Fungsi Lain Wirid Dalam Tarekat, Cegah Corona dan Bencana Lahir Batin

Tarekat adalah jalan atau metode yang dikembangkan oleh seorang sufi berlandaskan al Qur’an dan Sunnah agar bisa tersambung pada Allah Swt. Caranya yakni dengan membersihkan dan menyucikan diri dari aneka penyakit dan kotoran qalbu serta mengontrol hawa nafsu melalui latihan-latihan (riyadhah).

Agar qalbu ini bersih dan mampu mengontrol hawa nafsu, maka setiap salik (pengamal tarekat) berkomitmen untuk melazimkan wirid berupa amalan sunnah, dzikir, doa atau hizib tertentu secara teratur. Selain berguna untuk melatih diri agar senantiasa ingat Allah dalam setiap waktu, wirid juga memiliki ragam fungsi dan khasiat.

Salah satu fungsinya itu ialah untuk melindungi pengamal tarekat dari aneka gangguan, keburukan, kejahatan, bencana serta penyakit yang bisa menimpanya. Baik itu berupa penyakit fisik maupun penyakit yang menjangkiti batinnya. Dengan amalan itulah pengamal tarekat menjaga kesehatan secara lahir batin.

Dalam tarekat ‘Alawiyah misalnya, biasa melazimkan Ratib Al Haddad setiap hari. Yang dalam rangkaian dzikir kesembilannya terdapat bacaan isti’adazah.

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Syekh Abdullah bin Ahmad Basaudan Al Hadhramy penulis kitab Dzakhiratul Ma’ad Syarah Ratib Al Haddad menjelaskan bahwa isti’adazah ini untuk memohon perlindungan secara keseluruhan. Yakni isti’adazah dari aneka keburukan yang disebabkan oleh semua makhluk. Baik itu manusia, jin, setan bahkan dari perbuatan dosa dan kedzalimannya sendiri.

Foto: Pok Rie.

Seluruh kalimat permohonan perlindungan tercakup dalam satu kalimat isti’adazah tersebut. Baik dari hal yang sifatnya nyata (hissy) abstrak (ma’nawy), hal terkait urusan dunia maupun akhirat, bumi serta langit.

Isti’adazah tersebut diambil dari hadis nabi berikut:

Sa’ad bin Abi Waqqash Ra berkata: “Khaulah binti Hakim al-Sulamiyyah Ra berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang singgah di sebuah tempat, lalu ia mengucapkan:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah Swt yang sempurna dari keburukan yang tercipta), maka tak ada sesuatu pun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu.” (HR. Muslim).

Lalu, dalam tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Pontren Suryalaya misalnya dalam kitab ‘Uqudul Juman yang berisi dzikir, shalawat dan doa terdapat bacaan doa untuk menangkal berbagai penyakit dan bala secara lahir batin.

بِسْمِ اللهِ الشَافِي بِسْمِ اللهِ الكَافِي بِسْمِ اللهِ المُعَافِي
بِسْمِ اللهِ الَّذِى لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْاَرْضِ وَ لَا فِى السَمَاءِ وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Bacaan tersebut bersumber dari hadis nabi Saw. Nabi bersabda:

“Siapa yang membaca:

بِاسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Maka tidak akan ada yang memberinya kemudharatan.” (HR. Ahmad).

Masih banyak lagi amalan rutin berupa bacaan untuk perlindungan dalam berbagai tarekat mu’tabarah, termasuk seperti tersebut di atas.

Bacaan yang disusun oleh ulama sufi tersebut amat beragam. Ada yang berasal dari Al Qur’an, sunnah maupun redaksi dari para ulama sufi yang maknanya tentu tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...