Connect with us

Artikel

Gaya Hidup Sehat Masyarakat Thoriqoh Melawan Pandemi Covid-19

Oleh: KH. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.

[Doktor bidang Tashowuf dan Thoriqoh dari Tilburg University School of Humanities and Digital Sciences, Tilburg, Belanda/Ketua Penasehat Roudhoh TQN Suryalaya Sirnarasa Pusat]

Published

on

Covid-19

Bangsa-bangsa di seluruh dunia tak kecuali bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi cobaan pandemi (global pandemic). Jutaaan warga dunia terpapar virus jenis corona (covid-19). Sebagian yang terpapar kembali pulih, sebagian lainnya tidak bisa bertahan.

Bangsa kita sejatinya bangsa yang kuat dan memiliki daya tahan menghadapi serangan wabah ini. Kekuatan dan daya tahan bangsa kita antara lain berasal dari kebiasaan dan kondisi kehidupan mayoritas bangsa kita yang terbiasa “berinteraksi” dengan virus yang ada di lingkungan terdekat mereka. Jadi survival mode-nya otomatis berjalan di segala cuaca dan kondisi buruk, termasuk memasuki masa pandemi ini.

Kekuatan dan daya tahan bangsa kita juga datang dari sistem kepercayaan yang berbasis spiritual. Keyakinan spiritual mereka pada level tertentu menjadi sumber ketenangan dan optimisme meski di dera keadaan terburuk sekali pun. Sikap mental seperti ini, seperti akan dijelaskan dalam tulisan ini, sangat penting dimiliki. Tidak sedikit juga anak bangsa kita yang mengimani bahwa semua yang terjadi adalah ujian kesabaran yang jika mampu melewatinya akan meraih kemuliaan. Demikian, mereka lebih tabah dan tangguh menghadapi semua –sebuah sikap jiwa yang juga sangat diperlukan di situasi pandemi plus resesi ini.

Pandemi, Ujian Tauhid

Di masa pandemi covid-19 ini, bangsa Indonesia khususnya umat Islam, mesti berhati-hati memilih kata atau Isiah yang bisa menodai kesucian jiwa bahkan membatalkan tauhid. Haramkan lisan kita untuk berkata: “virus mematikan” atau “penyakit mematikan”. Sabda Tuan Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs, “Tidak ada yang mematikan kecuali yang menghidupkan”. Apa artinya?

Kuasa tunggal yang mematikan –seluruh makhluk hidup– itu hanya ALLOH yang Maha Hidup dan Menghidupkan, “المميت itu pasti المحيي,” demikian tandas Mursyid Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah Ma’had Suryalaya ini. Bukan virus! Kalau kita sembrono menggunakan kata “virus mematikan” maka Tauhid kita rusak.

Pernyataannya disandarkan pada Firman ALLOH ‘azza wajalla:

وَهُوَ الَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلٰفُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ  ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan Dialah (Alloh) yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pergantian malam dan siang . Apakah kamu tidak berpikir?” (QS. Al-Mu’minun/23 : Ayat 80)

Pada bagian Surat-surat yang lain Firman-NYA:

هُوَ الَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ  ۖ فَإِذَا قَضٰىٓ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُنْ فَيَكُونُ

“Dialah (Alloh) yang menghidupkan dan yang mematikan. Maka apabila Dia hendak menetapkan sesuatu , Dia hanya berkata kepada sesuatu itu, Jadi! Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Ghofir/40: 68)

… لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ  ۖ فَئَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ …

“… tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi dengan sebenar-benarnya) selain Dia (Alloh), yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Alloh dan Rosul-Nya…” (QS. Al-‘Arof/7:158)

Menjaga dan memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syeikh Abdul Malik Romadhon hafizhohulloh berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16)

Di masa mewabahnya tho’un [pandemic/الطاعون] Guru-guru Sufi Agung tegas menyatakan bahwa solusi tunggal mengatasinya ialah dengan memperbanyak dzikrulloh. Bukan sembarang dzikir, tapi dzikir yang resepnya resmi dari الطبيب الاروح, yakni, para Syeikh Mursyid di setiap masa sebagai penerus dan pewaris resep Kesehatan Jiwa manusia dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam yang terangkai dalam Ahli Silsilah Thoriqoh.

Tentang keutamaan Dzikir dengan resep resmi, yang bersanad sampai Rosululloh –atau disebut dzikir dari Thoriqoh Mu’tabaroh, Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom) dalam karya masterpiece-nya Kitab Miftahush Shudur mengatakan:

وَكَانَ الذِّكْرُ لاَ يُفِيدُ فَائِدَةً تَامَّةً إِلاَّ بِالتَّلْقِينِ

Dan adalah dzikir tidak akan memberi manfaat yang sempurna kecuali dengan ditalqinkan.

Apa manfaat yang sempurna dari Dzikir dari Ahlut Talqin? Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul qs menyampaikan:

مَنْ ذَكَرَ اللهَ تَعَالٰى حَفِظَهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Barangsiapa yang berdzikir kepada Alloh Ta’ala maka Alloh pasti menjaganya dari segala sesuatu.

Berkata juga Syeikh Abdul Wahab Asy-Syaroni dalam kitabnya, Minahus Saniyyah :

وَاعْلَمْ أَنَّ بِذِكْرِاللهِ تَعَالَی تُدْفَعُ اْلاٰفَاتُ

Dan ketahuilah dengan dzikir kepada Alloh Ta’ala ditolak berbagai macam penyakit (penyakit dhohir dan penyakit bathin).

اَلذِّكْرُ سَيْفُ الْمُرِيْدِيْنَ  بِهِ يُقَاتِلُوْنَ اَعْدٓاءَهُمْ مِنَ الْجِنِّ وَاْلاِنْسِ

وَبِهِ تَدْفَعُوْنَ اْلاٰفَاتِ الَّتِيْ تَطْرُقُهُمْ

Dzikir adalah pedangnya para murid yang dengan dzikir tersebut mereka memerangi musuh-musuh mereka dari golongan jin dan manusia dan dengan dzikir tersebut mereka menolak berbagai macam penyakit yang menyerang mereka.

Secara spesifik, mufassir asal Indonesia, Prof Dr Quraish Shihab dalam salah satu tafsirnya menyebutkan bahwa salah satu transformasi gangguan jin itu adalah virus. Dengan demikian, dzikirulloh itu mencegah sekaligus menolak virus.


Dzikir Thoriqoh: Menguatkan Iman, Meningkatkan Imun System

Bagaimana menjelaskan Dzikir yang tata caranya melalui vaksinasi Talqin Dzikir menyehatkan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan bisa mematikan virus?

Pertama, desain perception tubuh manusia itu sendiri sesungguhnya super canggih. Di antara kecanggihannya ialah sejak awal sudah dirancang-NYA memiliki sistem kekebalan (imun system): anti-bodi. Tubuh yang sehat imun systemnya akan otomatis menolak jika ada sesuatu yang asing –seperti virus– masuk. Artinya, tubuh punya self-defense mechanism.

Dalam kondisi tubuh yang prima, anti-bodi ini bisa serta merta menyerang balik, melumpuhkan dan mematikan ‘benda asing’ yang masuk. Jadi tubuh yang tingkat kekebalannya tinggi bisa membunuhi virus-virus itu. Lalu bagaimana agar tubuh punya antibodi/imunitas tinggi di atas rata-rata?

Tubuh itu sendiri, asal tahu caranya, punya cara tersendiri untuk menjaga antibodi tetap prima bahkan terus meningkat tanpa rangsangan obat-obatan. Bagaimana? Sederhana dengan cara: mengeluarkan suara berirama, mengatur hembusan nafas keluar-masuk dan menggerakkan tubuh ke arah-arah tertentu.

Tentu bukan sembarang suara, bukan sembarang olah nafas, dan bukan sembarang gerakan tanpa arah, melainkan irama suara dzikir kalimatus syifa, nafas dengan hembusan kalimatut thoyyibah, dan gerakan kepala yang terarah menghujam ke arah dua jari di atas-bawah susu kiri dan kanan.

Perpaduan suara dan gerakan inilah yang secara kimia alami akan memantik dua kekuatan super dahsyat: [1] Menguatkan sistem keimanan yang bertransformasi pada sikap jiwa hilangnya perasaan takut kepada selain-NYA. Seorang yang imannya kuat tidak akan takut virus bahkan tidak takut kematian sekalipun. Sikap jiwa ini sangat penting karena akan melahirkan efek spiritual seperti digambarkan Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam.

من خفى الله خفه كلّ شيئ،

Barang siapa yang takut hanya pada Alloh akan ditakuti segala sesuatu. Sikap jiwa tiada rasa takut terhadap apapun hanya kepada Alloh berkelindan dengan pont berikutnya.

[2] Meningkatkan imun system akibat produksi massal hormon endorfin secara alamiyah, hormon yang menyehatkan jiwa karena antara lain mengeluarkan efek bahagia. Kebahagiaan yang melimpah akan membuat seseorang hidupnya tenang, senang, jauh dari kepanikan, ketakutan. Hormon dan kondisi psikologis yang bahagia karena mengingat –diingat dan bersama– Yang Maha Mematikan-Menghidupkan inilah penyumbang tertinggi naiknya antibodi/imunitas. Kalau seseorang tinggi imunnya karena imannya maka virus pun mati –dimatikan sendirinya.

Kedua, virus seperti Covid-19 yang biasa menyerang dan bersarang di jalur pernafasan hanya bisa dibasmi dengan dibakar dan dihanguskannnya hantaran energi panas di dalam tubuh. Tentu bukan sembarang udara suhu panas, melainkan energi panas yang bersumber dari vibrasi suara dan gerakan Api Dzikir. Vibrasi suara dan gerakan dzikir berfrekuensi tinggi inilah yang menggenerate energi panas.

Nabi Shollaho ‘alaihi wasallam menyatakan,  الذكر نار للشّياطين. Dzikir itu api bagi virus Syetan pengganggu. Maka berdzikirlah senafas-senafas maka vibrasi energi Api Dzikir itu akan membakar, menghanguskan virus. Energi panas Api Dzikir, ditegaskan Tuan Syeikh, lebih panas dari api Neraka Jahannam. Hangus terbakar matilah virus-virus itu bahkan hanya dengan hembusan hawanya saja.

Demikianlah tawaran solusi, tips sehat dari dokter ruh, para Syeikh Mursyid Thoriqoh. Tawaran solusi ini momentum di tengah banyak wilayah di sepanjang tahun ini ditetapkan pemerintah sebagai kawasan zona merah (red zone). Haturterimakasih kepada Guru Kekasih ALLOH yang telah mengajarkan bagaimana menjalani gaya hidup sehat dengan dzikir khusus di era pandemi ini.[]

Baca juga Kenapa Mesti Hati-hati Memilih Apa yang Dimakan?

Artikel

Ajaran Thariqah Syattariyah: Tujuh Nafsu yang Harus Diperangi

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Pada masa Turki Ustmani (kerajaan Ottoman), thariqah Syattariyah disebutkan dengan thariqah Bisthomiyyah, sedangkan di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dikenal dengan thariqah ‘Isyqiyyah, karena Abu Yazid al-‘Isyqi dianggap sebagai tokoh utamanya, namun pengamalan thariqah ini tetap satu dan tidak ada perubahan yang prinsipil.

Thariqah ini telah dibawa dan dikembangkan pula di Indonesia melalui Aceh oleh Syekh Abdurrouf Singkel (1615-1693). Kemasyhuran Abdurrauf Singkel (as-Singkili) tidak hanya terbatas di Aceh saja, tetapi juga diberbagai kawasan di Indonesia. Murid-muridnya kemudian menyebarkan thariqah yang dibawanya. Diantaranya Syekh Burhanuddin dari pesantren Ulakan Sumatra Barat.

Di Jawa Barat, thariqah ini di kembangkan oleh Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, dan kemudian thariqah ini menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Baca juga: Tujuh Macam Dzikir Tarekat Syatthariyah

Di Sulawesi Selatan, thariqah ini disebarkan oleh salah seorang tokoh thariqah Syattariyah yang cukup terkenal, yakni Syekh Yusuf Taajul Khalwati (Moncong Lowe, Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 / Syawwal 1036 – Capetown Afrika Selatan, 23 Mei 1699 M).

Beliau seorang ulama, mufti, pendiri thariqat dan penulis. Ia lahir 21 tahun setelah Islam diterima sebagai agama resmi di kerajaan Gowa (1605).

Dalam ajaran thariqah Syattariyah, selain memiliki tujuh macam dzikir, ia juga memiliki ajaran tujuh macam nafsu yang harus diperangi. Menurut KH. A. Aziz Masyhuri, dalam bukunya, 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf, ketujuh macam nafsu yang harus diperangi tersebut adalah:

  1. Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut: senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.
  1. Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, ‘ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.
  2. Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana’ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, taubat, sabar, dan tahan meng- hadapi segala kesulitan.
  1. Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridha, dan takut kepada Allah SWT.
  1. Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara’, riyadlah, dan menepati janji.
  2. Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.
  3. Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Adapaun dzikir khusus dengan nama-nama Allah (Al-Asma Al- Husna), tarekat syattariyah membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok, yakni:

a) Menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti Al-Qahhar, Al-Jabbar, Al- Mutakabbir, dan lain-lain.

b) Menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, Al-Malik, Al-Quddus, Al-‘Alim, dan lain-lain.

c) Menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti Al-Mu’min, Al- Muhaimin, dan lain-lain. Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebut- kan di atas.

Continue Reading

Artikel

Mengenal Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah (2)

Pada tulisan sebelumnya sudah dipaparkan tentang sejarah kelahiran dan masa kecil Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, pekerjaan dan organisasi yang pernah digeluti, sejarah berguru dan silsilahnya.

Published

on

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya

Karakter Prof Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya

Mendidik Anak dan Hobi

Dalam mendidik anak-anak dan cucu-cucunya, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya menggunakan metode yang tegas. Hal ini merupakan prinsip Beliau untuk memegang teguh aspek-aspek Islam dalam membesarkan dan mendidik keluarga, yang semuanya sejalan dengan apa yang tercantum di dalam kitab suci Al-Qur’an, yang menyebutkan “Selamatkan dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.”

Sebagai contoh dalam penerapannya sehari-hari, apabila ada dari anak ataupun cucunya yang kurang patuh, dan mengabaikan syariat Islam, maka Beliau akan segera memberi peringatan ataupun hukuman yang sifatnya mendidik. Walaupun semua ini tentunya sudah berulang kali disampaikan Beliau kepada keluarganya, namun tak jarang anak-anak maupun cucunya lalai dalam mematuhi aturan-aturan tersebut.

Tetapi Pada dasarnya seluruh keluarga Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sangat memahami, bahwa ketegasan Beliau tersebut sebenarnya adalah bentuk kasih sayang yang mendalam terhadap keluarganya.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya senantiasa memberikan contoh dan mengajar keluarganya dengan disiplin yang tinggi, kepatuhan, belajar untuk selalu amanah, hemat, jujur dalam setiap perkataan dan tindakan, penuh kesabaran, mandiri, dan selalu rendah hati. Hal ini tercermin dalam setiap kali Beliau memberi instruksi kepada seseorang, Beliau selalu mengajarkan untuk selalu menggunakan kata “tolong”.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sangat tegas dalam menyampaikan pesan kepada seluruh anggota keluarganya, dan menegur dengan keras, jika ada keluarga yang bersikap ataupun mengganggap murid terhadap murid-murid Beliau. Maka Beliau selalu mengingatkan dan mengatakan kepada keluarganya, “Jangan kalian permurid muridku”.

Walaupun dalam keseharian Beliau yang padat akan tugas-tugas sebagai guru tarekat, berikut dengan berbagai permasalahan kehidupan murid-muridnya yang selalu diadukan kepadanya, ditambah lagi dengan segala macam berkas laporan yang tidak pernah berhenti menumpuk di meja Beliau, namun Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya tetap berusaha melaksanakan hobi-hobinya disela-sela kesibukannya.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sangat senang membaca, segala jenis buku. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya tumpukan buku di ruang kerjanya. Beliau juga senang menulis, dan banyak buku-buku karya Beliau tentang tarekat, yang bahkan telah diseminarkan di perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.

Hobi Beliau yang lainnya adalah menembak, yang dapat dilihat dari koleksi senjata yang dimilikinya yang mencapai puluhan jumlahnya, berenang, memancing, bercocok tanam, dan memelihara hewan. Berbagai hal ini mewarnai kediaman Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya yang selalu penuh dengan beraneka jenis hewan piaraan hingga taman-taman yang tersusun rapih dari beragam jenis tumbuhan buah-buahan hingga tanaman langka dan bunga-bunga indah.

Tak heran jika aneka hobi dari Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya ini banyak yang “menular” kepada anak dan cucunya. Sudah merupakan kelaziman bagi anak dan cucunya untuk mengisi hari-harinya dengan rajin membaca buku. Untuk hal membaca ini, Beliau dengan sengaja meletakkan buku-buku di semua tempat di areal rumahnya, di atas meja dan kamar-kamar. Hal inilah yang memicu keturunan Beliau untuk juga gemar membaca.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dalam kesehariannya sering menghabiskan waktu istirahatnya di kursi malas dekat ruang baca Beliau. Terkadang Beliau memanggil anak-anaknya atau cucu-cucunya untuk membacakan buku, koran, buku-buku silat, sembari yang lain memijat kakinya sampai Beliau tertidur.

Dengan cerita-cerita dari berbagai bacaan ini menginspirasi anak-anak dan cucunya untuk gemar membaca, dan tumbuh rasa penasaran dari buku-buku tersebut, membuat mereka ingin terus membaca, ketika sudah selesai membacakan untuk Beliau.

Maka, tak jarang anak-anak dan cucu-cucu Beliau didapati berkumpul di suatu tempat, sambil bergilir membaca buku-buku silat dengan saling buru-memburu siapa duluan yang akan membaca lebih cepat dari satu jilid ke jilid berikutnya, karena takut apabila lambat membaca, akan diceritakan duluan oleh mereka yang sudah membaca.

Dalam waktu senggangnya, setelah selesai membaca buku-buku tentang filosofi, bacaan-bacaan tentang kebatinan, maupun cerita-cerita ringan seperti cerita silat, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sering mendiskusikan dan membahas filosofi dari bacaan-bacaan tersebut bersama anak-anak dan cucu-cucunya. Hal ini disengaja dilakukannya, agar keluarga Beliau terbiasa untuk cepat menangkap filosofi, nilai-nilai, dan mengambil hikmah dari berbagai bacaan maupun peristiwa kehidupan.

Pendidikan terhadap anak-anak dan cucu Beliau selalu dikaitkannya dengan ajaran Islam, dengan Al-Qur’an dan Hadist, dan dengan petuah-petuah ahli-ahli sufi, agar dalam hati keluarganya terus melekat nilai-nilai Islami yang memang menjadi panutan dan panduan utama bagi Prof. Dr. H. Kadirun Yahya.

Belau selalu menekankan pada keluarganya untuk rajin mempelajari agama Islam, tentang sejarah islam, sejarah para sufi, sejarah para guru-guru tarekat Naqsyabandi, dan bagaimana menggali ilmu dalam membaca. Maka tak heran anak-anak dan cucu-cucu Beliau hampir selalu “melahap” bacaan apapun yang ditemukan, mulai dari buku-buku hingga koran-koran bekas sisa bungkus belanjaan.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah sosok yang sangat rapi dan tertib. Pesan yang selalu disampaikannya kepada seluruh keluarganya adalah, “Hai…. Kalian jangan teledor, jangan sembarangan, jangan berserak-serak, di mana barang itu diambil harus diletakkan kembali di tempat kalian dapat, jangan tercampak ke sana ke mari, ingat ya… Letakkan sesuatu pada tempatnya. Serahkan segala sesuatu pada ahlinya. Jika tidak, tunggulah kiamatnya.”

Kerapian dan ketertiban Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dapat dilihat dari bagaimana Beliau menempatkan barang-barang pribadinya yang selalu tersusun dengan sangat rapih dan disimpan di tempat yang selalu sama, mulai dari pulpen, lilin, kertas, dll. Beliau sering berkata, “Apabila mati lampu, dengan tutup mata aku bisa menemukan barang-barangku ini semuanya.”

Untuk hobinya menembak, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah seorang sniper atau penembak jitu. Setiap pagi setelah sholat subuh Beliau sering berjalan berkeliling kampus, sambil berlatih menembak dengan daun-daun sebagai sasarannya. Terkadang Beliau juga menjadikan batang-batang buah jambu yang tumbuh subur di pekarangan rumah Beliau untuk menjadi sasaran tembak, tembakan Beliau bisa dikatakan hampir selalu jitu dan tepat sasaran.

Sementara itu, kesenangan Beliau terhadap tumbuhan dan buah-buahan, menjadikan areal rumah Beliau sangat asri, dengan beraneka pohon-pohon buah, mulai dari jambu, mangga, pepaya, nangka, rambutan, pisang, sayur mayur, kelapa, dan lain-lainnya.

Beliau senantiasa mengajarkan untuk mencintai tanaman dan suka menanam pohon. Beliau sering berkata bahwa, “Walaupun kita tidak sempat menikmati hasil pohon yang kita tanam, tetap tanamlah, karena nanti orang lain akan menikmati hasilnya.”

Karena demikian cintanya Beliau dengan tanamannya, terdapat beberapa pohon yang tetap dipertahankan walaupun berada di dalam bangunan rumah, karena Beliau sangat sayang untuk memotongnya. Ini adalah salah satu bentuk nyata Beliau dalam menghormati alam beserta isinya.

Begitu juga dengan hewan-hewan, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sangat senang dengan binatang, sehingga hampir di setiap sudut kediamannya terdapat beraneka satwa yang dipelihara dengan baik oleh Beliau, mulai dari ayam, kelinci, beragam jenis burung dan ikan, itik, rusa, monyet, kambing, biri-biri, kuda, kerbau, lembu, dan masih banyak lagi jenis hewan yang menjadi peliharaannya.

Beliau sangat mencintai hewan peliharaannya, sehingga cenderung membiarkan hewan-hewan tersebut berkeliaran bebas tanpa kandang di perkarangan rumahnya, sehingga hal ini sering menjadi kenangan indah akibat berbagai peristiwa lucu yang terjadi di areal rumah Beliau.

Pernah suatu ketika gerombolan lembu peliharaan Beliau masuk dari pintu depan rumah dan berjalan keluar melalui pintu belakang tempat tinggal Beliau, yang sambil lalu hewan-hewan tersebut melewati meja makan keluarga, dan tak jarang ikut menghabiskan makanan yang terhidang di meja makan, memporak-porandakan meja beserta seluruh makanan di atasnya, dan saat keluar melalui pintu belakang, di mana di belakang rumah adalah areal untuk menjemur pakaian seluruh keluarga besar Beliau, gerombolan lembu tersebut mengunyah baju-baju yang ada di jemuran.

Tak jarang sapi-sapi tersebut juga masuk ke ruang kelas-kelas di lingkungan sekolah Panca Budi yang berada di areal perumahan Beliau, untuk membuang kotorannya, ketika proses belajar mengajar tengah berlangsung. Ini tentu menjadi sebuah kenangan lucu dan indah bagi alumni-alumni sekolah Panca Budi.

Terkadang lembu-lembu ini juga mengikuti upacara bendera bersama murid-murid di lapangan, dan duduk manis di depan barisan. Anehnya, walaupun sudah sering dihalau agar tidak mengganggu, namun tetap saja hewan-hewan itu seolah-olah tidak perduli dengan hal-hal tersebut.

Selain lembu, hewan-hewan peliharaan yang lain pun sepertinya tidak mau ketinggalan, untuk ikut andil dalam membuat kemeriahan di areal Panca Budi. Ada monyet yang sering mengejar orang-orang yang lewat, monyet yang bergantungan di rindangnya pohon sekitar rumah Beliau yang selalu menakut-nakuti orang-orang yang sedang berlalu-lalang di bawahnya, kuda yang lari karena ditunggangi oleh monyet, ada monyet yang menunggangi kambing sambil mengelilingi areal Panca Budi, dan masih banyak lagi berbagai peristiwa lucu lainnya.

Mungkin inilah salah satu penyebab mengapa anak cucu Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya juga senang memelihara tanaman dan binatang hingga saat ini. Ada banyak kisah lucu dan menjadi kenangan yang tak terlupakan yang selalu diceritakan oleh anak cucu Beliau sampai hari ini.

Seperti anak laki-laki Beliau yang bernama Iskandar Zulkarnain, yang akrab dipanggil In, yang sering didapati sedang berkubang bermain-main dengan kerbau berjam-jam di parit lapangan bola. Adiknya yang bernama Abdul Khalik Fajduani, yang biasa dipanggil Don, memelihara puluhan ekor bebek di kamar tidurnya. Sedangkan Siti Mariam yang akrab dipanggil Mary, adik perempuannya, memelihara bebek dan kucing di kamarnya, sampai membuatkan tenda atau kemah untuk hewan-hewan peliharaannya tersebut.

Sampai sekarang cucu-cucu Beliau pun masih senang dengan berbagai hewan peliharaan. Salah seorang cucu Beliau yang bernama Kiki, sampai hari ini memiliki hobi memelihara bermacam-macam hewan, di antaranya adalah kuda laut, kura-kura Brazil, berjenis-jenis ikan, burung, angsa, kalkun, dan beraneka macam ayam dari berbagai negara.

Cucu lainnya yang bernama Lulu sangat senang memelihara kucing dan iguana, bahkan dia pernah memungut anak tikus yang ditemukannya sekarat di tengah jalan, dan Lulu juga pernah memelihara ular ketika ia tinggal di India. Cucu Beliau lainnya yang bernama Muaz pernah memelihara tupai dan musang di kamar tidurnya.

Eksentrik dan Humoris

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah seorang yang eksentrik, sangat percaya diri dan humoris, walaupun Beliau juga sangat menjaga norma-norma sosial yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Ada sebuah kisah menarik, pernah suatu ketika Beliau membeli mobil baru Holden Kingswood berwarna putih. Beliau tidak tahan akan dinginnya AC, namun ingin mobil tersebut di dalamnya tetap terasa sejuk. Apa yang dilakukan Beliau terkadang tidak bisa kita duga.

Dengan sangat percaya dirinya, Beliau memanggil murid-muridnya, dan berkata “Saya punya mobil baru, namun saya tidak mau kena AC, tapi saya mau udara di dalam mobil tetap sejuk.” Maka apa yang dilakukannya? Ternyata Beliau meletakkan kasur kapuk di atas mobilnya, diikat dengan tali, dan di atas kasur tersebut disiram air agar ruangan di dalam mobil tetap dingin. Bila kasur itu kering di tengah perjalanan, Beliau mencari sumber air untuk membasahi kembali kasur itu menggunakan gembor yang biasa dipakai untuk menyiram bunga.
Sebelum banyak disibukkan dengan beraneka ragam aktivitas, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sering mengajak anak-anaknya untuk berenang bersama. Ketika berenang, anak-anaknya akan duduk di atas punggung Beliau dan berenang berkeliling kolam, layaknya kapal yang sedang membawa penumpang.

Banyak lagi kisah unik Beliau. Dalam kesehariannya, di rumah atau surau yang Beliau pimpin selalu ada anak-anak asuh yang tinggal bersama Beliau, dan dibimbing langsung olehnya, yang jumlahnya hampir mendekati 200-an orang. Anak-anak asuh inilah yang disebutnya sebagai “Ansor”, atau istilah lainnya adalah “Anak Surau”.

Dalam mendidik para Ansor, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya juga sangat disiplin untuk mengajarkan kepatuhan yang tinggi dan pengabdian yang tidak berbatas, sehingga banyak hal yang dilakukan Beliau dalam memberi contoh kepada Ansor-Ansornya. Dengan berbagai ragam latar belakang kehidupannya, para Ansor yang didik oleh Beliau dilatih dipersiapkan untuk menjadi manusia-manusia unggul yang akan berkiprah dalam kehidupan mereka di kemudian hari kelak.

Beliau tetap selalu membawa nilai-nilai Islam dalam proses pendidikan para Ansor tersebut, dan Beliau selalu menekankan kepada anak-anak didiknya, “Jangan kalian minder, jangan kalian malu, jangan kalian rendah diri, apa bila kalian benar. Malu itu kalau kita mencuri, berbohong, dan berbuat kesalahan.”

Hal-hal inilah yang selalu Beliau tanamkan kepada para Ansor, yang terkadang membuat berbagai hal konyol terjadi dalam perilaku keseharian Ansor-Ansor tersebut. Misalnya ada Ansor yang saat pergi ke pusat perbelanjaan hanya menggunakan sarung tanpa alas kaki. Ketika ditanya, kenapa mereka berpenampilan begitu, para Ansor dengan serta-merta menjawab, “Kenapa harus malu, orang kami nggak mencuri kok.”

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah sosok yang sangat humoris bagi keluarga dan lingkungannya. Tak jarang Beliau melakukan hal-hal usil, seperti menggunakan topeng cakil dan kerudung sambil bersembunyi di balik pintu menunggu orang lewat di depannya, kemudian Beliau akan berseru “Hhhaaaa….” untuk mengagetkan dan menakut-nakuti orang yang lewat. Hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi Beliau.

Keusilan dan ke-eksentrik-an Beliau, ternyata “menular” pula kepada anak laki-laki sulungnya, yang bernama Iskandar Zulkarnain atau yang biasa dipanggil In. In sangat sering menggoda keponakan-keponakannya sehingga mereka ketakutan, dengan cerita-cerita horror yang dikarangnya sendiri. In yang berbadan besar dengan tinggi badan hampir dua meter pernah pergi menonton bioskop dengan memakai terompah kayu dan terkadang memakai baju terbalik. Ketika diingatkan bahwa bajunya terbalik, maka In berkata “Ah, nggak kok. Coba lihat dari dalam, manalah terbalik.”

Disiplin Dalam Ritme Kehidupan

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya senantiasa menjaga kesehatan dengan sangat baik sekali. Beliau tidak suka dengan pakaian yang sudah terkena keringat, maka jika berkeringat walau sedikit, Beliau langsung mengganti pakaiannya. Pola hidupnya benar-benar disiplin, sampai pengaturan pakaianpun sangat rapi dan baju harus digantung dengan jenis pakaian yang sama.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya selalu berpenampilan sangat rapi dan menjaga kebersihan. Beliau tidak pernah memakai pakaian yang tidak sesuai. Anak cucunya tidak pernah melihatnya memakai singlet ataupun celana pendek. Bahkan anak-anaknya pun tidak pernah melihatnya bertukar baju di depan mereka.

Beliau juga sangat menjaga pola makan. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya tidak pernah makan daging, ayam, santan, minyak, kerupuk, garam dan gula. Adapun yang dikonsumsinya hanyalah belut, ikan lele, ikan gabus, dan terkadang ikan senangin atau bawal. Ikan-ikan itu dibeli di pasar dalam keadaan hidup dan sebisa mungkin akan dipelihara lebih dulu selama tiga hari sebelum dikonsumsi, untuk membersihkan racun-racun yang mungkin ada pada ikan tersebut dan menghilangkan aroma lumpur.

Beliau sangat suka makan kue nenas dan kolang-kaling, karena ibunya selalu membuat makanan tersebut pada hari raya. Namun Beliau hanya mengkonsumsi satu potong kue nenas serta dua butir kolang-kaling dan hanya pada saat lebaran, untuk mengenang ibunya.
Sayur untuk makanan Beliau selalu direndam dahulu dengan air garam, dan selanjutnya direndam lagi dengan Kalium Permanganat, kemudian dibilas dengan air yang mengalir. Beliau senantiasa mengkonsumsi beras merah, memakan sayur mentah, pepaya dan santan, buah-buahan, madu, kacang hijau rebus setengah masak, air kencur dicampur dengan air kunyit.

Apabila Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya dan keluarganya demam atau kurang enak badan, sudah menjadi tradisi bagi Beliau untuk membuat air lobak cina, nenas muda dicampur dengan gula batu dan asam jawa. Diminum ketika masih hangat.

Beliau sedapat mungkin menggunakan cara-cara tradisional bila merasa kurang enak badan, hal ini juga dilakukan turun-temurun terhadap keluarganya, misalnya: jika batuk maka akan bertangas atau beruap dengan air panas yang dicampur Vicks Vaporub, jika diare maka Beliau akan meminum susu Bear Brand dan mengkonsumsi norit yang merupakan campuran kerupuk jangek, pulut putih, beras dan gambir.

Beliau melazimkan mandi es di tengah malam, untuk memberi efek rileks pada syaraf-syaraf. Oleh karena itu kesehatan dan fisik Beliau sangat prima dan terjaga. Hal inilah yang menyebabkan mata dan fikiran keluarga Beliau menjadi terbuka dan peduli pada kesehatan.
Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya juga selalu memberikan pelajaran dan contoh-contoh dalam perilaku kehidupan dengan sangat jelas dan tegas. Beliau akan sangat marah apabila ada makanan yang bersisa, atau jika ada barang-barang yang masih bisa digunakan tapi sudah dibuang.

Seringkali pada saat Beliau membawa keluarganya ke restoran, semua yang dipesan harus dihabiskan tanpa tersisa. Bila ada yang tersisa, walaupun hanya dua sendok nasi goreng, maka semua harus dibungkus dan dibawa pulang. Hal ini mengajarkan keluarganya untuk tidak mubazir dan membuang makanan. Beliau berkata “Pesanlah makanan sesuai kesanggupanmu menghabiskannya, Jika kurang, pesanlah lagi. Namun jika berlebih, bertanggungjawablah untuk menghabiskannya.”

Anak cucu Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya selalu diperlakukan sama dengan para Ansor yang tinggal di Panca Budi. Jika di malam hari, Beliau sering mengumpulkan anak cucunya untuk melakukan rapat bersama Ansor. Bila anak cucunya melakukan kesalahan maka akan mendapat perlakuan yang sama dengan Ansor yang melakukan kesalahan. Anak cucunya langsung dimarahi di depan Ansor pada saat itu. Mungkin inilah yang menyebabkan Ansor merasa disayang seperti anak sendiri dan menjadi akrab dengan keluarga besar Beliau.
Bila Ansor tidak disiplin seperti menghilangkan atau tidak mencuci piring dan gelas sehabis makan, maka sebagai hukuman piring dan gelas akan disimpan sehingga mau tidak mau Ansor akan membuat piring dan gelas dari batok kelapa. Pelajaran dan hikmah yang diambil oleh anak cucunya dan para Ansor adalah mencari solusi dalam keadaan situasi apapun dan tetap disiplin. Apabila Ansor tidak sholat dan melanggar peraturan, maka hukumannya tidak boleh makan. Makanan yang sudah dimasak langsung diantar ke tempat anak yatim.

Romantisme

Secara kasat mata, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah sosok yang nyentrik, tegas dan disiplin. Penampilannya selalu rapih, dengan perawakannya yang gagah dan tegas, namun sejatinya Beliau adalah sosok yang sangat romantis dan penuh kasih sayang. Tak semua orang bisa melihat sisi romantis Beliau, hal itu hanya bisa terlihat dalam keseharian Beliau ketika bersama dengan anak-anak dan istri tercintanya.

Banyak moment-moment tak terduga yang terjadi di dalam keluarga Beliau, misalnya terkadang Beliau dan istrinya Hj. Habibah bernyanyi sambil diiringi musik ataupun nyanyian anak-anaknya. Di waktu-waktu senggang hampir sehari-harinya Beliau dan keluarga besarnya sering berkumpul dan bernyanyi bersama, ini merupakan sebuah anugerah di mana hampir sebagian besar keturunan Beliau mempunyai suara yang merdu dan bisa memainkan banyak alat musik, walaupun kebanyakan tidak pernah belajar musik secara khusus.

Karena hal inilah Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya membuat ruangan yang di dalamnya banyak tersedia alat musik, mulai dari piano, organ, keyboard, drum, gitar, dll, sehingga alat-alat tersebut seringkali dimainkan sewaktu keluarga berkumpul.
Bakat bermusik pada anak-anaknya kemungkinan besar diturunkan dari istri Beliau, Hj.Habibah, yang sangat pandai bernyanyi dengan nada suara tenor yang tinggi mencapai hampir tiga oktav. Bernyanyi adalah hobi Hj. Habibah, ketika masak, mandi, berberes rumah, dan apapun kegiatannya tak luput dari nyanyian, dan di dalam keluarga Beliau sepertinya “tiada hari tanpa suara merdu Hj. Habibah.”

Cucu dan cicit Beliau juga pandai bernyanyi dan pandai pula memainkan alat musik. Nampaknya seluruh keluarga Beliau memiliki bakat seni yang tinggi.

Sisi romantis Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya juga terlihat ketika sedang melakukan travelling bersama keluarga besarnya. Biasanya ketika travelling mobil-mobil akan saling beriringan dan Beliau menggunakan mobil berbeda dengan anak-anaknya. Namun dalam perjalanan, anak-anaknya dipanggil untuk pindah ke mobil Beliau untuk bernyanyi bersama.
Dalam berbagai kesibukannya, Beliau masih menyempatkan untuk mengajar anak-anaknya bahasa Inggris, bermain, dan membuat mainan dari kayu/kotak korek api, mengendarai mobil dan mendongeng. Antara lain cerita “Helen of Troy, Winnetou Karl May, Winnie de Poeh, Little House On The Praire, Shakespeare dan Hans Christian Handerson.”

Mungkin inilah yang pernah dikatakan oleh Don Vito Corleone “A man who doesn’t spend time with his family can never be a real Man”……….

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya memiliki perasaan yang lembut dan mudah terharu. Saat berulang tahun, anak-anaknya memberi hadiah dan Beliau menitikkan air mata. Namun, Beliau pandai menyembunyikan perasaannya.

Ada satu kisah tentang Beliau, saat itu orang tua Beliau (ompung) berpulang ke rahmatullah. Untuk melampiaskan rasa duka hatinya, tanpa sadar Beliau makan tiga kilo ikan lele goreng sendirian, padahal hampir seumur hidupnya Beliau tidak pernah makan gorengan. Setelah upacara pemakaman Beliau pun segera menyusun kembali perabotan yang ada di ruang tamu seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. Itu merupakan cara Beliau untuk menyembunyikan kesedihannya, “Ruangan kosong hanya akan menambah kesedihan,” kata Beliau.

Di saat seorang cucunya meninggalpun Beliau sangat sedih dan seketika pucat pasi saat mendengar kabar duka tersebut. Namun, dalam hitungan detik Beliau mampu mengontrol emosinya dan kembali seperti semula.

Silaturahmi dan Kehidupan Sosial

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sangat bersahabat dengan pejabat-pejabat negara pada masa itu. Hal ini disebabkan karena banyak para petinggi-petinggi negara, maupun pejabat-pejabat pemerintahan yang menjadi pengikut ataupun murid-murid Beliau.

Tak jarang Beliau membawa keluarganya untuk bersilaturahmi kepada sahabat-sahabatnya tersebut, semisal sewaktu kecil anak-anak Beliau sering bermain-main ke rumah Gubernur dan sahabat-sahabat lainnya. Di antaranya Prof. Maas, Prof. Suroso, Dr. Hidayat, Dr. Lie Thing Shiu, Dr. Darwis. Dan satu hal yang tidak pernah Beliau lupa adalah melazimkan memberi oleh–oleh kepada sahabat-sahabatnya jika berkunjung, dan bila Beliau keluar kota, apabila di kota tersebut ada sahabatnya, maka Beliau mengusahakan untuk menyisihkan waktu untuk bersilaturahmi.

Sebagai contoh, jika Beliau melakukan perjalanan ke Jakarta, selalu membawa oleh-oleh dodol Garut dari sana, hal ini disebabkan karena di Medan tidak ada dodol Garut pada masa itu. Beliau selalu berkata kepada anak cucunya “Berhadiahlah kalian, karena sesungguhnya hadiah itu adalah bentuk dari berkasih sayang.”

Hubungan Beliau dengan murid-muridnya juga sangat erat, hubungan yang lebih seperti orang tua kepada anaknya, hal ini jugalah yang menyebabkan Beliau selalu dipanggil dengan sebutan Ayah. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana Beliau mengajak murid-muridnya untuk berwirid. Beliau menjemput muridnya untuk datang wirid. Kadang-kadang ketika Beliau datang menjemput, salah seorang muridnya berkata “Maaf Ayah, malam ini saya tidak bisa wirid, lagi ada keperluan yang lainnya”. Dan Beliau dengan legowo mengatakan “Tidak apa-apa, minggu depan akan Ayah jemput lagi.”

Rasa sayang antara guru dan murid inilah yang membuat hampir setiap hari Minggu Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya selalu dikunjungi oleh murid-muridnya, dan biasanya mereka akan makan siang bersama-sama dengan makanan yang dibawa murid-muridnya, ataupun yang dimasak murid-muridnya di rumah Beliau.

Sudah menjadi sebuah kelaziman di hari-hari istimewa, seperti ulang tahun, naik kelas, meraih prestasi, dan sembuh sakit, hadiah yang didapat oleh keluarganya adalah berupa pulut kuning dan ayam panggang. Dan tradisi ini yang kemudian diteruskan oleh keluarga besarnya sampai sekarang.

Bahkan salah seorang anak Beliau berujar “Pa…. Kenapa papa pelit kali, kami selalu aja dapat hadiah ayam panggang dan pulut kuning terus?” Beliau menjawabnya dengan tegas “Ada hadiahku yang paling berharga untuk kalian. Aku persaudarakan kalian dengan berjuta-juta muridku. Dan persaudaraan sesama zikirullah lebih kental dari persaudaraan sesama darah. Itulah hadiahku yang paling berharga.”

Karena rasa sayang terhadap murid-muridnya inilah, maka Beliau mendirikan Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya. [MUA]

Sumber: Biografi Prof. Dr. H. Kadirun Yahya

Continue Reading

Artikel

Aspek Eksternal Ilmu Agama Perspektif Nashr Hamid Abu Zayd

Published

on

Agama adalah pondasi dan rancangan ajaran yang sudah baku. Ketika agama tersebut hendak diterapkan atau disebarluaskan agar terimplementasi dengan maksimal dan dapat menyentuh berbagai aspek, maka dibutuhkan pemikiran, metode atau konsep yang efektif yang mampu memberikan kemaslahatan dalam berbagai aspek.

Metode atau konsep tersebut bisa berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama. Kita yang terbiasa dengan suatu metode atau konsep dalam beragama yang biasa dilakukan sehari-hari akan merasa nyaman dengan tata cara tersebut. Namun di sisi lain seringkali ada rasa alergi dengan metode atau konsep penerapan ajaran agama yang berbeda dan dilakukan oleh komunitas lain. Terkadang metode dan konsep yang berbeda atau asing dianggap menyimpang agama. Padahal perbedaan perspektif ataupun tatacara hanyalah aspek luar (eksternal) dan bukan merupakan aspek inti (internal). Nashr Hamid Abu Zayd memandang bahwa agama dan pemikiran agama harus dibedakan. Ia mengatakan:

لا بد من التمييز والفصل بين “الدين” والفكر الديني، فالدين هو مجموعة النصوص المقدسة الثابتة تاريخيا، في حين أن الفكر الديني هو الاجتهادات البشرية لفهم تلك النصوص وتأويلها واستخراج دلالتها. ومن الطبيعي أن تختلف الاجتهادات من عصر إلى عصر، بل ومن الطبيعي أيضا أن تختلف من بيئة إلى بيئة – واقع اجتماعي تاريخي جغرافي عرقي محدد – إلى بيئة في اطار بعينه، وأن تتعدد الاجتهادات بالقدر نفسه من مفكر إلى مفكر داخل البيئة المعينة

نصر حامد أبو زيد (في كتاب نقد الخطاب الديني)

Memisah dan membedakan antara agama dan pemikiran agama adalah keharusan. Agama adalah himpunan nash-nash suci yang kokoh dalam sejarah. Sedangkan wilayah pemikiran agama adalah kerja keras intelektual (ijtihad) manusia untuk memahami, mentakwil, dan menggali petunjuk dalam nash-nash tersebut. Termasuk kewajaran bila terjadi perbedaan ijtihad dari masa ke masa. Bahkan wajar bila terjadi perbedaan ijtihad antara satu situasi atau kondisi dengan situasi kondisi yang lain, baik yang sifatnya realitas sosial, kultur masyarakat, sejarah, letak geografis, dan akar masalah yang tajam, yang sedang dihadapi, hingga situasi atau tantangan yang menyebar sebab suatu keadaan. Bila keragaman ijtihad menjadi banyak sebab kadar kemampuan atau pemahaman antara satu pemikir dengan pemikir lain, maka masing-masing pemikir telah saling memasuki kondisi yang tertentu.

Pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa situasi atau kondisi pada realitas yang sedang dihadapi sangat mempengaruhi bagaimana sikap, cara atau gagasan yang diambil agar ajaran atau ilmu agama dapat tersampaikan dan terlaksana dengan baik. Memahami realitas sangat penting agar teori-teori baku ilmu pengetahuan mampu terimplementasi. Nashr Hamid Abu Zayd mengungkapkan:

إن فهم الواقع بما فيه من تباين وتعارض هو الهدف والغاية من وراء العلم، فلا تكون دراسة التراث عكوفاً على الماضي واجتراراً لأمجاده، فالعلاقة بين الماضي والحاضر علاقة تواصل وجدل تستوجب قراءة الماضي لفهمه وتجاوزه لا لتقديسه

نصر حامد أبو زيد (في كتاب فلسفة التأويل)

Sesungguhnya memahami berbagai perkara dalam realitas yang ada, baik perkara yang bermacam-macam maupun yang berlawanan, adalah merupakan target dan tujuan dari wilayah eksternal suatu ilmu. Maka jangan sampai studi terhadap teks turats (klasik) menjadi stagnan pada masa lalu dan terpaku pada kejayaan masa lampau. Hubungan antara masa lalu dan masa kini merupakan hubungan titik temu dan titik tolak yang mengharuskan pengkajian terhadap konteks masa lalu untuk memahami dan menyelaminya, bukan sekedar untuk mengagungkan dan mensakralkannya.

Dengan begitu kita mengerti bahwa aspek eksternal ilmu agama, baik konteks masa lalu maupun konteks masa kini sangatlah penting untuk dikaji dan diteliti. Ketika hanya terfokus pada teori inti ilmu agama atau hanya terpaku pada konteks lama saat ilmu itu dilahirkan, maka ajaran agama akan menjadi jumud dan stagnan, sehingga akan kesulitan menjawab berbagai problem baru yang bermunculan. Maka memahami berbagai situasi kondisi lapangan adalah aspek eksternal yang menjadi target dan tujuan agar ajaran agama dan ilmu pengetahuan mampu terealisasi dan memberikan solusi bagi segala problem yang sedang dihadapi.

Penulis: Fadhila Sidiq Permana (Dosen Fakultas Ushuluddin IAIFA Kediri)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending