Dua Instrumen Ekonomi Fundamental: Zakat dan Wakaf

0

BATANG – Zakat ini jika dikelola dengan benar dan akuntabel, ia bisa cukup menggerakkan perekonomian. Karena ada ekosistem ekonomi yang bisa digerakkan lewat zakat. Ada potensi, ada market, tinggal bagaimana kita merumuskan konsepnya, mulai dari strategi fundraising, menejemen hingga ke distribusinya.

Wakaf potensinya jauh lebih besar dari pada zakat. Sayangnya, masyarakat kita masih memahami wakaf hanya sebatas tanah dan aset tak bergerak lainnya. Padahal mestinya wakaf itu produktif.

Semua peradaban Islam pasti ada jejak wakafnya, bahkan di nusantara sekalipun. Pesantren mana yang tidak dari wakaf? Masjid mana yang tidak dari wakaf? Namun, sekali lagi, ini menjadi aset pasif dan kurang produktif.

Padahal jika kita melihat di Al Azhar, justru hampir semua wakafnya bersifat produktif, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, hingga ke pertambangan, jasa konstruksi maupun bisnis modern. Bisnis Based on Waqf.

Di Turki, ada pelabuhan yang based on waqf, karena dulu tanah dan sebagian aset bangunannya adalah wakaf. Selain pelabuhan ada juga Mall based on waqf.

Saya membayangkan, JATMAN ini suatu hari nanti punya SPBU wakaf, rest area wakaf, toko wakaf, pertanian produktif wakaf dan lain sebagainya.

Wakaf itu kata kuncinya di trust (al-amanah) & vision (al-amal). Artinya selain amanah harus ada visi yang jauh, yang kemudian diterjemahkan dalam agenda dan program. Sehingga umat paham kita ada dimana dan akan kemana?

Potensi besar JATMAN, dengan trust yang ada, meskipun mungkin trust itu masih menempel pada ketokohan, insya Allah jika kita maintenance akan menjadi kekuatan yang dahsyat. Di masa yang akan datang, trust itu kita lembagakan ke dalam sistem yang lebih konkrit.

Alhamdulillah, secara bertahap, tim ekonomi JATMAN sudah mulai melangkah dan melakukan hal tersebut dan berharap ini menjadi inspirasi untuk wustha-wustha JATMAN di seluruh Indonesia.

Ditulis oleh: KH. Anang Rikza Masyhadi, MA

Comments
Loading...