CSRC Gelar Seminar Infiltrasi Radikalisme di Kalangan Mahasiswa dan Strategi Pencegahannya

TANGSELCenter for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan HIQMA mengadakan Seminar ‘Infiltrasi Radikalisme di Kalangan Mahasiswa dan Strategi Pencegahannya’ pada Senin (23/9) di Ruang Diorama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, Tangerang Selatan.

Dalam kesempatan itu Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, Lc., MA menjadi Keynote Speaker. Ibu Rektor yang dilantik di awal 2019 itu menyampaikan materi tentang ‘Strategi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam Mewujudkan UIN Sebagai Rumah Moderasi Beragama’.

“UIN Jakarta bertekad untuk menjadi Rumah Moderasi Beragama,” ucap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat Bidang Perempuan itu.

Seminar yang dihadiri oleh sekitar 140 peserta dari sivitas akademika UIN Syarif Hidayatullah ini menghadirkan para pembicara diantaranya, Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME (Direktur Pencegahan Terorisme BNPT RI), Dr. Ade Armando, M.Sc (Dosen Fisip Universitas Indonesia) dan Irfan Abubakar MA (Senior Researcher CSRC UIN Jakarta). Serta dipandu dan dimoderatori oleh Sholehudin Aziz.

“Infiltrasi Radikalisme seringkali terjadi dalam suasana politik yang tidak menentu,” ucap Prof. Azra mengawali pembicaraannya. Ia melihat eskalasi ketegangan politik yang terjadi belakangan ini kemudian memberikan peluang kepada kelompok radikal.

“Untuk sederhananya, untuk kepentingan diskusi radikalisme itu orang orang-orang yang menolak Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika mau mengimpor bentuk negara tertentu dari timur tengah dari ISIS. Itu saja sederhananya radikal,” terang cendekiawan muslim yang mendapat gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris.

Seminar ini digelar karena mahasiswa mengalami kerentanan terhadap radikalisme. Prof. Azra menuturkan bahwa dari berbagai penelitian dan pengakuan mereka yang keluar dari sel-sel radikal dan ekstrem mengisyaratkan, mahasiswa Perguruan Tinggi Umum (PTU) lebih rentan terhadap rekruitmen daripada mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Khususnya kata mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah itu, mahasiswa di bidang eksakta, sains dan teknologi yang cenderung hitam putih. Berbeda dengan mahasiswa PTKI yang mendapat keragaman perspektif tentang Islam yang cenderung lebih terbuka dan penuh nuansa.

Prof. Azra menyampaikan 2 rekomendasi prioritas upaya strategis mencegah masuknya radikalisme di kampus, yaitu revitalisasi mata kuliah (MK) tertentu yang bersifat “ideologis”, yaitu MK Pancasila, MK pendidikan kewargaan, dan MK Agama. Kedua, revitalisasi organisasi kemahasiswaan baik ekstra maupun intra kampus.

Mantan Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah itu menganjurkan agar organisasi ekstra yang dilarang masuk kampus sejak masa NKK/BKK harus diizinkan kembali masuk kampus, sehingga dapat memunculkan kontra-wacana dan kontra-gerakan terhadap kelompok/sel radikal (pasca-pelarangan HTI kini menjadi OTB) yang masih beroprasi bebas di kampus.

Sedangkan Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME menuturkan bahwa masuknya radikalisme dan ekstrimisme ada di tiga tempat. “Pertama lembaga pendidikan, kedua pondok pesantren dan ketiga di masjid,” ucap Direktur Pencegahan Terorisme BNPT RI.

Temuan menarik yang dipaparkan Brigjen Pol. Hamli ialah latar belakang pendidikan yang paling tinggi terpapar radikalisme dan terorisme ialah orang dari fakultas kedokteran dan teknik, kedua adalah sains, ketiga adalah ekonomi.

Selian itu, mentoring mahasiswa juga amat menentukan pemahaman yang beredar di kalangan mahasiswa, sehingga ia mengingatkan untuk mengawasi kegiatan mentoring. Sebab bibit radikalisme dan terorisme masuk juga lewat mentoring.

Menurut Brigjen Hamli, Intoleransi adalah pintu masuk radikalisme, dan radikalisme itu pintu masuk terorisme. Dalam kesempatan itu ia menyebut daya tangkal berkembangnya radikalisme dan terorisme.

“Daya tangkal yang paling utama adalah kearifan lokal,” tegas Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME.

Ada dua pendekatan, tambah Brigjen Hamli, pertama yang hard atau yang macam-macam langsung ditangkap, dan kedua dengan soft melalui kurikulum pendidikan.

Hasil penelitian CSRC pun menunjukkan bahwa keanggotaan dan aktivisme organisasi merupakan faktor penting mencegah terjerumusnya seorang ke dalam gerakan radikal dan ekstrim.

Berdasarkan press release yang diterima JATMAN Online, seminar ini untuk membahas secara lebih mendalam dan detail tentang pola radikalisasi di kalangan mahasiswa untuk kemudian diturunkan menjadi strategi pencegahannya atau bahkan penanganannya. Diharapkan melalui seminar ini mampu menumbuhkan kesadaran sivitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam perannya untuk mewujudkan UIN sebagai rumah moderasi beragama.

Sebagai informasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah memasukkan semangat moderasi beragama dalam program pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) mahasiswa baru. Dengan mengusung PBAK Moderat 2019 dengan tema ‘Terwujudnya Mahasiswa Akedemis, Kritis, Inovatif dalam mengamalkan nilai-nilai Ke-Islaman dan Ke-Indonesia-an’. (eep)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...