Buka Munas dan Konbes NU, Presiden RI: Saya Titip, Jaga Persaudaraan!

BANJAR – Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo memberi kata sambutan pada acara pembukaan sekaligus membuka Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Ponpes Miftahul Huda Al Azhar, Citalongko, Banjar, Jawa Barat (27/2). Beliau menyampaikan kepada segenap para alim ulama khususnya kepada jam’iyyah NU untuk menjaga persaudaraan dan keutuhan bangsa.

Dalam sambutannya Presiden menyampaikan terima kasih kepada NU atas kontribusinya selama ini.

“Terima kasih kepada jam’iyyah NU, karena NU sebagai jam’iyyah terbesar di Indonesia bahkan di dunia, sudah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perjuangan menjaga dan merawat negara besar Indonesia yang kita cintai bersama. Sejarah telah membuktikan NU selalu berada di garis terdepan bukan saja dalam merebut kemerdekaan tapi juga dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hubbul wathan minal iman,” kata orang nomor satu di Indonesia.

Menurutnya, NU juga yang terdepan dalam mencegah siapapun yang ingin mengganti dasar negara kita Pancasila, yang mencoba mempertentangkan Pancasila dengan Islam. Bagi NU Pancasila adalah solusi kebangsaan, konsensus berbangsa dan bernegara dan Indonesia adalah negara kesepakatan yang memebawa kita untuk mencapai keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Presiden ke 7 RI menyambut gembira dengan adanya Munas dan Konbes NU siang itu. Dia juga mengapresiasi tema yang dipilih dalam Munas dan Konbes tersebut.

Presiden RI Ir. H. Joko Widodo.

“Saya juga menghargai dan mengapresiasi setinggi-tinginya tema yang dipilih yakni “Memperkuat Ukhwwah Wathaniah Untuk Kedaulatan Rakyat”. Tema ini sangat penting, karena menegaskan komitmen yang kuat dari NU untuk menguatkan ukhwah kebangsaan kita demi kedaulatan bangsa Indonesia tercinta,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau bercerita tentang Ibu Rula Ghani, istri dari Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang mengatakan padanya bahwa Afghanistan 40 tahun yang lalu adalah negara yang aman dan tentram. Afganistan juga memiliki deposit emas, minyak dan gas salah satu yang terbesar di dunia, namun problem di mulai saat 2 suku bertikai dari 7 suku yang ada.

“Di Afghanistan ada 7 suku, dan kalau sudah terjadi perang, mempersatukannya sangat sulit sekali,” ucap Presiden yang mengenaan sorban putih.

Ia melanjutkan, “pesannya kepada saya, Indonesia negara besar, ada 714 suku, hati -hati pak Presiden, jangan sampai ada konflik sekecil apapun di negaramu, cepat diselesaikan, cepat rukunkan kembali, cepet dirampungkan. Ukhwah persaudaraan itu hal yang sangat penting baik itu ukhwah wathaniyah, ukhwah islamiyah, ukhwah insaniyah, beliau sampaikan sambil menitikkan air mata” ujarnya menirukan pesan Ibu Negara Afghanistan.

Dalam acara yang dihadiri jajaran pengurus NU, kabinet kerja, wakil ketua MPR, Syaikh Taufik Ramadhan al Buthi (Syiria) dan Syaikh Musthafa Zahran (Mesir), Presiden mengajak untuk menjaga persaudaraan.

“Saya mengajak kepada kita semua untuk menjaga ukhwah kita, ukhwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa setanah air) sesuai tema Munas dan Konbes kali ini,” tuturnya.

Pesannya yang kedua adalah berkaitan dengan sudah datangnya era revolusi industri 4.0, semua pihak menurutnya harus siap dan menyiapkan diri jangan sampai ketinggalan tapi juga jangan pesimis, tetap optimis menyambut revolusi industri jilid empat, dia menyampaikan perlu strategi besar dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan yang terpenting, cepat bertindak.

Terakhir, mengenai hoaks dan fitnah yang meresahkan dan beredar di masyarakat, beliau menghimbau kepada alim ulama yang hadir untuk mencegah dan meresponnya. (eep)

Komentar
Loading...