Connect with us

Artikel

Ego (Nafs) Menurut Kaum Sufi

Published

on

Terkait dengan ego, kita akan mengkaji satu butir kalam hikmah yang sungguh dalam dan penuh makna, yang ditulis oleh seorang sufi besar yaitu Ibn Athoillah dalam karya magnum opusnya al-Hikam. Ia mengatakan:
إدفن وجودك في أرض الخمول فما نبت مما لم يدفن لم يتم نتاجه
“(Pendamlah egomu (ke-Aku-an) di tempat yang sunyi, maka sesuatu apapun yang tumbuh, namun tidak melalui proses ditanam, hasilnya tidak akan sempurna)”.

Pembahasan ini menyudut pada satu term, yakni: wujud. Menurut literatur bahasa Arab wujud bisa diartikan sebagai jiwa (nafs) atau ego. Sedangkan perspektif al-Qur’an, kata nafs merujuk pada manusia sebagai totalitas yang hidup di dunia dan akhirat. Sedangkan menurut Plato, substansi manusia terletak pada jiwanya dan badan hanya sebagai alat saja. Lain halnya dengan Aristoteles, baginya jiwa adalah fungsi dari badan seperti penglihatan sebagai fungsi dari mata.

Wujud juga diartikan sebagai ego “Aku”. Ego merupakan rasa sadar akan diri sendiri, dan ego juga melahirkan perasaan identitas dan kontinuitas seseorang dan berada pada ranah kesadaran. Kalangan sufi dan Psikolog Barat berbeda cara dalam menangani ego, para sufi lebih menekan dan menundukkan ego supaya benar-benar hilang dan yang timbul hanyalah Aku (Tuhan).

Seorang salik berusaha melenyapkan egonya secara penuh dan menghentikan ide tentang diri yang egois dan terpisah sehingga menjadi satu dengan-Nya. Ego dianalogikan seperti lampu, kesatuan dengan-Nya menghubungkan lampu dengan Sumber Energi yang akan memberikan pancaran. Berbeda dengan Psikolog Barat semisal Sigmund Freud, menurutnya ego harus ditingkatkan supaya menjadi pribadi yang unggul.

Dalam hal ini ia menguraikan ada tiga elemen kepribadian manusia, yaitu; id, ego dan superego. Id merupakan alam bawah sadar manusia dan menjadi dasar dari dorongan fisik yang kemudian menjelma menjadi perilaku. Sedangkan Superego adalah bentuk ekspresi yang mempresentasikan pengaruh-pengaruh yang berasal dari lingkungan sekitar atau dari keluarga, masyarakat dan sebagainya. Dan ego adalah penyeimbang antara id dan superego. Hal ini diamini dan disetujui juga oleh Nietzsche untuk menjadi pribadi yang unggul (Ubermensch) harus mengikuti ego diri bebas dari aturan-aturan ajaran Tuhan, sehingga menjadi ego tuan.

Dalam hal tersebut bahwa ego ada dua macam: pertama, yang mengunggulkan diri sendiri dan mengesampingkan peranan Tuhan dan kedua, ego yang hanya melihat Aku (Tuhan) sembari melenyapkan aku (diri sendiri). Contoh ego pertama terdapat dalam ucapan Fir’aun, انا ربّكم الأعلى (Aku adalah Tuhanmu yang Maha Tinggi). Di sini ia mengungguli dirinya sebagai Aku (Tuhan) dan yang dilihat hanya dirinya yang tampak semata, sehingga ia dilabeli Kafir keluar dari agama.

Contoh ego kedua terdapat dalam ucapan Abu Mansur Al-Hallaj (w. 309 H.) dalam keadaan mabuk ruhani (syathohat). Ia mengucapkan انا الحقّ “Aku adalah kebenaran” . Yang dia lihat hanya Aku (Tuhan) sedangkan ego dirinya dilenyapkan. Keduanya tampak berbeda dalam tauhid, Fir’aun menganggap dirinya sebagai Aku (Tuhan), sedangkan al-Hallaj meniadakan dirinya yang ada hanyalah Tuhan.

Al-Hallaj memang masih kontroversial dalam ajarannya ia dinggap kafir oleh sebagian kelompok yang tidak menyukai ajarannya, namun pengaruhnya sangat luar bisa, ajarannya diteruskan oleh Ibnu ‘Arabi yang terkenal dengan konsep wahdatul wujud. Ketika al-Ghazali ditanya bagaimana pendapatnya tentang “Ana al-Haq” beliau menjawab perkataan al-Hallaj yang keluar dari mulutnya merupakan kecintaannya kepada Allah, cinta yang sudah dalam dan mengkristal pasti yang diingat hanya Allah.

Kemudian dalam kalimat في أرض الخمول “pada tempat kesunyian”, lebih ditekankan pada ard. Kenapa harus ard bukan makan (tempat)? Dikarenakan merujuk kata dasar ard yang artinya tanah. Hal tersebut menginformasikan bahwa manusia yang berasal dari tanah akan kembali pada tanah, pentingnya selalu dzikrul maut setiap saat untuk menyiapkan amal baik untuk esok hari (hari kebangkitan) . Di dalam tanah mengandung material yang nilainya sangat berharga, seperti emas, perak, tembaga, dan sebagainya. Begitu juga manusia di dalam diri manusia memiliki seribu kemampuan dan bakat jika digali dan dikembangkan akan menjadi manusia yang unggul al-Insan Kamil, hal ini diterangkan panjang lebar oleh imam Ghazali di dalam kitanya Jawahir al-Qur’an.

Selain itu tanah yang berada di bawah dikorelasikan dengan tawadhu’. Sifat tawadhu’ ini harus dimiliki oleh semua manusia, jika tidak memiliki sifat itu maka akan hina di dunia dan akhirat. Lebih lanjut, kata khumul artinya sunyi, yang tidak terkontaminasi dari pengaruh luar. yang mana ard al-Khumul menjadi simbol tempat penyucian, dan tempat menanam jiwa-jiwa yang kotor, kemudian tumbuh berkembang menjadi jiwa yang bersih, dan suci. Ego yang membangga-banggakan diri, harus ditanam dan disucikan, sehingga melebur pada Ego Tunggal (Tuhan) yang memancarkan cahaya-Nya.

Menurut istilah Taoisme akan melahirkan ego baru, ketika manusia sudah menemukan dan menyadari egonya secara benar ia akan merasakan dan menyentuh dalam dirinya getaran kehidupan Sang Mutlak ketika aktif bekerja di dalam dirinya.

Banyak contoh kisah para nabi dan sufi ketika ingin mendapatkan ilham, intusi, dan pantulan cahaya Tuhan mereka berkhalwat atau bersemedi di tempat sepi. Seperti Nabi Muhammad Saw di Gua Hira, Nabi Yunus di dalam perut ikan, Nabi Musa di Gunung Sinai, Sidharta Gautama di Hutan Uruvela dan tidak sedikit sekali kaum sufi yang berkhalwat di tempat sepi demi menghindari keramain. Wallahu ‘alam bi shawab.

Penulis: Rifqi Miftahul Amili (Mahasiswa Pascasarjana UIN Jakarta)

Artikel

Model-model Pembersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Published

on

Pembersihan jiwa atau Tazkiyatun Nafs adalah upaya menghilangkan keburukan-keburukan yang sudah lama terbenam dalam hati hamba. Proses ini berfungsi untuk menyiapkan diri menerima cahaya dari Allah Swt. Karena tidak mungkin cahaya bisa masuk dalam ruang yang gelap tanpa adanya setitik kebaikan di dalamnya. Gelapnya hati inilah hijab yang menghalangi makrifat terhadap Allah.

Oleh sebab itu, untuk membersihkan hati dari kotoran-kotoran tersebut perlu dilakukan beberapa cara, di antaranya:

1. Lapar (Al-Ju’)

Sesungguhnya lapar merupakan keadaan ahli hakikat. Menurut al-Ghazali, lapar dapat mengurangi dan memutihan darah dalam hati (al-qalb). Putihnya darah adalah cahayanya. Dengan cahaya dapat menghancurkan lemak hati. Hancurnya lemak dapat melembutkan hati dan hati yang lembut bisa menjadi kunci mukasyafah, sedangkan kerasnya hati adalah hijabnya.

2. Melanggengkan Wudlu (Dawam al-Wudlu’)

Wudlu adalah cahaya dan dosa akan berguguran ketika seorang hamba berwudlu. Para ulama menyatakan bahwa melanggengkan wudlu akan meluaskan rizki. Perbuatan itu juga merupakan amaliyah waliyullah sebagaimana yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani

3. Khalwat

Khalwat menurut Kiai Muhammad Shiddiq Piji adalah menyendirinya hati dari manusia. Menurut sebagian ulama, tarekat khalwah adalah pembicaraan rahasia (muhadatsat al-Sirri) bersama al-Haqq. Khalwah merupakan salah satu kebiasaan Nabi Muhammad saw. saat memulai perjalanan ruhaninya hingga mendapat wahyu untuk berdakwah

4. Zikir

Zikir dalam keterangan Kiai Muhammad Shiddiq Piji merupakan rukun terpenting dalam tarekat. Tidak mungkin seseorang bisa wushul kepada Allah kecuali dengan membiasakan zikir itu. Zikir adalah ibadah yang bisa dilakukan dalam kondisi apapun dan kapanpun. Oleh sebab itu para ulama’ tarekat mengatakan barang siapa diberikan istiqamah dalam zikir, maka ia telah mendapat hamparan dunia kewalian (wilayah). Dalam al-Qur’an, Allah memberi perintah zzikir lebih banyak dari perintah ibadah yang lainnya.

Di antara ke empat proses Tazkiyatun Nafs, zikir menjadi nyawa yang mengisi setiap proses ibadah. Ibn Athaillah menjelaskan bahwa macam macam zikir dalam tarekat dapat berupa zikir lisan lafaz, zikir qalbi, dan zikir sirril khafiy. Sedangkan manfaat zikir menurutnya dapat menghilangkan duka, kesusahan dan gundah gulana; mensucikan bagian tubuh yang terbangun dari makanan haram; menghilangkan gelap dan noda hati; menghilangkan kerak atau karat hati; melembutkan hati; membakar nafsu (syahwat dan ghadab); mencegah ketaatan tubuh pada prilaku yang menyimpang dari agama; mematahkan bisikan syetan; mencegah keburukan, menjaga dari segala sesuatu; membuka pintu ghaib/mengangkat hijab; menjadikan ruh mencintai Allah, dan menjadikan sufi selalu bersama Allah.

Continue Reading

Artikel

Sufi adalah Golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Published

on

Permasalahan apakah orang-orang sufi termasuk bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sebuah polemik yang dipertanyakan oleh sebagian orang yang belum mengenal tasawuf secara utuh. Bahkan banyak anggapan bahwa ajaran ini berasal dari Hindu dan Budha dan para Filsuf Yunani.

Menurut Syekh Abul Fadhol dalam Syarh Kawakib al-Lama’ah, ini terjadi karena kebanyakan orang muslim melihat adanya kemiripan antara tokoh-tokoh sufi dan kebiasaan orang-orang Budha, termasuk dalam akhlak mereka, perilaku zuhud serta menahan hawa nafsu. Atas dasar inilah mereka menduga ada korelasi antara ajaran tasawuf dan Budha.

Lebih ekstrem dari itu, ada ungkapan bahwa tokoh-tokoh sufi seperti Abu Yazid al-Busthami, Ma’ruf al-Karkhi dan Abu al Qasim al-Junaidi adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu syariat Islam. Mereka menciptakan amalan fisik maupun hati bersumber dari Agama Budha dan mencampurkannya dengan Syariat Islam.

Yang dimaksud oleh anggapan-anggapan tersebut adalah bagian dari Sinkretisme. Tentu saja ini merupakan kesalahan besar. Bahkan seorang tokoh yang bernama Abu Abdillah al-Marizi, hanya menilai al-Ghazali dari murid-muridnya saja, tidak dengan membaca karyanya. Tentu ini tidak komprehensif untuk mengetahui penilaiannya terhadap ajaran tasawuf al-Ghazali. Padahal, ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para sufi memiliki dasar yang kuat.

Seperti definisi tasawuf menurut al-Ghazali, yaitu mengosongkan hati dari hal selain Allah dan menganggap rendah selain-Nya. Kemudian dijelaskan oleh Syekh Jalaludin al-Mahalli dalam Kitab Syarh Jam’ul Jawami’ bahwa jalan yang ditempuh oleh al-Junaid itu terbebas dari bid’ah-bid’ah yang berputar atas kepasrahan kepada Allah serta terbebas dari hawa nafsu.

Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan sendiri oleh al-Junaid,

“Jalan menuju Allah Swt. itu tertutup atas makhluknya, kecuali atas orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah saw.“

Dan ungkapannya yang lain,

“Mazhab kita, wahai golongan sufi, ini diikat (berdasarkan) dasar-dasar al-Quran dan Sunnah.”

Juga dipertegas lagi oleh Ibnu Athaillah,

“Allah telah mengumpulkan seluruh kebaikan dalam suatu gedung, dan Dia menjadikan sebagai kuncinya adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad saw.”

Dari pendapat tersebut, mana bisa ahli tasawuf disebut sebagai orang-orang yang bodoh dan mencampuradukan syariat serta bukan bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal penjelasan di atas menunjukkan bahwa mereka memiliki dasar tasawuf yang kuat, yaitu dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. dan menaatinya.

Sehingga, ini selaras dengan yang disampaikan oleh Syekh Abul Fadhol,

“Barangsiapa yang menjadikan ilmu tasawuf sebagai bagian dari hukum-hukum syariat, ia benar. Namun, ia tidak akan merasakan bahwa tasawuf itu bagian dari syariat kecuali orang yang luas wawasannya di bidang syariat hingga puncak sesuai kemampuan manusia.”

Adapun orang-orang yang mengaku menempuh jalur sufi namun tidak memenuhi syariat adalah kesalahan yang besar. Dan orang-orang yang mengingkari tasawuf secara kesuluruhan hanyalah menilai sesuatu yang umum terhadap sesuatu yang khusus.

Continue Reading

Artikel

Tasawuf dalam Menjawab Problematika Sosial Di Era Milineal

Published

on

Umat Islam dalam skala global maupun lokal menghadapi berbagai problem yang kompleks dan mendasar. Dikatakatan kompleks karena mencakup berbagai unsur kehidupan, baik sosial, politik maupun budaya. Dan mendasar karena mencakup akar identitas dari umat yaitu keislaman itu sendiri.

Kejayaan dan kemunduran umat, bisa dilihat dari tiga variable yang menentukan, yaitu: hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan agama serta Negara. Adapun kejayaan umat Islam ditandai dengan:

1. Adanya kedekatakan individu hubungan tiap-tiap individu warga umat dengan Allah yaitu berupa ketaqwaan
2. Adanya semangat persaudaraan/ukhuwah islamiyah
3. Adanya tanggung jawab dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar

Pada kenyataannya kondisi umat Islam tidak mencerminkan tiga indikator di atas, bahkan sebaliknya dilanda tiga kelemahan dan kehancuran dalam tiga bidang tersebut yakni:

1. Lemahnya ketaqwaan (moral force), yang ditunjukkan dengan merajalelanya kemaksiatan
2. Lemahnya ukhuwah islamiyah (brotherhood), yang ditunjukkan banyaknya pertikaian, permusuhan, disintegrasi umat baik secara vertikal maupun horizontal
3. Lemahnya tanggung jawab dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga umat Islam kehilangan self control maupun social control yang menyebabkan Islam menjadi tersisih dan tertindas oleh peradaban sekuler

Kenapa bisa demikian? hal ini disebabkan ada dua faktor, internal dan eksternal:

1. Internal; kedangkalan terhadap agama, kecenderungan cinta dunia dan tiada kepeminpinan umat yang efektif
2. Eksternal; yaitu adanya konspirasi musuh-musuh umat melalui rekayasa sosial dan politik (social and political engineering)

Dua faktor itulah yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran dan kejatuhan sehingga tersisihkan peranannya sebagai mercusuar dan pimpinan dunia. Lalu apa yang harus dilakukan?

Setidaknya ada beberapa point sebagai solusi mengatasi problematika di atas:

1. Memacu semangat generasi muda untuk mengkaji agama secara intesif dengan dibangunnya lembaga-lembaga pendidikan yang qualified baik sistem sekolah, unversitas maupun pesantren-pesantren. Membangkitkan kembali semangat spiritual agama yaitu kehidupan bertasawuf melalui tarekat-tarekat yang shahih dan mu’tabarah
2. Menghidupkan kembali lembaga kesultanan dan ruhnya yaitu tauhid tasawuf sebagai pusaka keramat kerajaan

Syekh Abul Abbas Ahmad Zarruqimengartikan tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati dan memfokuskan hati hanya untuk Allah semata. Kedudukan tasawuf seperti kedudukan ruh dan jasad, karena untuk mencapai Ihsan yang dijelaskan Rasullullah dalam sebuah hadis dikatakan:

مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك

“Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. (HR.Muslim).”

(Al-Futuhat al-Rahmaniah fi Hall Alfaz al-Hikam al-Ataiyah, Dar Nashirun, Beirut, Hal 43-44).

Selama ini umat islam telah kehilangan ruhnya yaitu tasawuf sehingga Islam di era milineal sekarang ibarat jasad yang mudah menjadi rekayasa sosial dan potitik melaui konspirasi dari musuh-musuh Islam untuk merusak tatanan diniyah. Kehadiran tasawuf di era milienal  sangat dibutuhkan untuk memperbaiki moralitas bangsa. Sayyidi Abu Hasan Asy-Syadzili berkata,

التصوف تدريب النفس على العبودية، وردها لأحكام الربوبية

“Tasawuf itu tadrib al-nafs (melatih nafsu) untuk tekun beribadah dan mengembalikannya kepada hukum-hukum Rububiyah (ketuhanan).”

(Kitab Haqa’id at-Tasawuf, Dar al-Taqwa Damaskus hal 18).

Syekh Ahmad bin Muhammad Ajibah al-Hasani, menjelaskan terdapat lima pokok dan dasar tasawuf yang dapat membaguskan amal yang benar, yaitu,

1. Takwa kepada Allah di kala sepi dan keramaian
2. Mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw. baik dalam perkataan dan perbuatan
3. Tidak bergantung kepada makhluk baik di hadapan maupun di belakangnya
4. Ridla dengan pemberian Allah baik banyak maupun sedikit
5. Segala permasalahan diserahkan kepada Allah baik waktu gembira maupun susah.

(Al-Futuhat al-Ilahiyyah fi Syarhi al-Mahabits al-Ashaliyyah, Dar-Al-Kotob al-Ilmiyah, Beirut, hal 354).

Tujuan tasawuf  adalah  untuk memperbaiki tiga varibel yaitu memperbaiki variabel vertikal yaitu  memperkokoh iman melalui peningkatan tauhid makrifat dan membersihkan kotoran-kotoran nafsu yang ada dalam hati dan membersihkan sangkutan hati dari selain Allah Swt. sehingga hubungan antara hamba dan Allah menjadi baik. Kemudian perbaikan dua variabel horizontal dengan  memperbagus akhlak sehingga hubungan sesama, masyarakat dan agama serta negara menjadi baik. 

Penulis: Budi Handoyo (Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending