Connect with us

Artikel

Empat Macam Dzikir Menurut Imam Asy Syadzili

Published

on

Ilustrasi

Secara bahasa dzikir memiliki arti menyebut, mengingat, atau berdo’a. Menurut istilah, sebagaimana disebutkan dalam Ensiklopedi Islam, dzikir adalah ucapan lisan, gerakan raga maupun getaran hati sesuai dengan cara-cara yang diajarkan agama, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dzikir adalah puji-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang-ulang untuk mengingat Allah. Jadikanlah hatimu sebagai kiblat lisanmu. Rasakanlah saat berdzikir dengan penghambaan yang memalukan dan rasa takut penuh pengagungan.

Dzikir juga dimaknai sebagai upaya untuk menyingkirkan keadaan lupa dan lalai kepada Allah. Caranya dengan selalu ingat kepada-Nya. Dzikir mengeluarkan seorang mukmin dari suasana lupa, untuk kemudian masuk dalam suasana musyahadah (saling menyaksikan) dengan mata hati.

Ketahuilah, Allah mengetahui rahasia hatimu, melihat rupa perbuatanmu dan mendengar bisik ucapanmu. Maka basuhlah hatimu dengan kesedihan dan nyalakan di dalamnya api rasa takut. Maksudnya adalah sebagai hamba-Nya hanya boleh berharap kepada Allah semata.

Di kalangan ulama sufi, Imam Asy syadzili terkenal sebagai salah seorang wali Allah, kekasih Allah dan pendiri taraket Syadziliyyah. Nama lengkapnya adalah Syeikh Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy Syadzili Al Maghribi Al-Hasani Al Idrisi. Menurut sebagian ulama sebutan Syadzili itu sendiri adalah nama tempat di mana beliau banyak menimba ilmu saat mudanya.

Syekh Abu Al Hasan Asy syadzili menjelaskan dalam kitabnya berjudul Risalah al Amin Fi al Wushul li Rabb al ‘Alamain. Dzikir itu ada empat macam yaitu dzikir yang engkau ingat, dzikir yang membuat engkau ingat, dzikir yang mengingatkanmu, dan dzikir yang membuatmu diingat.

Dzikir yang pertama adalah dzikir tingkatan orang awam, yaitu dzikir untuk menghindarkan diri dari lupa atau lalai, atau mengusir sesuatu yang kau takuti dari kelalaian tersebut.

Kedua, dzikir yang membuat engkau ingat hal-hal yang harus diingat seperti azab, nikmat, jauh dari Allah, dekat dari Allah, dan sebagainya.

Ketiga, dzikir yang mengingatkanmu akan 4 perkara yaitu kebaikan dari Allah, kejelekan dari dalam diri sendiri, kejelekan dari musuh, meskipun Allah juga yang telah menciptakannya.

Keempat, dzikir yang membuatmu diingat, yaitu ketika Allah mengingat hamba-Nya. Saat itu hamba tidak memiliki keterikatan apapun walaupun sedikit tersebut mengalir dari lisannya.

Ini adalah tempatnya anihilasi diri (fana) karena dzikir dan Dzat yang diingat dalam dzikir, yaitu Dzat yang Maha Tinggi dan Mahaunggul. Jika kau masuk ke wilayah ini, orang yang mengingat menjadi orang yang diingat. sebaliknya, yang diingat menjadi yang mengingat. inilah hakikat puncak dari suluk.

Allah adalah Dzat Yang Mahabaik dan Mahakekal. Wajib bagi kalian berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang bisa membuat kalian selamat dari siksa-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Dzikir juga dapat membuat kalian mendapatkan ridho Allah subhanahu Wa Ta’ala di dunia dan di akhirat. Berpegang teguhlah terhadap dzikir tersebut dan lakukanlah secara terus menerus.

Beliau Syaikh Abu Hasan Asy Syadzili mengungkapkan, hakikat dzikir adalah tenangnya hati karena memahami makna dzikir tersebut, serta hati bisa merasakan tersingkapnya semua esensi yang ada.

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Artikel

Dimensi Kemanusiaan Sufisme dan Tharîqah

Oleh: Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA

Published

on

By

Foto: NU Online

Sufisme atau tasawwuf adalah pemahaman keislaman yang moderat serta bentuk dakwah yang mengedepankan “qaulan kariman” (perkataan yang mulia), “qaulan ma’rufan” (perkataan yang baik), “qaulan maisuran” (perkataan yang pantas), “qaulan layyinan” (perkataan yang lemah lembut), “qaulan balighan” (perkataan yang berbekas pada jiwa), serta “qaulan tsaqilan” (perkataan yang berbobot) sebagaimana yang diperintahkan al-Qur’an.

Awal kemunculannya sekitar abad pertama hijriyah merupakan dakwah untuk mengembalikan ajaran Islam dari penyimpangan batas-batas syari’at. Hal tersebut dapat kita lihat dalam perjalanan sejarah umat Islam pada saat itu, dimana penguasa sering menggunakan Islam sebagai alat legitimasi ambisi politiknya. Maka sejak itu muncullah kesadaran di kalangan umat Islam untuk mengembalikan pesan orisinil dan sakral yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw,.

Kesadaran yang tulus dan ikhlas dari zuhhad dan ‘ubbad, seperti Hasan al-Bashri (w-110 H) dan lain sebagainya, akhirnya menjadi sebuah kebangkitan yang menyebar luas ke seluruh dunia muslim. Setelah generasi sahabat dan tabi’in kebangkitan tersebut lebih dikenal dengan istilah tasawuf atau mutashawwifah.

Tasawwuf merupakan inti sari dari pada ajaran Islam, yaitu wilayah yang mengharmonisasikan dimensi lahiriyah dan batiniyah yang ada dalam diri manusia. Sebagaimana kata “manusia” dalam bahasa Arabnya “al-Insan” memiliki makna harmoni. Menurut Ibnu manzur dalam Lisanul Arab; kata “al-Insan” (manusia), merupakan kata benda (isim), kata kerjanya (fi’il) “Anas”, bentuk ejektifnya (fa’il) kalau maskulin (mudzakar) “Anis”, kalau feminim (mu’annats) “Anisah”. Kata “Anas”, “Anis”, “Anisah”, “Insan”, “Yu’nis”, “Muanasah”, “Uns”, itu maknanya harmoni, intim, cinta, kasih sayang, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan. Jadi pada dasarnya manusia dipundaknya memikul amanat untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis, cinta, kasih sayang, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan antara dimensi lahiriyah dan batiniyah.

Para insan Sufi yang telah memperoleh pancaran cahaya tasawwuf adalah penegak dan menjunjung tinggi pesan-pesan Islam, etika dan nilai-nilai kemanusiaan karena mereka mampu mewujudkan kehidupan yang harmonis di muka bumi ini. Tidak pandang bulu dengan adanya perbedaan agama, mazhab, suku, negara, apalagi partai politik. Ibnu Arabi (w-638 H) mampu menjalankan misi tersebut meskipun langkahnya banyak dihujat oleh sebagian ulama. Seperti yang telah beliau kemukakan dalam salah satu syairnya di kitab Zakhair al-A’laq Syarh Turjuman al-Asywaq, ia mengatakan:

Hatiku telah menerima setiap bentuk
Maka padang rumput bagi kijang-kijang dan wihara bagi para rahib
Dan rumah berhala dan Ka‟bah orang berthawaf
Dan lembar-lembar Taurat dan mushhaf al-Qur‟an
Aku beragama dengan agama cinta, dimana kelompok pecinta selalu
Menghadap, maka agama itu adalah agamaku dan imanku

Menurut Ibnu Arabi perbedaan-perbedaan yang ada hanya suatu sarana manifestasi eksistensi Tuhan. Pada dasarnya semua bertolak dari misi yang sama yaitu keharmonisan, cinta dan kasih sayang yang merupakan amanat Tuhan pula.

Tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan pancaran cahaya tasawuf (ma’rifatullah) akan didapatkan, namun para mutashawwifah (ahli tasawuf) perlu menempuh tahapan-tahapan spritual (maqamat ruhiyyah). Tahapan-tahapan spiritual seperti tobat, wara’, zuhud, faqr, sabar, tawakal dan syukur bisa digapai melalui bermacam-macam ibadah, mujahadah dan riyadhah serta menyerahkan segenap jiwa dan raga sepenuhnya kepada Allah SWT.

Ketika seorang sufi mencapai salah satu tahapan tersebut, maka akan mengalami ahwal, yaitu keadaan pengalaman spiritual dalam mengintropeksi jiwa (muhasabah al-nafs) sebagaimana dijelaskan oleh al-Qusyaeri (w-465 H) dalam Kitab al-Risalah dengan menjelaskan setiap bab, seperti bab al-Muraqabah (kedekatan), al-Mahabbah (cinta), al-Khauf (segan), ar-Raja (optimis), as- Syauq (kerinduan), al-Uns (harmoni), al-Musyahadah (persaksian) dan al-Yaqin (keteguhan) dan lain sebagainya.

Praktek menjalankan ajaran Islam seperti ibadah, riyadhah secara hati-hati dan sungguh-sungguh dengan melewati maqamat yang telah disebutkan di atas, merupakan bentuk tharîqah (jalan) untuk menggapai pancaran cahaya tasawwuf (ma’rifatullah).

Thariqah dapat berfungsi untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan nafsu serta sifat-sifatnya, dan menjauhkan hal yang tercela serta mengamalkan yang terpuji. Dengan demikian, tharîqah menjadi sangat penting bagi umat Islam yang ingin mensucikan hati dari sifat-sifat kebendaan dan mengisi hati dengan zikir, muraqabah dan musyahadah kepada Allah Swt,.

Buku yang ada ditangan pembaca ini sangat penting untuk kita pelajari karena merupakan referensi bacaan yang sangat lengkap dalam membahas ilmu tasawwuf dan macam-macam tharîqah. Oleh karena itu, saya menyambut baik atas kehadiran buku ini. Semoga apa yang telah dilakukan oleh penulis menjadi manfaat bagi dirinya dan bagi umat Islam secara keseluruhan.

Wallahulmuwaffiq ila aqwamitthariq.

Sumber: Sabilus Sâlikin, Jalan Para Sâlik; Ensiklopedi Tharîqah/Tashawwuf

Continue Reading

Artikel

Waspada dengan Berhala Zaman Now!

Oleh: Ahmad Rizkiansah Rahman (Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Al Jihad Surabaya, MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya)

Published

on

By

Zaman terus berkembang dan semakin hari kian banyak masalah yang dihadapi oleh setiap orang. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang gelisah, susah, pikiran tidak karuan, dan sebagainya karena mereka tidak bisa menyesuaikan diri. Dan ini akan mengakibatkan timbulnya masalah psikis bagi seseorang.

Di media sosial, tidak sedikit berita tentang kemerosotan psikologis seseorang, bahkan mereka sampai melanggar norma-norma yang diajarkan oleh agama, na’udzubillah. Menjadi seorang yang beriman seharusnya juga harus bisa menyesuaikan diri akan perkembangan zaman. Maksudnya diri kita harus di update dari berbagai aspek, khususnya aspek spiritual.

Berbicara tentang syirik, syirik itu ada dua macam, syirik kecil dan syirik besar. Tantangan mukmin pada zaman ini yakni berhala modern ini termasuk syirik kecil. Maksudnya begini misalnya, seseorang terlalu percaya dengan yang namanya ijazah, sertifikat yang mereka beranggapan bahwa dengan menggunakan ijazah, sertifikat tersebut ia akan diterima kerja di suatu tempat dan akan membuatnya sukses. Padahal tidak. Lagi, ada seseorang yang menggebu-gebu untuk berbisnis, ia percaya bahwa dengan berbisnis ia akan cepat kaya, sehingga cepat sukses. Padahal juga tidak. Seseorang yang mempercayai sesuatu selain Allah itu namanya mempersekutukan Allah dan ini telah Allah jelaskan sesuai dengan firmanNya:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Q.S. an-Nisa: 48).

Makanya guna menghindari itu semua kita harus tetap menggandeng Allah dalam setiap melakukan hal apapun itu. Dan untuk bisa menghindari itu semua juga diperlukan ilmu. Ilmu diperoleh hanya dengan jika seseorang itu ngaji. Ini memang berat namanya juga tantangan zaman, tapi ini salah satu jalan supaya orang itu paham apa yang belum ia ketahui.

Sebagai pemuda milenial, sebenarnya kita sudah dipermudah zaman untuk belajar. Salah satunya dengan YouTube, Google. Tapi harus selektif dalam memilah dan memilih sumber ilmu yang kita jadikan rujukan. Sumber yang menurut pemahaman kita pas dan tidak menyeleweng. Nantinya dengan belajar dari rujukan yang secara umum dianggap shahih kita akan semakin paham ilmu, paham iman.

Jika sudah begini, mahabbah kita yakin kita kepada Allah akan semakin meningkat, kualitas iman kita semakin baik. Akhirnya hidup akan menjadi lebih tenang. Yang menyebabkan hidup kita tenang itu karena kita menjaga tauhid kita. Jika tauhid tidak terkendali apalagi tidak punya tauhid, bisa dipastikan hidupnya akan gelisah, tidak tenang. Oleh karena itu, dalam pengajiannya guru saya berpesan agar berpegang dengan kalimat لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

Kalimat tersebut merupakan salah satu kunci agar hidup kita tenang. Tidak ada kekuatan yang bisa membuat kita melakukan kebaikan kecuali Allah, tidak ada kekuatan lain yang dapat menghindarkan kita dari maksiat, mempersekutukan Allah, kecuali pertolongan Allah itu sendiri. Makhluk kalau tidak diberi pertolongan oleh Allah, tidak bisa apa-apa. Maka dari itu, kita harus berdoa agar selalu diberi pertolongan oleh Allah, berdoa agar terhindar dari mempersekutukan Allah. Wallahua’lam.

Continue Reading

Artikel

Mahabbah dan Pecandunya

Published

on

By

Mahabbah berasal dari kata dasar hubbu yang berarti cinta. Kalimat tersebut mengandung kata ha’ dan ba’. Ada yang mengatakan bahwa hubbu diambil dari kata Habab yaitu gelembung yang selalu berada di atas air. Yang dimaksud adalah bahwa cinta menempati posisi paling tinggi di hati. Ada pula yang mengatakan berasal dari kata Al Habbu yang berarti anting-anting. Disebut demikian karena model anting yang menggantung seperti keadaan seorang pecinta yang menemui kegelisahan. Selain itu kata hubbu juga bisa berasal dari kata hibban untuk yang artinya biji kecil di padang pasir. Maksudnya bahwa cinta adalah cikal bakal tumbuhnya kehidupan.

Adapun dasar-dasar mahabbah adalah sebagai berikut:

– Allah Swt. Berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”

Maqam Mahabbah dipopulerkan oleh Rabiah Al-Adawiyah. Meskipun Bukan pencetusnya, tapi Rabiah mampu membawa eksistensi Mahabbah lebih unggul daripada Ja’far Shadiq sang pemilik konsep Mahabbah. Keunggulannya bahwa ia adalah salah satu Sufi perempuan yang memiliki derajat lebih tinggi dari Sufi lain pada zamannya. Rabiah mendapat julukan “Mahkota Kaum Pria” (Taj Al Rijal) karena ia terjaga dari sifat-sifat yang merendahkan martabatnya sebagai perempuan.

Rabiah terlahir dari keluarga yang miskin. sejak kecil ia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya kemudian dijual sebagai budak yang sangat murah sehingga harus melewati kehidupan yang sangat keras dan pahit. Meskipun demikian, Allah memberinya anugerah untuk mengamalkan kezuhudan dan tidak ada keterikatan dengan materi duniawi. Pada suatu hari ia bermunajat kepada Allah. Tanpa ia sadari tuanya telah memerhatikannya. Keesokan harinya itu merdekakan dan kemudian ia hijrah ke Mekkah. Menurut riwayat ketika ia di Mekkah, iya bertemu dengan Ibrahim Al Adham dan keduanya saling berdiskusi sehingga dari sini Rabiah digambarkan sebagai sosok yang telah mengalami pengalaman cinta kepada Allah.

Rabiah sebagai Sufi wanita dideskripsikan sebagai wanita yang tidak ingin membagi cintanya kepada siapapun dan hanya menginginkan Allah semata serta memilih tidak menikah sepanjang usianya. Semasa hidupnya ia pernah dilamar oleh beberapa laki-laki. Namun ia selalu menolaknya dengan berdalih, “akad nikah adalah milik kemaujudan yang luar biasa sedangkan aku terlepas dari hal tersebut. Aku maujud dalam Tuhan dan sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup dalam naungan firman-Nya. Maka akad nikah seharusnya diminta dari-Nya bukan dariku.”

Kesetiaannya yang luar biasa terhadap Allah tidak bisa terhianati oleh cinta duniawi semata. Kecintaannya terhadap Allah bukan karena menginginkan surga dan bukan pula karena takut neraka. Cinta seperti inilah yang oleh M. Smith juga disebut cinta tanpa pamrih.

Dalam syairnya Rabiah bersajak:

“Sendiri daku bersama cintaku

Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang

Melimpahkan karunianya atas doaku

Memahkotaiku, enyahlah yang lain, sirna

Antara takjub atas Keindahan dan Keagungan-Nya

Dalam semerbak tiada tara

Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu

Kusaksikan yang datang dan pergi dalam kalbu

Lihat, dalam wajah-Nya

Tercampur segenap pesona dan karunia

Seluruh keindahan menyatu dalam wajah-Nya yang sempurna

Lihat dia, yang akan berkata “Tiada Tuhan selain Dia dan Dia-Lah yang paling mulia.”

Pada bait-perbait sajak di atas, Rabiah tidak henti-hentinya memuji Tuhan yang telah bersemayam pada dirinya sehingga tidak ada sedikitpun celah bagi makhluk. Dalam syair itu tabir ketuhanan telah tersingkap dan Rabiah asik bermadu kasih dengan Tuhan. Dari kalimat yang diungkapkan ia menunjukkan betapa ia menikmati kondisi tersebut. Lalu mana mungkin cinta yang sedemikian agung akan terkalahkan oleh cinta duniawi.

Dari konsep Mahabbah Rabiah mengajarkan bahwa cinta dan ujian adalah satu kesatuan. Tidak akan merasakan cinta jika tidak menemui ujian dan kesakitan serta tidak akan pernah merasakan ujian terdahsyat jika belum pernah mencintai secara total. Maka, hendaklah melihat ujian melalui kacamata cinta agar keduanya dijalani dengan ketulusan.

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum. (adalah Kader MATAN DKI Jakarta dan merupakan mahasiswi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Continue Reading

Facebook

Trending