Bolehkah Seorang Murid Dalam Tarekat Mendambakan Karamah?

Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri pada Allah melalui bimbingan guru Mursyid. Banyak orang memilih jalan (tarekat) karena dinilai lebih memudahkan karena sudah ada ‘paket komplit’ mulai dari ajaran, guru yang membimbing hingga metode dan perkumpulannya.

Namun terkadang ada pengamal tarekat atau salik dalam bertarekat justru berniat mendapatkan karamah hingga berbagai kelebihan dari Allah Swt. Misalnya dengan bertarekat berharap harta berlimpah, jabatan meningkat, ingin mendapatkan kedigdayaan, kekuatan, hingga kesaktian tertentu.

Lalu bolehkah seorang murid dalam tarekat mendambakan karamah dan semisalnya itu?

Imam Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam Risalatu Adabi Suluk Al Murid menyatakan bahwa diantara yang paling membahayakan bagi seorang murid tarekat ialah keinginan mencari mukasyafah (tersingkapnya tabir) dan mendambakan karamah serta kejadian-kejadian yang luar biasa (khawariqul ‘adah).

Karamah dan yang tersebut di atas justru tidak akan nampak bagi orang yang berhasrat untuk menampakkannya. Karena kata Habib Abdullah, secara umum, karamah itu tidak akan nampak kecuali pada orang yang tidak menyukainya dan tidak menginginkannya.

Mujaddid Tarekat ‘Alawiyah ini mengatakan bahwa terkadang orang yang tertipu mengira bahwa ia mendapatkan karamah, padahal sejatinya itu istidraj. Orang itu mendapatkan istidraj sebagai ihanah (bentuk penghinaan atau perendahan) bukan karamah. Karena karamah itu akan nampak bagi mereka yang istiqamah.

Karamah Yang Hakiki

Ulama asal Yaman dalam karyanya yang lain, An Nafais Al ‘Ulwiyyah Fil Masa’il As Shufiyyah menuturkan bahwa dikhawatirkan nantinya murid ini justru tekun dan bersungguh-sungguh ibadah karena mencari karamah, mukasyafah dan kelebihan lainnya.

Foto: Engin Akyurt.

Beliau menjelaskan bahwa jika seorang murid menginginkan seperti melipat bumi, memperoleh berita-berita gaib dan yang menyerupai itu, maka hasratnya itu tergolong kepentingan duniawi dan tujuan pribadi, inilah karamah palsu yang tidak hakiki (karamah shuriyah).

Namun jika yang dicarinya ialah karamah hakiki (karamah haqiqiyah) seperti bertambahmya iman dan keyakinan, bisa mempraktekkan zuhud di dunia, senang dengan akhirat dan semisalnya, maka kesenangannya itu dinilai terpuji (mahmudah).

Dengan uraian tersebut maka jelas, bahwa menjadi pantangan bagi seorang murid dalam tarekat untuk mencari karamah yang tidak hakiki atau tujuan selain yang direstui Allah Swt. Sebagaimana ungkapan yang lazim dalam tarekat.

الهي أنت مقصودي ورضاك مطلوبي

“Tuhanku, Engkau lah maksud dan tujuanku, ridha-Mu lah yang kucari”.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...