menyampaikan, “Hakikat dakwah bukan hanya sekadar menyampaikan ilmu melalui pidato maupun ceramah. Tetapi hakikat dakwah itu ketika seorang pendakwah merasa hancur dirinya di hadapan Allah Swt. sambil mendoakan hidayah kepada mereka yang mencintai maupun kepada mereka yang membencinya.”

Lanjutnya, dakwah Walisongo dibawa dari cahaya ke cahaya yang bersumber dari sumbernya cahaya, yakni Rasulullah Saw. Inti dari dakwah mereka adalah kesucian. Kesucian lahir dan batin. Misal menjaga kesucian mata, bukan sekadar menjaga dari pandangan-pandangan yang diharamkan seperti melihat gambar-gambar haram. Tapi juga menjaga pandangan dari memandang manusia dengan pandangan yang rendah dan memandang dunia dengan pandangan mengagungkan.

Juga menjaga telinga dari pendengaran-pendengaran ghibah, adu domba dan perkataan-perkataan yang keji. Menjaga lisan dan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang mengotorinya. Dan ini adalah dasar kita untuk mencapai kesucian hati dan batin.

Yang dimaksud ‘kesucian hati’ adalah terhindar dari kesombongan, kebencian, iri, dengki dan semua hal yang dapat mengotorinya. Maka Allah akan membersihkan hati kita dan bertajalliy dengan namaNya ‘al-Wadud’, sehingga terpancarlah dari kita sifat kasih sayang. Tidaklah yang dipancarkan oleh para ulama salih terkecuali apa yang disifatkan Allah kepada NabiNya Saw. (QS. al-Anbiya ayat 107), “Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam”.

Sangat banyak para ulama yang datang ke Indonesia sedangkan penduduk setempat tidak dapat memahami bahasa mereka. Akan tetapi karena dibawa dari wajah dan tutur kata yang penuh kasih sayang, sehingga Islam masuk dengan mudah di berbagai penjuru negeri ini. Dan prinsip dakwah mereka adalah seperti yang dipegang dalam Thariqah Alawiyah, ada lima pondasi; ilmu, amal, ikhlas, khasy-yah (takut kepada Allah), dan wara’.

Ilmu yang menjadikan kita paham terhadap praktik ibadah dan muamalah. Manhaj mereka adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Bermadzhab Asyairah (Asy’ariyah) dan Maturidiyah dalam aqidah. Di dalam fiqih mereka mengikuti madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), di Indonesia mayoritas bermadzhab Syafi’iyah. Dan sisi penting lainnya yang secara serius mereka lakukan adalah tazkiyyatunnufus, mensucikan hati.

>Manhaj mereka berprinsip dalam madzhab tapi bukan didasari fanatik yang mudah menyalahkan pihak lain. Melainkan prinsip bermadzhab yang tidak bisa dibenturkan dengan pihak manapun dan tidak bisa dipermainkan oleh kepentingan politik manapun.

Kita adalah pengikut madzhab Syafi’iyah dan berakidah Asy’ariyah. Kita tidak pernah mengkafirkan seorang pun yang melakukan salat menghadap qiblat. Dan kita juga tidak menerima siapapun yang memiliki lisan keji yang membenci keluarga dan sahabat Nabi Muhammad Saw.

Kita tahu bahwa agama ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Kita tidak pernah menyetujui bahwa ‘ilmu agama’ itu sendiri dan ‘ilmu umum’ (dunia) itu sendiri. Kita bahkan memiliki kemampuan untuk menguasai ilmu-ilmu yang khusus dari para pewaris nabi. Semisal ilmu perekonomian atau bisnis. Kita tidak bisa mengatakan bahwa ilmu itu tidak ada kaitannya dengan ilmu agama. Karena jaman dulu ada Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Abdurrahman bin Auf dan Sayyidah Khadijah al-Kubra yang sukses dalam berbisnis.

Sehingga jangan sampai kita terpengaruh dengan perkataan-perkataan yang mengatakan bahwa ilmu tertentu tidak ada kaitannya dengan Allah. Kita adalah orang-orang yang memiliki hati yang tersambung kepada Allah.

Para pendahulu kita adalah orang-orang yang senantiasa memiliki hati yang tersambung kepada Allah dan menyampaikan seseorang kepada Allah. Dan ketahuilah diantara para pendahulu kita adalah Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar Bondowoso. Hatinya tiada beda antara saat Tahajjud dan saat di tokonya, selalu tersambung kepada Allah. Inilah bentuk pengamalan dari ilmunya, yang merupakan dasar/pondasi kedua dari prinsip Thariqah Alawiyah.

Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar suatu hari pernah menyembelih 100 ekor kambing untuk menjamu para tamunya. Di waktu lain datang seseorang yang hendak menjual barangnya pada Habib Muhammad al-Muhdhar. Habib Muhammad menghargainya dengan harga yang pantas, harga yang cukup murah. Namun orang itu tidak berkenan, hanya dia sendiri yang berhak menentukan harganya.

Orang itu berkata, “Wahai Habib Muhammad, kenapa engkau dengan rela menyembelihkan 100 ekor kambing untuk para tamu tetapi menghargai barangku dengan harga yang sedikit?”

Jawab Habib Muhammad, “Karena saat menjamu para tamu itu ada tujuan/keharusan untuk bermurah hati. Sedangkan kita sedang bertransaksi dalam bisnis sehingga harus ketat dalam menentukan harga.”

Tetapi di dalam ibadah dan tijarah (berdagang) para ulama salih seperti Habib Muhammad al-Muhdhar ini, hatinya dipenuhi dengan keikhlasan hanya mengharap ridha Allah Swt. Dan inilah yang menjadi pondasi ketiga dari Thariqah Alawiyah.

Pondasi keempat adalah al-khasyyah, rasa takut kepada Allah Swt. Ketahuilah bahwa para ulama salih bukan hanya teliti dan detail serta ikhlas dalam melakukan suatu pekerjaan tapi juga dalam hati mereka selalu bergejolak karena takut kepada Allah.

Diantara tokoh Alawiyyin ada yang bernama Syaikh Umar Muhdhar bin Abdurrahman Assegaf, yang diberi karomah (kemampuan) dari Allah mampu mengucapkan “Ya Lathif” seribu kali dalam satu tarikan nafas. Sedangkan para khadimnya (juru laden) mampu mengucapkan “Ya Lathif” sebanyak 500 kali dalam satu tarikan nafas.

Demikianlah Syaikh Umar Muhdhar yang diberi kemampuan beribadah tingkat tinggi, di sisi lain saking hatinya takut kepada Allah Swt. beliau berkata sambil menangis, “Ketahuilah jikalau aku tahu tasbih (wiridan) yang aku baca ini diterima oleh Allah Swt., niscaya seluruh penduduk Kota Tarim ini akan aku jamu 8 hari 8 malam dengan gandung dan daging.”

“Pondasi kelima adalah wara’, yaitu meninggalkan sesuatu yang bukan dosa tetapi dikhawatirkan akan menariknya kepada dosa.” Terang Habib Ali al-Jufri memaparkan lima prinsip dakwah Walisongo dan pondasi Thariqah Alawiyyah. (Syaroni As-Samfuriy)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.