Energi Tiga Jari

0

Selain sebagai satu-satunya agama yang diakui kebenarannya menurut Allah, Islam juga merupakan agama yang mempunyai ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh agama lain. Yakni, bertanggung jawab penuh atas keabsahan bentuk pengabdian ummat terhadap Tuhannya, selalu tanggap dengan segala persoalan yang acap kali menimpa manusia, serta cepat mengatasi dan menjawab segala bentuk permasalahan yang ada di dalamnya. Responsif, respektif dan reaktif. Islam tidak hanya menekankan tuntunan ubudiah saja, melainkan juga memperhatikan nilai-nilai sosial (mu’amalah) serta sikap atau keadaan seseorang (ahwaliyyah) dalam beretika.

Hal ini terlihat jelas dalam kehidupan kita sehari-hari, mulai dari bangun sampai menjelang tidur. Semua diatur dalam tatanan Islam. Termasuk tata cara makan dan minum. Rasulullah Saw. telah memberikan suri tauladan terhadap umatnya tentang etika makan yang baik dan benar. Salah satunya adalah dengan menggunakan tiga jari. Sebuah hadits dari Ka’b bin Malik r.a. berkata, “Rasulullah ketika makan, beliau gunakan tiga jemarinya kemudian menjilati jari jemari tersebut sebelum beliau mencucinya.”

Kenapa Rasulullah ketika makan dengan menggunakan tiga jari? Banyak jawaban untuk memberikan alasan. Diantaranya, dengan tiga jari berarti memperkecil jumlah makanan yang masuk ke dalam mulut setiap suapannya, sehingga lebih mudah mengunyahnya. Dengan demikian, lambung dan organ pencernaan mampu bekerja secara optimal. Secara geografis, kurma, buah tin, roti yang nota bene-nya adalah jenis makanan yang cukup di makan dengan menggunakan tiga jari merupakan makanan pokok di tanah Arab itu. Berbeda dengan Indonesia. Nasi dicampur sayur berkuah yang tidak mungkin dimakan dengan tiga jari.

Terlepas dari berbagai alasan yang ada, tidak menutup kemungkin ada hikmah tersendiri di balik apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Karena makan adalah kebutuhan pokok manusia dan pada umumnya makan dalam sehari dilakukan dua kali atau tiga kali. Secara normal, fisik manusia dalam setiap tangannya terdapat lima jari. Namun, Rasulullah ketika makan hanya menggunakan tiga jari. Dari sini sudah tampak jelas, bahwa beliau mengajarkan kepada umatnya untuk selalu hidup sederhana. Begitu pentingnya arti pola hidup sederhana, hingga beliau contohkan pada umatnya dalam hal yang boleh dibilang sepele ataupun remeh. Yakni, sikap dan tata cara makan yang baik dan benar.

Agaknya memang sulit menerapkan pola hidup sederhana. Lebih-lebih ketika kita diberi anugerah oleh Allah berupa harta atau materi yang lebih dari cukup. Contoh kecil, orang selalu merasa masih kurang puas ketika hanya memiliki satu mobil atau tidak puas dengan merk mobil yang telah dimilikinya. Sementara, hatinya masih tertutup untuk mendermakan hartanya kepada yang membutuhkan. Kembali pada sikap yang yang telah dicerminkan oleh Rasulullah tadi, meskipun kita mempunyai lima jari, namun ketika makan kita cukup menggunakan tiga jari. Tidak perlu menggunakan lima jari, apalagi menggunakan kedua tangan, kanan dan kiri.

Namun, jika kita mau membudayakan hidup sederhana, niscaya kita akan terbebas dari terpaan segala musibah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al-Thabrânȋ dari Anas bin Malik r.a. berkata, Rasulullah Saw. telah bersabda, “Ada tiga perkara yang membinasakan, yakni bersikap kikir, mengikuti hawa nafsu dan membanggakan diri sendiri (ujub). Sementara, ada tiga perkara yang menyelamatkan, yakni, taqwa kepada Allah baik di kala sendirian maupun bersama orang lain, bersikap adil baik ketika marah ataupun lapang dada dan hidup sederhana baik saat miskin maupun lapang harta.”

Oleh: Abdul Aziz

Comments
Loading...