Cara Mendapat Karamah Dengan Dzikir dan Pikir

0

JAKARTA – Karamah adalah kemuliaan, kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia-manusia yang Allah ridhai segala upaya atau amal shalihnya. Di antara amal yang Allah ridhai adalah Dzikir dan Pikir, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat Ali Imran (3) ayat 190-191, yang dengan itu muncul keimanan yang terekspresikan berupa doa pada beberapa ayat sesudahnya.

Dzikir adalah upaya manusia dalam mengenali Allah. Pikir adalah upaya manusia dalam memahami fenomena (kejadian-kejadian) alam. Dengan hidayah Allah, dzikir selain membuat manusia mengenal Allah, juga memperkuat motivasi untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, menyerap akhlak Allah, lalu menggairahkan seseorang untuk melakukan amal kebajikan buah kesucian diri (virtus ex sanctus) bagi kemanfaatan makhluk-makhluk sekitarnya. Ia berkarya “atas nama Allah (bismillah)” sebagai “abdullah sekaligus khalifatullah”.

Pikir, dengan membuat orang lebih memahami fenomena alam, dapat memotivasi manusia untuk memanfaatkan hukum-hukum alam yang dipahaminya, maka lahirlah teknologi yang juga membuat manusia lebih mampu menjalankan tugas sebagai khalifah Allah di bumi, menghasilkan karya-karya kebajikan yang bermanfaat bagi segala makhluk. Semua dengan taufik dan hidayah dari Allah. Contohnya dapat terlihat dari sebuah video Franky Zapata yang dapat terbang melintasi selat Inggris. Tanpa aktifitas pikir, juga tanpa taufik dan hidayah Allah, itu tidak akan pernah terjadi.

Sebagai informasi, Franky Zapata adalah seorang pilot perahu pribadi Prancis profesional yang merupakan penemu Flyboard dan Flyboard Air dan pendiri Zapata Racing.

Pikir yang tanpa taufik dan hidayah Allah dapat membuat manusia menjadi takabbur, lalu menjadi tiran yang menzalimi orang lain. Hal yang sama dapat terjadi dengan dzikir, atau kita katakan dzikir yang keliru. Tanpa taufik dan hidayah Allah, dzikir dapat membuat orang menjadi “pasrah bongko’an”, menyelubungi diri dengan “tawakkal” tapi yang terjadi adalah kemalasan untuk bekerja. Juga “kesucian dan kedekatan dengan Allah” dapat memunculkan pemujaan dan ubudiyah baru bagi pengikut-pengikutnya sehingga sang “sufi” tersebut menjadi “thaghut” yang justru menghalangi orang untuk beragama secara “hanifan” dan menghasilkan karya-karya kebajikan yang bermanfaat (amal shalih).

Dzikir dan Pikir, tetap memerlukan taufik dan hidayah Allah. Ada para nabi, para ulama aulya’ullah pewaris nabi. Teruslah menjadi sufi yang berdzikir, sekaligus ilmuwan yang berpikir, dalam bimbingan taufik dan hidayah Allah yang, antara lain, disampaikan melalui para Mursyid yang ulama auliya’ullah pewaris para Nabi.

Oleh: KH. Wahfiudin Sakam

Comments
Loading...