Connect with us

Tokoh

Habib Ahmad bin Ismail bin Yahya, Siapakah Beliau?

Published

on

Cirebon, JATMAN.OR.ID: Bagi sebagian orang, nomor cantik atau tanggal cantik itu penting, seperti untuk mengadakan acara atau agenda yang dianggap spesial. Termasuk 10 November, tanggal ini dianggap sakral karena momentum hari pahlawan, darah siapa yang tidak mendidih saat menonton, membaca, atau mendengarkan kisah-kisah perjuangan para pendahulu.

Malam ini, masih di 10 November 2020, saya bersama teman-teman berbincang seusai rutinan malam rabu di Jatiseeng Ciledug Cirebon untuk ratiban dan ziarah serta doa bersama untuk para pahlawan Indonesia. Sedikit berbincang dengan Kang Syukron Ma’mun, melanjutkan topik tentang Habib Ahmad bin Ismail bin Yahya, yang malam sebelumnya saya minta informasi untuk kebutuhan berita. Sontak, beliau langsung menyampaikan isi ingatannya.

Habib Ahmad ini tidak disukai penjajah. Sehingga, penjajah selalu mencari alasan dan kesempatan untuk menangkap beliau.
Tetapi, beliau selalu berhasil lolos. Terkadang penjajah bersiap menghadang beliau saat beliau berangkat salat Jumat. Biasanya beliau salat Jumat di Masjid Sang Cipta Rasa Kasepuhan. Ditunggu sampai siang, beliau masih tidak kelihatan. Padahal, beliau salat Jumat seperti biasanya.

Ada lagi. Suatu hari Habib Husein Alatas Pemalang bersama satu temannya sowan ke Habib Ahmad. Waktu ashar datang. Habib Husein matur ke Habib Ahmad, “Bib, saya pinjam sarung. Sama buat teman saya juga.” Habib Ahmad mengambil sarung, tapi cuma satu. Ke teman Habib Husein, Habib Ahmad berkata, “Sampean jangan salat karena saya.” Ternyata sehari-harinya, teman Habib Husein itu memang tidak salat.

Saat iqomat, Habib Husein langsung wudu. Setelah itu, ternyata Habib Ahmad hampir selesai salatnya. Habib Husein membatin, “Katanya wali, kok salatnyq cepet sekali.” Setelah salam, sambil melihat Habib Husein, Habib Ahmad berkata, “(Salatnya) balapan dengan setan, Bib.”

Masih tentang beliau. Suatu ketika Maulana Habib Luthfi dan Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya Jagasatru sowan ke Kiai Bajuri Balongan. Dalam perjalanan, Maulana membatin, “Kalau sampai ke Kiai Bajuri, saya mau tanya siapa sulthanul awliya sekarang.”
Sesampainya di rumah Kiai Bajuri, beliau berkata kepada Maulana, “Orang dekat, Yip (Bib). Saudara sendiri. Itu lho Habib Ahmad Arjawinangun, Habib Ahmad bin Ismail.”

Habib Ahmad ini sulthanul awliya, Ayah beliau (Habib Ismail) juga wali quthb. Kakek beliau (Habib Ahmad bin Syekh Kesambi) juga Quthbul Aqthab.

Sebagai penutup pembicaraan, atau mungkin bukan, Kang Syukron pun melepas kalimat, “Sudah ya, jangan banyak-banyak, isi cangkir hanya tinggal ampas kopi, hadir saja di haul Beliau besok.”[Yazid]

Berita

Sesaat bersama Syaikh Adnan al-Afyuni

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Allah memanggil beliau dengan cepat. Kita semua tersentak dengan kejadian bom mobil yang merenggut jiwa beliau. Syaikh Adnan adalah seorang mufti agung yang tak lelah mengusung ide-ide washatiyah. Kita semua tentu merasa kehilangan.

Syaikh Muhammad Adnan al-Afyuni dilahirkan di Damaskus, Syiria pada 1954. Beliau menyelesaikan program magisternya di Universitas Omdurman Syiria. Syaikh Adnan adalah seorang ulama yang aktif berdakwah di berbagai negara untuk membawa misi perdamaian dunia, termasuk baru-baru ini mengunjungi Indonesia dengan misi yang sama. Kini menjabat sebagai ketua dewan rekonsiliasi nasional Syiria sekaligus Mufti agung Damaskus. Selain itu Syaikh Adnan juga dipercaya untuk memimpin lembaga kajian Syaikh Kuftaro, Syiria.

Berikut beberapa petik kenangan bersama beliau.

Foto-foto koleksi Syaroni As-Samfuriy.[Af]

Continue Reading

Nasional

Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Mata Cucunya

Sebelum kewafatan guru kami al-Maghfurlah KH. Mahmad Bin KH. Baidlowi Asro, kami bertiga sowan untuk meminta wejangan dan doa, karena kami akan pulang ke rumah alias boyong.

Published

on

By

Adab

Kami di ndalem beliau, tepatnya di depan pondok pesantren Tebuireng. Kami duduk mulai dari ba’da Maghrib hingga jam 9 malam, dengan ditemani Bu Nyai. Beliau banyak bercerita tentang kehidupan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang notabenya masih kakek beliau. Yang Nasabnya beliau Gus Mahmad, putra dari KH. Baidlowi Asro yang menikah dengan putri Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yaitu Bu Nyai Aisyah  dari pasangan Kyai Hasyim dengan Bu Nyai Nafiqoh.

Gus Mahmad menjumpai Yai Hasyim lumayan lama, karena ketika wafatnya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada bulan Ramadhan, beliau sedang menjalani liburan kenaikan dari sifir awal ke sifir tsani di madrasah Salafiyah Syafiyah Tebuireng, dan saat itu madrasah Salafiyah Syafiyah memiliki dua jenjang, sifir awal dan sifir tsani, dan setiap Sifir tersebut ditempuh selama 4 tahun. Jadi masa belajar di Madrasah Tebuireng 8 tahun, dan model madrasah seperti ini masih di terapkan di pondok Ploso kediri. Perkiraan umur Gus Mahmad saat wafatnya kakeknya Yai Hasyim, berumur 15 tahum. Jadi beliau banyak muasyaroh dan tatap muka dengan kakeknya yaitu Kyai Hasyim. Seperti biasa welas asih kakek kepada cucunya luar biasa welasnya. Beliau menceritakan bahwasanya setiap pagi Hadratussyaikh keluar rumah untuk nyambangi putra putrinya, yang rumahnya tersebar di sekeliling pondok. Tak terlewatkan Gus Mahmad yang masih kecil juga ikut di sambangi oleh Hadratussyaikh. Beliau juga bertutur, tak hanya di sambangi saja oleh Hadratussyaikh, tapi juga didoakan dan terkadang disangoni.

al-Maghfurlah KH. Mahmad Bin KH. Baidlowi Asro
al-Maghfurlah KH. Mahmad Bin KH. Baidlowi Asro

Kyai Hasyim bukan hanya seorang kyai yang membaca kitab kuning, tetapi kyai Hasyim itu juga seorang pejuang, mujahid, dan orang kaya yang dermawan. Kyai Hasyim setiap hari selasa meliburkan pengajian di pondoknya, guna mengurus sawah yang berhektar-hektar. Dengan hasil sawah inilah Yai Hasyim bisa berjuang mendirikan pondok, karena berjuang tidak hanya dengan ucapan manis saja tapi harus berani berkorban, dengan kekayaan Yai Hasyim lah beliau berani menentang belanda. Gus Mahmad juga bercerita bahwa Yai Hasyim itu satu satunya orang di diwek yang mempunyai mobil, padahal saat itu bos pabrik gula Cukir belum punya. Hal ini membuktikan bahwa Yai Hasyim sangat lah orang yang diatas cukup. Harga mobil saat itu sangat mahal sekali, tetapi Yai Hasyim mampu untuk membelinya. Yai Hasyim membeli mobil tidak untuk foya-foya dan pamer kekayaan tetapi untuk berjuang. Dengan mobilnya itulah Yai Hasyim bisa bolak-balik Surabaya Jombang dengan mudah, guna untuk memperjuangkan NU, yang saat itu kantor utamanya di Surabaya atau memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan sopir Yai Hasyim tak lain adalah putranya sendiri yaitu Gus Wahid, ayahanda dari Gus Dur.

Tetapi Yai Hasyim tidak sombong dengan kekayaannya, tapi Yai Hasyim sangatlah dermawan. Pernah diceritakan dari santri Hadratussyaikh KH. Hasyim, yaitu Allah yarham KH. Mansur Djailani; seperti biasa setiap Ramadhan Yai Hasyim membaca kitab sohihain yakni, sohih bukhori dan muslim. Kedua kitab itulah yang diistiqomahkan Yai Hasyim saat kilatan di bulan Ramadhan, karena dua  kitab tersebut kitab yang paling sohih setelah Al-Qur’an. Pembacaan kedua kitab dimulai dari awal Rajab dan dikhatamankan pada tanggal 29 Ramadhan. Dan pada tanggal itulah Yai Hasyim memberikan sanad kitab Bukhori dan Muslim, yang muttasil sampai muallifnya. Sanadnya ditulis dengan kapur di papan tulis sampai tiga papan tulis, karena pada zaman itu belum ada foto copy, jadinya di tulis di papan tulis. Dengan mepetnya waktu khataman dengan Idul Fitri, ada sebagian santri yang pulang, ada yang tidak pulang bertahan di pondok. Dan menurut Yai Mansur, santri yang ingin pulang tetapi tidak mempunyai ongkos pulang, disangoni Yai Hasyim untuk bekal pulang. Dan santri yang tidak pulang makannya ditanggung Yai Hasyim. Ini menunjukkan sifat kedermawanan dan perhatiannya beliau terhadap santrinya.

Dan ada kisah yang diceritakan Gus Mahmad, bahwa Yai Hasyim sangat peduli dengan tetangga sekitar dalam hal sosial-ekonomi. Seperti yang diceritakn di atas, setiap pagi Yai Hasyim keluar mengunjungi putra putrinya. Dan saat itu ada tetangga pondok berjualan sayur sayuran di depan pondok, sekarang yang ditempati warung nasi Cianjur, tak lain ibu yang berjualan sayur adalah nenek dari pemilik warung Ciganjur. Dan saat Yai Hasyim berjalan-jalan di depan pondok, Yai melihat ada sesuatu yang janggal. Yang biasanya ada yg berjualan di depan pondok tiba-tiba kok tidak berjualan. Yai Hasyim penasaran dengan hal itu, beliau bertanya kepada yang bersangkutan. Dan jawaban dari ibu tersebut; saya tidak berjualan lagi karena modal saya habis. Langsung seketika itu Yai Hasyim memberikan modal untuk meneruskan dagangannya. Dari itu Yai Hasyim sangat memperhatikan ekonomi tetangganya.

Jadi kewibaan Hadratussyaikh itu berasal dari kealimannya beliau, sehingga dijuluki ‘Hadratussyaikh’ yang berarti Maha Guru, dan juga dengan kekayaannya. Gus Mahmad juga bercerita, bahwa Kyai Hasyim juga sering diskusi dengan ayahnya, yaitu KH. Baidlowi Asro, yang notabenya alumni Al Azhar Mesir dan juga menantu beliau.  Yai Hasyim mendatangi ke rumah menantunya untuk diskusi, dan Gus Mahmad sering diperintahkan Ayahnya, ketika berdiskusi dengan Yai Hasyim, untuk mengambil kitab di rak lemari. Dan menantu Yai Hasyim ini juga sering Mbadali Yai Hasyim ketika berhalangan mengajar sebab sakit. KH. Baidlowi juga pernah menjadi pengasuh ke 4 pesantren Tebuireng, hal ini jarang terjadi di lingkungan pesantren, menantu bisa menduduki jabatan pengasuh pesantren, karena biasanya yang menjadi pengasuh itu putra-putranya.

Inilah yang kami dapatkan dari sowan Gus Mahmad. Setelah sowan, sekitar satu bulan setelahnya, tepatnya 22 Mei 2017, Beliau Gus Mahmad dipanggil oleh Allah, setelah subuh. Semoga Allah mencurahkan Rahmat kepada beliau dan mengampuni seluruh dosanya. Lahu Al fatihah. Pesan beliau kepada kami “Ngelanjutin kemanapun sama saja,  yang terpenting adalah kesungguhan dan ketekunan dalam menuntut ilmu.”

Wallahu A’lam. [M. Ilham Zidal Haq/M. Alvin Jauhari (Santri Tebuireng)]

Continue Reading

Facebook

Trending