Cinta Perdamaian, Cinta Persatuan

Dalam beberapa hari terakhir, ada dua perbincangan yang menyeruak di masyarakat. Pertama ialah kontroversi video ceramah ustadz Abdusshomad. Kedua, ucapan rasis yang terjadi di Malang dan Surabaya. Keduanya berbuntut pro dan kontra. Bahkan perkataan rasis dari oknum aparat di Surabaya memicu kerusuhan di tanah Papua. Di tengah risak-risak perdebatan dua kasus ini, baik kiranya masyarakat tetap tenang. Tidak mudah terprovokasi, seraya mengedepankan dialog dan semangat persatuan.

Penting kiranya, kedua peristiwa ini menjadi momentum untuk saling berbenah. Bahwa di tengah derasnya kanal informasi dan media sosial, bangsa Indonesia harus lebih bisa dewasa dalam mengeluarkan pernyataan dan pendapat. Siapa sangka, satu dua kata yang terucap di Surabaya dapat menyebabkan amuk massa di Papua. Begitu juga, pengajian yang disampaikan dalam satu majelis dapat berbuntut pada pengaduan. Selain itu, juga mesti mewaspadai pihak yang memperkeruh suasana. Mengeruk keuntungan dari emosi masyarakat dan perpecahan anak bangsa.

Seraya berharap proses penyelesaiannya dapat berjalan dengan baik, penting kiranya kita menengok kembali ajaran-ajaran mulia Islam yang mengedapankan cinta perdamaian dan cinta persatuan. Agama telah memberikan panduan hidup untuk mengelola perbedaan di muka bumi ini. Bahkan jelas ditegaskan bahwa perbedaan itu merupakan sunnatullah. Perbedaan warna kulit, bahasa, suku, dan agama adalah ketentuan Allah ta’ala.

Dalam surat al-Rum ayat 22, Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Q.S: al-Rum: 22).

Dalam kitab Tafsir al-Wajiz, Syaikh Wahbah al-Zuhaili (1932-2015) menjelaskan bahwa orang yang berakal dan berilmu akan dapat memahami bahwa keragaman bahasa dan warna kulit adalah niscaya. Keragaman ini merupakan tanda kemahakuasaan Allah. Beragam sistem bahasa dengan kerumitan dan kekhasannya masing-masing tidak mungkin ada tanpa adanya kekuasaan Allah ta’ala. Demikian halnya, penciptaan langit dan bumi. Tanpa kekuasaan Allah, langit tidak mungkin dapat berdiri kokoh, meskipun tanpa tiang penyangga. Semua ini tidak lain sudah dikehendaki oleh-Nya. Perbedaan tidak dapat dimungkiri. Serta tidak mungkin diseragamkan.

Di dalam ayat lain, dijelaskan bahwa seandainya Allah swt menjadikan manusia seisi bumi ini beriman, tentunya mudah saja. Akan tetapi hal ini tidak menjadi kehendak-Nya. Terbukti, hingga kini, peradaban manusia memiliki keragaman bahasa, budaya, agama, dan kepercayaan. Karena itu, tidak perlu kiranya dalam kehidupan sehari-hari kita menjadikan perbedaan warna kulit dan kepercayaan sebagai bahan untuk saling mengejek dan merendahkan. Sebaliknya, kita berupaya menemukan hikmah dan pelajaran di balik keragaman tersebut.

Terkait hal ini, Allah ta’ala berfirman, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (Q.S. Yunus: 99).

Imam Ibnu Katsir (700-774 H) dalam kitab Tafsir Ibni Katsir menjelaskan bahwa ketentuan ini tidak lepas dari adanya hikmah dan keadilan Allah ta’ala. Manusia di muka bumi ada yang beriman, ada pula yang tidak. Para Rasul hanya diperintahkan untuk mengajak, sedangkan hidayah adalah milik Allah ta’ala. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk memaksakan dan menyeragamkan kepercayaan. Demikian halnya, perbedaan dan keragaman Indonesia tidak semestinya dijadikan sebagai benih perpecahan dan saling memaksakan.

Dari titik ini, dapat kita pahami bahwa keragaman dan perbedaan warna kulit, suku, dan agama tidak lain adalah sunnatullah. Tinggal bagaimana kita dapat mengelola keragaman ini menjadi titik tolak untuk saling berlomba dalam kebaikan. Perbedaan menjadi media untuk saling mengenal dan bekerja sama. Bukan untuk saling mencela dan merendahkan. Indonesia tidak akan dapat menjadi negara maju jika tanpa didasari dengan semangat persatuan. Maka dari itu, sesama anak bangsa harus mengedepankan rasa saling menghormati dan menghargai, serta selalu berupaya memperkuat tali persaudaraan.

Trilogi Ukhuwah
Islam melalui keteladanan Rasulullah saw menekankan urgensi hubungan kasih sayang dengan sesama manusia. Karena itu, ukhuwah merupakan salah satu ajaran sentral dalam Islam. Secara garis besar, persaudaraan terbagi ke dalam tiga cakupan. Ketiganya ialah ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariah. Istilah ukhuwah islamiyah menunjukkan makna persaudaraan antar sesama Muslim, tanpa melihat perbedaan warna kulit, bahasa, suku, bangsa dan kewarganegaraan. Pengikat persaudaraan ini adalah kesamaan keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Setiap Muslim wajib menjaga dan mewujudkan ukhuwah islamiyah dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan pendapat, organisasi, bahkan pilihan politik antar sesama Muslim tidak sewajarnya jika harus mengorbankan tali silaturahmi. Atau bahkan saling bermusuhan dan merendahkan. Dalam surat al-Hujurat ayat 11 dan 12 dijelaskan enam sikap dan perbuatan yang dilarang oleh Allah swt. Larangan ini erat kaitannya dengan hakikat makna ukhuwah islamiyah. Mulai dari larangan memperolok-olok orang lain, mencaci orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan dan menghina, memanggil orang lain dengan sebutan yang tidak disukai, berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan saling menggunjing.

Sedangkan ukhuwah wathaniyah dapat terlihat dari cara atau upaya yang dilakukan Rasulullah ketika menyatukan karakteristik masyarakat Madinah yang heterogen. Rasulullah saw membuat konstitusi berdasarkan konsensus dari berbagai kelompok dan suku. Konsensus yang disusun oleh Rasulullah saw itu dikenal dengan Piagam Madinah. Yakni undang-undang dasar yang mengikat anggota masyarakat Madinah. Perbedaan suku, golongan, agama dan kepercayaan tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama menjaga keamanan bersama.

Mengenai ukhuwah basyariah, al-Qur’an menyatakan bahwa semua manusia berasal dari satu keturunan, yaitu Adam dan Hawa. Dengan demikian, semua manusia adalah bersaudara, karena mereka memiliki asal-usul yang sama. Hingga kini, meskipun manusia mendiami lima benua yang berbeda, tetapi hakikatnya mereka adalah saudara. Sama-sama sebagai keturunan Adam dan Hawa. Karena faktor lingkungan hidup yang berbeda, mereka memiliki warna kulit, bahasa, dan budaya yang berbeda.

Dalam surat al-Nisa ayat 1, Allah ta’ala berfirman, “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari pandanya, Allah menciptakan istrinya. Dan dari keduanya, Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. al-Nisa’: 1).

Dari titik ini, dapat kita garis bawahi bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan cinta perdamaian dan persatuan. Di balik keragaman yang menjadi sunnatullah, semangat persatuan dan persaudaraan harus senantiasa dikedepankan. Jika hal ini dapat disadari dan dipraktikkan dengan baik oleh umat Islam, niscaya Islam akan mengejawantah menjadi rahmat bagi alam semesta. Demikian halnya, dengan semangat persatuan dan persaudaran ini, bangsa Indonesia akan semakin maju dan bermartabat. Semoga.

Oleh: Rubiyanah
Tulisan ini juga dimuat dalam: Buletin Muslim Muda Indonesia, Edisi 57/Jum’at, 23 Agustus 2019
https://drive.google.com/file/d/1_qMknUUUV1SRiuQRcSPmw-OOKLOAampb/view

Komentar
Loading...