Connect with us

Pustaka

Fase Kehidupan di Alam Rahim (Arham) 2

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Alam Rahim

Berhubung manusia tercipta dari unsur tanah yang rendah serta unsur roh Allah yang tinggi, maka di dalam diri manusia selalu terjadi pergulatan dan tarik menarik antara bisikan-bisikan yang mengajak untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merendahkan derajat manusia–seperti memuja-muja atau menuhankan benda-benda mati (kayu, batu, patung dan karya seni serta hasil teknologi manusia), harta, tahta dan wanita, berzina, berjudi, dan korupsi, dengan bisikan-bisikan yang mendorongnya untuk berbuat baik yang dapat mengangkat harkat dan martabatnya di atas makhluk-makhluk Allah yang lain seperti beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT; memenuhi nafkah dan berbagai kebutuhan hidup dengan cara-cara yang halal sesuai dengan petunjuk Allah SWT; serta berbuat baik dan saling tolong menolong dengan sesama manusia. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah berusaha semaksimal mungkin agar dorongan-dorongan ke arah hal-hal yang positif mampu mengalahkan dorongan-dorongan yang mengajak kepada hal-hal negatif.

Hadits di atas juga menjelaskan, bahwa sesudah roh ditiupkan dalam tubuh janin ketika masih berada di alam rahim, maka Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mencatat empat kalimat yang merupakan ketentuan-Nya terhadap janin tersebut. Yaitu rizki, ajal, amal, dan nasib baik atau buruk (bahagia atau sengsara).

Pertama; Rizki. Allah SWT Dzat Yang Maha Pemurah telahmenetapkan rizki bagi seluruh makhluk-Nya, dan setiap makhluk tersebut tidak akan mati sebelum rizkinya terpenuhi dengan sempurna. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Hud/11 ayat 6:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Ankabut/29 ayat 60:

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rizki kepadanya juga kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa pada hakikatnya, rizki para makhluk–termasuk manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak zaman azali dan telah tercatat di Lauh Mahfudz kemudian ditulis kembali oleh malaikat ketika manusia berusia 4 (bulan) dalam kandungan. Sungguh pun demikian, manusia tidak boleh bersikap apatis dan fatalistik. Untuk mendapatkan rizki, manusia harus bekerja keras dengan cara yang halal disertai dengan doa serta sikap tawakkal kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah SWT telah memerintahkan hamba-hamba-Nya berjalan mencari maisyah (pekerjaan/usaha) untuk mendapatkan rizki-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Mulk 15:

Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu. Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW:

“Wahai  manusia,  bertakwalah  kepada  Allah  dan  sederhanalah dalam mencari nafkah. Karena sesungguhnya seseorang tidak akan mati  hingga  sempurna  rizkinya,  meskipun  (rizki  itu)  bergerak lamban. Maka, bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari nafkah, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram”5

Rasulullah  SAW  telah  memberikan  petunjuk  kepada  kita semua tentang cara yang tepat untuk mendapatkan rizki dari Allah SWT, yaitu dengan melakukan usaha maksimal disertai doa dan sikap tawakkal sebagaimana yang dilakukan oleh burung.

Hendaknya kita dapat mengambil pelajaran darinya dalam mencari rizki. Beliau bersabda:

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberi kalian rizki sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung, yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”6

Rizki akan mengejar manusia, seperti halnya ajal (masa kematian). Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya rizki akan mengejar seorang hamba seperti halnya ajal juga mengejarnya”7

Kedua; Ajal. Setiap makhluk yang bernyawa–termasukmanusia—pasti akan mengalami kematian. Kapan manusia akan wafat serta mengakhiri kehidupannya di alam dunia? Semua tergantung ajal (masa kematian) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT Dzat Yang Maha Kuasa pada zaman azali dan dicatat kembali ketika janin berusia 4 (empat) bulan dalam kandungan. Dia-lah Dzat yang menghidupkan manusia, mematikan, serta membangkitkannya kembali. Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui berapa umurnya dan jatah hidupnya di alam dunia. Demikian juga tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan serta dimana akan diwafatkan oleh Allah SWT. Semua terjadi atas ilmu dan izin-Nya.

Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Ali ‘Imran/3 ayat 145:

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu. Dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

Ajal manusia sudah dtetapkan dan tercatat di Lauh Mahfudz, tidak dapat dimajukan atau dimundurkan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-A’raf ayat 34

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktu (ajal)-nya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun, dan tidak dapat (pula) memajukannya”

Ketiga; Amal Perbuatan. Pada hekekatnya, seluruh amalperbuatan manusia, baik amal saleh (al-hasanat) maupun amal yang buruk (al-sayyi’ah) yang akan dilakukan oleh setiap manusia selama hidupnya di alam dunia, telah diketahui dan dicatat oleh Allah SWT di Lauh Mahfudz serta dicatat kembali oleh malaikat ketika janin beumur 4 (empat) bulan dalam kandungan. Sungguh pun demikian, tidak ada satu pun manusia yang mengetahui apa yang tertulis di Lauh Mahfudz tersebut. Oleh karena itu, setiap manusia harus berusaha melakukan amal baik serta menghindari amal buruk. Juga harus selalu berdoa, memohon petunjuk dan bantuan kepada Allah SWT agar selalu melakukan amal yang baik serta menghindari perbuatan yang buruk, maksiat dan dosa.

Setiap amal baik yang dilakukan oleh seseorang dengan ikhlas semata-mata mengharapkan rida dan pahala dari Allah SWT pasti  akan  dibalas  berlipat  ganda  serta  manfaatnya  pasti  akan kembali kepadanya. Sebaliknya, setiap perbuatan buruk, maksiat atau dosa yang dilakukan oleh seseorang, pasti akan dibalas oleh Allah SWT  serta  mafsadah  atau  dampak  negatifnya  akan  kembali kepadanya, kecuali jika dia bertaubat dan mendapat ampunan dari Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Fusshilat ayat 46:

“Barangsiapa  mengerjakan  amal  yang  saleh,  maka  (pahalanya) untuk  dirinya  sendiri.  Dan  barangsiapa  mengerjakan  perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Taubat ayat 105 – 106:

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. Lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai  ada  keputusan  Allah;  Adakalanya  Allah  akan  mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Amal saleh yang dilandasi oleh iman, akan mengantarkan orang-orang yang beriman meraih surga, tempat kenikmatan yang abadi. Sebaliknya perbuatan buruk, maksiat dan dosa yang dilandasi oleh  kekufuran  akan  menghantarkan  orang-orang  kafir  ke  neraka jahannam  selama-lamanya.  Sebagaimana  telah  difirmankan  dalam surat al-Bayyinah ayat 6 – 8:

‘Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai -sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadanya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”.

Keempat ; Nasib Baik atau Buruk (Bahagia atau Celaka) Pada hekekatnya, nasib manusia, apakah nasib baik maupun nasib buruk,  bahagia  atau  celaka,  bahkan  kelak  di  akhirat,  apakah  ia termasuk akan menjadi penghuni surga atau neraka, telah diketahui dan dicatat oleh Allah SWT di Lauh Mahfudz serta dicatat kembali oleh  malaikat  ketika  janin  berumur  4  (empat)  bulan  dalam kandungan. Sungguhpun demikian, tidak ada satu pun manusia yang mengetahui nasibnya yang tertulis di Lauh Mahfudz tersebut. Oleh karena itu, setiap manusia wajib berusaha melakukan berbagai amal baik  yang  akan  menghantarkannya  meraih  nasib  yang  baik  serta menghindari amal buruk yang dapat menghempaskannya pada nasib buruk dan hina. Dengan berusaha semaksimal mungkin melakukan berbagai amal yang baik, disertai dengan doa, memohon petunjuk dan bantuan kepada Allah SWT, Allah SWT akan menunjukkannya pada jalan yang lurus dan diridai-Nya, bahkan akan mengubah nasib buruknya di Lauh Mahfudz menjadi nasib yang baik. Karena Allah SWT berhak melakukan hal tersebut. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ankabut ayat 69:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

Berdasarkan ayat di atas dapat diketahui bahwa orang-orang kafir tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT sehingga menjadi penghuni neraka jahannam selama-lamanya, karena mereka tidak mau berusaha semaksimal mungkin–bahkan tidak ada kemauan— untuk mendapatkan hidayah tersebut yang akan menghantarkannya untuk menjadi penghuni surga ‘Adn. Allah SWT tidak akan merubah keadaan  seseorang,  jika  mereka  sendiri  tidak  memiliki  kemauan untuk mengubahnya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ra’du ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

Jadi   pada   hakikatnya,  seluruh  kejadian   yang   menimpa manusia atau dialaminya di alam dunia, terutama empat hal di atas (rizki, ajal, amal dan nasib baik atau buruk) telah ditetapkan oleh Allah SWT di Lauh Mahfudz serta dicatat kembali oleh malaikat ketika janin berusia 4 (empat) bulan dalam kandungan. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah SWT di dalam surat al-Hadid ayat 22 – 23:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada hakikatnya, Allah SWT telah mentakdirkan segala sesuatu sejak 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi”8

Sungguh pun demikian, tidak ada seorang pun yang mengetahui takdir Allah SWT, terutama keempat hal yang telah disebutkan di atas. Oleh karenanya, seseorang tidak boleh malas berusaha dan beramal saleh, dengan alasan bahwa semuanya telah ditakdirkan oleh Allah SWT sejak zaman azali. Memang benar, bahwa Allah telah menetapkan takdir dalam kehidupan setiap hamba. Akan tetapi Dia Dzat Yang Maha Bijaksana juga menjelaskan jalan-jalan untuk mencapai kebahagiaan. Allah SWT Dzat Yang Maha Pemurah telah mentakdirkan rizki bagi setiap hamba-Nya. Namun Dia juga memerintahkan hamba-Nya keluar rumah untuk mencarinya. Jika ada orang yang bertanya, untuk apa kita beramal atau berusaha jika semuanya telah tercatat (ditakdirkan) oleh Allah SWT? Maka, Rasulullah SAW telah menjelaskan hal ini ketika menjawab pertanyaan Sahabat Suraqah bin Malik bin Ju’syum RA. Sbb:

“Beramallah kalian, karena semuanya telah dimudahkan oleh Allah sesuai dengan apa yang Allah ciptakan (takdirkan) atasnya. Jika seseorang ditakdirkan termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, maka ia dimudahkan untuk beramal sesuai dengan amalan orang-orang yang berbahagia. Dan sebaliknya, jika seseorang ditakdirkan termasuk golongan orang-orang yang celaka, maka ia dimudahkan untuk beramal sesuai dengan amalan orang-orang yang celaka”9

Orang yang selalu beramal saleh (berbuat baik), maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sebaliknya orang kafir atau orang yang selalu begelimang dosa, berbuat maksiat dan kerusakan di muka bumi, maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju neraka. Setiap manusia diberikan kebebasan untuk memilih keinginan dan kehendaknya masing-masing. Al-Qur’an hanya berfungsi sebagai peringatan atau petunjuk bagi orang-orang yang ingin menempuh jalan yang lurus. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Takwir ayat 27 – 28:

“Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus’.

Hal ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Allah SWT, juga kesempurnaan kekuasaan, qudrah dan iradah-Nya, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Meskipun setiap manusia telah ditentukan menjadi penghuni surga atau menjadi penghuni neraka, namun setiap manusia tidak dapat bergantung kepada ketetapan ini, karena tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui tentang hal-hal yang dicatat di Lauh Mahfudz. Kewajiban setiap manusia adalah berusaha dan beramal kebaikan, serta banyak memohon kepada Allah SWT agar dimasukkan ke surga. Karena Allah SWT berhak mengubah apa saja yang telah ditetapkan atau ditakdirkan kepada hamba-hamba-Nya di Lauh Mahfudz. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Ra’du ayat 39:

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). Dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).”[]


5 HR Ibnu Majah no. 2144, Ibnu Hibban no. 1084, 1085-Mawarid, al Hakim (II/4 ), dan Baihaqi (V/264), dari Sahabat Jabir Radhiyallahu ‘anhuma. Dianggap shahih oleh al Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadits ini dianggap shahih oleh Syaikh al -Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2607.

6 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/30 dan 52), at-Tirmidzi no.2344, Ibnu Majah no. 4164, Ibnu Hibban no. 730, Ibnul Mubarak di dalam kitab az-Zuhd no. 559, al-Hakim (IV/318), al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah no. 4108, Abu Nu’aim dalam kitab al Hilyah (X/69), dan lain-lainnya. Dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab. At-Tirmidzi berkata,”Hasan shahih.” Al-Hakim juga menilai hadits ini shahih, dan disetujui oleh adz-Dzahabi

7 HR Ibnu Hibban (1087-Mawarid) dan lainnya, dari Sahabat Abu Darda’. Hadits ini memiliki penguat dari Sahabat Jabir yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadiits ash-Shahihah no. 952.

8 HR Muslim no. 2653 (16) dan at-Tirmidzi no. 2156, Ahmad (II/169), Abu Dawudath-Thayalisi no. 557, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma. Lafaz ini milik Imam Muslim.

9 HR al-Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647.

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (1)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fase kehidupan di alam dunia, dimulai sejak manusia dilahirkan oleh Allah SWT dari perut ibunya dan berakhir ketika diwafatkan oleh Allah SWT. Sesudah mengalami kehidupan di alam rahim selama kurang lebih sembilan bulan, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna, maka dengan izin Allah SWT manusia terlahir dari perut seorang ibu ke alam dunia ini dengan perjuangan yang sangat melelahkan antara hidup dan mati.

Sesudah lahir di alam dunia, manusia akan mengalami berbagai perkembangan menuju kematangan dan kedewasaan, kemudian kemunduran menuju masa tua dan kematian. Perkembangan adalah serangkaian perubahan progesif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Menurut Van den Daele “Perkembangan berarti perubahan secara kualitatif”. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar bertambahnya berat atau tinggi badan serta kemampuan seseorang. Perkembangan adalah suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Di dalam perkembangan ini ada dua proses yang saling bertentangan yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Kedua proses ini terjadi mulai dari pembuahan dan berakhir dengan kematian. Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga kematian manusia selalu mengalami perubahan, baik kemampuan fisik maupun psikologis.

Plaget menuturkan bahwa dua struktur itu “tidak pernah statis dan sudah ada semenjak awal”. Dengan kata lain bahwa organisme yang matang selalu mengalami pembuahan yang progesif sebagai tanggapan terhadap kondisi yang bersifat pengalaman dan mengakibatkan jaringan interaksi yang majemuk. Fakta yang penting dari perkembangan adalah bahwa dasar-dasar permulaan adalah sikap kritis, kebiasaan, dan pola perilaku yang dibentuk selama bertahun tahun. Tahun pertama sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri, baik dalam penyesuaian diri pribadi maupun penyesuaian sosial. Keberhasilan

dalam menyesuaikan diri pada masa ini sangat mempengaruhi perkembangan dalam kehidupan pada masa-masa berikutnya hingga ketika manusia bertambah tua. Beberapa proses yang kompleks dari perkembangan manusia adalah sbb:

  1. Proses Fisik (physical process) yaitu perubahan yang bersifat biologis. Dari gen yang diwariskan orang tua, perubahan hormon selama hidup, bertambahnya tinggi badan, berat badan dan kemampuan motorik seseorang telah mencerminkan perkembangan biologis menuju kepada kematangan (maturation).
  2. Proses Kognitif (cognitive process) yaitu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang meliputi daya pikir, kecerdasan dan bahasa individu. Seperti bagaimana mengingat alamat rumah, pelajaran, menyusun kalimat, mengetahui warna-warna benda. Semua itu menunjukan peranan proses kognitif dalam perkembangan.
  3. Proses Sosial Emosional (socio-emotional process) yaitu proses perubahan yang terjadi pada emosi seseorang serta dalam berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain. Emosi dapat mempengaruhi perubahan jasmaniah seseorang yang tampak dalam memberikan respon atau tanggapan terhadap suatu peristiwa.

Ketiga macam proses di atas, baik proses fisik, kognitif maupun sosial emosional saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, proses emososial membentuk proses kognitif. Proses kognitif mendukung atau membatasi proses sosial-emosional. Sementara proses fisik mempengaruhi proses kognitif. Semua ini akan selalu bergantung satu sama lain. Jadi manusia tidak akan bisa terlepas dari ketiga proses ini karena pada dasarnya manusia akan selalu mengalami perubahan dari pembuahan sampai kematian, baik dari segi fisik maupun psikologis.

(Bersambung…)

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak kepada Allah SWT (2)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Allah SWT
  1. Ikhlas, baik dalam melaksanakan ibadah mahdlah kepada Allah SWT maupun dalam membantu sesama umat manusia (kerja sosial). Karena ikhlas merupakan syarat mutlak diterimanya suatu ibadah atau amal perbuatan seseorang. Sebagaimana telah dijelaskan oleh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar Ibn Khatab :

    “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu (akan dibalas oleh Allah SWT) sesuai dengan niat, dan setiap manusia akan memperoleh balasan amal perbuatan sesuai dengan niatnya masing-masing. Barangsiapa berhijrah (dari Makkah ke Madinah) semata-mata bertujuan untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka akan diterima (sebagai amal ibadah kepada Allah dan Rasul). Tetapi barangsiapa berhijrah semata-mata untuk memperoleh harta atau menikahi wanita, maka ia tidak memperoleh pahala apa-apa (karena hijrahnya tidak bernilai ibadah)”.
  2. Syukur dalam memperoleh anugerah nikmat dari Allah SWT. Umat Islam, khususnya para santri wajib bersyukur atas nikmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT.           Seorang hamba  yang  tidak  pandai  bersyukur, alias mengkufuri nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke dalam api neraka, karena Allah SWT telah memerintahkan para hambaNya  untuk  mengingat-Nya  dan  bersyukur  atas  nikmat-nikmatNya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 152 :

    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

    Prof. Dr. Syaih Mohammad Ali Ash-Shabuni dalam menafsirkan ayat di atas menyatakan; “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan. Sedangkan maksud firman Allah SWT,” bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah  kamu mengingkari nikmat-Ku”, bermakna: “Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat.

    Berdasarkan ayat di atas,  mak bersyukur  atas  nikmat  Allah  merupakan  kewajiban setiap muslim. Namun, seorang muslim harus memahami bagaimana cara merefleksikan rasa syukur secara benar. Betapa banyak orang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Misalnya, ada orang yang mewujudkan rasa syukurnya dengan cara mabuk-mabukkan, pesta pora, pergi ke tempat-tempat maksiyat, bernyanyi-nyanyi hingga melupakan kewajibannya, dan seterusnya. Adapula yang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara menyediakan sesaji dan persembahan kepada pohon dan tempat-tempat keramat. Refleksi syukur seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam.

    Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah SWT serta meninggalkan perbuatan maksiyat.         Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam ‘Ali Al-Shabuni. Ibadah dan taat kepada Allah SWT serta meninggalkan larangan-larangan-Nya adalah perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Seseorang yang selalu taat kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh aturan-aturanNya dan sunnah Nabinya pada hakekatnya adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Ny. Sebaliknya, orang yang menolak melaksanakan syari’at Islam, adalah termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya.
  3. Sabar ketika tertimpa musibah (cobaan/ujian). Secara literal, sabar adalah habsu al-nafs ‘an al-jaza’ (menahan diri dari keluh kesah (ketidak sabaran).[1] Setiap orang pasti akan diuji oleh Allah SWT dengan berbagai macam ujian. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 155 – 156 :

    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”

    Apabila seseorang mampu menahan diri dari keluh kesah, kegelisahan, dan kegundahan akibat berbagai macam ujian dan cobaan, maka ia tergolong orang-orang yang sabar. Sebaliknya, tatkala seseorang suka mengeluh, mengaduh, dan selalu merasa jengah serta khawatir atas berbagai macam musibah, maka ia bukanlah termasuk bagian orang-orang yang sabar. Jamaluddin al-Qasimi menyatakan, “Barangsiapa yang tetap tegak bertahan sehingga dapat menundukkan hawa nafsunya secara terus-menerus, orang tersebut termasuk golongan orang yang sabar.”[Al-Qasimi, Mau’idlaat al- Mukminiiin].

    Kesabaran merupakan perhiasan hati yang sangat agung dan mulia. Kesabaran akan menjadikan seseorang bersifat qana’ah, mulia dan dihormati oleh siapapun.  Selain itu, kesabaran juga merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh seseorang agar mendapatkan keberhasilan dan kemenangan. Sebaliknya, sifat tergesa-gesa, gelisah dan berlebihan akan menjatuhkan seseorang ke dalam kegagalan dan kemurkaan Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat Hud ayat 115 :

    “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.

    Demikian juga firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 200 :

     “Hai orang-orang yang beriman, berlakulah sabar dan perkuat kesabaran diantara  sesama  kalian,  dan  bersiagalah  kalian  serta  bertaqwalah  kepada Allah, supaya kalian memperoleh kemenangan.”[Ali Imran:200]

    Kesabaran yang dimaksud pada ayat di atas adalah kesabaran dalam menghadapi segala bentuk kesulitan dan penderitaan tatkala menjalankan perintah Allah SWT. Kesabaran dalam menunut ilmu harus diwujudkan dengan cara menjalankan seluruh proses, dimulai dengan niat yang ikhlas, semangat yang kuat, kemudian mempersiapkan strategi belajar yang tepat, melengkapi diri dengan berbagai sarana dan prasarana yang memadai, serta mentaati instruksi-instruksi para pendidik. Selanjutnya, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

    Kesabaran dalam  bekerja harus   direfleksikan   dengan cara mengorganisasikan segala sesuatu yang bisa menunjang keberhasilan pekerjaannya. Ia mempersiapkan seluruh potensi dirinya untuk meraih rizki yang halal, dan berserah diri kepada Allah atas semua hasil yang diterimanya. Kesabaran  dalam  berdakwah  harus  diwujudkan  dengan  cara berjalan  sesuai  dengan  manhaj  dakwah  Rasulullah SAW  walaupun  jalan  itu terasa  sulit,  panjang,  berliku  dan  penuh  dengan  cobaan  dan  musibah. Selanjutnya, ia membuat rencana-rencana program yang terarah, realistis, dan jelas. Seorang da’i juga harus kreatif dalam menciptakan uslub-uslub yang sesuai dengan kondisi dan fakta yang ada, yang secara logis akan mengantarkan kepada keberhasilan. Ia juga selalu mencari dan menciptakan cara-cara baru yang bisa mempermudah akses dakwahnya di tengah-tengah masyarakat. Atas dasar itu, kesabaran harus diwujudkan dengan cara mempersiapkan diri menghadapi segala macam kesulitan dan derita dalam menjalankan seluruh perintah Allah swt.

    Secara umum, kesabaran dibagi  menjadi  2 (dua) macam. Pertama,  kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat  fisik. Kedua, kesabaran  dalam menghadapi cobaan yang bersifat non fisik. Kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat fisik adalah tabah dalam memikul tugas-tugas yang berat, tabah dalam menghadapi kemiskinan, cacat, atau menderita rasa sakit (akibat penyakit maupun siksaan).

    Kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat non fisik terbagi menjadi beberapa hal. Di antaranya adalah sbb. :
  • Sabar dalam menahan hawa nafsu dan kecenderungan seksual. Kesabaran semacam ini disebut dengan ‘iffah.’
  • Sabar dalam menghadapi musibah, kesulitan, dan bencana tanpa ada keluh kesah, mengumpat, rasa kesal dan sebagainya. Kesabaran semacam ini sering dianggap sebagai bentuk kesabaran secara umum.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari kehidupan mewah pada waktu sedang kaya.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari sifat pengecut di medan peperangan yang dalam akhlak Islam disebut syaja’ah (keberanian),.     Lawan kata dari sifat syaja’ah adalah al-jubun (pengecut).
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari marah dalam menghadapi musuh atau orang yang berbeda pendapat, yang disebut tasamuh (toleran).
  • Sabar dalam bentuk menahan diri untuk tidak menyampaikan suatu ‘aib atau rahasia –baik rahasia diri sendiri, orang lain dan negara– kepada pihak lain, yang disebut kitman al-sirr.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari kenikmatan dan kesenangan dunia untuk memperoleh kesenangan akherat, yang disebut zuhud.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari pola hidup yang berlebih-lebihan (berfoya-foya), dan merasa puas dengan kehidupan yang sederhana sesuai dengan kemampuan, yang disebut qana’ah.
  1. Tawakkal. Ditinjau dari segi bahasa, kata tawakkal berasal dari kata wakkala – yawakkilu – taukiilan – wa tawakkalan (وكل – يوكل – توكيلا – وتوكلا) yang berarti mewakilkan. Sedangkan pengertian tawakkal dalam ajaran agama Islam adalah; “Menyerahkan semua kejadian yang telah, sedang dan akan terjadi pada diri kita kepada Allah SWT, karena yakin dan percaya bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mencipta dan Mengatur hidup dan mati manusia dengan penuh hikmah, kebijaksanaan dan kasih saying. Sikap tawakkal ini dilakukan sesudah melakukan usaha secara maksimal”.

    Definisi di atas menunjukkan, bahwa bertawakkal kepada Allah SWT  bukan berarti bersikap pasif dan apatis tanpa melakukan sesuatu usaha dan aktivitas apapun, melainkan tetap berusaha secara maksimal dan bekerja dengan baik, tetapi menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dengan demikian tidak benar asumsi sementara orang yang menyatakan, bahwa sikap tawakkal telah menjadikan umat Islam malas belajar, bekerja dan berusaha, sehingga mereka mengalami kebodohan kemiskinan dan keterbelakangan.

    Jika ada sebagian masyarakat yang memahami sikap tawakkal adalah menyerahkan semua persoalan kepada Allah SWT. tanpa melakukan usaha sama sekali, maka perlu diluruskan, karena pemahaman  tersebut sama sekali tidak benar dan bertentangan dengan ajaran agama Islam yang memerintahkan pemeluknya bersungguh-sunggguh memperjuangkan tegaknya ajaran agama Islam yang dikenal dengan istilah jihad (الجهاد); bersungguh-bersungguh dalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahun dengan rajin belajar, melakukan penelitian dan analisa yang dikenal dengan istilah ijtihad (الاجتهاد); serta berusaha dan bekerja keras untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang dikenal dengan istilah mujahadah (المجاهدة); Ketiga istilah tersebut berasal dari akar kata yang sama yakni al-juhdu (الجهد); yang berarti usaha dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ankabut ayat 69  :

    “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridhaan) Kami, pasti (benar- benar) akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

    Jangankan mencari ilmu yang sulit, hal-hal yang mudah saja tidak akan berhasil jika tidak diusahakan dan dikerjakan. Sebagai contoh, nasi dan lauk pauk yang sudah dihidangkan di meja makan, tidak akan menghilangkan rasa lapar jika tidak dimakannya. Air mineral yang sudah dihidangkan di atas meja, tidak akan menghilangkan rasa haus dan dahaga jika tidak diminumnya. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan semua manusia untuk mencari rizki di muka bumi ini, tidak boleh berpangku tangan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Jum’ah ayat 10  :

    “Apabila telah selesai menunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia (rizki) Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung”.

    Demikian juga Rasulullah memerintahkan umatnya yang sakit untuk berobat agar sembuh dari sakitnya. Jika sudah berobat ternyata tidak tertolong dan akhinya meninggal dunia, maka harus menerima kenyataan dengan penuh keimanan bahwa Allah SWT. telah mentakdirkan kematiannya pada saat itu. Akan tetapi tidak boleh membiarkannya tanpa berobat dengan alasan tawakkal kepada Allah. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad bin Hambal, al-Hakim dkk dari sahabat Usamah sebagai berikut:

    “Berobatlah kamu sekalian wahai para hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan pasti menyediakan obatnya, kecuali satu penyakit yakni penyakit pikun”.

    Demikian juga Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk menyimpan harta benda di tempat yang aman serta menjaganya dari kerusakan dan pencurian. Oleh karena itu beliau memarahi seorang sahabat yang meninggalkan ontanya di tengah jalan tanpa diikat, dengan alasan bertawakkal kepada Allah. Kemudian beliau memerintahkan sahabat tersebut untuk mengikat ontanya, sesudah itu baru bertawakkal kepada Allah swt.

    Seluruh ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan al-Hadits, baik yang berupa perintah dan anjuran maupun yang berupa larangan untuk mengerjakan sesuatu, pasti mengandung dampak positif serta menghindarkan dampak negatif bagi pelakunya serta bagi orang lain, baik di dunia maupun di akherat. Tawakkal sebagai salah satu ajaran Islam yang diperintahkan oleh Allah SWT. kepada para hamba-Nya yang beriman pasti mengandung dampak positif serta menghindarkan dampak negatif.

Di antara dampak positif tawakkal adalah sbb. :

  • Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Dengan bertawakkal kepada Allah serta menyerahkan persoalan dan permasalahan yang kita hadapi kepada-Nya, maka berarti kita yakin dan percaya bahwa Allah SWT adalah Dzat yang berkuasa untuk memberikan keputusan yang terbaik kepada kita dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Allah SWT adalah Dzat yang mencipta dan mengatur hidup serta mati manusia dengan penuh hikmah, kebijaksanaan dan kasih sayang. Sebaliknya, jika kita tadak bertawakkal, maka berarti kita tidak atau kurang beriman kepada-Nya. Karena salah satu ciri orang yang benar-benar beiman adalah orang yang bertawakkal kepada Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Anfal ayat 2 :

    “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman ialah; mereka yang apabila disebutkan sifat-sifat Allah, maka gemetarlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambahlah iman mereka, dan kepada Allah-lah mereka bertawakkal”.

    Bahkan Allah SWT. telah menjadikan tawakkal sebagai salah satu syarat beriman kepada-Nya. Dengan demikian seseorang yang mengaku beriman tetapi tidak bertawakkal, maka pada hakekatnya ia belum beriman, karena tawakkal merupakan salah satu konsekuensi logis dari keimanan kita kepada AllahSWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Maidah ayat 23 :

    “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.
  • Menumbuh-kembangkan jiwa pemberani dan optimism. Seseorang yang bertawakkal kepada Allah SWT, maka dapat dipastikan bahwa ia adalah seorang pemberani. Ia berani memperjuangkan kebenaran, karena tidak merasa takut terancam kedudukannya atau menghadapi kesulitan hidup. Ia juga tidak takut mati, jika harus berperang melawan musuh-musuh Islam, karena yakin bahwa kematiannya tidak ditentukan oleh peperangan dan perjuangan, tetapi semata-mata ditetapkan oleh Allah SWT. Sekalipun berada dalam benteng yang dikelillingi pagar besi baja, kalau sudah tiba masa kematiannya, maka seseorang tidak akan mampu menghindarinya. Sebaliknya, walaupun seseorang ikut berperang atau naik pesawat terbang yang mengalami kecelakaan, kalau belum tiba masa kematiannya, maka ia tidak akan mati. Oleh karena itu sebagai orang yang beriman kita harus bertawakkal kepada Allah sehingga kita mempunyai keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, tanpa dibayang-bayangi rasa takut mati, terancam kedudukan serta kesulitan hidup. Karena kita yakin bahwa nasib kita tidak berada di tangan atasan kita dan musuh-musuh kebenaran, tatapi semata-mata berada dalam kekuasaan Allah SWT. Sepanjang kita beriman dan bertawakkal kepada-Nya, maka tidak perlu ada yang ditakutkan. Karena Allah telah berjanji akan memberikan kecukupan dalam segala hal kepada orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Thalak ayat 3 :

    “Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi semua kebutuhannya”.
  • Memberikan ketenaangan batin. Jika seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin, bekerja secara profesional, kemudian bertawakkal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT., maka batinnya akan selalu tenang dan tenteram. Demikian juga jika seseorang telah menyimpan hartanya di tempat yang aman serta menjaganya dari kerusakan dan pencurian, kemudian ia bertawakkal kepada Allah, maka batinnya akan selalu tenang dan tenteram. Karena ia yakin dan percaya bahwa Allah akan menjaganya dan memberikan sesuatu yang terbaik, bermanfaat dan penuh hikmah kepadanya. Sebagaimana janji Allah dalam surat al-Ahdzab ayat 3 :

    “Bertawakkal-lah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai wakil”.
  • Menghilangkan stress dan frustasi. Dengan selalu bertawakkal kepada Allah, maka seseorang yang gagal dalam mencapai cita-cita dan keinginannya, seperti gagal dalam bercinta, gagal dalam memperoleh kejujuran, gagal dalam menduduki suatu jabatan, gagal dalam berbisnis dan sebagainya, atau kehilangan sesuatu yang disenanginya, atau ditinggal mati oleh seseorang yang sangat dicintai, atau tertimpa musibah yang lain, maka ia tidak akan stress dan frustasi. Karena ia yakin bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT yang pasti banyak hikmah dan manfaatnya. Sebaliknya jika ia sukses dalam mencapai sesuatu, ia tidak akan sombong dan lupa diri, karena menyadari bahwa walaupun memiliki kecerdasan yang tinggi, menguasai sains dan teknologi, mampu memprediksi segala sesuatu yang akan terjadi, tapi tanpa pertolongan Allah SWT. semuanya itu tidak akan mempunyai arti apa-apa. Oleh karena itu semua orang mukmin harus bertawakkal kepada Allah SWT. dengan menghayati dan mengamalkan makna Kalimat Hauqalah (LA HAULA WALA KUWWATA ILLA BILLAH AL-‘ALIYYI AL-ADZIM) yang berarti tiada daya untuk melakukan sesuatu kebaikan, dan tiada kekuatan untuk menghindari kejahatan, kecuali dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dengan tawakkal tersebut maka seseorang tidak akan frustasi karena gagal dalam mencapai sesuatu, serta tidak akan sombong jika sukses dalam meraih prestasi. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Hadid ayat 23 :

    “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan frustasi (berduka cita) dalam menghadapi kegagalan, serta jangan lupa diri (terlalu gembira) dalam menghadapi kesuksesan yang diberikan oleh Allah kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
  • Menumbuh-kembangkan sifat dermawan. Seseorang yang benar-benar bertawakkal kepada Allah SWT pasti bersifat dermawan. Karena ia tidak akan takut kekurangan rizki. Ia yakin dengan sepenuh hati, bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Allah akan selalu memberikan rizki yang cukup untuk diri dan keluarganya. Allah akan mengganti setiap harta yang disedekahkan kepada para fakir miskin dan atau untuk kepentingan perjuangan agama Islam, dengan balasan yang berlipat ganda, baik di dunia maupun di akherat. Oleh karena itu jika seorang mukmin bersifat pelit hingga tidak mau bersedekah dan bahkan tidak mau membayar zakat karena takut jatuh miskin, maka pada hakekatnya ia tidak (belum) bertawakkal kepada Allah SWT. Jika ia bertawakkal pasti tidak akan pelit karena yakin bahwa Allah akan menjamin hidupnya dan mengganti sedekahnya dengan balasan yang berlipat ganda. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 261 :

    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang meumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

    Sebaliknya, seseorang yang tidak atau kurang bertawakkal kepada Allah SWT pasti akan merasakan dampak negatif. Antara lain adalah sbb. :
  1. Berjiwa kerdil dan penakut. Seorang yang tidak bertawakkal kepada Allah SWT akan berjiwa kerdil dan penakut. Oleh karena itu, ia tidak berani memperjuangkan kebenaran karena takut menghadapi kesulitan hidup. Tidak berani berkompetinsi secara sportif karena takut kalah. Tidak berani berdagang karena takut rugi dan sebagainya.
  2. Suka meminta bantuan kepada dukun. Sebagai akibat dari jiwa kerdil dan penakut, maka seseorang tidak memiliki rasa percaya diri. Akibatnya bisa terjemurus pada praktek perdukunan atau mendatangi dukun serta meminta bantuan kepada jin dan setan utnuk menghadapi berbagai problem kehidupan. Padahal mendatangi dukun yang meminta bantuan kepada jin dan setan adalah haram karena dapat menjerumuskan kepada kemusyrikan.
  3. Bersifat hasad (iri hati/dengki). Jika seseorang tidak bertawakkal dan menyerahkan semua kejadian kepada Allah SWT, maka ia akan mudah terserang penyakit hasad ketika melihat orang lain yang dianggap rivalnya memperoleh kesuksesan. Sehingga ia melakukan sesuatu yang dapat merugikan rival tersebut.
  4. Bersikap takabbur dan mudah frustasi. Jika seseorang yang tidak bertawakkal kepada Allah SWT. meraih sukses, maka akan bersikap sombong (takabbur) dan lupa diri, karena merasa bahwa kesuksesan tersebut semata-mata karena kehebatan dirinya. Sebaliknya jika gagal, ia akan mudah frustasi. Sebagai pelariannya ia akan terjerumus mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, bahkan terkadang sampai melakukan bunuh diri. Di samping itu, orang yang tidak bertawakkal kepada Allah akan bersifat pelit, karena takut jatuh miskin.

[1] Abu Bakar Al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal.354.

Continue Reading

Pustaka

KH. Hasyim Asy’ari, Pengabdian Seorang Kyai untuk Negeri (2)

Published

on

KH. Hasyim Asy'ari
KH. HASYIM ASY’ARI: GURU PARA KIAI PESANTREN DAN “WARANA” KEARIFAN NUSANTARA

Oleh Ahmad Baso

KH. Hasyim Asy’ari, Pesantren dan Kearifan Nusantara: Filosofi Santri Berguru

KH. Hasyim Asy’ari adalah sosok paripurna seorang “alim” yang selalu dikejar ilmu dan barakahnya oleh kalangan santri dan masyarakat. Hingga makamnya pun tidak pernah sepi dari para penziarah. Tidak heran kalau Tan Malaka sendiri selama hidupnya menyempatkan diri berguru pada beliau di pondoknya di Tebuireng dari maghrib hingga shubuh pada tanggal 12 atau 13 November 1945.9

Sebutan “alim” dalam masyarakat bangsa kita menunjukkan bahwa seorang guru, kiai atau ulama mengajarkan sikap-sikap beragama yang bukan sekedar teori, tapi juga contoh, amalan, dan suri tauladan. Sang kiai menjadi pembimbing para santri dalam segala hal, yang mendampingi para santri selama 24 jam sehari. Sehingga kaum santri menyaksikan sendiri di depan matanya contoh-contoh yang baik dari gurunya, yang kemudian secara langsung – tanpa instruksi atau paksaan – mengikuti sendiri amalan-amalan yang baik itu.

Lebih dari itu, amalan-amalan keagamaan juga dirasakan makin sempurna dengan mengikuti contoh ideal pelaksanaannya oleh sang kiai. Seperti halnya cara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan ibadah shalat kepada para sahabatnya dengan “memperbanyak melihat cara Nabi melakukannya”. Demikian pula yang ditunjukkan oleh sang kiai dalam mengajarkan amalan-amalan keagamaan sehari-hari. Intinya, makin banyak melihat sang guru — artinya, berinteraksi secara rapat dengannya dan tidak menjauh – akan makin sempurna pelaksanaan ibadah tersebut. “Adat kelakoean sang goeroe di dalam hidoepnya sehari-hari jang penoeh dengan kedjoedjoeran dan kesoetjian itoe, mempengaroehi djuga atas sikap kehidoepan, levenshouding-nja, moerid-moeridnja”, demikian yang ditulis dokter Soetomo tentang pengajaran pesantren.

Jadi, kehidupan sehari-hari, amalan beserta sikap sang kiai lalu menjadi pedoman, dan bukan sekedar retorika. Sang kiai menjadi cermin dimana sang santri mengamati karakter idealnya. Dan watak “alim” adalah tipikal cerminan ideal tersebut. Dan karakter ke-alim-an yang paling tinggi di mata orang-orang pesantren adalah sikap ikhlas dan wara.

Nderek kiai” atau “gurutta mato” adalah satu cara pesantren membentuk kepribadian kaum santri. Karena praktik latihan dan proses berguru itu tidak dilakukan dengan cara duduk di dalam kelas dengan jadwal-jadwal pasti.Pesantren dan proses berguru di sana merupakan sebuah proses bermasyarakat, satu cara menjalani kehidupan di dunia ini sebagai persiapan menuju ke gerbang akhirat. Seperti halnya menuntut ilmu itu sendiri tidak pernah berhenti, dari masa kecil hingga meninggal. Proses bermasyarakat dan menjalani hidup ini merupakan inti dari pemahaman keagamaan kalangan pesantren, yang mengamalkan ajaran Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja).

Hal itu berjalan dengan sendirinya, tanpa ada pengarahan dari sang guru. Guru tidakmemberitahuapa yang harus dikerjakan, tapi dia menegur kalau ada kesalahan. Kaum pesantren, bagaikan musisi jazz, saling berinteraksi dan  kemudian  membentuk  satu kesatuan dalam proses tanpa ada pengarahan dan rencana sebelumnya. Semuanya dilakukan secara bersama dalam proses. Dan itulah arti bermasyarakat dalam ungkapan “nderek kiai” atau “gurutta mato”. Seperti halnya proses menuntut ilmu pada kiai-ulama tidak akan berhenti, bahkan untuk meminta bacaan dan aji-aji sekalipun, proses berkebudayaan dan bermasyarakat juga tidak akan pernah berhenti. Tradisi dan praktik kebudayaan mereka – dalam lingkup tradisi pesantren – lahir setiap hari, setiap kali dipentaskan dan dipanggungkan, dihadirkan, diinvensi. Segalanya menjadi baru dan aktual, karena secara spiritual ada usaha untuk melakukan adaptasi, aktualisasi, dan interpretasi. Dalam tradisi pesantren dikenal tiga unsur pokok basisnya yang melangengkan proses berguru dan bermasyarakat tersebut: desa, kitab kuning dan rumah kiai-mesjid-pondok. Singkatnya, filosofi “nderek kiai” atau “gurutta mato” menegaskan satu prinsip panutan hidup, yang sekaligus merupakan jiwa kebudayaan dan kemasyarakatan kaum pesantren.

Karakter berguru ini muncul misalnya dalam sosok Pangeran Diponegoro selama nyantri di Tegalrejo, Yogyakarta, di tahun 1790-an. Seperti yang ia tulis dalam Babad Dipanagara: “Untuk meniru apa yang dilakukan oleh para ulama, kami kerapkali pergi ke Pasar Gede [kini Kota Gede], Imogiri (Jimatan), Guwa Langse dan Selarong. Apabila ke Pasar Gede dan Imogiri, kami biasa berjalan kaki. Tetapi apabila ke Guwa Langse dan Selarong, kami naik kuda dengan banyak pengiring.

Di kedua tempat terakhir ini, kami sering menolong petani menuai atau menanam padi. Memang semestinya para pembesar menyenangkan hati rakyat kecil”.10

Jadi, berguru atau “nderek kiai” harus memastikan tercapainya pendidikan karakter yang ideal di mata kalangan santri dan mustami-nya. Di sana tradisi digerakkan, diamalkan, hingga ditampilkan di depan khalayaknya. Apa yang membuatnya bisa bertahan dalam relasi santri-guru ini, kalau tidak karena kehendak kaum santri untuk mengenal seluk-beluk kehidupan, kondisi masyarakat, serta arah dan tantangan perjalanan peradaban. Dalam proses berguru itu mereka bisa jadi melihatnya secara lain, serta menjawab tantangan dengan cara lain pula. Tapi yang penting adalah kekayaan khazanah pengetahuan dan sensitifitas yang tinggi terhadap masalah-masalah yang ada di sekitarnya. Selain berargumentasi, melakukan diskusi, macapatan, sama’an, munaqasyah, berbahsul masail, musawaratan, atau semacamnya, mereka juga melakukan meditasi dan bicara tanpa kata-kata dalam proses berguru itu.

Mengapa meditasi dan bicara tanpa kata-kata? Di satu sisi berguru adalah proses bermasyarakat. Namun pada sisi lain berguru adalah juga proses berefleksi ke dalam, mengucilkan diri dari masyarakat umum, menanamkan kepekaan akan hakekat diri dan kepribadian, dan untuk menjaga nilai-nilai dan moralitasnya. Jadi itu sebabnya, selain pesantren ada di kota, dekat alun-alun dan bahkan di sekitar pusat-pusat kekuasaan, seperti di kraton atau pendopo mesjid jami (mesjid agung), pesantren juga hadir di pedalaman, di pedesaan.

Dalam proses bermeditasi dan mengasingkan diri itu, pesantren merengkuh hakikat otonomi kebudayaannya (istiqlal tsaqafi). Karena kebanyakan pesantren secara ekonomi mandiri, maka kesadaran kuat akan otonomi kultural selama berguru  dan bermeditasi bisa dicapai. Selama proses itu sang santri – biasanya santri-santri senior atau partisipan dari masyarakat yang memang punya maksud demikian – menjalani proses pengekangan segenap hawa nafsu, disiplin diri hingga kerja keras mengayuh kaki dan tangan. Dalam proses itulah lahir sikap-sikap keutamaan yang menjadi ciri khas moralitas individual dan sosial pesantren: kesederhanaan, kerjasama, solidaritas dan keikhlasan.11 Moralitas inilah yang dipupuk secara terus-menerus dalam lakon “nderek kiai” atau “jejer pandito” – sehingga masyarakat Nusantara menyebut kebaktian kepada guru menyamai kebaktian kita kepada orang tua dan mertua, bahkan kepada Allah.

Dengan kata lain, berguru mengharuskan sang santri bukan hanya total kepada sang kiai, tapi juga mengerahkan segenap raga dan jiwa yang dimilikinya. “al-Ilmu la yu’thika ba’dlahu hatta tu’thiyahu kullaka” (Ilmu itu tidak akan memberikan sebagian dirinya, sebelum engkau menyerahkan segenap totalitas dirimu kepadanya)”, demikian yang dikatakan Ibnu Jama’ah dalam bukunya, Tadzkiratu-s-Sami’ wa-l-Mutakallim fi Adabi-l-Alim wal-Muta’allim, yang merupakan salah satu kitab favorit KH. Hasyim Asy’ari sendiri.

Nyantri dan berguru berarti mobilisasi segala sesuatu yang bisa dinikmati dengan panca indera, lahir dan batin. Tidak ada batasan umur, asal-usul sosial, genealogi maupun bahasa. Nyantri bukan hanya proses belajar-mengajar, tapi sesuatu yang mengincar jiwa kaum santri. Ini seperti yang ditekankan Dokter Soetomo, “Kekoeatan batin haroes dididik; ketjerdasan roh diperhatikan  dengan  sesoenggoeh-soenggoehnja,  sehingga pengetahoean jang diterima olehnja itoe akan dapat dipergoenakan dan disediakan oentoek melajani keperloean oemoem teroetamanja”.

Tradisi  nyantri  hanya   memerlukan   jiwa   yang   aktif, sementara yang lainnya menjadi tenaga pendukung. Pengembaraan spiritual itulah yang diperlukan seorang guru-kiai-ulama, yang menggelar pendidikan dalam sebuah komunitas. Di tangan sang guru, pengembaraan dan pendalaman itu tidak menjadi perintah-perintah yang pasti. Tapi semacam isyarat-isyarat yang memancing para santri dan masyarakat pendukungnya (mustami) memasuki suatu suasana mencipta dari sesuatu yang tidak pernah jelas, sebelum benar-benar terjadi. Improvisasi dan kreatifitas merupakan institusi yang amat penting dalam tradisi pesantren. Karena ia merupakan tempat untuk mengaplikasikan segenap moralitas dan idealitas pesantren sedalam-dalamnya. Sehingga suasana pendidikan menjadi aktual.

Berguru, “nderek kiai” atau “gurutta mato”, dengan demikian, adalah sebuah usaha untuk hidup bersama tradisi. Bukan mengartikan tradisi sebagai mumi atau fosil yang mati, tapi sesuatu yang hidup, tumbuh dan menjadi bagian dari masa kini.Maka, dalam konteks nyantri ini, sang guru hadir seperti halnya sang sutradara. Di dalam sebuah kelompok yang akan menonton sesuatu sebagai sebuah pertunjukan, sutradara adalah seorang pencipta. Dia menciptakan dirinya lewat pemain dan segala sesuatu yang nampak dalam tontonan. Dan tontonan yang kemudian dinikmati oleh penonton adalah ciptaan dari berbagai

pribadi pemain, namun pada akhirnya adalah suara jiwa langsung dari sang sutradara, sang ideolog yang memainkan peran – dan itu adalah kiai-ulama. Seperti inilah lakon yang dimainkan sang kiai sebagai ideolog, yang menggerakkan tradisi, sekaligus mentradisikan gerakan. Masing-masing santri dan komunitas pesantren menjalankan peranannya, tapi ruh dari lakonan itu adalah tetap berasal dari sang guru.

Di dalam praktik berguru atau nyantri, sang kiai membuat dan melatih santri dan mustami-nya menjadi “pemain”. Pemain yang tidak terlatih sebagai pemain di atas panggung seringkali amat sulit untuk berpartisipasi dalam tontonan yang memiliki jiwa berbeda dengan pertunjukan. Setelah siap sebagai pemain, sang kiai sebagai guru memberikan perintah agar membawasebuah misi(seperti yang dilakonkan oleh Pangeran Diponegoro yang dibawa dari para kiai dan guru-gurunya dalam Perang Jawa 1825-1830) untuk disampaikan kepada masyarakat, komunitas lebih luas, kepada khalayak (mukhathab alaih), stakeholders, kepada penonton. Dalam pertunjukan/tontonan, para pemain bekerjasama seperti sepasukan prajurit dalam perang atau seperti pemain-pemain sepakbola melakukan total football untuk menciptakan tontonan yang betul-betul dikendalikan oleh sebuah misi.

Sang kiai sebagai guru dalam pengertian ini tidak mengajarkan kaidah-kaidah umum tentang pertunjukan atau seni akting. Dia mengajarkan satu bahasa khusus yang paling diperlukan untuk lakon (mulai dari bahasa ke-Aswajaan, kemasyarakatan, kebangsaan (wathaniyahjumhuriyah), Ratu Adil, komunisme-nasionalisme, anti-kolonialisme, dst) yang dipilihnya. Baru kalau kaidah-kaidah umum itu diperlukan, maka akan diajarkan.Tapi tidak untuk dipegang sebagai patokan abadi, hanya sebagai pengetahuan. Dan pengetahuan bukan merupakan tujuan, tapi usaha untuk mengamankan misi tadi yang hendak disampaikan oleh sang aktor agar sampai kepada masyarakat atau khalayaknya.

Ini adalah sebuah bahasa pendidikan. Sebuah idiom dalam tradisi pesantren. Bahkan boleh dikatakan sebagai sebuah kerajaan teater dengan ideologi spiritual dan keyakinan- keyakinannya yang tersendiri. Sehingga sulit untuk dianggap akan memproduksi pemain-pemain yang bisa dipakai oleh kelompok yang lain (misalnya yang akan dipakai untuk mendukung tujuan- tujuan kolonialisme atau yang anti-kebangsaan) kecuali dengan pihak-pihak yang memiliki garis ideologis yang sama.

Filosofi dasar dari konstruk sang sutradara-kiai-ulama ini adalah bertolak dari Yang Ada. Dasar  pikiran  ini,  yang juga merupakan ideologi spiritual mereka (ingat moralitas qana’ah), adalah upaya menerima apa yang ada di tangan dan di sekitar. Lalu mereka melakukan optimalisasi dari apa yang ada tersebut, untuk mencapai apa yang mereka targetkan. Baik seluruh peralatan, semua kebutuhan, tempat bermain, cerita, pemain-pemain pendukung, dan sebagainya, dimanfaatkan dari apa yang ada ini. Tidak berarti dengan menerima apa yang ada, mereka menjadi terbatas. Justru dengan mengerti keterbatasan mereka yang nyata, mereka kemudian memperoleh peluang untuk melakukan atau mendapatkan apa yang harus ada. Itu yang mereka sebut “kreatifitas” (al-akhdzu). Dalam proses berguru itu, dengan modal kreatifitas, hampir tidak ada yang tidak mungkin.

Mencipta dan berkarya menjadi pekerjaan yang rutin. Karena dalam praktik, hidup di negeri yang serba kurang  dalam berbagai sarana dan fasilitas, orang-orang pesantren kerja keras, memeras otak, mengerahkan segenap potensi,  serta menaklukkan hampir segala-galanya dengan kreatifitas. Kalau tidak seperti itu, mereka tidak akan mampu hidup dan bertahan. Berproduksi menjadi semacam proses berjuang,

karena menciptakan dan menjaga tradisi kepesantrenan, tradisi keulamaan dan kebangsaan, berarti menciptakan sesuatu dari apa yang ada ini. Untuk tidak menjadi seadanya harus dilakukan akrobatik pemikiran dan interpretasi yang kadangkala bisa berarti penukaran sudut pandangan serta penjungkirbalikan nilai-nilai yang dimapankan masyarakat. Inilah filosofis pesantren yang sangat khas dan kuat getarannya: qana’ah, sekaligusber-amal shalih, dan, setelah itu, tawakkal.

Memimpin,  mengasah  dan  mendidik  santri  bagi   sang kiai dalam keadaan kesederhanaan semacam itu, lebih merupakan usaha perang gerilya. Yakni, usaha menaklukkan segala keterbatasan. Usaha yang tidak terbatas kepada penciptaan setting, laku, lakon, formula hingga gerakan. Tapi sudah meluas menjadi usaha menciptakan konsep-konsep dan formula baru dalam menilai tradisi kepesantrenan. Sebuah meditasi, sebuah praktik syuyukhiyah (berguru) yang bermakna pengaturan strategi. Karena aspek-aspek tindakannya adalah darurat dalam kondisi keterbatasan itu (terutama di  masa-  masa puncak penjajahan Belanda di Jawa), maka diperlukan kiat-kiat, akal serta sudut memandang yang baru. Karenanya hasilnya juga berbeda dengan hasil-hasil produksi bertradisidan berkebudayaan lainnya dalam keadaan normal, yang tak jarang ada distorsi. Ada kelainan, penyimpangan-penyimpangan bahkan pemutarbalikan yang kemudian secara fantastis berubah menjadi sebuah orisinalitas, keunikan dan juga gebrakan! Contoh dekat tentang ini bisa dilihat dari konstruksi pesantren tentang Ratu Adil, komunisme dan nasionalisme.

Bisa dikatakan kemudian bahwa orang-orang pesantren mengajak orang memikirkan kembali, memikirkan sekali lagi segala sesuatu yang sudah pernah disimpulkannya atau yang sudah diterima sebagai kesimpulan. Bukan untuk mengajak

orang berbalik langkah atau mengingkari diri, tapi untuk mengaktualisasikan segala keyakinan-keyakinannya setiap saat. Dalam konteks itu, sang kiai hadir sebagai seorang pemimpin, sang pengatur strategi. Dalam mengatur strategi bukan hanya diperlukan akal tapi juga insting. Dan  dari sana dihimpunlah beragam strategi dan kiat-kiat: strategi bahasa,strategi ruang,strategi visual, strategi psikologi,dan juga strategi manajemen. Bahkan kalau perlu strategi menyerang — semuanya sangat dituntut. Dari olah kejiwaan hingga fisik semua diasah. Dan ini menjelaskan mengapa anak-anak pesantren diajarkan olah bela diri hingga pematangan ilmu-ilmu kanuragan atau kedotan.12

Dalam tradisi pesantren, seorang kiai adalah seorang jenderal perang yang memiliki kekuasaan  sangat  besar  dan tak terbantah. Tidak semua orang mampu dan bisa  menjadi kiai yang adalah juga jenderal. Yang banyak adalah kiai yang hanya menjadi palaksana (eksekutif atau tanfidziyah) dari titah sang kiai-ulama-jenderal-ideolog (syuriyah). Hanya seorang pemimpin spiritual, seorang yang memiliki kemampuan jenderal perang, yang mahir dalam segala taktik berperang yang bisa menjadi seorang kiai di atas panggungkebudayaan, beragama, peradaban dan juga berpolitik.

Seorang kiai adalah seorang pemimpin yang mampu menciptakan teladan atau uswah dalam diri masyarakatnya, yang memberikan pengalaman spiritual. Bukan hanya menciptakan adegan-adegan atau lakon-lakon bagus dan bermoral di atas panggung kepesantrenan. Karena nyantri bukan hanya sebuah prose belajar-mengajar,pesantren bukan hanya pendidikan biasa seperti yang banyak dipahami secara keliru. Tapi juga sebuah peristiwa spiritual, sebuah upaya untuk mencari jatidiri manusia, untuk menjadi manusia yang paripurna (insan kamil). “Agar santri tidak memahami ‘kelas bersama Gus Dur’ sebatas kelas akademik, tapi lebih dari itu sebagai ajang pembentukan kemanusiaan yang ideal menurut Islam”, ujar seorang kiai di Ciganjur, Jakarta, sahabat akrab Gus Dur.

Bukan sekedar hubungan kerja, hubungan pengetahuan, berguru juga relasi pengabdian antar sesama. Ia merupakan kesempatan untuk nyantrik (mengikuti dan meneladani sang guru), untuk menemukan diri, dan juga kesempatan untuk berderma-bakti kepada guru dan komunitas. Berguru adalah sebuah pendidikan jiwa bagi para santri, untuk mengasah kepekaaan, memperhalus budi-pekerti (akhlaqul karimah), dalam berperilaku dan berpengetahuan, dan dalam bersikap terhadap berbagai aspek kehidupan. Pesantren dalam pengertian ini adalah sebuah padepokan. Untuk melakukan pemantapan- pemantapan sikap dan kepribadian, sehingga akhirnya mampu menyampaikan suara, posisi, sikap atau pendirian – untuk berbagai fenomena sosial-politik bahkan juga spiritual.

Ini bisa dibandingkan dengan hakikat dan karakter teater modern sebagaimana yang dipanggungkan dan dipraktikkan oleh Putu Wijaya. Budayawan asal Bali ini menyebut teater sebagai padepokan, sebagai kesempatan untuk mempelajari banyak hal dari seorang sutradara yang bertindak sebagai guru spiritual. “Teater bukan sekedar hubungan kerja, tapi pengabdian. Teater adalah sebuah kesempatan untuk nyantrik, untuk menemukan diri. … pendidikan jiwa terhadap para anggotanya, yang mengajarkan seni akting dan vokal, tapi perilaku dan sikap, terhadap berbagai aspek kehidupan. Teater bukan lagi sekadar pertunjukan hiburan, dengan kreasi artistik. Teater adalah sebuah komunitas spiritual”.13

Dan, pesantren, ternyata, melebihi dugaan Putu Wijaya sendiri; ia adalah panggung dahsyat dari seni memainkan berbagai lakon, akting dan vokal itu untuk kejayaan negeri ini. Itulah yang ditunjukkan KH. Hasyim Asy’ari bagi bangsa kita.[]


8 Lihat Ibid., bab 7.

9 Lihat dalam Harry A. Poeze, Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949 (Leiden: KITLV, 2007), vol. 1, hal. 145-6.

10 Lihat Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka & Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977), vol. 4, edisi 2, hal. 169.

11 Soal ini misalnya digarisbawahi oleh Ben Anderson dalam bukunya, Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 (Jakarta & Singapore: Equinox Publishing, 2006 [1972]), hal. 5-6, ketika menulis tentang revolusi di Jawa dimana aktor-aktornya adalah para pemuda yang kebanyakan dikader di pesantren.

12 Contoh ilustratif di sini adalah cerita awal berdirinya Pesantren Tebuireng, Jombang, di tangan KH. Hasyim Asy’ari. Karena gangguan keamanan dari  para  penjahat  yang  sewaktu-waktu bisa membahayakan orang-orang pesantren, Hadlratusysyekh mengambil inisiatif agar para santri bisa belajar ilmu silat. Untuk itu beliau mengutus seorang santrinya ke Cirebon meminta bantuan kiai-kiai terkenal di sana, Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Pangurangan, Kiai Syamsuri Wanantara, Kiai Abdul Jamil Buntet dan Kiai Saleh Benda Kerep. Kelima kiai jago silat atau pendekar itu datang ke Tebuireng mengajarkan para santri ilmu silat. Delapan bulan kemudian, para santri sudah menguasai ilmu tersebut, dan menjadi bekal mereka untuk menghadapi para bandit. Belakangan para bandit ini bertobat dan berguru kepada sang kiai ideolog ini dan menjadi mustami pesantren.

Juga diceritakan bagaimana KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, menghadapi masyarakat yang suka main judi. Beliau jelas tidak menggunakan cara kekerasan memberantas perjudian.  Tapi  beliau menggunakan pendekatan kemaslahatan untuk mengajak masyarakat ke jalan yang benar secara perlahan  dan  sabar:  beliau ikut main kartu bersama mereka, lalu bisa mengalahkan para preman pelaku judi, hingga mereka bertekuk-lutut dan mau menjadi santri dan berguru pada pendiri Pesantren Tebuireng ini. Praktik-praktik perjudian pun dengan sendirinya ditinggalkan oleh masyarakat.

Lihat Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama (Solo: Jatayu, 1986), hal. 6-7.

13 Lihat Putu Wijaya, Bor: Esai-esai Budaya (Yogyakarta: Bentang, 1999), hal. 297-dst.


Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending