Enam Syarat bagi Pencari Ilmu

Rujukan ilmu pengetahuan berkembang mengikuti perkembangan zaman. Dulu, orang memperoleh ilmu dan pengetahuan melalui kajian yang disampaikan para guru atau membaca buku, kitab dan ensiklopedi.

Bagaimana sekarang? Ternyata banyak orang merasa bisa memperoleh ilmu dan pengetahuan tanpa harus berguru, apalagi bersusah payah membaca buku, kitab, atau ensiklopedi yang tebal-tebal.

Cukup klik “mbah google” dan mencari kata kunci yang akan dipelajari, kemudian baca berbagai halaman tautan, lalu orang sudah merasa cukup berilmu dan berpengetahuan.

Apakah cukup mencari ilmu dengan cara demikian? Tentu saja tidak. Nyatanya, banyak orang sesat pikir dan pengetahuan karena hanya mengandalkan referensi dari “mbah google”.

Nah, untuk itu agaknya penting untuk menengok kembali syarat-syarat bagi pencari ilmu sebagaimana diajarkan dalam kitab klasik Ta’lim Muta’alim karangan Burhanuddin al-Islam al-Zarnuji atau yang dikenal dengan Syekh al-Zarnuji.

Kitab ini dari dulu telah menjadi rujukan bagi pelajar dan pengajar di pondok-pondok pesantren maupun sekolah agama Islam.

Ditekankan dalam kitab ini, yang paling utama dalam mencari ilmu adalah niat. Niat yang sungguh-sungguh semata-mata mengharapkan ridha Allah.

Setelah itu ada enam syarat bagi para pencari ilmu yang disebutkan kitab ini, yaitu:

Pertama, Kecerdasan.
Foto: Andrea Piacquadio.

Para ulama membagi kecerdasan menjadi dua hal: yaitu muhibatun minallah yakni kecerdasan yang diberikan oleh Allah) dan kecerdasan muktasab, yang didapat dengan usaha keras.

Kedua, Bersungguh-sungguh.

Orang mencari ilmu harus bersungguh-sungguh, sebab siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapat kesuksesan.

Foto: Polina Zimmerman.

Ada pepatah Arab populer yang kerap dijadikan “mantra” di kalangan para santri pondok pesantren, “man jadda wa jada” siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil.

Ketiga, Sabar.
Foto: Pixabay.

Menuntut ilmu dibutuhkan kesabaran yang tinggi, sabar dalam belajar, sabar dalam ujian dan sabar dalam berbagai hal dialami dalam proses belajar. Termasuk ketika mendapat hukuman dari guru ketika melakukan pelanggaran.

Keempat, Adanya Biaya.

Dalam mencari ilmu tentu dibutuhkan biaya atau bekal yang cukup.

Foto: Breakingpic.

Imam Malik pernah menjual salah satu kayu penopang atap rumahnya untuk bekal belajar. Untuk memperoleh ilmu seseorang harus mau berkorban waktu, harta bahkan terkadang nyawa.

Kelima, Adanya Bimbingan dari Para Guru.

Sanad keilmuan merupakan hal penting, terutama dalam belajar ilmu agama.

Foto: Wikipedia.

Belajar ilmu agama, apalagi yang spesifik seperti tasawuf atau syariat tidak boleh otodidak atau belajar sendiri, sebab akan berbahaya jika salah memahami suatu teks ayat atau hadits.

Pentingnya bimbingan dari seorang guru mengharuskan pencari ilmu untuk menghormati dan memuliakan gurunya. Ini bukan semata agar menjadi pintar, tapi juga agar mendapat ridha dari guru sebagai pengantar menuju ridha Allah.

Keenam, Waktu yang Lama.

Menuntut ilmu tidak bisa instan, tapi butuh waktu yang lama. Tidak mungkin kepakaran dalam satu ilmu tertentu didapatkan hanya dalam hitungan hari atau bulan saja.

Foto: Andrea Piacquadio.

Bahkan Imam Al-Qadhi ketika ditanya: “Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?”

Beliau menjawab: ”Sampai ia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur.”

Ini menunjukkan betapa waktu yang lama dibutuhkan untuk menghasilkan kepakaran bagi seseorang dalam satu bidang ilmu pengetahuan.

Nah, jika Anda mau melihat kepakaran seseorang dalam bidang ilmu tertentu, lihatlah saja apakah dia sudah melewati enam syarat yang disebutkan? Jika belum, maka boleh Anda pertanyakan kepakarannya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...