Connect with us

Artikel

Dimanakah Keberadaan Wali Berpangkat “Al-Ghauts” (Al-Quthb Al-Ghauts)?

Published

on

Dalam ajaran al-Imam Muhyiddin Ibn Arabi, wali yang tertinggi dinamakan (القطب) “Al-Quthb” (kutub) atau poros alam. Ia kadang juga dinamakan (الغوث) “Al-Ghauts” (penolong) atau (سلطان الأولياء) “Sulthan al-Auliya’” (raja para wali). Akan tetapi, sebagian membedakan antara Sulthan al-Auliya’ atau Ghauts dengan Quthb.

Menurut pandangan ini, semua Sulthan al-Auliya’ adalah Quthb, tetapi tidak semua Quthb adalah Sulthan al-Auliya’/Ghauts al-Adham (الغوث الأعظم).

Ada pula yang menyatakan bahwa maqam kedudukan “Wali al-Ghauts” ini merupakan pangkat tertinggi paling puncak yang menempati satu tingkat lebih tinggi di atas Wali Quthb dan satu tingkatan dibawah Nabi Khaidir as.

Ada juga keterangan yang menyebut dengan istilah “Quthb al-Aqtab” (قطب الأقطب) atau kutubnya kutub. Ada pula keterangan menyebutkan Quthb memiliki dua wakil, yakni dinamakan Wali Aimmah (ولي الأئمة).

Salah satu wali Aimah, yakni “Imam Kanan” hanya mengetahui (عالم الملكوت) Alam Malakut (alam kekuasaan, alam gaib); dan yang satunya, “Imam Kiri” hanya mengetahui (عالم الملك) Alam Mulk (alam kerajaan, alam dunia jasmani).

Quthb al-Ghauts adalah pusat daya-daya spiritual. Ia mengumpulkan semua maqam. Ia adalah kutub semesta lahiriah maupun semesta batiniah, yang semuanya berputar di sekelilingnya, seperti Ka’bah yang menjadi sumbu perputaran dalam thawaf.

Kadang-kadang Quthb diberi kekuasaan eksternal (politik) atas seluruh umat. Empat khalifah pertama pasca Nabi (Khalifah Abu Bakar bin Shiddiq, Khalifah Umar bin Khattab Khalifah Utsman bin Affan dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib) adalah Quthb Agung atau Sulthan al-Auliya’, yang memiliki kekuasaan politik.

Tetapi kebanyakan Quthb hanyalah penguasa rohani, dan tidak memiliki kekuasaan politik. Abu Yazid al-Bisthami dan Maulana Rumi ialah contoh dari jenis wali ini. Mayoritas wali Quthb tidak memiliki kekuasaan eksternal.

Dalam setiap zaman hanya ada satu Quthb, atau dalam pendapat lain, satu Sulthan Auliya’, di mana semua wali berputar di sekelilingnya dan pandangan ini hampir disepakati, seperti dijelaskan oleh Hakim al-Tirmidzi, Syekh al-Akbar Ibnu ‘Arabi, dan al-Hujwiry.

Meski sudah menjadi kesepakatan hanya ada satu Sulthan Auliya’ di setiap zaman, namun dalam kenyataan sejarah kita kerap menjumpai kabar bahwa ada lebih dari satu syekh sufi yang hidup dalam kurun waktu yang sama, atau berdekatan, tetapi dianggap sebagai Quthb atau sulthan Auliya’.

Demikian pula, dalam setiap tarekat, sering kali muncul klaim bahwa pendiri tarekat, yang sama-sama hidup dalam kurun waktu yang relatif sama, atau beberapa mursyid penerusnya menempati kedudukan maqam Qutub. Bahkan, di masa sekarang pun terdapat beberapa kabar ada wali Qutub lebih dari satu yang berada di beberapa tempat.

Barangkali Quthb yang dimaksud di sini seperti yang disinggung oleh Syekh al-Akbar Ibn Arabi, yakni Quthb untuk maqam spiritual tertentu. Karenanya, dalam maqam tawakal, misalnya, terdapat satu Quthb, tempat manifestasi tertinggi dari maqam spiritual tertentu pada zamannya.

Ibnu ‘Arabi sendiri, misalnya, dikenal sebagai Sulthan al-‘Arifin (rajanya orang berpengetahuan), sedangkan Maulana Rumi ialah Sulthan al-Muhibbin (rajanya para pencinta). Atau, persoalannya pada “zaman” Quthb hanya satu untuk setiap masa, tetapi persoalannya “masa” atau zaman yang mana?

Jika sudah bicara dunia spiritual, waktu adalah relatif, nonlinier, dan ada banyak alam selain alam dunia ini, yang berarti juga ada banyak masa atau zaman. Bagaimanapun, ini akan tetap menjadi misteri, dan kita orang awam hanya bisa berspekulasi berdasarkan keterangan-keterangan.

Ibn Arabi di dalam kitab “Futuhat al-Makiyyah” menyatakan bahwa ada 84 kategori wali, dan 35 di antaranya memiliki batas pada masa tertentu. Keterangan dari Ibnu ‘Arabi ini juga dikutip oleh Syekh Yusuf an-Nabhani dalam kitab “Jami’ Karamah al-Auliya’.”

Kedudukan spiritual wali terdiri dari tingkatan-tingkatan dari yang tertinggi hingga yang terendah. Masing-masing derajat ini sesuai dengan tingkatan realisasinya. Tetapi ada beberapa pandangan tentang maqam atau kedudukan kewalian yang berbeda-beda, dan berikut ini beberapa di antaranya.

Menurut Syekh Hakim al-Tirmidzi, ada lima kategori umum wali:

– Al-Budala (البدلاء), wali-wali pengganti, yang berada pada derajat kedekatan
– Al-Akhyar (الأخيار) orang-orang pilihan, manusia yang memilih Allah dan karenanya Allah pun memilih mereka
– Al-Abrar (الأبرار), “orang-orang baik, mereka adalah orang-orang yang amalnya bebas dari segala sesuatu selain Allah
– Al-Muhadditsin (المحدثين), orang yang dijaga dengan kebenaran oleh Allah.
– Khatam al-Auliya’ (خاتم الأولياء), penutup para wali. Kedudukannya berada di atas semua kedudukan wali.

Menurut Syekh Husain Kamal, jumlah golongan wali dalam tradisi Tarekat Chistiyyah disebutkan ada:

– 1 orang Quthb al-Auliya’
– 70 orang Wali Nujaba
– 300 orang Wali Nugaba
– 500 orang Wali Akhyar
– 25 orang Wali Abrar,
– 4 orang Wali Autad, dan
– 40 orang wali Abdal.

Menurut Imam al-Hujwiry, berdasarkan keterangan para sufi ahli kasyaf ada:

– 1 orang Wali Quthb
– 3 orang atau 12 orang menurut Ibnu ‘Arabi wali Nuqaba
– 4 orang Wali Autad
– 40 orang Wali Abdal atau 7 orang versi Ibnu ‘Arabi
– 300 orang Wali Akhyar,
– 4.000 orang Rijalul Ghaib.

Lantas, bagaimana dalil tentang kebenaran keberadaan mereka?

نفع الله به ما عدة رجال الغيب وما الدليل على وجودهم (فأجاب) بقوله رجال الغيب سموا بذالك لعدم معرفة أكثر الناس لهم، رأسهم الغيث الفرد الجامع جعله الله دائرا فى الافاق الاربعة أركان الدنيا كدوران الفلك فى أفق السماء وقد ستر الله أحواله عن الخاصة والعامة غيرة عليه

Syekh Ibnu Hajar pernah ditanya tentang maqam kewalian Rijalul Ghaib (wali-wali yang tersembunyi) dan apa dalil tentang adanya kebenaran keberadaan mereka?

Imam Ibn Hajar menjawab, “Mereka dinamakan Rijalul Ghaib, sebab kebanyakan manusia tidak mengetahui keberadaan mereka. Mereka dipimpin oleh seorang wali yang bermaqam Al-Quthub al-Ghauts; tempat berputarnya empat arah dunia, sebagaimana berotasinya astronomi Galaxi di langit. Allah menyembunyikan keberadaan mereka dari orang-orang bermaqam khas maupun awam.”

Dimanakah Wali Ghauts itu berada?

وروى الخطيب فى تاريخ بغداد عن الكنانى أنه قال النقباء ثلاثمائة، والنجباء سبعون والبدلاء أربعون والأخيار سبعة والعمد أربع والغوث واحد. فمسكن النقباء المغرب ومسكن النجباء بمصر ومسكن الأبدال الشام والأخيار سياحون في الأرض والعمد زوايات الأرض، ومسكن الغوث مكة….الخ

Imam Al Khatib di dalam Kitab “Tarikhul Baghdad” dari Imam Al-Kanani berkata bahwa Wali Nuqaba berjumlah 300 orang, Wali Nujaba berjumlah 70 orang, Wali Budala’ (wali abdal) berjumlah 40 orang, Wali al-Akhyar berjumlah  7 orang, Wali al-Amd berjumlah 4 orang, sedangkan wali Al-Ghauts berjumlah 1 orang.

– Wali Nuqaba’ terbanyak di Maghrib/Di Barat.
– Wali Nujaba’  terbanyak di Mesir.
– Wali Abdal terbanyak di Syam.
– Wali Al-Akhyar berkelana di muka bumi.
– Wali Al-‘Amd berada di pojok Bumi.
– Wali Al-Ghauts berada di Makkah al-Mukarramah.

Jadi, jelaslah bahwa menurut keterangan dari para ulama yang masyhur menyatakan bahwa tugas dan kedudukan tempat tinggal Wali Quthub al-Qhauts itu bertempat tinggal Makkah al-Mukarramah.

Kebanyakan Quthb tersembunyi, atau hanya dikenal oleh wali tertentu, dan hanya sebagian kecil Quthb atau Sulthan al-Auliya’ yang masyhur dan dikenal banyak orang awam. Kadang-kadang Quthb baru dikenal banyak orang setelah dia meninggal dunia.

Ada pula memang kedudukan Wali Quthub ini diketahui semasa hidupnya sebagai seorang seorang wali Quthb, seperti maqam kewalian Quthub Al-Alimul Allamah KH. Zaini Abdul Ghani atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Guru Sekumpul. Namun, kepangkatan tersebut bukan atas pengakuan beliau sendiri, melainkan pengakuan dari wali-wali besar di zamannya.

Kadang-kadang Quthb terang-terangan menyatakan diri sebagai Quthb kepada murid tertentu, atau “ketahuan” sebagai Quthb oleh murid tertentu.

Misalnya, Kiai Kholil dari Bangkalan, Madura, pernah mengaku secara terus-terang kepada Kiai Ridwan bahwa dirinya ialah Quthb, namun beliau berpesan agar kedudukan ini tidak disebarluaskan ke khalayak umum sebelum dirinya meninggal. Hal yang sama juga terjadi dalam kasus Kiai As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo.

Dalam kasus ini kedudukannya “ketahuan” oleh salah seorang muridnya setelah sang murid bertemu dengan seorang wali di Mekkah yang menyuruhnya membacakan ayat tertentu (surah an-Nisaa’ [4]: 41) kepada Kiai As’ad.

Ayat ini membuat Kiai menangis selama hampir sejam, dan terbukalah kedudukan. Tetapi, Kiai As’ad juga berpesan agar rahasia ini tidak diungkapkan sebelum dirinya meninggal.

Walhasil, memang tidaklah mudah mengetahui secara persis dan pasti keberadaan para Wali Allah ini, sebab mereka termasuk para kekasih Allah yang memang sejatinya keberadaan mereka disembunyikan oleh Allah, ditambah tabiat para Wali itu sejatinya merupakan para hamba Allah yang senang menyembunyikan ibadah, maqam serta ahwal mereka. Mereka para hamba Allah yang mukhlisin.

Wallahu a’lam bisshawwab

Penulis: Tg. DR. H. Miftah el-Banjary, MA
Editor: Khoirum Millatin

Artikel

Tokoh-Tokoh Tarekat Di Aceh Dan Biografinya

Published

on

Dari banyak ulama di Aceh, ternyata ada empat ulama besar yang sangat berpengaruh. Riwayat empat ulama ini bersumber dari Buku ‘Paham Wujudiah’ karya Abuya Syekh Prof. Dr. Tgk H. Muhibbuddin Muhammad Waly yang dirangkum dalam ‘Sejarah Aceh’. Berikut nama dan kisah singkat empat ulama masyhur tersebut:

1. Syekh Hamzah Fansuri

Syekh Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi terkenal di Aceh. Ia lahir di Fansur Singkil, Aceh. Ia hidup pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 -1604 atau 997-1011 Hijriyah) hingga awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Ia merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Ia ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yakni Abdurrauf Singkil Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Ia menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan Sayyid Mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan, bahwa ia lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

Ketika pengembaraannya selesai dari Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk mencari ilmu makrifat terhadap Allah Swt, Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil. Di pesantren itulah (ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) ia dimakamkan tepatnya di sebuah pekuburan di desa tersebut.

2. Syekh Syamsuddin As-Sumatrani

Ia adalah tokoh ulama besar dan pengarang kenamaan di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatrani. Sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Ia menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, Ia memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Ia dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.

Ia juga pernah diangkat menjadi Qadi Malikul Adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Ia mengetuai Balai Gading (balai khusus yang dianggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun ia berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk Syekh Nuruddin. Ia meninggal dunia pada tahun 1630 M di zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan dan fatwa-fatwa yang ia tinggalkan. Di antaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Ia adalah seorang ulama besar fiqh dan tasawuf. Seorang pelaut Belanda bernama Frederick de Houtman (1599 M/1008 H) yang ditawan di Banda Aceh, menyebutkan dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang syekh dan juga penasehat agung raja.

3. Syekh Nuruddin Ar-Raniry

Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasani bin Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisyi asy-Syafi’ie. Ia wafat pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di kota kelahirannya di Kota Pelabuhan Ranir (Rander) Gujarat India. Sayang, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Ia seorang ulama besar, penulis, ahli fikir di India yang merantau dan menetap di Aceh. Ia lahir sekitar pertengahan ke dua abad ke-16. Pendidikan awalnya dalam masalah keagamaan ia peroleh di tempat kelahirannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Tarim, Yaman. Tarim adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu. Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi saw. pada 1621 M (1030 H), ia kembali ke India.

Setelah kembali ke India dan mengajar, di samping sebagai Syekh Thariqah Rifa’iyyah ia merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam di kawasan Asia Tenggara menggantikan Malaka yang jatuh ke tangan Portugis.

Berkat kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan tercatat sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab Syafi’i. Hubungan baik Syekh Nuruddin dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Ia pernah menentang Paham Wujudiyah yang berkembang di Aceh pada masa itu. Untuk menyanggah Paham Wujudiyah yang dinilainya sesat itu ia sengaja menulis beberapa kitab.

Al Quraisyi pada laqab namanya menunjukkan bahwa ia berasal dari kabilah terhormat yaitu Quraisy. Ia berthariqah Rifa’iyyah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Abdurrauf Al-Fansuri. Sebab, semuanya sama-sama pengikut thariqah suffiyah dan bermazhab Imam Syafi’i.

4. Syekh Abdurrauf As-Singkili

Ia adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah lahir di Aceh pada abad ke-17. Sedangkan tiga ulama lainnya adalah Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putera dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri.

Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda. Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, ia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada dalam kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.

Syekh Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah Ia sampai di Mekkah dan Madinah Ia melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat.

Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqah Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya Ibrahim al-Qur’ani, ia memperoleh ijazah dari pimpinan thariqah tersebut. Banyak guru-guru besar yang memberikan ijazah ilmu pengetahuan kepadanya selama 19 tahun menuntut ilmu. Ketika pulang ke Aceh, Syekh Abdurrauf menjadi ulama besar yang memiliki ilmu yang luas. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), peranannya sebagai pengajar Thariqah Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang pulang ke Aceh.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Artikel

Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Published

on

Ilustrasi

Syaikh an-Naqsyabandî berguru ilmu tarekat kepada Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî kemudian kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl. Sedangkan Sayyid ‘Amir Kulal berguru kepada Syaikh Muhammad Baba as-Sammâsî. Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî berguru kepada ‘Ali ar-Râmîtanî yang lebih dikenal dengan nama Syaikh al-‘Azîzân. Syaikh al-Azîzân berguru kepada Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawî.

Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawi berguru kepada Syaikh ‘Ârif ar-Rîwakirî yang berguru kepada Syaikh ‘Abdul Khalîq al-Ghuzduwânî yang berguru kepada Syaikh Abi Ya’qûb Yûsuf al-Hamadânî yang berguru kepada Syaikh Abi ‘Ali al-Fadhal bin Muhammad ath-Thusi al-Fâramadî yang berguru kepada Syaikh Abil Hasan ‘Ali bin Abi Ja’far al-Kharqânî.

Syaikh Abil Hasan ‘Ali berguru Kepada Abi Yazid Thaifur bin ‘Îsa al-Busthâmî yang berguru kepada Syaikh Imam Ja’far ash-Shâdiq yang berguru kepada kakeknya Sayyid al-Qâsim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq yang dari Salmân al-Farîsî yang memperoleh dari Abi Bakar ash-Shiddîq yang memperoleh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Syaikh an-Naqsyabandî juga berkata, “Di antara pertolongan Allah yang diberikan kepadaku adalah kopiah kakek guruku (Syaikh al-‘Azîzân) telah sampai kepadaku sehingga keadaanku semakin baik dan harapanku semakin kuat. Yang demikian itu membuatku dapat mengabdi kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl dan memberi tahuku bahwa Syaikh as-Sammâsî mewasiatkan diriku kepadanya.”

Semakin hari Sayyid ‘Amîr Kulâl semakin memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membimbingnya. Setelah bekal bimbingan yang diberikan dirasa sudah cukup, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Wahai anakku, aku telah melaksanakan wasiat Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî untuk membimbingmu.”

Seraya menunjuk ke arah susunya, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Engkau telah menyusu pendidikan kepadaku. Tingkat penyerapanmu terhadap apa yang aku ajarkan sangat tinggi dan keyakinanmu sangat kuat. Oleh karena itu, aku mengizinkan engkau mencari ilmu ke beberapa orang guru. Engkau dapat mengambil ilmu dari mereka sesuai dengan kemauanmu yang besar.”

“Sejak saat itu, aku terus menerus mendatangi ulama untuk memetik ilmu syariat dan mencari ilmu Hadis serta akhlak Rasulullah dan para sahabat sebagaimana telah diperintahkan kepadaku,” papar Syaikh an-Naqsyabandî.



Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending