Connect with us

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Ruh

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Alam Ruh
Ilustrasi

Kehidupan manusia di alam arwah atau alam ruh, terjadi jauh sebelum ayah dan ibu kita menikah, sehingga sering disebut dengan kehidupan before zero. Biasanya titik nol sebuah kota adalah di alun-alun kota tersebut. Sedangkan titik nol manusia adalah ketika dia dilahirkan ke alam dunia. Sebagian orang berpendapat bahwa titik nol manusia adalah ketika dia memasuki masa aqil baligh, yakni ketika manusia mulai bertanggungjawab terhadap seluruh amal perbuatannya dan semua keputusan yang diambilnya, karena telah dinilai sebagai manusia dewasa, yang seluruh amal perbuatannya mulai dicatat oleh malaikat dan kelak di akhirat akan diperhitungkan serta dimintai pertanggungjawaban.

Sebagian yang lain berpendapat bahwa titik nol manusia dimulai ketika memasuki usia 40 tahun, sehingga muncul ungkapan life begins fourty. Sedangkan bagi para muallaf, titik nol mereka adalah ketika mereka ikrar mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda mulai memeluk agama Islam. Jika kelahiran manusia di alam dunia diilustrasikan sebagai titik nol kehidupan, maka sesungguhnya ada kehidupan manusia yang terjadi sebelum titik nol tersebut, yang biasa disebut dengan “life before zero”, yaitu kehidupan manusia di alam arwah dan alam arham. Berapa lamakah manusia hidup di alam ruh atau alam arwah?

Ternyata tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan dan berapa lama manusia hidup di alam ruh atau alam arwah. Jauh sebelum hidup di alam dunia, bahkan sebelum ayah dan ibu kita menikah, kita sebagai manusia telah diciptakan oleh Allah SWT dan mengalami kehidupan di sebuah alam yang disebut alam ruh atau arwah. Ketika masih berada di alam arwah ini, Allah SWT telah mengambil kesaksian dari setiap jiwa atau ruh manusia. Pada saat itu, seluruh manusia ditanya oleh Allah SWT; “Bukankah Aku adalah Tuhan dan Raja kalian? Dan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, Dzat Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya?”. Maka seluruh manusia yang berada di alam ruh atau alam arwah pun menjawab, “Betul, Engkau adalah Tuhan dan Raja kami, dan tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau Dzat Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya”.

Jadi ketika berada di alam ruh atau alam arwah, semua manusia telah mengakui (i’tiraf) dan beriman serta meyakini tentang adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa. Tidak ada seorang pun yang mengingkari (kafir) terhadap keberadaan Allah SWT. Sebagai mana telah difirmankan dalam surat al-A’raf ayat 172:

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orangorang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, Sehubungan dengan ayat di atas, Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadits yang artinya; “Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggung Adam. Maka dari punggung itu setiap ruh yang menyerupai biji atom berjatuhan, yang Dia (Allah) adalah penciptanya sejak itu sampai hari kiamat kelak”. (HR. Imam Tirmidzi)1

Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata, “Mereka (ruh-ruh tersebut) dikumpulkan, lalu dijadikan berpasang-pasangan, baru kemudian mereka dibentuk. Setelah itu mereka pun diajak berbicara, lalu mereka diminta berjanji dan memberikan kesaksian, “Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab “Benar”. Kemudian Allah berfirman;

“Sesungguhnya Aku akan mempersaksikan langit tujuh tingkat dan bumi tujuh tingkat untuk menjadi saksi terhadap kalian, serta menjadikan nenek moyang kalian Adam sebagai saksi, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat kelak, “Kami tidak pernah berjanji mengenai hal itu”. Ketahuilah bahwasanya tiada Tuhan selain Aku semata, tidak ada Rabb selain diri-Ku, dan janganlah sekali-kali kalian mempersekutukan-Ku. Sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian para Rasul-Ku yang akan mengingatkan kalian tentang perjanjian ini. Selain itu, Aku juga akan menurunkan kitab-kitab-Ku”. Maka mereka pun berkata, “Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami, tidak ada Tuhan selain hanya Engkau semata”. Dengan demikian mereka telah mengakui hal tersebut. Kemudian Adam diangkat di hadapan mereka dan Adam pun melihat kepada mereka. Di antara mereka ada orang-orang yang kaya dan ada juga orang-orang yang miskin; ada orang-orang yang baik dan ada juga orang-orang yang buruk. Lalu Adam berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana kalau Engkau menyamakan di antara hamba-hamba-MU itu?”. Allah menjawab, “Sesungguhnya Aku sangat suka untuk disyukuri”. Dan Adam melihat para nabi di antara mereka seperti pelita yang memancarkan cahaya”. (HR. Ahmad)

Inilah peristiwa yang terjadi di alam ruh atau alam arwah, di mana setiap jiwa dari manusia telah diambil kesaksian dan melakukan perjanjian kepada Allah SWT, bahwa Allah SWT Dzat Yang Maha Esa adalah Rabb mereka. Hal ini disaksikan oleh Nabi Adam dan penduduk langit. Allah SWT sengaja melakukan hal ini, agar kelak pada hari kiamat tidak ada satupun manusia yang mengingkari perjanjian tersebut dengan mengatakan bahwa ketika hidup di alam dunia mereka menyekutukan Allah atau mengikuti agama nenek moyang mereka semata-mata karena tidak pernah ada perjanjian atau petunjuk dari Allah SWT. Kebanyakan manusia memang lupa terhadap perjanjian tersebut. Oleh karena itu, Allah SWT mengingatkan mereka dengan cara mengutus para Rasul serta menurunkan kitab suci untuk mereka. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Hadid ayat 8:

“Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.

Yang dimaksud dengan perjanjianmu pada ayat di atas adalah perjanjian ruh Bani Adam (manusia) sebelum dilahirkan ke dunia bahwa dia mengakui dan bersaksi, bahwa Tuhan-nya adalah Allah SWT. Sebagaimana telah disebutkan pada surat Al A´raf ayat 172 di atas.

Menurut para ahli tafsir, pertanyaan Allah SWT kepada para manusia sewaktu berada di alam arwah bukanlah dalam bentuk wahyu yang disampaikan kepada mereka, tetapi dalam bentuk kehendak dan mengadakan (al-iradah wa al-takwin). Sedangkan jawaban para manusia kepada Allah SWT, bukalah dalam bentuk jawaban dengan lisan (المقال لسان), melainkan dengan sikap (لسان الحال).

Berdasarkan ayat di atas dapat diketahui, bahwa pada dasarnya setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan beriman dan meyakini kebenaraan agama Islam. Inilah fitrah manusia. Jika dalam kehidupan di alam dunia, ternyata banyak orang yang kafir, musyrik (polytheis), mulhid (ateis), atau munafik, maka hal itu adalah sebuah penyimpangan dari fitrah manusia yang diyakini sejak berada di alam arwah. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Rum ayat 30:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah ciptaan Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka bisa terjerumus pada kesalahan tersebut hanyalah lantaran pengaruh lingkungan hidup mereka.[HR]

1Imam Ibnu Kasir, Tafsir Ibn Katsir, juz 2 h. 261 – 264. Lihat juga Tafsir al-Razi, juz 15 h. 46.

2Prof. Dr. Wahbab al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munier, Daar al-Fikr al-Mu’ashir, Beirut, Cet. I, tahun 1991, juz 9 h. 157.

Baca juga: Road Map Kehidupan Manusia

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending