Bisnis Startup di Persimpangan Jalan?

Adanya tren Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sejumlah perusahaan startup menimbulkan tanda tanya. Apakah bisnis ini, kini tengah berada di simpang jalan? Bagaimana prospek bisnis start up ke depan?

Padahal startup atau perusahaan rintisan, diketahui belakangan ini menjadi alternatif bagi para job seeker, terutama kalangan milenial, sebagai tempat berkarir. Pencitraan positif para owner yang rata-rata anak muda, gaji yang besar, serta lingkungan kerja yang cozy ala milenial, membuat bekerja di perusahaan startup memiliki daya tarik tinggi.

Kini, era ‘bakar uang’, sebuah istilah untuk bisnis yang belum memberi keuntungan dan hanya mengandalkan investasi, di perusahaan-perusahaan startup itu tampaknya mulai meredup. Sejumlah investor bahkan ada yang “kapok” lalu menarik investasinya.

Startup adalah perusahaan baru yang sedang dikembangkan. Bisnis ini mulai berkembang pada akhir tahun 90-an hingga tahun 2000. Startup kemudian dikenal sebagai perusahaan berbasis teknologi informasi (IT).

Apakah perusahaan startup masih bisa diharapankan bagi perekonomian negara di masa depan?

Sebagai gambaran, mungkin kita bisa melihat sejumlah perusahaan startup berikut ini, yang ternyata secara bisnis tidak “semanis” seperti apa yang dicitrakannya:

WeWork

WeWork kerap dipakai sebagai contoh kegagalan bisnis startup. Perusahaan yang berpusat di Amerika Serikat ini pernah menjadi tren coworking space pada tahun 2010.

Sayangnya, model bisnis ini terbukti gagal karena sampai sekarang masih belum bisa juga menghasilkan keuntungan.

WeWork merugi hingga 1,94 milyar USD atau sekitar Rp 26 triliun di 9 bulan pertama pada tahun 2019, sebagaimana dikutip Stasista. Kerugian ini hampir saja membuat perusahaan startup ini bangkrut, sebelum akhirnya diselamatkan oleh investor utama mereka, SoftBank dari Jepang.

Uber

Nama Uber sempat moncer dalam bisnis aplikasi online di Indonesia sebelum akhirnya hengkang karena tidak mendapat keuntungan.

Sejak didirikan tahun 2009 Uber memang telah berhasil merombak cara masyarakat berpergian dengan transportasi umum.

Meski nilai perusahaan tersebut melejit hingga mencapai sekitar 69 milyar USD atau setara Rp 944 triliun, nyatanya sampai sekarang Uber masih belum bisa menghasilkan keuntungan.

Konon, Uber menangguk kerugian hingga 8,5 milyar USD, setara Rp 116 triliun pada tahun 2019. Walaupun perusahaan tersebut menargetkan bakal meraih untung di akhir 2020 tapi masih diragukan sejumlah kalangan, karena belum jelas bagaimana caranya.

Sea Group

Sea Group adalah induk perusahaan dari Shopee, yang sekarang dikenal sebagai situs jual beli yang diperhitungkan di Indonesia. Selain Shopee, Sea Group juga punya Garena. Uniknya, perusahaan ini mulai mengambil untung dari Garena, tapi tidak demikian dari Shopee yang masih banyak “bakar duit”.

Karena itu, seperti dikutip dari Business Wire, kerugian Sea Group menyentuh angka 1,17 milyar USD atau sekitar Rp 16 triliun di 9 bulan pertama pada tahun 2019.

Beruntung Sea Group punya game battle royale Free Fire yang berhasil meraih sukses. Tapi keuntungan dari game itu masih belum bisa menutup kerugian Shopee.

AirBnB

Airbnb adalah jaringan pasar daring dan penginapan rumahan sejawat yang memungkinkan penggunanya mendaftarkan atau menyewa properti untuk digunakan dalam jangka pendek. Harga sewanya ditetapkan oleh pemilik properti sendiri.

Meskipun AirBnB memiliki model bisnis dengan modal yang relatif kecil, tapi mereka juga sampai saat ini masih belum bisa mendapat keuntungan.

Perusahaan ini, sebagaimana dilansir The Information, rugi total sebesar 306 juta USD, setara Rp 4,1 triliun pada 3 bulan pertama tahun 2019.

Traveloka

Traveloka cukup bisa diandalkan bagi para pelancong yang mencari tiket dengan harga terjangkau, karena banyak promo. Namun, hingga saat ini mereka juga masih pada tahap “growth mode”, kata lain dari belum mendapat untung.

Dalam catatan, pada akhir tahun 2018, Traveloka “bakar uang” ratusan miliar untuk mencaplok kompetitornya, Pegipegi.

OVO

Tentu Anda kenal dengan OVO. Aplikasi dompet digital yang banyak menawarkan promo cashback. OVO adalah favorit bagi konsumen, tapi tahukah Anda ternyata bisnisnya tidak masuk di akal.

Investor besar sekelas Lippo Group saja memutuskan melepas mayoritas sahamnya dari OVO. Mochtar Riady, pemilik Lippo menganggap model bisnis OVO tak masuk akal.

Konon, OVO telah menghabiskan 50 juta USD atau sekitar Rp 684 miliar per bulan untuk paket promo seperti cashback demi menggaet konsumen.

Go-Jek

Ini startup paling fenomenal di Indonesia, mengikuti kesuksesan pendahulunya, Uber di Amerika, pendirinya Nadiem Makarim yang sekarang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Go-Jek berdiri pada tahun 2011 dan dengan cepat menjadi perusahaan raksasa.

Tapi apakah Go-Jek sudah menguntungkan?

Nadiem sendiri kepada Reuters pernah mengutarakan bahwa perusahaan rintisannya masih dalam tahap “bakar duit”. Tapi Go-Jek terus berinovasi, ia mulai menyediakan layanan lain seperti Go-Food, dan kabarnya sudah mulai menghasilkan keuntungan.

Di Indonesia, masih banyak lagi perusahaan startup yang kondisinya tak jauh berbeda dengan yang sudah disebutkan. Betulkah bisnis mereka serapuh itu? Tentu waktu yang akan membuktikan.

Tapi jika iya, bisnis startup berarti sedang di persimpangan jalan. Akan terus lanjut dengan segala risikonya atau investor kembali melirik model-model bisnis yang sudah pasti memberikan keuntungan.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...