Connect with us

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Rahim (Arham)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Alam Rahim

Sesudah sepasang pria dan wanita menikah serta melakukan hubungan suami istri, maka dengan izin Allah SWT seorang ibu akan hamil. Pada saat itulah kita sebagai manusia mengalami kehidupan pada fase kedua, yakni kehidupan di alam rahim atau arham. Ketika berada di alam arham, kita berproses dari nuthfah (sperma dan ovum) selama 40 hari. Kemudian berkembang dan berubah menjadi‘alaqoh (yang menempel di dinding rahim) selama 40 hari.

Kemudian berkembang dan berubah menjadi mudlghoh (segumpal daging). Sesudah berproses selama 40 hari, manusia yang semula masih dalam bentuk mudlghoh (segumpal daging), telah menjadi sempurna sebagai janin. Ketika usia kehamilan telah mencapai 120 hari (4 bulan), maka Allah SWT menyempurnakan penciptaan manusia dengan meniupkan ruh ke dalam tubuh janin.

Pada saat itu, Allah SWT juga mengutus malaikat untuk menuliskan kembali 4 (empat) ketentuan (takdir atau nasib) yang akan dialami oleh setiap manusia. Yaitu; (1). Rizkinya (2). Ajal atau masa kematiannya (3). Amal perbuatannya, baik atau buruk (4). Berbahagia dan beruntung atau celaka. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-A’raf ayat 189:

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah digaulinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (dalam beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah Kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Demikian juga dalam surat al-Mukminun (23) ayat 12–14:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia, makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah Pencipta Yang Paling Baik”.

Bedasarkan firman Allah SWT di atas dapat diketahui, bahwa jauh sebelum sains modern menemukan proses pembentukan embrio manusia , pada ke-7 M al-Quran telah menjelaskan proses tersebut secara detail. Prof Keith L Moore, guru besar Departemen Anatomi dan Biologi Sel Universitas Toronto pun telah membuktikan kebenaran firman Allah SWT tersebut. Beliau berkata “Saya tidak tahu apa-apa tentang agama, namun saya meyakini kebenaran fakta yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Sunnah,” papar Moore yang terkagum-kagum dengan penjelasan ayat suci al-Qur’an di atas yang secara akurat telah menjelaskan perkembangan embrio manusia.

Ayat suci al-Qur’an secara gamblang telah menjelaskan proses pembentukan embrio manusia. Al-Qur’an telah berbicara tentang pertumbuhan janin di dalam perut ibu fase demi fase, padahal janin dan pertumbuhannya tidak terlihat dengan mata kepala dan tidak mungkin juga dijelaskan hanya dengan menduga-duga atau mengira-ngira. Sains modern baru mengetahui proses penciptaan manusia di dalam rahim setelah ditemukannya alat–alat pemeriksaan modern. “Saya sungguh sangat berbahagia bisa membantu mengklarifikasi pernyataan al-Qur’an tentang proses perkembangan penciptaan manusia. Jelaslah bagi saya, bahwa pernyataan al-Qur’an itu pasti turun kepada Muhammad dari Tuhan,” papar Moore, ilmuwan terkemuka dalam bidang anatomi dan embriologi.

Berdasarkan firman Allah SWT dalam surat al-Mu’minun ayat 12-14 di atas dapat disimpulkan bahwa terbentuknya janin dalam rahim ibu adalah melalui 6 (enam) tahap (fase) sbb:

Tahap pertama; penciptaan janin dalam bentuk saripati air mani (nuthfah) yang disebut sulalah. Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan “dari saripati air mani yang hina”. Manusia bukan diciptakan dari seluruh mani yang keluar dari suami–istri, tetapi hanya dari bagian yang sangat halus. Itulah yang dimaksud dengan “sulalah”. Menurut riset yang telah dilakukan oleh para ahli anatomi dan embriologi, bahwa manusia itu tercipta hanya dari satu sel sperma saja. Sungguh hal itu sangat sedikit sekali bila dibanding dengan jutaan sel sperma yang keluar dari seorang pria. Sulalah adalah kata yang paling tepat dan cocok untuk menggambarkan proses terbentuknya janin, karena satu dari jutaan sperma seorang pria bergerak menuju ke dalam rahim untuk membuahi ovum seorang wanita.

Tahap kedua disebut ‘alaqoh. “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (‘alaqoh).” ‘Alaqoh juga berarti nama dari binatang kecil yang hidup di air dan di tanah (sebangsa lintah) yang terkadang menempel di mulut binatang pada waktu minum air di rawa–rawa. Bentuk janin pada fase ini sangat mirip sekali dengan binatang lintah tersebut. Bahkan kalau keduanya difoto bersamaan, niscaya manusia tidak akan mampu membedakkan bentuk dan gambar keduanya.

Tahap ketiga, disebut mudghah (segumpal daging). Dalam kelanjutan surat al-Mukminun di atas dijelaskan, ”Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.”

Tahap keempat ditandai dengan muncul dan tumbuhnya tulang. “Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang.” Para ahli dan spesialis dalam bidang medis telah menyimpulkan bahwa tulang itu muncul sebelum daging sebagai penutupnya. Setelah itu barulah muncul daging. Hal ini baru diketahui oleh para ahli pada zaman sekarang, itu pun dengan bantuan alat–alat fotografi.

Tahap kelima, pembungkusan tulang dengan daging. “Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging…” Didahulukannya penciptaan tulang sebelum daging, karena daging membutuhkan tulang untuk menempel padanya. Maka tulang mesti sudah ada sebelum daging.

Tahap keenam adalah perubahan janin ke bentuk yang lain. “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain…” Menurut Dr Ahmad Hamid Ahmad, bersamaan dengan berakhirnya pekan ketujuh, panjang Mudghah sudah mencapai 8–16 milimeter” Termasuk yang membedakan pada periode ini adalah; bahwa tulang yang semula berbentuk bengkok menyerupai bulan sabit, kini mulai berubah lurus dan tegap. Di tambah lagi ada sesuatu yang membedakan janin dengan makhluk hidup yang lain, yaitu sempurnanya bentuk tubuh pada pekan ke delapan. Begitulah, proses penciptaan janin di dalam rahim seorang ibu, hingga akhirnya dilahirkan pada usia kehamilan sembilan bulan. Sungguh Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Proses penciptaan manusia pada ayat di atas, dijelaskan lebih rinci lagi oleh sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud RA.

Dari Abdullah ibn Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda kepada kami, dan beliau adalah orang yang jujur lagi dipercaya: “Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nuthfah (air mani yang kental), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah yang menempel di dinding rahim) selama itu juga (40 hari), lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkannya ruh, dan dia diperintahkan mencatat empat hal (kalimat) yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, nasibnya apakah celaka atau bahagia. Demi Dzat Allah yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang di antara kalian ada yang telah melaksanakan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah sehasta, namun dia telah didahului oleh al-kitab (ketetapan/takdir), maka dia mengerjakan perbuatan ahli neraka, lalu akhirnya dia masuk ke dalamnya (menjadi penghuni neraka). Di antara kalian ada yang mengerjakan perbuatan ahli al-naar (penduduk neraka), sehingga jarak antara dirinya dan neraka hanya sehasta. Akan tetapi dia telah didahului oleh takdirnya, maka dia mengerjakan perbuatan ahli surga, sehingga akhirnya dia memasukinya (menjadi penghuni surga).”4

Di samping tercipta dari unsur tanah yang rendah, secara ruhaniah manusia tercipta dari ruh Allah Yang Maha Agung. Sebagaimana difirmankan dalam surat as-Sajdah (32) ayat 9:

“Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.

Para ulama telah sepakat, bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika janin berusia 120 hari, terhitung sejak pertemuan sel sperma dengan ovum. Artinya, peniupan ruh tersebut terjadi ketika janin telah berusia empat bulan penuh, masuk bulan kelima. Ruh adalah suatu unsur rohani yang menjadikan manusia hidup. Adapun substansi atau hakikat ruh tidak ada manusia yang mampu mengetahui. Hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Sebagaimana telah di firmankan dalam surat al-Isra’ ayat 85:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Berdasarkan firman Allah SWT dan Hadits Rasulullah SAW di atas dapat disimpulkan, bahwa secara biologis manusia itu tercipta dari sari pati tanah. Hal ini terjadi pada penciptaan Nabi Adam AS, sebagai manusia pertama yang secara langsung diciptakan dari tanah. Adapun keturunanya, tercipta dari tanah tetapi secara tidak langsung, yaitu sesudah diproses menjadi sperma dan ovum. Pada dasarnya, sperma dan ovum yang merupakan asal usul manusia adalah berasal dari berbagai sari pati makanan dan minuman baik nabati maupun hewani. Pada hakikatnya hewan pun berasal dari tanah, karena hewan bisa bertahan hidup dengan mengkonsumsi makanan yang berasal dari tanah. Jadi secara biologis manusia terbuat dari tanah yang melambangkan kerendahan dan kehinaan serta setelah mati akan menjadi bangkai dan kembali menjadi tanah. Oleh karena itu, manusia tidak pantas untuk menyombongkan diri meski pun ia memiliki berbagai kelebihan jika dibandingkan dengan makhluk
yang lain. Sungguh pun demikian, dari segi rohaniah, manusia memiliki roh yang ditiupkan langsung oleh Allah SWT Dzat Yang Maha Tinggi.

Berhubung manusia tercipta dari unsur tanah yang rendah serta unsur roh Allah yang tinggi, maka di dalam diri manusia selalu terjadi pergulatan dan tarik menarik antara bisikan-bisikan yang mengajak untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merendahkan derajat manusia–seperti memuja-muja atau menuhankan benda-benda mati (kayu, batu, patung dan karya seni serta hasil teknologi manusia), harta, tahta dan wanita, berzina, berjudi, dan korupsi, dengan bisikan-bisikan yang mendorongnya untuk berbuat baik yang dapat mengangkat harkat dan martabatnya di atas makhluk-makhluk Allah yang lain seperti beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT; memenuhi nafkah dan berbagai kebutuhan hidup dengan cara-cara yang halal sesuai dengan petunjuk Allah SWT; serta berbuat baik dan saling tolong menolong dengan sesama manusia. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah berusaha semaksimal mungkin agar dorongan-dorongan ke arah hal-hal yang positif mampu mengalahkan dorongan-dorongan yang mengajak kepada hal-hal negatif. (Bersambung)


4 Hadits ini diriwayatkan oleh: Imam al Bukhari dalam Shahih-nya, pada Kitab Bad’u al-Khalq, Bab Dzikrul Malaikah (no. 3208), kitab Ahaditsul Anbiya` no. 3332 Lihat juga hadits no. 6594 dan 7454. Imam Muslim dalam Shahihnya, pada Kitab al Qadar no. 2643. Imam Abu Dawud no. 4708. Imam at-Tirmidzi no. 2138. Imam Ibnu Majah no. 76; Imam Al Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra 15198, 21069; Imam Ahmad dalam Musnad-nya No. 3624

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

Artikel

Renungan Menyambut Ramadhan 2021 M

Idris Wasahua, Wakil Ketua MATAN DKI JAKARTA

Published

on

By

 JATMAN.OR.ID – Manusia merupakan makhluk yang hidup di dua alam sekaligus, yakni alam fisik (alam nasut) dan alam metafisik (alam malakut). Tubuh kita hidup di alam fisik, alam yang bisa kita lihat dan kita raba yang terikat ruang dan waktu. Sedangkan, ruh kita hidup di alam metafisik yang tidak terikat ruang dan waktu. Karena berada di alam malakut, ruh kita tidak dapat dilihat oleh mata lahir karena ruh merupakan bagian batiniah dari diri kita. Ruh hanya dapat dilihat dengan mata batin.

Ada sebagian hambah yang terpilih (Karena selalu melatih mata batinnya dengan riyadha keruhanian atau kerana anugerah Allah SWT) yang dapat menengok ke alam malakut sehingga dapat melihat ruh dirinya atau ruh orang lain. Seperti halnya tubuh fisik yang memerlukan makanan/gizi agar bisa tetap sehat dan kuat, ruh juga memerlukan makanan/ gizi. Untuk meningkatkan kualitas ruh agar ia sehat dan kuat, kita perlu memberinya cahaya-cahaya Ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, haji, dan puasa terutama di bulan Ramadhan.

Di bulan Ramadhan ini, kita berusaha menerangi ruh kita dengan berbagai makanan ruhani. Kita memandikan ruh kita dengan proses pensucian batin seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhkan diri dari kemaksiatan. Sebagaimana halnya tubuh fisik, ruh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, ruh yang kekurangan makanan, akan menjadi ruh yang lemah, sakit-sakitan, dan dikuasai setan. Ciri-ciri ruh yang sakit seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kekosongan eksistensial. Singkatnya, ruh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tenteram.

Seperti tubuh, ruh mempunyai rupa yang bermacam-macam, baik buruk, indahnya, bau busuk, harumnya. Rupa ruh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut seseorang “wajahnya mirip binatang”, tetapi pasti ia bukan binatang. Namun, ruh dapat betul-betul berupa binatang. Ruh kita menjadi indah dan baik dengan akhlak yang baik, dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruh. Menurut teori akhlak Imam Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya akan memiliki ruh yang berbentuk babi, orang yang selalu dengki dan dendam akan memiliki ruh yang berbentuk binatang buas, orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatan akan mempunyai ruh yang berbentuk setan (monster), demikian seterusnya.

Ketika ruh turun ke bumi, karena berasal dari Yang Maha Suci, ia datang dalam keadaan suci. Namun, ketika kita kembali kepad-NYA, ruh kita datang dalam bermacam bentuk, tergantung bagaimana kita memberikan makanan kepadanya selama di duni. (Disarikan dari buku “Meraih Cinta Ilahi, Belajar Menjadi Kekasih Allah”, karya Jalaluddin Rakhmat). Bulan Puasa merupakan salah satu bulan yang penuh dengan aktivitas ibadah ritual yang lebih berorientasi pada peningkatan kualitas ruhaniah. Semoga bulan Puasa kali ini dapat kita dayagunakan untuk meningkatkan kualitas, kesehatan dan kecantikan ruh kita agar kelak kembali menghadap Sang Pemilik ruh dalam rupa yang baik. Aamiin

Selamat menjalani Ibadah Puasa. Mohon Maaf Lahir & Batin. Depok, 13 April 2021.

Baca juga: Gus Hamid: Hidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Continue Reading

Artikel

Implementasi Pancasila Melalui Pendekatan Tasawuf Agama

Oleh: Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE., M.M (Kajian Intelijen Spiritual (KIS) DP-BNPT RI)

Published

on

By

Photo: damailahindonesiaku.com/

JATMAN.OR.ID  – Tujuh puluh lima (75) tahun pasca dideklarasikan dalam Pidato 1 Juni 1945 oleh Soekarno, Pancasila masih menghadapi sejumlah tantangan di antaranya adalah dikotomi dan pembenturan Pancasila dengan Islam. Pola doktrinasi Pancasila ala Orde Baru juga telah melahirkan trauma kolektif masyarakat terhadap Pancasila. Pada titik ini lah, implementasi Pancasila menggunakan pendekatan tasawuf agama menemukan signifikansinya.

Dari segi historis, Pancasila sejatinya digali dari nilai-nilai tasawuf dan budaya luhur Bangsa Indonesia. Di samping itu pendekatan tasawuf lebih relevan dan kontekstual dalam kehidupan masyarakat yang dinamis dan plural, sehingga semangat berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila akan mudah diimplementasikan. Nilai-nilai tasawuf agama dapat ditanamkan ke dalam hati dan jiwa masyarakat bangsa Indonesia untuk membentuk dan mengembangkan karakter Pancasilais.

Nilai-nilai Pancasila dan Tasawuf mempunyai keselarasan, dimana keduanya merupakan sumber moral atau akhlak. Tasawuf sebagai sebuah konsep keagamaan dapat memperkuat posisi Pancasila sebagai dasar negara. Pengamalan tasawuf sebagai sebuah ibadah dalam Islam adalah inheren dengan pengamalan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai Pancasila dilihat dari perspektif tasawuf akan semakin memperkuat posisi Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah Bangsa Indonesia. Penghayatan dan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam perspektif tasawuf diharapkan dapat membentuk karakter Pancasilais, yakni karakter yang mulia dan terpuji dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia. Dalam artian, tujuan dari tasawuf yang menitikberatkan tidak hanya keshalehan secara personal (individual), namun juga keshalehan sosial, sejalan dengan apa yang digadang-gadangkan oleh prinsip Pancasila.

Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung arti bahwa manusia Indonesia dalam seluruh kehidupannya harus meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan fondasi agama (akidah-tauhid), sehingga dalam pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Pancasila haruslah menginduk kepada agama. Dalam sudut pandang tasawuf akhlaki berarti menghendaki adanya sikap murāqabah (merasa selalu dalam pengawasan Allah), guna mengontrol setiap aktifitas agar manusia senantiasa menghindarkan diri dari perbuatan tercela, berusaha membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, yang hal tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan takhalli, yaitu pensucian diri, baik hati maupun jiwanya.

Sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan perwujudan dari tahalli, yaitu memperindah diri dengan membangun rasa cinta kasih dalam hati maupun jiwanya, melalui maḥabbah yang menghasilkan kelembutan hati, berupa perasaan cinta, mengasihi, dan menyayangi terhadap sesama yang diwujudkan melalui perlakuan yang adil dan beradab terhadap seluruh makhluk-Nya.

Sila ketiga Persatuan Indonesia mengandung nilai-nilai di antaranya ialah menumbuh kembangkan rasa cinta tanah air. Cinta tanah air sebagai perwujudan maḥabbah yakni bentuk syukur dengan mengelola dan memanfaatkan karunia Tuhan berupa tanah air dengan sebaik-baiknya sebagai wujud pengabdian diri kepada Tuhan. Di dalam sila ketiga juga menghendaki adanya sikap itsar dan futuwwah yaitu lebih mementingkan orang lain dari pada diri sendiri dan selalu berusaha meringankan kesulitan orang lain, rela berkorban. Serta pentingnya persatuan sebagaimana disampaikan dalam ayat wa’tasimu bi hablillah.

Sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung adanya sikap itsar dalam bermusyawarah yaitu lebih mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan, serta sikap zuhud yang mampu mengekang hawa nafsu keduniawian yang menghasilkan sikap qana’ah dan tawakal dalam menerima keputusan yang telah disepakati bersama dalam musyawarah.

Selanjutnya sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, merupakan tujuan yang ingin dicapai bangsa Indonesia. Hal ini berkaitan dengan tasawuf yang dapat diartikan sebagai tajalli (menyambungkan diri dengan dimensi Tuhan), dimana meyakini bahwa cita-cita dan tujuan nasional Bangsa Indonesia hanya bisa dicapai dengan melibatkan “campur tangan” Tuhan Yang Maha Esa (metafisika ketuhanan). Dalam hal ini diperolehnya cahaya (nur) Ketuhanan berupa muncul dan meresapnya sifat keadilan Tuhan dalam diri tiap-tiap manusia Indonesia, yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengembangkan sikap adil terhadap sesama dalam menjalankan kehidupan sosial, sehingga terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Implementasi nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan dan pengamalan tasawuf agama akan menghilangkan celah atau peluang bagi kelompok paham radikalisme untuk membenturkan, men-dikotomi, serta upaya mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Khilafah maupun lainnya. Hal ini merupakan “imunitas” bagi ketahanan nasional terutama aspek ideologi Pancasila, sekaligus sebagai optimalisasi dalam mewujudkan cita-cita maupun tujuan nasional Bangsa Indonesia.

Pemerintah perlu membumikan Pancasila secara holistik, di seluruh level masyarakat, terutama generasi muda, dilakukan dengan metode “kekinian” (milenial), dengan pendekatan tasawuf agama.

Baca juga: Bahaya Syirik dalam Batin Menurut Pandangan Tasawuf

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending