Belum Berthariqah, Bolehkah Ikut Manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jilani?

Manaqib jamak dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini menjadi rutinitas masyarakat muslim untuk mengenang seorang tokoh sufi sekaligus menghayati dan meneladaninya. Banyak pelajaran dan hikmah yang dipetik dari pembacaan Manaqib tersebut.

Manaqib sendiri berasal dari kata manqabah yang berarti perilaku mulia, prestasi, yang membanggakan, perbuatan agung. Melalui acara manaqib itulah jamaah manakib belajar melalui akhlak dan perjalanan hidup seorang tokoh (biografi) yang dikenal karena kebaikan dan keutamaannya semasa hidup. Salah satu manaqib yang sering digelar itu adalah manaqib Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Al Jilani.

Banyak motif yang melatar belakangi mengapa orang aktif mengikuti manaqib. Seperti ditulis dalam kitab Mishbahul Anam wa Jala’ adz Dzalam karya Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad.

“Ketahuilah! Seyogyanya bagi setiap muslim yang mencari keutamaan dan kebaikan, agar ia mencari berkah dan karunia, terkabulnya doa dan turunnya rahmat di hadapan para wali, di majelis-majelis dan kumpulan mereka (para wali) baik yang masih hidup ataupun sudah mati, dan di kuburan mereka, serta saat mengingat mereka, dan ketika kumpulan orang banyak menziarahi mereka, juga ketika mengingat keutamaan mereka, dan pembacaan manaqib mereka”.

Lalu bagaimanakah jika mereka yang mengikuti Manaqib belum bertarekat padahal Syekh Abdul Qadir merupakan pendiri tarekat Qadiriyah?

Dalam buku hasil kesepakatan muktamar dan musyawarah besar JATMAN yang dihimpun oleh KH. A. Aziz Masyhuri disebutkan bahwa boleh membaca Manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jilani walaupun belum masuk thariqah-nya. Karena orang tersebut dinilai pecinta Syekh Abdul Qadir Al Jilani.

Manaqib Syekh Abdul Qadir biasa berisi pembacaan ayat suci al Qur’an, dzikir, tawassul, dan pembacaan manaqib serta nasehat dan pesan keagamaan, sedekah serta jamuan makan. Orang yang mengikuti manaqib termasuk dalam kategori hadis berikut.

“Apabila kamu melewati taman surga, maka berhentilah untuk turut menikmatinya. Mereka bertanya, “apa itu taman surga?” Nabi menjawab, “majelis-majelis dzikir”. (HR. Tirmidzi).

Dalam hadis lain disebutkan, “Datang seorang lelaki kepada Nabi Muhammad Saw, maka orang tersebut bertanya. “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda tentang orang yang mencintai suatu kaum padahal mereka tidak pernah bertemu dengan mereka?” Rasulullah Saw menjawab, “seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian orang yang belum berthariqah lalu mengikuti manaqib baik itu membaca atau ikut mendengarkan diperbolehkan. Selain untuk mendapat kemanfaatan dan keutamaan. Manaqib juga bisa memupuk kecintaan kepada orang-orang shalih yang pada akhirnya mengantar pada kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hal tersebut disokong juga oleh pendapat Imam Sufyan bin Uyainah yang berkata “ketika orang-orang saleh dikenang maka Rahmat Allah akan turun”.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...