Connect with us

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Rahim (Arham)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Alam Rahim

Sesudah sepasang pria dan wanita menikah serta melakukan hubungan suami istri, maka dengan izin Allah SWT seorang ibu akan hamil. Pada saat itulah kita sebagai manusia mengalami kehidupan pada fase kedua, yakni kehidupan di alam rahim atau arham. Ketika berada di alam arham, kita berproses dari nuthfah (sperma dan ovum) selama 40 hari. Kemudian berkembang dan berubah menjadi‘alaqoh (yang menempel di dinding rahim) selama 40 hari.

Kemudian berkembang dan berubah menjadi mudlghoh (segumpal daging). Sesudah berproses selama 40 hari, manusia yang semula masih dalam bentuk mudlghoh (segumpal daging), telah menjadi sempurna sebagai janin. Ketika usia kehamilan telah mencapai 120 hari (4 bulan), maka Allah SWT menyempurnakan penciptaan manusia dengan meniupkan ruh ke dalam tubuh janin.

Pada saat itu, Allah SWT juga mengutus malaikat untuk menuliskan kembali 4 (empat) ketentuan (takdir atau nasib) yang akan dialami oleh setiap manusia. Yaitu; (1). Rizkinya (2). Ajal atau masa kematiannya (3). Amal perbuatannya, baik atau buruk (4). Berbahagia dan beruntung atau celaka. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-A’raf ayat 189:

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah digaulinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (dalam beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah Kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Demikian juga dalam surat al-Mukminun (23) ayat 12–14:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia, makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah Pencipta Yang Paling Baik”.

Bedasarkan firman Allah SWT di atas dapat diketahui, bahwa jauh sebelum sains modern menemukan proses pembentukan embrio manusia , pada ke-7 M al-Quran telah menjelaskan proses tersebut secara detail. Prof Keith L Moore, guru besar Departemen Anatomi dan Biologi Sel Universitas Toronto pun telah membuktikan kebenaran firman Allah SWT tersebut. Beliau berkata “Saya tidak tahu apa-apa tentang agama, namun saya meyakini kebenaran fakta yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Sunnah,” papar Moore yang terkagum-kagum dengan penjelasan ayat suci al-Qur’an di atas yang secara akurat telah menjelaskan perkembangan embrio manusia.

Ayat suci al-Qur’an secara gamblang telah menjelaskan proses pembentukan embrio manusia. Al-Qur’an telah berbicara tentang pertumbuhan janin di dalam perut ibu fase demi fase, padahal janin dan pertumbuhannya tidak terlihat dengan mata kepala dan tidak mungkin juga dijelaskan hanya dengan menduga-duga atau mengira-ngira. Sains modern baru mengetahui proses penciptaan manusia di dalam rahim setelah ditemukannya alat–alat pemeriksaan modern. “Saya sungguh sangat berbahagia bisa membantu mengklarifikasi pernyataan al-Qur’an tentang proses perkembangan penciptaan manusia. Jelaslah bagi saya, bahwa pernyataan al-Qur’an itu pasti turun kepada Muhammad dari Tuhan,” papar Moore, ilmuwan terkemuka dalam bidang anatomi dan embriologi.

Berdasarkan firman Allah SWT dalam surat al-Mu’minun ayat 12-14 di atas dapat disimpulkan bahwa terbentuknya janin dalam rahim ibu adalah melalui 6 (enam) tahap (fase) sbb:

Tahap pertama; penciptaan janin dalam bentuk saripati air mani (nuthfah) yang disebut sulalah. Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan “dari saripati air mani yang hina”. Manusia bukan diciptakan dari seluruh mani yang keluar dari suami–istri, tetapi hanya dari bagian yang sangat halus. Itulah yang dimaksud dengan “sulalah”. Menurut riset yang telah dilakukan oleh para ahli anatomi dan embriologi, bahwa manusia itu tercipta hanya dari satu sel sperma saja. Sungguh hal itu sangat sedikit sekali bila dibanding dengan jutaan sel sperma yang keluar dari seorang pria. Sulalah adalah kata yang paling tepat dan cocok untuk menggambarkan proses terbentuknya janin, karena satu dari jutaan sperma seorang pria bergerak menuju ke dalam rahim untuk membuahi ovum seorang wanita.

Tahap kedua disebut ‘alaqoh. “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (‘alaqoh).” ‘Alaqoh juga berarti nama dari binatang kecil yang hidup di air dan di tanah (sebangsa lintah) yang terkadang menempel di mulut binatang pada waktu minum air di rawa–rawa. Bentuk janin pada fase ini sangat mirip sekali dengan binatang lintah tersebut. Bahkan kalau keduanya difoto bersamaan, niscaya manusia tidak akan mampu membedakkan bentuk dan gambar keduanya.

Tahap ketiga, disebut mudghah (segumpal daging). Dalam kelanjutan surat al-Mukminun di atas dijelaskan, ”Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.”

Tahap keempat ditandai dengan muncul dan tumbuhnya tulang. “Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang.” Para ahli dan spesialis dalam bidang medis telah menyimpulkan bahwa tulang itu muncul sebelum daging sebagai penutupnya. Setelah itu barulah muncul daging. Hal ini baru diketahui oleh para ahli pada zaman sekarang, itu pun dengan bantuan alat–alat fotografi.

Tahap kelima, pembungkusan tulang dengan daging. “Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging…” Didahulukannya penciptaan tulang sebelum daging, karena daging membutuhkan tulang untuk menempel padanya. Maka tulang mesti sudah ada sebelum daging.

Tahap keenam adalah perubahan janin ke bentuk yang lain. “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain…” Menurut Dr Ahmad Hamid Ahmad, bersamaan dengan berakhirnya pekan ketujuh, panjang Mudghah sudah mencapai 8–16 milimeter” Termasuk yang membedakan pada periode ini adalah; bahwa tulang yang semula berbentuk bengkok menyerupai bulan sabit, kini mulai berubah lurus dan tegap. Di tambah lagi ada sesuatu yang membedakan janin dengan makhluk hidup yang lain, yaitu sempurnanya bentuk tubuh pada pekan ke delapan. Begitulah, proses penciptaan janin di dalam rahim seorang ibu, hingga akhirnya dilahirkan pada usia kehamilan sembilan bulan. Sungguh Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Proses penciptaan manusia pada ayat di atas, dijelaskan lebih rinci lagi oleh sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud RA.

Dari Abdullah ibn Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda kepada kami, dan beliau adalah orang yang jujur lagi dipercaya: “Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nuthfah (air mani yang kental), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah yang menempel di dinding rahim) selama itu juga (40 hari), lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkannya ruh, dan dia diperintahkan mencatat empat hal (kalimat) yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, nasibnya apakah celaka atau bahagia. Demi Dzat Allah yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang di antara kalian ada yang telah melaksanakan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah sehasta, namun dia telah didahului oleh al-kitab (ketetapan/takdir), maka dia mengerjakan perbuatan ahli neraka, lalu akhirnya dia masuk ke dalamnya (menjadi penghuni neraka). Di antara kalian ada yang mengerjakan perbuatan ahli al-naar (penduduk neraka), sehingga jarak antara dirinya dan neraka hanya sehasta. Akan tetapi dia telah didahului oleh takdirnya, maka dia mengerjakan perbuatan ahli surga, sehingga akhirnya dia memasukinya (menjadi penghuni surga).”4

Di samping tercipta dari unsur tanah yang rendah, secara ruhaniah manusia tercipta dari ruh Allah Yang Maha Agung. Sebagaimana difirmankan dalam surat as-Sajdah (32) ayat 9:

“Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.

Para ulama telah sepakat, bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika janin berusia 120 hari, terhitung sejak pertemuan sel sperma dengan ovum. Artinya, peniupan ruh tersebut terjadi ketika janin telah berusia empat bulan penuh, masuk bulan kelima. Ruh adalah suatu unsur rohani yang menjadikan manusia hidup. Adapun substansi atau hakikat ruh tidak ada manusia yang mampu mengetahui. Hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Sebagaimana telah di firmankan dalam surat al-Isra’ ayat 85:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Berdasarkan firman Allah SWT dan Hadits Rasulullah SAW di atas dapat disimpulkan, bahwa secara biologis manusia itu tercipta dari sari pati tanah. Hal ini terjadi pada penciptaan Nabi Adam AS, sebagai manusia pertama yang secara langsung diciptakan dari tanah. Adapun keturunanya, tercipta dari tanah tetapi secara tidak langsung, yaitu sesudah diproses menjadi sperma dan ovum. Pada dasarnya, sperma dan ovum yang merupakan asal usul manusia adalah berasal dari berbagai sari pati makanan dan minuman baik nabati maupun hewani. Pada hakikatnya hewan pun berasal dari tanah, karena hewan bisa bertahan hidup dengan mengkonsumsi makanan yang berasal dari tanah. Jadi secara biologis manusia terbuat dari tanah yang melambangkan kerendahan dan kehinaan serta setelah mati akan menjadi bangkai dan kembali menjadi tanah. Oleh karena itu, manusia tidak pantas untuk menyombongkan diri meski pun ia memiliki berbagai kelebihan jika dibandingkan dengan makhluk
yang lain. Sungguh pun demikian, dari segi rohaniah, manusia memiliki roh yang ditiupkan langsung oleh Allah SWT Dzat Yang Maha Tinggi.

Berhubung manusia tercipta dari unsur tanah yang rendah serta unsur roh Allah yang tinggi, maka di dalam diri manusia selalu terjadi pergulatan dan tarik menarik antara bisikan-bisikan yang mengajak untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merendahkan derajat manusia–seperti memuja-muja atau menuhankan benda-benda mati (kayu, batu, patung dan karya seni serta hasil teknologi manusia), harta, tahta dan wanita, berzina, berjudi, dan korupsi, dengan bisikan-bisikan yang mendorongnya untuk berbuat baik yang dapat mengangkat harkat dan martabatnya di atas makhluk-makhluk Allah yang lain seperti beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT; memenuhi nafkah dan berbagai kebutuhan hidup dengan cara-cara yang halal sesuai dengan petunjuk Allah SWT; serta berbuat baik dan saling tolong menolong dengan sesama manusia. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah berusaha semaksimal mungkin agar dorongan-dorongan ke arah hal-hal yang positif mampu mengalahkan dorongan-dorongan yang mengajak kepada hal-hal negatif. (Bersambung)


4 Hadits ini diriwayatkan oleh: Imam al Bukhari dalam Shahih-nya, pada Kitab Bad’u al-Khalq, Bab Dzikrul Malaikah (no. 3208), kitab Ahaditsul Anbiya` no. 3332 Lihat juga hadits no. 6594 dan 7454. Imam Muslim dalam Shahihnya, pada Kitab al Qadar no. 2643. Imam Abu Dawud no. 4708. Imam at-Tirmidzi no. 2138. Imam Ibnu Majah no. 76; Imam Al Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra 15198, 21069; Imam Ahmad dalam Musnad-nya No. 3624

Artikel

Tentang Penganugerahan Dr. HC kepada KH. Afifuddin Muhajir

Published

on

KH. Afifuddin Muhajir

“Selamat untuk Almukarram KH. Afifuddin Muhajir, Rais Syuriah PBNU, atas gelar Doktor Honoris Causa yang beliau terima dari UIN Walisongo Semarang”. KH Afifuddin tidak memerlukan gelar. Namun pemberian gelar ini, menunjukkan bahwa lembaga akademis —dalam hal ini UIN Walisongo— cukup jeli mengetahui dan mengakui keilmuan dan kepakaran beliau. Sekali lagi Selamat. Mabruk alfu-alfi mabruk.” (KH. Ahmad Mustofa Bisri, Mustasyar PBNU, Pengasuh PP Raudlatut Thalibin Rembang).

K.H. Afifuddin Muhajir adalah salah satu jimat NU. Beliau sanggup menjaga keseimbangan antara al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih dan al-a’akhdzu bil jadidil ashlah. Ini karena beliau mengerti turats klasik sambil terus membaca buku-buku keislaman kontemporer. Semoga Allah SWT memperbanyak orang-orang seperti Kiai Afif ini. (KH Miftachul Akhyar, Rais Am PBNU & Pengasuh PP Miftahus Sunnah Surabaya).

“K.H. Aifuddin Muhajir adalah seorang alim dan penulis yang tawadhu‘, padahal posisi sebagai salah seorang al-raasikhuuna fii al-’ilm patut disematkan kepada kiai ini. Maka penganugerahan gelar Doktor (HC) untuknya sudah pada tempat yang tepat dan benar.” (Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 1998-2005, Pendiri Maarif Institute).

Di lingkungan NU, tak mudah menemukan seorang kiai yang kealimannya disepakati oleh semua. Kiai Afifuddin Muhajir adalah salah satu kiai NU yang kealimannya sudah “mujma’ alaih” itu. Ia telah menjadi marja’ (acuan akademis) di forum-forum bahtsul masail NU, baik di Munas maupun Muktamar. Atas penganugerahan ini saya ucapkan selamat dan sukses. (Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU dan Pengasuh PP al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta).

Gagasan Islam Washatiyah Kiai Afifuddin Muhajir dapat diterima oleh berbagai kalangan baik pada tingkat nasional maupun internasional. Dengan argumen yang logis, obyektif dan rasional, gagasan Kiai Afif ini telah meneguhkan persemaian Ahlussunah Waljama’ah di segala penjuru dunia. Selamat atas penganugerahan Doktor Honoris Causa untuk beliau di UIN Walisongo Semarang. (KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo).

Saya mengenal KH Afifuddin Muhajir sebagai kiai yang hampir seluruh perjalanan hidupnya ditempa dan mengajar di pondok pesantren dengan penguasaan dan penghayatan yang tinggi pada tradisi akademik yang, kata orang, hanya ada di perguruan tinggi. Oleh sebab pemberian gelar doktor honoris causa oleh UIN Walisongo kepada beliau sangat layak dan patut diapresiasi. (Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, guru besar Hukum Tata Negara dan Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia).

K.H. Afifuddin Muhajir adalah kiai alim yang mengerti teks (nash) dan konteks (siyaq) secara sekaligus. Ia tahu wilayah ta’qquli yang perlu dimasuki aktivitas ijtihad dan wilayah ta’abbudi yang seharusnya sepi dari lalu lalang istinbath. Mungkin karena keunggulan itu, pikiran-pikiran Kiai Afif lebih mudah diterima publik Islam secara luas. Atas penganugerahan doktor honoris causa kepada beliau, saya ucapakan selamat dan semoga maslahat buat umat. (KH Masdar Farid Mas’udi, Rais Syuriyah PBNU).

Kiai Afifuddin Muhajir adalah kiai yang tak hanya berfikir moderat melainkan juga bertindak secara moderat. Ketika muncul pro-kontra tentang suatu masalah di kalangan para ulama, Kiai Afif selalu mencari jalan moderasi dengan melakukan al-jam’u wa al-taufiq. (Ning Hj. Yenny Zannuba Wahid, Pendiri Wahid Foundation).

Saya melihat KH Afifuddin Muhajir sebagai seorang kiai ahli Fiqh yang tidak mau hanya berhenti pada ‘ibârah, melainkan menukik ke relung maqâshid dan mabâdi’; cermat dalam menangkap masalah dan mencari jalan keluar dengan tetap berpegang pada dalil yang kuat. Sudah semestinya kalau gelar doktor dianugerahkan kepadanya. (Prof. Dr. Muhammad Machasin, Musytasyar PBNU dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Salah satu kepiawaian Kiai Afif yang amat menonjol dan dikenal luas adalah di bidang ushul al-fiqh. Dalam banyak kesempatan ia sering menyatakan, untuk memahami teks (ayat, nash), tak cukup hanya mengandalkan kitab tafsir al-Quran semata, apalagi cuma merujuk terjemahannya saja. (Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia Periode 2014-2019).

Penganugerahan Dr. HC kepada KH Afifuddin Muhajir sudah sangat tepat, kerena keahlian Kiai Afif dalam bidang Ilmu Ushul Fiqh sudah sangat masyhur di kalangan peminat ilmu-ilmu keislaman. Selamat dan sukses! (KH Dr. Abdul Malik Madani, Katim Am PBNU Periode 2010-2015, Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta).

KH Afifuddin Muhajir merupakan sosok unik yang sulit dicari bandingannya. Kemampuan inteleklualitasnya khususnya di bidang ushul fiqh benar-benar mengagumkan, melampaui batas lokalitas, menjangkau dunia global. Semua itu diperolehnya hanya di satu pesantren, Pondok Pesantren Sukorejo Situbonbo. Keilmuan yang benar-benar berkah dan memberkahi dunia keilmuan. Auranya kian bersinar kuat saat intelektualitasnya menyatu dalam kepribadiannya yang sangat rendah hati. (Prof Dr KH Abdul A’la Basyir, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya).

KH Afifuddin Muhajir adalah ulama yang berpikiran moderat, dalam arti kuat menjaga pemikiran Islam tradisional sambil mengapresiasi pemikiran modern. Ia bukan hanya bagus dalam berbicara tetapi juga beliau mampu menulis kitab dalam bahasa Arab fasih, bagai ulama Arab. (KH Husein Muhammad, Pengasuh PP Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon).

Sosok ini sangat santun dan bersahaja. Produk asli pesantren namun wawasannya sangat luas. Semangat mencari ilmu dan rasa ingin tahunya sangat besar. Beliaulah salah satu mutiara terpendam dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo (Prof. Nadirsyah Hosen, P.hD, Monash University dan PCI NU Australia – New Zealand).

K.H. Afifuddin Muhajir adalah kiai alim terutama dalam bidang fikih dan ushul fiqh. Salah satu keistimewaan Kiai Afif adalah kepiawaiannya mendialogkan khazanah kitab kuning dengan diskursus modern. Reputasi akademiknya sangat mengesankan. Ciri nalar fikihnya adalah wasathiyyah, memadukan nushush al-syari’ah dan maqashid al-syari’ah. Sebagaimana umumnya Kiai NU, Kiai Afif menghadirkan diri dalam ekspresi Islam yang ramah dan santun. Selamat atas penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada beliau. Penghargaan ini sangat layak untuk beliau. (Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag, Guru Besar UIN Semarang, Ketum PW IKA PMII Jateng / Wakil Ketua PWNU Jateng).

Gagasan Kiai Afifuddin tentang NKRI dalam perspetif Maqashid al-Syariah, bukan saja merupakan komitmen religiusitas dan nasionalisme beliau, tetapi juga merupakan penuguhan eksistensi NKRI sebagai negara yang secara teologis dan politis memang sudah Islami. (Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Continue Reading

Artikel

Komite Hijaz, Spirit Pergerakan Sang Pahlawan KH. Wahab Hasbullah

Published

on

By

Jombang, JATMAN.OR.ID: Tim Gets Indonesia pada saat perjalanan menuju pusara sang pahlawan KH. Wahab Hasbullah di Jombang, Jawa Timur, Selasa sore (12/1) bersepakat untuk membacakan spirit perjuangannya.

Perlu diketahui, Kyai Wahab Hasbullah lahir pada tanggal 31 maret 1888 M di Jombang dan wafat pada tanggal 29 desember 1971 M dimakamkan di desa Tambak Rejo kecamatan Jombang kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kyai Wahab tidak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri NU, inisiator GP Ansor, pencipta lagu “Yalal Wathan” yang sering didengungkan warga nahdliyin, pelopor kebebasan berpikir, namun ia juga dikenal sebagai komandan Komite Hijaz yang didirikan pada 1924-1925.

Pembentukan Komite tersebut tidak lain tidak bukan hanya semata-mata sebagai respon ancaman kebijakan monolitik yanh digulirkan Ibnu Saud dari Nejad.

Ibnu Saud memiliki pandangan monolitik dalam bermazhab, sehingga ia memiliki sikap tendesius kearah fundamentalisme agama.

Salah satu kebijakan yang akan dilakukan pada masa itu adalah “pemutusan batin” antara umat islam dan panutannya yakni Nabi Muhammad Saw. Terlebih ia mengancam makam nabi Muhammad Saw dibongkar.

Hal demikian menjadi keresahan serta kegelisahan semua umat Islam kala itu. Namun, sejarah mencatat, hanya umat Islam dari Indonesia–melalui Komite Hijaz dipelopori Kyai Wahab–yang berani menyampaikan keberatannya terhadap kebijakan Ibnu Saud tersebut.

Melalui Komite Hijaz para ulama Indonesia bergerak mengajak ulama-ulama seluruh dunia menolak kebijakan Ibnu Saud. Dan para ulama pun sepakat untuk menolak kebijakan ibnu Saud, kemudian Ibnu Saud pun mengurungkan membongkar makam nabi Muhammad Saw.

Inilah salah satu spirit terbesar dari sang pahlawan Kyai Wahab Hasbullah yang harus kita refleksikan diri khususnya Tim Gets Indonesia umumnya untuk semua masyarakat Indonesia betapa ia tak ada rasa takut dalam membela kebenaran dan harus diawali dengan pergerakan diri sebelum menggerakkan orang lain. Wallahualam (Toi)

Continue Reading

Artikel

Sufisme Milenial, Jembatan Keislaman-Kebangsaan: Refleksi 9 Tahun MATAN

Published

on

By

Ngaji TI

Tradisi Islam Indonesia dipengaruhi gerakan sufisme yang menjadi nyawa, semangat, dan sekaligus karakternya. Sufisme tidak hanya menjadi nilai, namun juga menggerakkan Islam Indonesia. Sufisme mendorong perubahan dan membangkitkan semangat Islam Indonesia.

Kisah-kisah perjuangan dan proses menuju kemerdekaan Indonesia, termaktub bagaimana para kiai sufi bergerak, menumbuhkan nilai, sekaligus menjadi nyawa perjuangan. Kiai-kiai sufi di berbagai kawasan menggerakkan pengikutnya tidak hanya sebagai komunitas yang mandiri, tapi juga menginspirasi perjuangan kemerdekaan.

Pangeran Diponegoro (1785-1855) menjadi cermin penting bagaimana gerakan sufisme dan tradisi pesantren, menjadi nyawa bagi perjuangan melawan kolonial. Raden Mas Mustahar atau Sultan Ngabdul Kamid dikenal luas sebagai penggerak, pahlawan, yang menginspirasi perlawanan terhadap kolonial. Perang Jawa pada 1825-1830 merupakan perang tersulit yang membangkrutkan pemerintah Hindia Belanda, tapi juga menjadi titik balik gerakan perjuangan kemerdekaan.

Para kiai sufi pengikut Diponegoro menyebar di berbagai kawasan di penjuru Jawa untuk merawat nilai, tradisi, pengetahuan, sekaligus mimpi besar kemerdekaan. Jaringan pesantren terkoneksi dengan semangat perjuangan dan nilai sufisme, yang kemudian menginspirasi perjuangan kemerdekaan satu abad setelahnya.

Kita bisa mencatat gerakan-gerakan sufi yang termaktub dalam sejarah, sebagai gerakan keislaman-kebangsaan yang saling berjejaring, terkoneksi dalam ide dan gagasan, sekaligus punya tujuan yang sama untuk masa depan Indonesia. Meski kenyataan merdeka masih jauh dari proses, tapi para kiai sufi tidak berhenti menabur semangat, menanam nilai-nilai, dan menyiram semangat untuk menjadi bangsa yang terlepas dari penjajahan asing. Keteguhan niat, kekuatan tekad dan fokus pada tujuan yang dilambari oleh kepercayaan kuat kepada Allah merupakan kunci gerakan dari kaum sufi menjemput kemerdekaan.

Lalu, bagaimana sufisme pada masa sekarang, di zaman inovasi teknologi, big data dan machine learning dengan lompatan kecerdasan buatan?

Saat ini, kita bisa melihat bagaimana tantangan-tantangan zaman yang tidak kalah besar. Problem radikalisme beragama, pelintiran kebencian, hingga berbagai masalah kemanusiaan yang menyeruak di sekitar pandemi, menjadi tantangan bersama.

Kami, bersama-sama santri-santri yang tergabung di Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (MATAN) berusaha merumuskan gerakan bersama untuk menjadikan sufisme membumi di kalangan anak muda: generasi milenial dan lapisan-lapisan generasi setelahnya. MATAN bergerak atas perintah dan dawuh para guru kami, terutama Maulana Habib Luthfi bin Yahya, sebagai mursyid kami secara dhahir dan batin.

MATAN menjadi ruang sekaligus oase bagi generasi muda, santri-mahasiswa, untuk mendorong gerakan-gerakan kemaslahatan berbasis kampus. Selain itu, juga bersama-sama dan berkolaborasi dengan beragam organisasi pemuda, ormas, dan komunitas muslim di berbagai kawasan untuk menggerakkan tradisi: agar nilai-nilai sufisme menjadi inspirasi. Sebagaimana dawuh para guru, kami berkhidmah di berbagai ruang dan profesi untuk berjuang dengan cara masing-masing memberi dampak kemaslahatan.

Di usia 9 tahun MATAN saat ini, ada tiga hal mendasar yang menjadi refleksi bersama.

Pertama, menumbuhkan solidaritas di tengah pandemi. Saat ini kita berada di tengah situasi yang tidak mudah bagi semua pihak. Pandemi telah merontokkan tatanan dunia, dengan segala konsekuensinya. Konstelasi politik, tatanan ekonomi, hingga ekosistem pendidikan berubah secara drastis. Dunia pendidikan di seluruh dunia juga terdampak, dengan lebih 60 negara di dunia menghentikan sistem pembelajaran tatap muka. Lompatan penggunakan teknologi di dunia pendidikan membantu menumbuhkan semangat pembelajaran, mendukung agar nyala api belajar tidak padam.

Para kiai mengajarkan kita untuk adaptif terhadap pandemi, meski sangat tidak mudah. Sebagian pesantren telah beradaptasi dengan penerapan protokol kesehatan ketat. Majelis dizkir dan shalawat ditunda sementara dan diatur dengan protokol kesehatan agar semua aman. Meski majelis dzikir dan shalawat bergeser formatnya, tapi nilai-nilai keberkahan tetap meresap dan menjadi semangat para santri.

Nah, menumbuhkan solidaritas bersama ini hal yang krusial. Para kiai sufi sekaligus juga pengikutnya turut memainkan peran sentral, sebagai penghubung kohesi sosial dan solidaritas. Dalam konteks ini, para kader MATAN menjadi jembatan aksi untuk menguatkan solidaritas di tengah pandemi.

Kedua, pentingnya agama sebagai inspirasi dan sumber berbagi kemaslahatan. Saya setuju dengan pernyataan Menteri Agama Gus Yaqut C Qoumas bahwa agama seharusnya menjadi satu inspirasi. Ini sejalan dengan petuah Maulana Habib Luthfi bin Yahya untuk terus menjadikan Islam sebagai agama yang memancarkan kasih sayang, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW. Petuah, ajaran, dan tindakan Maulana Habib Luthfi mencerminkan Islam sebagai agama rahmah, bukah agama penuh amarah.

Tren interaksi digital membawa dampak meningkatnya kebencian di berbagai ruang, baik ruang interaksi maupun media sosial. Kebencian-kebencian ini berbahaya untuk masa depan perdamaian dan kohesi sosial. Maka, perlu terus menjaga semangat dengan beragama sebagai inspirasi, agama yang menebar kemaslahatan.

Ketiga, tantangan di tengah era big data dan machine learning. Inovasi digital yang sangat massif juga menantang kita, terutama dalam menentukan referensi yang tepat. Otoritas di ruang digital dipertarungkan, dengan menggunakan algoritma spesifik dan ketepatan optimasi data.

Nah, generasi muda yang berpegang pada nilai-nilai sufisme bisa mengalirkan inspirasi di media sosial. Ini penting agar referensi beragama dan otoritas digital menjadi seimbang dengan pilihan yang beragam. Menginjeksi nilai-nilai sufisme dalam konten-konten digital berarti menanam cinta di tengah belantara. Nilai-nilai itu, beragama dengan cinta, akhirnya akan mekar di tengah belantara digital dengan meminggirkan kebencian, hate speech dan pelintiran kebohongan.

Sembilan tahun MATAN, mari tetap berkhidmah di garis perjuangan. Mari tetap berpegang pada dawuh para Habaib dan kiai. Mari bersama-sama menjaga Indonesia dengan Islam cinta, semoga Allah meridhoi segala ikhtiar kita.

*M. Hasan Chabibie, Plt. Ketua Umum Pimpinan Pusat Mahasiswa Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an-Nahdliyyah

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending