Biarkan Semesta Mengalir

0

Perubahan adalah keniscayaan alam semesta. Tak ada yang tak berubah, kecuali Tuhan. Aku masih ingat. Pada saat mengaji ilmu “Mantiq” (logika Aristotelian) di pesantren dahulu kala,  ada premis-premis logika yang menyebutkan, “Al-‘Alam Mutaghayyir wa Kullu Mutaghayyir Hadits. Yuntij al-‘Alam Hadits”. Alam semesta berubah. Setiap yang berubah adalah baru. Dus, alam adalah baru. Kata ‘Alam bermakna segala selain Tuhan.

Perubahan itu terjadi setiap detik, dan tak seorangpun bisa menghentikannya. Diam bukan hanya akan ditinggalkan tetapi akan terlindas dan mati.

Filsuf Pakistan Moh. Iqbal dalam puisinya yang terkenal dan indah sudah menyampaikan: Di jalan ini tak ada tempat berhenti, sikap lamban berarti mati, siapa yang bergerak dialah yang terdepan. Berhenti –sejenak pun– pasti tergilas!

Maka kau tak perlu takut pada perubahan dan pembaruan. Sambut perubahan dan pembaruan itu dengan tangan terbentang dan berjalanlah ke depan dan jangan melamun masa lalu kembali hadir. Air selalu mengalir ke depan dan tak akan kembali ke asal.

Dalam buku Qawa’id al’Isyq al- Arba’un, (40 Kaedah Cinta), Syamsi Tabrizi, sang Darwish pengembara, guru Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan dengan indah: “Seyogyanya kau tak menolak perubahan-perubahan yang datang menghadangmu. Biarkan hidup berjalan mengalir di dalam dirimu. Tak usah pula kau gelisah bila hidupmu mengalami perubahan besar. Bagaimana kau bisa tahu bahwa apa yang biasa kau jalani selama ini lebih baik dari apa yang akan terjadi kelak?”

Oleh: KH. Husein Muhammad

Comments
Loading...