Connect with us

Tanya Jawab

Berapa Idealnya Usia Penganut Thariqah?

Published

on

Pertanyaan:

Berapa idealnya usia penganut thariqah itu?

Jawaban:

Kiai Ngadiyin Anwar, Mursyid Thariqah Naqsabandi Khalidi sekaligus Rois Idaroh Wustha JATMAN Jawa Timur menjelaskan jika idealnya penganut thariqah adalah orang yang ‘tua’. Kata ‘tua’ di sini bukan arti yang sesungguhnya, atau yang artinya umurnya sudah banyak. Melainkan seseorang yang jiwanya sudah tua. Bisa jadi usianya baru 20 tahun, tapi ia ibarat padi yang sudah ada bulirnya. Ketika padi tersebut masih muda, ia sudah bungkuk dan ketika tua, maka semakin bungkuk. Jadi idealnya adalah kesiapan jiwanya.

Adapun hubungannya dengan umur, itu lebih cepat lebih baik untuk berthariqah. Karena apa? Salah satu aspek yang sangat penting dipersiapkan dalam perjalanan thariqah adalah wushul kepada Allah atau Liqa’illah. Sedankan perintah Allah dalam ayat terakhir Surat al-Kahfi yang berbunyi,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدا

(Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya)

itu tidak mengisyaratkan usia berapa selayaknya hamba bertemu dengan Allah. Artinya, meskipun masih muda, hendaklah ia mencoba mengenali jiwa yang tua, yaitu jiwa yang merasa sudah pasti akan bertemu dengan Allah. Sebagaimana isyarat Nabi Muhammad saw., jika shalat ingin khusyu’ maka shalatlah seolah-olah sedang menghadap Allah. Itulah menghadap Allah dalam katagori yang pertama. Sedangkan menghadap yang berikutnya adalah ketika kita meninggalkan dunia.

Maka idealnya ketika jiwanya sudah mulai menunduk, segeralah mengenali metode (thariqah) perjalanan untuk menuju kepada Allah. Atas dasar ini pula, pada Muktamar JATMAN 2012 di Malang, Habib Luthfi menyetujui berdirinya MATAN (Mahasiswa Ahli Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdhliyyah).

Hikmah

Wirid, Dzikir dan Doa Menurut Habib Luthfi Bin Yahya

Published

on

By

Pertanyaan: Habib Luthfi yang saya hormati, selama ini saya merasakan kegelisahan batin dalam diri saya, karena masih belum bisa membedakan wirid, dzikir dan do’a. Apakah ketika berdzikir dan wirid, bisa dikategorikan berdo’a, sehingga tidak perlu berdo’a lagi, begitu pun sebaliknya?

Jawaban Habib Luthfi: Terima kasih atas pertanyaan Anda. Kata wirid berasal dari al warad, yang artinya ‘yang ada asal-usulnya.’ Maka dengan berdasarkan asal-usul tersebut, entah itu kalimat khususnya dari dari al-Qur’an, hadits atau kumpulan-kumpulan bacaan Baginda Nabi Muhammad saw yang diamalkan oleh para Sahabat dan para ulama sehingga menjadi bacaan rutinitas, bisa dikatakan itu sebagai kalimat wirid.

Wirid mencakup banyak hal dan wirid ini masih global. Pecahan dari wirid salah satunya adalah dzikir. Tidak semua wirid termasuk dzikir atau do’a, begitu pula sebaliknya. Karena bacaan wirid tidak mutlak berdzikir semata karena Allah swt, melainkan ada tujuan tujuan tertentu (hajat), kemudian meminta agar Allah swt mem percepat terkabulnya hajat itu dengan membaca aurad atau wirid tertentu. Selain itu, dengan membaca wirid, kita juga mendapatkan pahala besar di sisi-Nya.

Sementara dzikir tujuannya untuk mengingatkan manusia kepada sifat ke-Maha-an dan ke-Esa-an Sang Pencipta. Dengan bacaan dzikir, maka kita akan mentauhidkan ke-Esa-an-Nya, agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kesyirikan, baik kecil maupun besar. Selain itu dzikir juga akan menumbuhkan kedekatan kepada Allah swt dan jikalau sudah merasa dekat, maka kita akan takut meninggalkan perintahnya, sehingga menimbulkan ketakwaan dan pada akhirnya melahirkan kecintaan kepada Allah swt.

Dzikir terbagi dalam beberapa macam. Ada dzikir khusus kepada Allah swt, yang mana hal ini disebut dzikrullah, dengan kalimat Laa ilaaha illallaah.’ Dzikrullah akan menimbulkan rasa cinta kepada Allah swt dan apabila telah ada rasa cinta, otomatis kita akan takut apabila meninggalkan perintah-Nya dan menjalanakan larangan-Nya. Selanjutnya, Allah swt. rasa takut ini akan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt.

Kemudian dzikrun Nabi, yaitu dzikir khusus kepada Nabi Muhammad saw. Dengan dzikrun Nabi, kita akan melihat akhlak dan suri tauladan Baginda Nabi Muhammad saw, bagiamana ibadah dan mu’amalahnya. Sehingga diharapkan kita bisa mencontoh suri tauladan beliau saw, meskipun hal itu tidak mudah, mesti dicoba secara bertahap.

Berikutnya dzikrush shahabah, dzikir yang ditujukan kepada para sahabat Baginda Nabi saw. Dengan dzikir sahabat, kita akan melihat keteladanan para Sahabat yang hidup pada masa dan bersama Nabi Muhammad saw dalam berjuang mensyi’arkan Islam. Sesungguhnya mereka adalah orang yang paling beruntung dapat berjumpa dan hidup bersama Baginda Nabi saw. Ketaatan para Sahabat kepada Allah swt dan Rasul-Nya diharapkan menginspirasi kita untuk mengikuti mereka, walaupun tidak seutuhnya dapat kita tiru.

Dan terakhir dzikrul ulama, dzikir kepada para ulama. Dengan dzikir ini, kita akan melihat keshalihan para ulama dan kemulian hidupnya di sisi Allah swt, yang meneruskan perjuangan Baginda Nabi saw dan para Sahabat sehingga diharapkan kita bisa meneladani dan mengikutinya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw: Dzikrush shalihin tunazzilurrahmah,’ yang artinya ‘mengingat kehidupan orang-orang shaleh, akan menurunkan rahmat Allah swt.’

Adapun do’a belum tentu berdzikir, namun dalam do’a terdapat kalimat dzikir, seperti ‘Allahumma,’ yaitu asma (nama-nama) Allah swt. yang termasuk dzikir. Dalam do’a tersebut ada munajat dan sementara melakukan wirid atau berdzikir belum tentu yang permohonan, ada hajat atau permohonan kepada Allah swt, namun biasannya para ulama dan salafunasshalihin berdo’a dengan mendahulukan kalimat wirid, seperti ‘Yaa Hayyu, Yaa Lathif atau membaca dzikir ‘Laa ilaaha illallaah,’ semata bentuk ketaatan agar semakin dekat kepada Allah swt.

Selain menunjukkan hajat seseorang kepada Allah swt, berdo’a juga memiliki makna lain, yaitu dengan berdo’a menunjukkan kelemahan pribadinya sebagai manusia, ketidakmampuannya, walaupun ia seorang yang sangat hebat, cantik, tampan, pandai, kaya dan ibadahnya luar biasa hebatnya. Sifat meminta kepada Allah swt itu suatu keniscayaan, karena menunjukkan kelemahannya sebagai seorang hamba. Tidah ada ke mampuan atas dirinya tanpa pertolongan Allah swt dan do’a menempatkan manusia sebagai hamba yang dhaif serta lemah.

Jadi sangat berbeda wirid, dzikir dan do’a, namun ketiganya berkaitan. Dzikir mendukung do’a, begitu juga dengan wirid. sangat Tinggal bagaimana menggunakan wirid yang berbentuk dzikir, seperti Asmaul Husna atau kalimat do’a yang lainnya.

Sumber: Umat Bertanya Habib Luthfi Menjawab

Continue Reading

Tanya Jawab

Mengapa Thariqah Harus Ada Mursyid Padahal Untuk Mempelajari Thariqah Bisa Melalui Literasi-literasi Ulama dan Tasawuf?

Published

on

Pertanyaan:
Mengapa Thariqah Harus Ada Mursyid Padahal Untuk Mempelajari Thariqah Bisa melalui Literasi-literasi Ulama dan Tasawuf?

Jawaban:
Allah Swt. berfirman dalam Qs. Al-Kahfi ayat 17,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”

Dari dalil di atas, sudah jelas bahwa barangsiapa yang memperoleh petunjuk dari Allah, itulah yang benar-benar boleh diikuti. Tapi jika tidak mendapat petunjuk, maka tidak boleh. Karena jika tidak, selamanya tidak akan menemukan mursyid yang sumbernya dari Allah dan Rasulullah. Artinya orang yang berthariqah adalah orang yang dipilih Allah akan memperoleh hidayah secara khusus, minimal dari jalur khusus, jalur sanad, silsilah kethariqahan.

Keberadaan JATMAN sendiri itu mengenalkan thariqah. Karena JATMAN dalam posisi pengurus memiliki tugas membantu para mursyid, di mana banyak hal yang mursyid tidak mungkin akan mensosialisasikan thariqahnya kepada masyarakat, yang nantinya dikhawatikan memiliki kesan mencari-cari murid.

Maka, orang yang menemukan mursyid, berarti orang tersebut memang dikehendaki Allah untuk menerima petunjuk khusus.

Oleh: KH. Ngadiyin Anwar (Rois Idaroh Wustho Jawa Timur)

Continue Reading

Tanya Jawab

Bagaiamana Sikap Ketika Keturunan Nabi Saw Berperilaku Tidak Semestinya?

Published

on

By

Pertanyaan: Habib Luthfi yang ananda muliakan, sebelumnya ananda mohon maaf, karena pertanyaan ini berkaitan dengan habaib, yang sangat ananda muliakan. Jujur, terkadang ananda sendiri bingung ketika beberapa teman bertanya tentang beberapa orang habib yang ada di lingkungannya. Dalam keseharian ada diantara berperilaku tidak semestinya dan tidak patut untuk dilakukan. Dalam hal ini bagaimana menyikapinya, karena mereka adalah anak cucu Rasulullah saw, yang sudah sepatutnya dihormati dan dimuliakan?

Jawaban Habib Luthfi: Mencintai para ulama, para auliya’ janganlah melihat latar belakang mereka. Banyak sekali diantara ulama dan para wali itu tidak memiliki latar belakang keluarga yang ulama atau wali pula. Demikian pula, ketika ada keturunan salah seorang ulama atau auliya’ itu mempunyai anak yang terkadang berbeda perilakunya dengan orangtuanya, haruskah kita mengurangi kecintaan kita kepada keulamaannya atau kewalian mereka, itu tidak dibenarkan. Mencintai ulama dan para wali itu haruslah seutuhnya. Jangan, misalnya, karena kita melihat putera Nabi Nuh as yang diceritakan dalam al-Qur’an mendurhakai Allah swt, kita kemudian mengurangi keimanan kita kepada Nabi Nuh as.

Demikian pula kepada habaib, kita melihat tuntunannya jelas untuk mencintai dan apa yang dilakukan oleh beberapa oknum habib yang bertentangan dengan yang semestinya, tidaklah datuk-datuk mereka senang dengan perbuatan itu. Namun, biarkan perbuatan itu menjadi urusan mereka. Tugas kita hanyalah mencintai mereka sepenuhnya. Yang harus kita lihat adalah datuk mereka, Rasulullah saw.

Begitu besar jasa Baginda Nabi saw. Beliau lah yang telah mengajarkan perihal iman, Islam, ma’rifah kita kepada Allah swt, al-Qur’an, mengenalkan para wali, bagaimana membedekan yang haq dan yang bathil, tentang halal dan haram. Apabila bukan karena Baginda Nabi saw, mana mungkin kita bisa mengenal Allah swt, Rasulullah saw, para auliya’ dan keutamaan-keutamaan lain. Cahaya yang begitu besar, yang lebih besar dari matahari, mungkinkah dikalahkan oleh hany seekor atau beberapa ekor semut hitam kecil?

Maka dari itu, kalau kita sungguh mencintai para habib, apabila melihat ada diantara mereka yang melakukan perbuatan yang tidak sepatutnya, sampaikanlah nasehat kepada mereka, tentu dengan cara yang tidak mengurangi adab yang semestinya kepada mereka. Jika kita cinta kepada berlian yang sangat berharga, mungkinkah kita membiarkannya saja ketika berlian itu akan jatuh ke selokan dan lumpur. Apabila benar mencintainya, pasti kita akan memeliharanya, menjaganya dan tidak akan pernah membiarkannya jatuh ke lumpur.

Nah, kita dititipi oleh Rasulullah saw, dititipi anak cucunya. Satu sisi untuk dicintai, satu sisi untuk diikuti, diteladani dan satu sisi lagi kita pun dititipi untuk menjaga anak cucunya agar tidak sampai terjatuh, agar berlian-berlian itu tidak tergores hingga mengurangi nilainya. Hal yang demikian itu tidak akan mengurangi kecintaan kita kepada mereka, justru cinta semacam itulah yang dituntut dari setiap orang terhadap mereka.

Sumber: Umat Bertanya Habib Luthfi Menjawab

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending