Connect with us

Pustaka

Fase Kehidupan di Alam Rahim (Arham) 2

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Alam Rahim

Berhubung manusia tercipta dari unsur tanah yang rendah serta unsur roh Allah yang tinggi, maka di dalam diri manusia selalu terjadi pergulatan dan tarik menarik antara bisikan-bisikan yang mengajak untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merendahkan derajat manusia–seperti memuja-muja atau menuhankan benda-benda mati (kayu, batu, patung dan karya seni serta hasil teknologi manusia), harta, tahta dan wanita, berzina, berjudi, dan korupsi, dengan bisikan-bisikan yang mendorongnya untuk berbuat baik yang dapat mengangkat harkat dan martabatnya di atas makhluk-makhluk Allah yang lain seperti beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT; memenuhi nafkah dan berbagai kebutuhan hidup dengan cara-cara yang halal sesuai dengan petunjuk Allah SWT; serta berbuat baik dan saling tolong menolong dengan sesama manusia. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah berusaha semaksimal mungkin agar dorongan-dorongan ke arah hal-hal yang positif mampu mengalahkan dorongan-dorongan yang mengajak kepada hal-hal negatif.

Hadits di atas juga menjelaskan, bahwa sesudah roh ditiupkan dalam tubuh janin ketika masih berada di alam rahim, maka Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mencatat empat kalimat yang merupakan ketentuan-Nya terhadap janin tersebut. Yaitu rizki, ajal, amal, dan nasib baik atau buruk (bahagia atau sengsara).

Pertama; Rizki. Allah SWT Dzat Yang Maha Pemurah telahmenetapkan rizki bagi seluruh makhluk-Nya, dan setiap makhluk tersebut tidak akan mati sebelum rizkinya terpenuhi dengan sempurna. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Hud/11 ayat 6:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Ankabut/29 ayat 60:

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rizki kepadanya juga kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa pada hakikatnya, rizki para makhluk–termasuk manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak zaman azali dan telah tercatat di Lauh Mahfudz kemudian ditulis kembali oleh malaikat ketika manusia berusia 4 (bulan) dalam kandungan. Sungguh pun demikian, manusia tidak boleh bersikap apatis dan fatalistik. Untuk mendapatkan rizki, manusia harus bekerja keras dengan cara yang halal disertai dengan doa serta sikap tawakkal kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah SWT telah memerintahkan hamba-hamba-Nya berjalan mencari maisyah (pekerjaan/usaha) untuk mendapatkan rizki-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Mulk 15:

Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu. Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW:

“Wahai  manusia,  bertakwalah  kepada  Allah  dan  sederhanalah dalam mencari nafkah. Karena sesungguhnya seseorang tidak akan mati  hingga  sempurna  rizkinya,  meskipun  (rizki  itu)  bergerak lamban. Maka, bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari nafkah, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram”5

Rasulullah  SAW  telah  memberikan  petunjuk  kepada  kita semua tentang cara yang tepat untuk mendapatkan rizki dari Allah SWT, yaitu dengan melakukan usaha maksimal disertai doa dan sikap tawakkal sebagaimana yang dilakukan oleh burung.

Hendaknya kita dapat mengambil pelajaran darinya dalam mencari rizki. Beliau bersabda:

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberi kalian rizki sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung, yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”6

Rizki akan mengejar manusia, seperti halnya ajal (masa kematian). Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya rizki akan mengejar seorang hamba seperti halnya ajal juga mengejarnya”7

Kedua; Ajal. Setiap makhluk yang bernyawa–termasukmanusia—pasti akan mengalami kematian. Kapan manusia akan wafat serta mengakhiri kehidupannya di alam dunia? Semua tergantung ajal (masa kematian) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT Dzat Yang Maha Kuasa pada zaman azali dan dicatat kembali ketika janin berusia 4 (empat) bulan dalam kandungan. Dia-lah Dzat yang menghidupkan manusia, mematikan, serta membangkitkannya kembali. Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui berapa umurnya dan jatah hidupnya di alam dunia. Demikian juga tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan serta dimana akan diwafatkan oleh Allah SWT. Semua terjadi atas ilmu dan izin-Nya.

Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Ali ‘Imran/3 ayat 145:

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu. Dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

Ajal manusia sudah dtetapkan dan tercatat di Lauh Mahfudz, tidak dapat dimajukan atau dimundurkan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-A’raf ayat 34

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktu (ajal)-nya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun, dan tidak dapat (pula) memajukannya”

Ketiga; Amal Perbuatan. Pada hekekatnya, seluruh amalperbuatan manusia, baik amal saleh (al-hasanat) maupun amal yang buruk (al-sayyi’ah) yang akan dilakukan oleh setiap manusia selama hidupnya di alam dunia, telah diketahui dan dicatat oleh Allah SWT di Lauh Mahfudz serta dicatat kembali oleh malaikat ketika janin beumur 4 (empat) bulan dalam kandungan. Sungguh pun demikian, tidak ada satu pun manusia yang mengetahui apa yang tertulis di Lauh Mahfudz tersebut. Oleh karena itu, setiap manusia harus berusaha melakukan amal baik serta menghindari amal buruk. Juga harus selalu berdoa, memohon petunjuk dan bantuan kepada Allah SWT agar selalu melakukan amal yang baik serta menghindari perbuatan yang buruk, maksiat dan dosa.

Setiap amal baik yang dilakukan oleh seseorang dengan ikhlas semata-mata mengharapkan rida dan pahala dari Allah SWT pasti  akan  dibalas  berlipat  ganda  serta  manfaatnya  pasti  akan kembali kepadanya. Sebaliknya, setiap perbuatan buruk, maksiat atau dosa yang dilakukan oleh seseorang, pasti akan dibalas oleh Allah SWT  serta  mafsadah  atau  dampak  negatifnya  akan  kembali kepadanya, kecuali jika dia bertaubat dan mendapat ampunan dari Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Fusshilat ayat 46:

“Barangsiapa  mengerjakan  amal  yang  saleh,  maka  (pahalanya) untuk  dirinya  sendiri.  Dan  barangsiapa  mengerjakan  perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Taubat ayat 105 – 106:

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. Lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai  ada  keputusan  Allah;  Adakalanya  Allah  akan  mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Amal saleh yang dilandasi oleh iman, akan mengantarkan orang-orang yang beriman meraih surga, tempat kenikmatan yang abadi. Sebaliknya perbuatan buruk, maksiat dan dosa yang dilandasi oleh  kekufuran  akan  menghantarkan  orang-orang  kafir  ke  neraka jahannam  selama-lamanya.  Sebagaimana  telah  difirmankan  dalam surat al-Bayyinah ayat 6 – 8:

‘Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai -sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadanya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”.

Keempat ; Nasib Baik atau Buruk (Bahagia atau Celaka) Pada hekekatnya, nasib manusia, apakah nasib baik maupun nasib buruk,  bahagia  atau  celaka,  bahkan  kelak  di  akhirat,  apakah  ia termasuk akan menjadi penghuni surga atau neraka, telah diketahui dan dicatat oleh Allah SWT di Lauh Mahfudz serta dicatat kembali oleh  malaikat  ketika  janin  berumur  4  (empat)  bulan  dalam kandungan. Sungguhpun demikian, tidak ada satu pun manusia yang mengetahui nasibnya yang tertulis di Lauh Mahfudz tersebut. Oleh karena itu, setiap manusia wajib berusaha melakukan berbagai amal baik  yang  akan  menghantarkannya  meraih  nasib  yang  baik  serta menghindari amal buruk yang dapat menghempaskannya pada nasib buruk dan hina. Dengan berusaha semaksimal mungkin melakukan berbagai amal yang baik, disertai dengan doa, memohon petunjuk dan bantuan kepada Allah SWT, Allah SWT akan menunjukkannya pada jalan yang lurus dan diridai-Nya, bahkan akan mengubah nasib buruknya di Lauh Mahfudz menjadi nasib yang baik. Karena Allah SWT berhak melakukan hal tersebut. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ankabut ayat 69:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

Berdasarkan ayat di atas dapat diketahui bahwa orang-orang kafir tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT sehingga menjadi penghuni neraka jahannam selama-lamanya, karena mereka tidak mau berusaha semaksimal mungkin–bahkan tidak ada kemauan— untuk mendapatkan hidayah tersebut yang akan menghantarkannya untuk menjadi penghuni surga ‘Adn. Allah SWT tidak akan merubah keadaan  seseorang,  jika  mereka  sendiri  tidak  memiliki  kemauan untuk mengubahnya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ra’du ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

Jadi   pada   hakikatnya,  seluruh  kejadian   yang   menimpa manusia atau dialaminya di alam dunia, terutama empat hal di atas (rizki, ajal, amal dan nasib baik atau buruk) telah ditetapkan oleh Allah SWT di Lauh Mahfudz serta dicatat kembali oleh malaikat ketika janin berusia 4 (empat) bulan dalam kandungan. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah SWT di dalam surat al-Hadid ayat 22 – 23:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada hakikatnya, Allah SWT telah mentakdirkan segala sesuatu sejak 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi”8

Sungguh pun demikian, tidak ada seorang pun yang mengetahui takdir Allah SWT, terutama keempat hal yang telah disebutkan di atas. Oleh karenanya, seseorang tidak boleh malas berusaha dan beramal saleh, dengan alasan bahwa semuanya telah ditakdirkan oleh Allah SWT sejak zaman azali. Memang benar, bahwa Allah telah menetapkan takdir dalam kehidupan setiap hamba. Akan tetapi Dia Dzat Yang Maha Bijaksana juga menjelaskan jalan-jalan untuk mencapai kebahagiaan. Allah SWT Dzat Yang Maha Pemurah telah mentakdirkan rizki bagi setiap hamba-Nya. Namun Dia juga memerintahkan hamba-Nya keluar rumah untuk mencarinya. Jika ada orang yang bertanya, untuk apa kita beramal atau berusaha jika semuanya telah tercatat (ditakdirkan) oleh Allah SWT? Maka, Rasulullah SAW telah menjelaskan hal ini ketika menjawab pertanyaan Sahabat Suraqah bin Malik bin Ju’syum RA. Sbb:

“Beramallah kalian, karena semuanya telah dimudahkan oleh Allah sesuai dengan apa yang Allah ciptakan (takdirkan) atasnya. Jika seseorang ditakdirkan termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, maka ia dimudahkan untuk beramal sesuai dengan amalan orang-orang yang berbahagia. Dan sebaliknya, jika seseorang ditakdirkan termasuk golongan orang-orang yang celaka, maka ia dimudahkan untuk beramal sesuai dengan amalan orang-orang yang celaka”9

Orang yang selalu beramal saleh (berbuat baik), maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sebaliknya orang kafir atau orang yang selalu begelimang dosa, berbuat maksiat dan kerusakan di muka bumi, maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju neraka. Setiap manusia diberikan kebebasan untuk memilih keinginan dan kehendaknya masing-masing. Al-Qur’an hanya berfungsi sebagai peringatan atau petunjuk bagi orang-orang yang ingin menempuh jalan yang lurus. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Takwir ayat 27 – 28:

“Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus’.

Hal ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Allah SWT, juga kesempurnaan kekuasaan, qudrah dan iradah-Nya, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Meskipun setiap manusia telah ditentukan menjadi penghuni surga atau menjadi penghuni neraka, namun setiap manusia tidak dapat bergantung kepada ketetapan ini, karena tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui tentang hal-hal yang dicatat di Lauh Mahfudz. Kewajiban setiap manusia adalah berusaha dan beramal kebaikan, serta banyak memohon kepada Allah SWT agar dimasukkan ke surga. Karena Allah SWT berhak mengubah apa saja yang telah ditetapkan atau ditakdirkan kepada hamba-hamba-Nya di Lauh Mahfudz. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Ra’du ayat 39:

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). Dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).”[]


5 HR Ibnu Majah no. 2144, Ibnu Hibban no. 1084, 1085-Mawarid, al Hakim (II/4 ), dan Baihaqi (V/264), dari Sahabat Jabir Radhiyallahu ‘anhuma. Dianggap shahih oleh al Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadits ini dianggap shahih oleh Syaikh al -Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2607.

6 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/30 dan 52), at-Tirmidzi no.2344, Ibnu Majah no. 4164, Ibnu Hibban no. 730, Ibnul Mubarak di dalam kitab az-Zuhd no. 559, al-Hakim (IV/318), al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah no. 4108, Abu Nu’aim dalam kitab al Hilyah (X/69), dan lain-lainnya. Dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab. At-Tirmidzi berkata,”Hasan shahih.” Al-Hakim juga menilai hadits ini shahih, dan disetujui oleh adz-Dzahabi

7 HR Ibnu Hibban (1087-Mawarid) dan lainnya, dari Sahabat Abu Darda’. Hadits ini memiliki penguat dari Sahabat Jabir yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadiits ash-Shahihah no. 952.

8 HR Muslim no. 2653 (16) dan at-Tirmidzi no. 2156, Ahmad (II/169), Abu Dawudath-Thayalisi no. 557, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma. Lafaz ini milik Imam Muslim.

9 HR al-Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647.

Pustaka

Kitapun Bisa Jadi Sufi

Published

on

Kitapun Bisa Jadi Sufi

Banyaknya problematika hidup yang semakin kompleks di zaman modern ini sering kali menjadikan manusia terkungkung dengan berbagai kebingungan dan tekanan-tekanan batin yang semakin tak menentu. Banyak manusia yang disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi yang setelah dirasa-rasakan ternyata tidak memberikan apa-apa selain kelelahan. Banyak manusia pun yang menjadi pemburu harta, sebab dikiranya dengan itu semua mereka akan menjadi mulia dan bahagia. Tetapi setelah di rasa-rasakan pemburuan terhadap harta tak lebih dari dari sekedar kelelahan, kebingungan bahkan penderitaan batin yang yang tiada ujungnya. Banyak orang yang tak merasa bahwa harta sesungguhnya telah memperbudak dirinya dan telah meracuni pikirannya. Hingga sampai pada ujungnya mereka tidak sadar bahwa harta tak sanggup memberikan kebahagiaan bagi hidupnya dan berburu harta tak semakin menjadikan manusia puas, malah menjadi makhluk yang ambisius yang tak pernah merasakan cukup.

Dalam sadar, bagi mereka yang secara materi berkecukupan dan bergelimangan harta, mereka mulai sadar bahwa ada kebahagiaan lain yang itu tidak akan diberikan oleh harta. Tetapi bagi mereka yang gagal, hidup melarat secara materi, mereka merasakan bahwa pencarian dunia malah menjadikan mereka jauh dari kebahagiaan. Pada saat seperti itulah, secara kodrati manusia lari kepada agama. Mereka mulai sadar bahwa hanya pada agama kebahagiaan hakiki akan diketemukan.

Dalam berbagai kasus, banyaknya masalah-masalah hidup yang tak kunjung habis membuat manusia mencari jalan alternatif untuk mengatasi masalah-masalahnya. Dan salah satu alternatif tersebut adalah dalam tasawuf. Fakta membuktikan bahwa kian banyak orang memasuki dunia mistik dalam islam ini. Hal ini juga terbukti dengan banyaknya orang-orang yang masuk dalam suatu tarikat maupun mengikuti jamaah dzikir yang diadakan oleh para pecinta Tuhan itu. Juga bisa dilihat dalam penerbitan sekaligus penjualan buku-buku tentang tasawuf yang semakin marak. Gejala ini menunjukkan bahwa tasawuf ternyata banyak diminati oleh banyak orang sebagai cara alternatif untuk mencapai ketenangan batin. Sayangnya masih saja banyak orang yang memasuki dunia ini dengan tanpa bekal yang memadai. Hingga secara mendasar mereka banyak salah dalam meresepsikan arti tasawuf itu sendiri sekaligus salah, bahkan cenderung menyimpang dalam mengamalkan latihan-latihan atau olah batin (riyadhah) yang merupakan ajarannya.

Berangkat dari kenyataan seperti itu kajian dalam buku ini disusun. Walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang tentu selalu membutuhkan benahan, masukan atau bahkan kritikan dari pihat manapun, setidak-tidaknya buku ini mempunyai daya guna dan manfaat terutama bagi para pembaca yang ingin mengarungi dunia tasawuf.

Akhirnya, semoga Allah menilai karya yang masih jauh dari sempurna ini sebagai bentuk ibadah. Juga saya ucapkan terimakasih kepada siapa saja yang telah memberi kontribusi dalam bentuk apapun, terutama kepada keluarga, istri dan anak sehingga karya ini dapat terselesaikan. Terakhir, kepada pihak penerbit saya haturkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas penerimaan naskah ini. Semoga Allah senantiasa membalas semua amal baik kita semua. Aamiin.[Asrifin An-Nakhrowi]

Continue Reading

Pustaka

Tasawuf Aceh; Mengungkap Kembali Khasanah Klasik Keislaman Tanah Rencong

Penulis: Sehat Insan Shadhiqin

Published

on

Tasawuf Aceh

Sejarah seakan berulang. Apa yang terjadi hari ini seolah terjadi lagi di masa depan. Mungkin saja dengan tempat dan objek yang berbeda. Namun, nilai dan hakikatnya selalu sama. Ini yang dikatakan Allah dalam al-Quran bahwa manusia mesti belajar dari apa yang dialami oleh nenek moyangnya. Apa yang baik dari mereka mesti menjadi pelajaran dan apa yang keliru yang telah mereka lakukan, maka hendaknya kita menghindarinya. Tujuannya, manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup di didunia dan tempat kembali yang baik di akhirat kelak.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah salah satu usaha untuk menulis sebagai khasanah klasik Aceh, agar kekayaan dan kebanggaan Aceh masa lalu dapat memerikan manfaat untuk kahidupan masyarakat saat ini, bukan hanya untuk masyarakat Aceh sendiri, namun untuk umat Islam Melayu seluruhnya. Khusus bagi Aceh, khasanah pemikiran klasik ini semakin penting untuk melacak jejak Syariat Islam dalam sejarah Aceh masa lalu. Selama ini Syariat Islam selalu dikaitkan dengan kemajuan Aceh tempoe doloe.  Bagaimana mungkin ia bisa menjadi rujukan jika rujukan itu sendiri tidak jelas bentuknya? Hanya dengan studi khusus mengenai faham beragama masyarakat Aceh masa lalu sajalah kita bisa mendapatkan sebuah konstruk pemahaman dan pelaksanaan Syariat Islam masa lalu di Aceh untuk bisa menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat kita saat ini.

Dorongan yang paling besar dari penulisan ini adalah tumbuhnya semangat menulis dan diskusi tentang berbagai masalah di Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah kontemporer di kalangan anak muda Aceh saat ini. Wacana penulisan dan pengkajian berbagai khasanah klasik Aceh mendapat porsi besar dalam pembicaraan di warung kopi dan  milis. Beberapa “anak muda gila” menginginkan diskusi tersebut menjadi sebuah relita yang tertulis. Apalag ada di antara mereka yang memiliki bukti historis mengenai sejarah Aceh masa lalu berupa benda budaya dan catatan lama (manuskrip). Sangat disayangkan jika saja potensi tersebut  tidak direalisasikan dalam wujud studi yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.

Studi ini merupakan langkah awal untuk “memotret” pemikiran dan perkembangan tasawuf di Aceh masa lalu, sekaligus realisasi  semangat yang tercecer  di warung kopi. Bagi saya tasawuf Aceh masa lalu bukanlah sekadar tasawuf sebagaimana dipahami saat ini, namun ia adalah Islam itu sendiri. Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai Islam di Aceh pada masa lalu dan dokumen-dokumen tertulis yang diperoleh saat ini diberbagai tempat, menunjukkan kalau Islam yang berkembang di Aceh masa lalu adalah Islam dalam dimensi tasawuf. Meskipun dalam sejarah  tercatat Ar-Raniry pernah melakukan mihnah untuk faham wujudiyah Hamzah Fansuri  dan Syamsuddin as-sumatrani, namun ia juga mengembangkan tasawuf Rifa’iyah dalam masyarakat Aceh. Berbagai buku yang dikarangnya juga tidak terlepas dari dimensi tasawuf. Hanya saja, arraniry akhirnya mempengaruhi sultan untuk memberikan tindakan politik bagai ajaran Hamzah Fansuri dan pengikutnya.

Namun demikian, saya mengakui kajian ini tidak akan sampai ke tangan pembaca tanpa bantuan beberapa antuan teman. Terutama sekali, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk BANDAR PUBLISHING yang dimotori oleh Mukhlisuddin Ilyas , Lukman Emha, Husaini Nurdin,Tgk. Jabbar dan Khairul Umami. Atas dorongan dan motivasi, serta beberapa koreksi yang mereka berikan menjadikan buku ini menurut saya menjadi sempurna. Tanpa Mukhlis dkk, mungkin buku ini masih “bersemayam” dalam hard disk laptop, berupa out line dan draf kasar, ataupun sebuah cerita yang selalu saya lantunkan di warung kopi.

Saya juga mengucapkan terima kasih untuk  teman-teman di warkop Philo-Sophia, atas internet gratis dan tentu saja yang paling penting  adalah diskusi-diskusi “langit”. Terima ksih untuk bapak Zulkarnaini di Pustaka Paskasarjana IAIN ar-Raniry Banda Aceh, Bapak Sayed di Pustaka Ali Hasimy, dan Prof. Yusny Saby yang telah memberikan komentar untuk buku ini. Pengantar ini bukan hanya mengantarkan pembaca pada pemahaman yang benar mengenai tasawuf, namun juga mengantarkan saya memahami dengan tepat apa yang telah saya tulis.

Terima kasih ta’zim saya sampaikan kepada Nur Ibrahim NK, orang tua dan guru saya sepanjang masa. Dari beliaulah Allah curahkan saya kecintaan pada pengetahuan, dan keterbukaan hati untuk menghormati perbedaan dalam hidup. Terima kasih juga untuk iu dan adik-adik saya semuanya. Mereka semua adalah para “profesor” yang di hadapan mereka saya menjadi bodoh, bahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah sepele sekalipun. Terima kasih juga untuk keluarga Yahbit dan Pakloet di Banda Aceh yang menjadi rumah kedua dalam kehidupan saya saat ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada saudari Cut Aina Shaharina Putri yang menjadi teman diskusi dalam masalah non teknis, apapun dalam kehidupan saya. Salam untuk bapak dan keluarga semuanya.

Saya menyadari karya ini tidaklah sempurna dan masih jauh dari sebuah studi ilmiah sebagaimana layaknya. Saya masih bahkan terlalu banyak menggunakan referensi sekunder dan bahkan beberapa di antara sebenarnya  tidak layak dijadikan rujukan. Namun saya tetap berharap, sumbangan pemikiran dan kajian ini sedikit banyak dapat bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan kajian sejarah di Aceh. Dan yang paling penting, ini dapat menjadi semangat awal bagi teman-teman kelompok diskusi yang selama ini hanya membuang ide di bawah kolong meja kedai kopi. Mari kita mulai menulis! Saya tidak mau mendengar apa yang ada katakan, tapi saya mau membaca apa yang anda pikirkan.[]

Continue Reading

DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Fase Kehidupan di Alam Dunia (2)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Kehidupan di Alam Dunia

Tujuan dan Tugas Hidup Manusia di Alam Dunia

Untuk apa manusia diciptakan dan menjalani kehidupan di alam dunia? Sebagai orang yang beriman kita wajib yakin dan percaya, bahwa Allah SWT tidak mungkin menciptakan suatu makhluk sekecil apapun kecuali pasti didasarkan pada maksud dan tujuan yang sangat agung. Mustahil Dia menciptakan sesuatu sia-sia belaka tanpa ada maksud dan tujuan.10 Oleh karena itu, kita wajib meyakini dengan sepenuh hati bahwa penciptaan manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan sempurna pasti didasarkan pada tujuan-tujuan dan tugas-tugas yang sangat mulia sebagai berikut:

1.   Mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT.

Menurut ajaran Islam, tujuan utama penciptaan manusia sebagai makhluk yang hidup di alam dunia adalah agar mereka benar-benar menjadi hamba Allah (abdullah). Seseorang layak menyandang predikat sebagai hamba Allah (abdullah) yang hakiki, jika ia telah memiliki iman yang mantap serta bersedia mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Karena predikat sebagai hamba Allah mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri secara total kepada-Nya. Penyerahan diri kepada Allah SWT secara total inilah yang disebut Islam. Dengan demikian, seseorang berhak menyandang predikat sebagai muslim atau muslimah (pria atau wanita yang beragama Islam), jika ia telah menyerahkan diri secara total kepada Allah SWT untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Dzariyah (51) ayat 56:

“Dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi dan beribadah kepada-Ku”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Bayyinat (98) ayat 5:

“Dan mereka tidak disuruh melainkan agar menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; Yang demikian itulah agama yang lurus”.

Firman Allah SWT di atas menunjukkan bahwa tujuan penciptakan manusia serta tugas yang harus dilaksanakan dalam kehidupan di alam dunia ini, tiada lain adalah; menyerahkan diri secara total kepada Allah SWTdengan melaksanakan ibadah dan pengabdian kepada-Nya.Hal inibukan berarti bahwa seluruh waktu manusia sepanjang hayatnya harus dipergunakan untuk salat, puasa, membaca al-Qur’an, wirid dan bentuk-bentuk ibadah formal yang lain saja. Karena yang dimaksud dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah adalah: kesediaan manusia untuk mendasarkan semua amal perbuatannya dengan aturan-aturan yang telah digariskan oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW dalam haditnya. Aturan-aturan tersebutmeliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial, baik dalam memenuhi kebutuhan lahiriah maupun batiniah, serta baik dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT (hablun minallah) maupun dalam melakukan interaksi dengan sesama manusia (hablun minannas).

2.   Sebagai Khalifah Allah di Muka Bumi

Sebagai makhluk Allah yang paling mulia dan sempurna—yang dilengkapi dengan ruh, akal, qalbu, dan nafsu di samping anggota badan—manusia diberi amanat untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Sebagai khallifah, tugas manusia adalah mengolah, memanfaatkan dan menjaga alam ini dengan sebaik-baiknya, sehingga manfaat dan maslahat, baik bagi manusia yang hidup pada masa kini, maupun bagi anak cucu yang hidup di kemudian hari. Agar manusia dapat melaksanakan tugas sebagai khalifatullah fi al-ardl, maka Allah SWT telah menganugerahkan fisik yang kuat dan sempurna, serta berbagai potensi rohaniah, bakat, minat dan talenta yang beragam sehingga mereka saling melengkapi dan bersinergi dalam membangun bumi. Dengan nafsu, manusia mempunyai kehendak dan keinginan untuk memanfaatkan serta mengolah alam. Dengan akal manusia mencari cara yang efektif dan efesien untuk mengolah dan memanfaatkan alam, serta dengan qalbu manusia diarahkan agar tidak serakah dan tidak mempergunakan cara-cara pengolahan dan pemanfaatan alam yang dapat menimbulkan kerusakan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah (2) ayat 30:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Demikian juga firman-Nya dalam surat Hud (11) ayat 61:

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya (orang-orang yang membangun)”.

Sebagai khalifah Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan kreatif, bekerja keras serta tidak bermalas-malasan untuk membangun dunia ini sebaik mungkin. Meskipun demikian, manusia harus memperhatikan keselarasan dan menjaga kelestarian alam. Oleh karena itu, menusia tidak boleh mengeksploitasi alam secara berlebihan sehingga menimbulkan berbagai dampak lingkungan yang sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia, baik pada masa kini maupun masa yang akan datang.

Di samping itu, dalam membangun dunia ini manusia harus memperhatikan kepentingan dan kemaslahatan orang lain, tidak boleh egois, hanya mementingkan diri sendiri. Pada masa kini dapat kita perhatikan, betapa banyak sekali orang yang tega mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Betapa banyak pabrik-pabrik yang dibangun di tengah-tengah pemukiman penduduk tanpa memperhatikan bahaya polusi bagi masyarakat sekitarnya. Betapa banyak pabrik yang membuang limbah di sungai sehingga menimbulkan polusi dan berbagai penyakit. Betapa banyak pembangunan yang justru merugikan masyarakat dan rakyat kecil karena menggusur rumah-rumah mereka dengan memberikan ganti rugi yang amat kecil dan jauh di bawah standar. Semua ini jelas dilarang oleh Allah SWT karena merusak lingkungan hidup serta dapat mengancam kelestarian peradaban dan kebudayaan umat manusia. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-A’raf (7) ayat 56:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat Rum (30) ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Qashash (28) ayat 77:

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa tugas dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Islam adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT serta melaksanakan amanah  sebagai  khalifah-Nya  di  muka  bumi  yang  bertugas mengolah, memanfaatkan serta melestarikan alam. Hal ini perlu ditegaskan, karena dewasa ini masih banyak manusia yang tidak mengetahui tujuan hidupnya. Akibatnya, banyak  manusia yang beranggapan  bahwa  tujuan  hidup  adalah  untuk  menumpuk-numpuk  kekayaan,  meniti  karier  agar  meraih  kekuasaan  dan jabatan yang tinggi dsb.

Meskipun demikian, bukan berarti manusia tidak boleh mencari kekayaan atau meniti karier untuk mencapai kekuasaan dan jabatan yang tinggi. Agama Islam memperbolehkan dan bahkan memerintahkan umatnya untuk bekerja semaksimal mungkin untuk mendapatkan harta kekayaan atau kekuasaan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi hal itu bukan menjadi tujuan, melainkan semata-mata sebagai sarana untuk melaksanakan tugasnya dalam beribadah kepada Allah SWT serta sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Oleh karena itu dalam mencari kekayaan atau meniti karier tersebut tidak boleh menyimpang dari peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an dan al-Hadits.

3.   Berdakwah dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

Selain beriman, beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi, manusia mempuyai tugas berdakwah dengan melaksanan amar ma’ruf dan nahi munkar. Dakwah adalah suatu ajakan atau seruan kepada orang lain untuk memahami, menghayati, dan melaksanakan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan nyata sehingga tercipta kebahagiaan hidup yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam bukunya Tadzkirat al-Du’at, Bahi al-Huli mendefinisikan dakwah sebagai “upaya memindahkan manusia dari satu situasi kepada situasi yang lebih baik”.11 Pemindahan situasi ini mengandung makna yang sangat luas, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, seperti aspek ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, sains, teknologi, dsb. Berdasarkan definisi tersebut, maka dakwah merupakan proses pemberdayaan individu dan masyarakat untuk melakukan pemindahan atau perubahan situasi, dari kebodohan kepada pengetahuan, dari keterbelakangan kepada kemajuan, dari kemiskinan kepada kehidupan yang sejahtera, dari permusuhan dan perpecahan kepada kasih sayang dan persatuan, dari kekacauan kepada keteraturan, dari suasana mencekam kepada suasana sejuk, damai, dan tenteram.

Menurut Syekh Ali Mahfudz dalam bukunya Hidayatu al-Mursyidin ila Thuruq al-Wa’dli wa al-Khithabah, dakwahadalah; “mengajak manusia kepada kebaikan dan petunjuk serta menyeru untuk melakukan perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan buruk (amar ma’ruf nahi munkar) agar mereka

mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat”.12 Berdasarkan definisi tersebut dapat dipahami bahwa pada hakikatnya dakwah adalah segala aktivitas yang bertujuan mengajak orang lain untuk melakukan perubahan dari situasi yang mengandung nilai tidak islami kepada kehidupan yang sesuai atau tidak bertentangan dengan nilai -nilai Islam, baik dalam bidang akidah, syariah, maupun akhlak. Kewajiban berdakwah ini langsung diperintahkan oleh Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat Ali Imran ayat 104:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”.

Bersambung….


10 Perhatikan firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 190 – 191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

11 Bahi al-Khuli, Tadzkirat al-Du’at, (Mesir: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1952), h. 27; Quraish Shihab; Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, Cet. II, 1992), h. 194.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending