Dimensi Tasawuf Empat Sahabat Rasulullah

Sahabat adalah mata rantai keilmuan yang sampai pada Rasulullah saw., khususnya dalam hal tasawuf.

Okt 10, 2023
Dimensi Tasawuf Empat Sahabat Rasulullah

Abu Bakar as-Shiddiq

Abu Bakar adalah sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah saw. yang sekaligus menjadi mertuanya. Sejak masuk Islam, Abu Bakar memilih jalan hidup zuhud dengan mendermakan seluruh hartanya di jalan Allah. Setiap kali Rasulullah membutuhkan support, ia selalu menyediakan unta-untanya untuk diserahkan hingga seluruhnya habis. Tatkala Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Apa lagi yang masih tersisa jika unta ini engkau sumbangkan semua?” Lalu Abu Bakar menjawab, “Cukup bagiku Allah dan rasul-Nya.”

Diriwatkan bahwa selama enam hari dalam seminggu, Abu Bakar selalu dalam keadaan lapar. Pada suatu hari Rasulullah saw. pergi ke masjid. Di sana Rasulullah saw. bertemu Abu Bakar dan Umar bin Khattab, kemudian beliau bertanya, “Mengapa anda berdua sudah berada di masjid?” Kedua sahabat itu menjawab, “Menghibur diri karena lapar.”

Diceritakan pula bahwa Abu Bakar hanya memiliki sehelai pakaian. Ia berkata, “Jika seorang hamba begitu dipesonakan oleh hiasan dunia, Allah membencinya sampai ia meninggalkan perhiasan itu.”

Oleh karena itu, Abu Bakar memilih takwa sebagai “pakaiannya”. Ia menghiasi dirinya dengan sifat-sifat rendah hati, santun, sabar dan selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan ibadah dan zikir.

Umar bin Khattab

Umar bin Khattab terkenal dengan keheningan jiwa dna kebersihan hatinya. Sehingga Rasulullah saw. bersabda, “Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar.”

Umar terkenal dengan kezuhudan dan kesederhanaannya. Diriwayatkan ketika ia menjadi khalifah, ia memakai baju dengan tambalan dua belas sobekan.

Diceritakan bahwa putranya, Abdullah bin Umar ketika bermain dengan anak-anak lain, mereka mengejek Abdullah karena pakaian yang dipakainya penuh dengan tambalan. Hal ini kemudian disampaikan pada ayahnya ketika menjabat sebagai khalifah. Umar pada saat itu merasa sedih karena tidak mempunyai uang untuk membeli pakaian. Oleh karena itu, ia membuat surat kepada pegawai Baitul Mal (pembendaharaan negara) untuk meminjam uang dan akan membayarnya pada bulan berikutnya dengan memotong gajinya.

Pegawai Baitul Mal menjawab surat itu dengan mengajukan suatu pertanyaan, “Apakah Umar yakin jika umurnya akan sampai pada bulan depan?”

Maka dengan perasaan terharu dan diiringi derai air mata, Umar menulis lagi sepucuk surat kepada pegawai Baitul Mal bahwa ia tidak jadi meminjam uang karena tidak yakin jika umurnya sampai pada bulan yang akan datang.

Usman bin Affan

Usman bin Affan adalah teladan para sufi dalam berbagai hal. Diriwayatkan ketika perang Tabuk, sementara kaum muslimin sedang menghadapi paceklik, Usman memberikan perbekalan yang besar berupa kendaraan dan perbekalan.

Diriwayatkan pula, Usman membeli sebuah telaga milik seorang Yahudi untuk kaum muslimin. Hal ini dilakukan karena air telaga tersebut tidak boleh diambil oleh kaum muslimin.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar terjadi kemarau panjang. Banyak rakyat yang mengadu kepada khalifah mengenai kesulitan hidupnya. Seandainya rakyat tidak segera dibantu, maka akan banyak orang yang kehilangan nyawanya. Pada saat ini Usman menyumbangkan hartanya sebanyak seribu ekor unta.

Tentang ibadahnya, diriwayatkan bahwa Usman terbunuh ketika sedang membaca Al-Quran. Tebasan pedang para pemberontak berhasil membunuhnya ketika ia sedang membaca Surat Al-Baqarah ayat 137 yang artinya,

“… Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ketika itu, ia tak sedikitpun beranjak dari tempatnya. Bahkan tidak mengijinkan orang mendekatinya. Ketika ia tergeletak berlumuran darah, mushaf Al-Quran itu masih tetap berada di tangannya.

Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib adalah salah satu sahabat yang mendapatkan tempat khusus di hati para sufi. Bagi mereka, Ali adalah guru keruhanian yang mendapat warisan khusus dari Rasulullah saw.

Abu Ali Ar-Ruzbari, seorang tokoh sufi mengatakan bahwa Ali dianugerahi ilmu laduni. Ilmu itu sebelumnya secara khusus diberikan Allah Swt. kepada Nabi Khidir as. seperti firman-Nya yang artinya,

“Dan Kami telah ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami,” (Qs. Al-Kahfi: 65)

Kezuhudan dan kerendahan hati Ali terlihat pada kehidupannya yang sederhana. Ia tidak malu memakai pakaian yang bertambal, bahkan ia sendiri yang menambal pakaiannya yang sobek.

Pada suatu hari Ali tengah menjinjing daging di pasar. Lalu orang menyapanya, “Apakah tuan tidak malu memapah daging itu, wahai Amirul Mukminin?” Kemudian Ali menjawab, “Yang saya bawa adalah barang halal. Mengapa saya harus malu?”

Abu Nasr As-Sarraj At-Tusi berkomentar tentang Ali. Katanya, “Di antara para sahabat Rasulullah saw. Ali bin Abi Thalib memiliki keistimewaan sendiri dengan pengertian-pengertiannya yang agung, isyarat-isyaratnya yang halus, kata-katanya yang unik, uraian dan ungkapannya tentang tauhid, makrifat, iman, ilmu, hal-hal yang luhur dan sebagainya yang menjadi pegangan serta teladan para sufi.”