Empat Macam Ilmu Yang Hukumnya Fardlu ‘Ain

Agama Islam telah mewajibkan kepada seluruh umatnya untuk belajar atau menuntut ilmu. Kewajiban ini berlaku dari usia bayi sampai meninggal dunia. Sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lain, ada empat macam ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap umat Islam.

Keempat macam ilmu ini hukumnya Fardlu ‘Ain atau kewajiban personal. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul’ Alim Wal-Muta’allim telah menjelaskan keempat ilmu tersebut.

Pertama, Ilmu Dzat al-‘Alliyyah

Ilmu pertama ini adalah berkaitan dengan pengetahuan mengenai Allah. Pengetahuan ini sudah cukup dengan menyakini bahwa Allah itu dzat yang Ada (Wujud), Qidam (dahulu tidak ada permulaan), Baqa’ (Kekal), serta Allah itu bersifat dengan segala kesempurnaan dan suci dari segala kekurangan, seperti Adam (Tidak ada), Huduts (Ada permulaan atau baru), Fana’ (tidak kekal atau ada akhirnya).

Kedua, Ilmu as-Shifat

Ilmu ini mengenai pengetahuan tentang sifat-sifat Allah. Menyakini bahwa Allah mempunyai sifat kuasa (Qudrat), berkehendak (Irodah), Ilmu (Mengetahui), Hidup (Hayat), Mendengar (Sama’), Melihat (Bashar), Berbicara (Kalam). Dan menyakini bahwa Allah mustahil mempunyai sifat lemah (Ajzun), Karahah (Paksaan), Jahl (Bodoh), Maut (Mati), Shummun (Tuli), Umyun (Buta), Bukmun (Bisu).

Ketiga, Ilmu Fiqh

Ilmu ini adalah mengenai pengetahuan tentang tata cara beribadah, sah atau tidaknya dalam beribadah, syarat dalam beribadah dan lain sebagainya seperti mengetaui tentang tata cara bersuci, shalat, puasa dan lain-lain. Jika mempunyai harta yang berlebihan maka harus belajar mengenai kewajiban dalam mengelola harta tersebut, seperti zakat.

Keempat, Ilmu al-Ahwal wa al-Maqaamat

Ilmu yang keempat ini adalah pengetahuan mengenai kondisi batin atau ahwal dan tahapan-tahapan dalam beribadah kepada Allah atau maqamat, serta pengetahuan tentang tipuan-tipuan atau trik-trik nafsu atau kemaksiatan. Atau gampangnya adalah mempelajari ilmu tasawuf yang mana nanti akan kita ketahui tentang pengetahuan yang berkaitan masalah hati, tahapan dalam beribadah, serta tipuan-tipuan yang menjerumuskan pada kemaksiatan dan kesesatan. Wallahu ‘Alam.

Kontributor: Muhammad Alvin Jauhari (Ketua PK MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya, Mahasiswa Hubungan Internasional)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...