Connect with us

Hikmah

Gerakan Thariqah Tidak Pernah Gagal

Published

on

Gerakan Thariqah tidak pernah gagal. Begitulah sejarah mencatat. Gerakan Thariqah selalu mencapai kemenangan dalam bidang kehidupan manapun.

Sultan Muhammad Al Fatih Turki Utsmani berhasil menaklukan Benteng Konstaninopel yang  kokoh dan sulit ditaklukan karena berkat bimbingan Guru Mursyid Thariqah Naqsabandiyah bernama Syekh Syamsudin.

Syekh Syamsudin mendidik dan menggembleng mental spiritual Al Fatih kecil hingga tumbuh menjadi pemuda yang tangguh secara spiritual dan mental.

Sosok Al Fatih begitu mengagumkan karena kekuatan keyakinan akan pertolongan Allah Swt. dalam segala gerak perjuangannya. Terbukti dalam sejarah, ia lah orang yang ‘diramalkan’ oleh Nabi Muhammad saw. sebagai seorang pemimpin terbaik dengan pasukan terbaik.

Itu semua tidak terlepas karena pembinaan ruhani spritual dan mental yang secara istiqomah di gembleng oleh Guru Mursyid Thariqah Naqsabandiyah.

Kisah sukses Gerakan Thariqah yang tidak pernah gagal, tidak hanya terdapat pada sosok Al Fatih.

Sejarah Wali Songo di tatar Nusantara pun merupakan Gerakan Thariqah yang sangat gemilang. Kita bisa bayangkan medan dakwah saat ini. Kawasan Nusantara khususnya Jawa bukanlah tanah tak bertuan. Di pulau Jawa sudah dihuni oleh masyarakat yang terkenal sakti mandraguna.

Kerajaan yang berdiri kokoh pun bukanlah sekedar pusat pemerintahan semata. Tapi lebih dari itu, sebagai pusat kekuatan kedigjayaan. Sebutlah Kerajaan Majapahit, Padjajaran, dan Sriwijaya merupakan kerajaan besar dengan segala perangkat kedigjayaannya.

Sementara Wali Songo tidak memiliki sumber daya kekuatan seperti yang dimiliki para raja dengan pasukannya yang super tangguh. Namun sejarah mencatat, gerakan Wali Songo yang notabene merupakan gerakan dakwah Thariqah mampu membalikan keadaan.

Padjajaran cukup ‘bisa diselesaikan’ dengan satu orang, yaitu Kangjeng Sinuhun Sunan Gunung Djati atau Syekh Syarif Hidayatullah. Berkat Karomahnya sebagai Wali Quthub, seluruh Sunda Padjajaran menyatakan masuk Islam.

Begitupun dengan Padjajaran Banten, cukup diselesaikan dengan satu orang yaitu Maulana Sultan Hasanudin melalui tegaknya Kesultanan Banten yang kemudian mendunia.

Hal yang sama pun terjadi di Tanah Jawa belahan timur. Kerajaan Majapahit yang begitu digjaya akhirnya harus ‘takluk’ berperang tanpa sebutir peluru pun yang dilakukan oleh Kangjeng Sinuhun Sunan Ampel atau Raden Rahmat dan anggota Wali Songo lainnya.

Kemerdekaan Bangsa Indonesia pun tidak lepas dari peran penting gerakan thariqah yang militan mempertaruhkan jiwa raga untuk tegaknya sebuah bangsa dan mengamankan wilayah dakwah yang diwariskan oleh Wali Songo.

Berkibarnya Sang Saka Merah Putih merupakan wujud dari doa-doa kaum thariqah yang tulus mendoakan dan terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Berkat rahmat Allah Swt. dan didorong oleh keinginan yang luhur maka bangsa Indonesia memasuki gerbang kemerdekaan.

Sebagaimana peran thariqah di masa lampau, di zaman modernpun gerakan ini juga tidak pernah Gagal. Tercatat, gerakan thariqah berdiri di balik merdekanya negara Sudan, Aljazair, Maroko, Libya, Senegal, Cechnya dan banyak lagi.

Inilah fakta sejarah yang sulit di bantah. Bahwa gerakan thariqah tidak pernah gagal.

Sebagai generasi yang sadar sejarah bangsa, kita harus belajar bagaimana gerakan thariqah menggembleng jiwa raga lahir batin dalam membangun pondasi spiritual mental para kadernya.

Seperti yang kita sering nyanyikan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya: “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah badannya, Untuk Indonesia Raya.”

Demikianlah bagaimana gerakan thariqah bergerak, membangun Jiwa raga kemudian badannya. Seperti yang digambarkan oleh peribahasa jawa dengan tepat, “Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe”. Banyak terlihat diam tapi sangat berisi dan  berkualitas dalam bergeraknya.

Disini pula kita bisa membaca sejarah belahan lain,  bahwa gerakan apapun bila sandarannya cuma nafsu dan ketenaran, cepat atau lebih cepat akan redup dengan sendirinya.

Sejarah mengajarkan kepada kita, hanya gerakan thariqah yang berhasil meraih kemenangan tanpa sebutir peluru pun yang dilepaskan seperti yang dilakukan oleh para Wali Songo dalam mengislamkan tatar Jawa dan Sunda.

Penulis: Tubagus Soleh (Pengurus Idaroh Wustho JATMAN Banten)
Editor: Khoirum Millatin

Hikmah

Kisah Terompah Syekh Abdul Qadir yang Menolong Orang dari Perampok

Published

on

Dikisahkan oleh al-Sharafaini dan al-Harimi, pada suatu hari Syekh Abdul Qadir sedangmengambil air wudlu dengan menggunakan terompah (alas kaki yang terbuat dari kayu). Setelah ituia langsung sholat dua rakaat dan melepas terompahnya masihbasah terkena air wudlu.

Setelah menyelesaikan shalatnya, tiba-tiba iakeluardanmengambilterompah tersebut kemudian melemparkannya ke sebuah arah. Seketika kedua terompah itu langsung hilang. Orang-orang yang melihatnya termasuk al-Sharafaini dan al-Harimiterheran-heran melihat tingkahSyekh Abdul Qadir.

Selang dua puluh hari berikutnya pasca kejadian itu, barulah kejadian ganjil itu terungkap. Saat itu ada rombongan dagang yang datang ke rumah Syekh Abdul Qadir. Setelah sampai di depan rumahnya, pimpinan rombongan itu mengatakan bahwa mereka hendak sowan kepada Syekh Abdul Qadir dan menyampaikan terima kasihnya karena sudah ditolong.

al-Sharafaini dan al-Harimi yang menemui rombongan semakin penasaran, sebab selama ini Syekh Abdul Qadir tidak pernah bepergian jauh, sementara rombongan dagang itu merupakan orang-orang yang berasal dari kota yang jauh.

Sebagai bentuk terima kasihnya, rombongan itu memberikan kain sutra, perak dan emas kepada Syekh Abdul Qadir. Bukan hanya itu, yang menjadi petunjuk rombongan itu juga mengembalikan sepasang terompah Syekh Abdul Qadir.

Saat kedua terompah itu diberikan, al-Sharafaini dan al-Harimi pun bertanya, dari mana mereka memperoleh terompah Syekh Abdul Qadir itu?

Ketika mendapatkan pertanyaan dari al-Sharafaini dan al-Harimi, ketua rombongan tersebut langsung bercerita bahwa dua puluh hari yang lalu, mereka telah melakukan perjalanan untuk pergi berdagang. Di tengah perjalanan, mereka tiba-tiba dihadang oleh sekawanan perampok. Para perampok ini menjarah seluruh barang dagangan mereka.

Setelah berhasil menjarah seluruh barang dagangan mereka, para perampok itu segera berkumpul di sebuah lembah untuk membagi hasil jarahannya.

Dalam kondisi yang dipenuhi kesialan itu, salah seorang anggota pedagang mengatakan,

“Andai Syekh Abdul Qadir ada di sini, niscaya kami akan bernazar untuk memberikan sebagian harta jika kami selamat.”

Saat itulah, baru saja menyebut nama Syekh Abdul Qadir, mereka langsung mendengar teriakan keras dari para perampok yang sedang membagi hasil rampasannya di sebuah lembah.

Mereka pun segera menuju ke arah suara teriakan. Para perampok itu nampak ketakutan dan kesakitan. Para rombongan pedagang menduga bahwa kawanan rampok itu sedang diserang oleh para perampok lain. Namun ternyata di lembah tersebut tidak ada orang lain kecuali kawanan perampok yang telah menjarah harta mereka.

Semua gerombolan perampok itu mati kecuali satu yang menjadi pemimpinnya. Maka dengan diliputi ketakutan, pimpinan perampok yang masih hidup memanggil rombongan dagang yang tidak jauh dari lembah,

“Kemarilah, ambil ini seluruh harta kalian lagi, teman-temanku sudah mati semua oleh dua terompah basah ini. Sungguh ini merupakan peristiwa aneh.”

Setelah berkata demikian, pemimpin perampok itu segera lari meninggalkan teman-temanya yang sudah mati dan seluruh harta jarahan mereka serta kedua terompah basah itu.

Sumber: JATMAN, Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Hikmah

Kisah Hasan Al-Bashri Ditolak Saat Melamar Rabiah Al-Adawiyah

Published

on

Hasan Al-Bashri dan Rabiah Al-Adawiyah merupakan tokoh sufi yang sangat terkenal di zamannya. Banyak kisah hidupnya diabadikan dalam hasanah kitab klasik. Hasan Al-Bashri merupakan pembesar para tabi’in dan terkenal dengan sifat zuhudnya. Rabiah Al-Adawiyah adalah seorang wali perempuan yang mashur dengan konsep “hub” (cinta) kepada Allah yang begitu besar. Ada cerita menarik di antara kedua wali Allah ini yang patut disimak.

Suatu ketika, suami Rabiah Al-Adawiyah telah meninggal dunia. Kemudian Hasan Al-Bashri dan para sahabatnya bertamu ke kediaman Rabiah Al-adawiyah. Hasan Al-Bashri dan para sahabatnya meminta izin untuk masuk ke dalam rumah dan Rabiah mengizinkannya. Rabiah segera mengambil sebuah satir (kain penutup) dan duduk di belakang satir (yang memisahkan antara tamunya dan Rabiah).

Hasan Al-Bashri dan Para Sahabatnya berkata:” Wahai Rabiah, suamimu telah meninggal dunia, silahkan kamu memilih di antara orang-orang zuhud itu, siapapun yang kamu inginkan.”

Rabiah segera menjawab: “Benar saya senang dan saya memuliakan kalian semua. Tapi, aku akan bertanya siapa yang paling alim di antara kalian, sehingga aku akan menjadi istrinya”.

Mereka menjawab: “Hasan Al-Bashri lah yang paling alim di antara kami”

Rabiah mengajukan penawaran: “Jika kamu dapat menjawab empat permasalah ini, aku akan jadi istrimu”.

Hasan Al-Bashri berkata: “Baik, tanyalah aku, bila aku mampu menjawab, aku akan jawab”

Kemudian Rabiah mengajukan pertanyaannya yang pertama : “Bila aku mati, aku keluar dari alam dunia ini, aku dalam keadaan muslimah atau kafir ?”

Hasan Al-Bashri menjawab: “ini adalah urusan ghaib (samar) bagi makhluk.”

Rabiah bertanya lagi untuk yang kedua kalinya: “Bila aku nanti dikuburkan, dan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, apakah aku mampu menjawab atau tidak?”

Lagi-lagi, Hasan al-Bashri menjawab: “ini adalah permasalahan ghaib (samar) bagi makhluk”.

Rabiah bertanya untuk yang ketiga kalinya: “Saat manusia dikumpulkan di padang mahsyar besok di hari kiamat, dan buku catatan amal yang dicatat oleh malaikat hafadzah akan diberikan kepada para pemiliknya. Sebagian dari mereka menerima buku catatan tersebut dengan tangan kanannya (yaitu seorang mukmin yang taat) dan sebagiannya lagi menerima dengan tangan kirinya (yaitu orang-orang kafir). Apakah aku menerima catatan amalku dengan tangan kanan atau kiri?”

Hasan al-Bashri menjawab lagi dengan jawaban yang sama: “ini adalah urusan ghaib (samar) bagi makhluk”.

Rabiah bertanya untuk yang keempat kalinya: “Suatu saat di hari kiamat, kita dipanggil, sebagian kelompok masuk ke dalam surga, dan sebagiannya lagi masuk ke dalam neraka. Apakah aku termasuk ahli surga atau ahli neraka?”

Hasan al-Bashri menjawab lagi: “Ini juga urusan ghoib (samar) bagi makhluk”.

Kemudian Rabiah bertanya: “Apakah orang yang serius memikirkan empat perkara ini masih membutuhkan suami atau sibuk mencari suami?”

Dari kisah ini Hasan al-Bashri ditolak karena tidak mampu memuaskan pertanyaan dari Rabiah al-Adawiyah. Namun, ada hikmah dibalik kisah ini yakni bagaimana seorang hamba Allah sangat takut dengan akhir hidupnya. Ia merasa sangat takut yang tidak lain karena kejernihan hatinya dari kotoran dan berakarnya ilmu hikmah, yaitu ilmu yang disertai amal.

Kisah ini diambil dari kitab Uqudullujjain Karya Imam Nawawi Al-Jawi

Penulis: Hamzah Alfarisi

Editor: Warto’i

Continue Reading

Hikmah

Berkah Syekh Abdul Qadir Untuk Si Jompo

Published

on

Abu Saleh Nasr mengisahkan, bahwa ada seorang bernama Abdur Razaq yang pergi haji bersama ayahnya. Ketika anak dan ayah ini sampai di tanah suci, mereka berdua menginap di sebuah perkampungan bernama Hullah. Mereka memilih menginap di sebuah rumah orang miskin. Pemilik rumah ini adalah orang tua jompo.

Ketika keduanya masuk, didapatinya Syekh Abdul Qadir sudah berada di dalam rumah itu. Mereka berdua, setelah diizinkan si pemilik rumah, akhirnya tinggal di rumah itu beberapa hari sebelum pelaksanaan haji tiba.

Saat menginap itulah mereka berdua melihat dengan mata kepala sendiri bahwa banyak ulama dan masyayikh yang berdatangan secara rombongan ke rumah tersebut. Bahkan para pejabat di kampung Hullah juga turut datang. Mereka semua menaruh hormat kepada Syekh Abdul Qadir ketika tahu sang Syekh berada disana.

Banyak dari mereka yang meminta kesediaan Syekh Abdul Qadir untuk pindah ke rumah mereka yang terbilang mewah. Namun Syekh Abdul Qadir menolaknya secara halus, sang waliyullah lebih nyaman untuk tinggal di rumah si miskin tersebut.

Karena sang Syekh tidak bersedia pindah, maka para ulama dan kaum elit di Hullah memberikan sebagian harta mereka kepadanya. Di antara mereka ada yang memberikan kambing, emas, perak, kain sutera dan benda-benda berharga lainnya, sehingga terkumpullah harta itu dengan banyak.

Para penduduk kampung dan orang-orang awam juga banyak yang berbondong-bondong menjenguk Syekh Abdul Qadir untuk meminta doa dan berkah darinya. Ketika Syekh Abdul Qadir hendak melanjutkan perjalanan, ia mengatakan bahwa seluruh harta yang terkumpul hasil pemberian kaum elit dan orang kaya di Hullah itu diberikan kepada pemilik rumah yang ia tumpangi.

Karena terinspirasi dari Syekh Abdul Qadir, orang lain yang berkumpul juga memberikan sedekahnya kepada orang tua jompo miskin pemilik rumah. Orang tua itu pun langsung mendapat harta yang luar biasa banyak.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh JATMAN

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending