Begini, Skenario Ketat Pelaksanaan Haji Tahun Ini

Pemerintah Arab Saudi akhirnya memutuskan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, 2020/14141 H tetap berjalan, tapi dengan skenario penyelenggaraan yang penuh pembatasan.

Keputusan tersebut dikeluarkan secara resmi oleh Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, pada Senin, 22 Juni 2020 malam, waktu setempat.

Bagaimana skenario penyelenggaraan ibadah haji yang sangat ketat dimaksud?

Pertama, Ibadah haji tidak bisa diikuti oleh kaum muslim yang tinggal di luar Arab Saudi. Sementara, bagi ekspatriat atau muqimin, termasuk WNI yang sudah tinggal lama di Saudi dibolehkan dengan sejumlah persyaratan kesehatan yang sangat ketat.

Menteri Urusan Haji Arab Saudi, Mohammad Benten, mengatakan dalam jumpa pers secara virtual bahwa pemerintah Saudi tidak akan mengizinkan jemaah dari luar negeri, tapi akan membolehkan orang asing yang telah bermukim di Saudi untuk menjalankan ibadah haji tahun ini.

Konsulat Haji KJRI Jeddah, Endang Jumali, sebagaimana dikutip BBC News Indonesia menyampaikan, tidak dapat melarang jika ada WNI di Arab Saudi yang ingin menjalani ibadah haji tahun ini.

“Kami tetap menjadi bagian pengawasan dan perlindungan, tidak ada kewenangan melarang,” katanya.

Kedua, Ibadah haji hanya diperbolehkan bagi jemaah yang berusia di bawah 65 tahun dan lolos serangkaian tes pemeriksaan kesehatan sebelum masuk ke Tanah Suci.

“Arab Saudi akan menerapkan pemeriksaan kesehatan yang ketat dalam pelaksanaan ibadah haji tahun ini dengan jumlah (jemaah) yang sangat terbatas, untuk mencegah penyebaran virus Corona, kata Menteri Kesehatan Dr. Tawfiq Al-Rabiah, Selasa (23/6).

Ketiga, Jumlah jemaah haji secara keseluruhan akan dibatasi kurang lebih hanya sekitar 10 ribu jemaah saja. Namun begitu, pemerintah Arab Saudi masih mengkaji soal jumlah ini . Sementara, kuota untuk ekspatriat kemungkinan hanya diberikan untuk 1.000 orang saja.

Keempat, Penerapan protokol kesehatan yang ketat. Ibadah haji, meskipun jumlah jemaahnya telah dikurangi jauh dari kondisi normal, tapi tetap saja berpotensi mengundang kerumunan. Hal ini berisiko tinggi pada saat pandemi Covid-19 masih terjadi di Arab Saudi.

Oleh karena itu, Kementerian urusan Haji dan Umrah Arab Saudi bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan serta menerapkan protokol kesehatan guna menjamin musim haji tetap aman.

Protokol kesehatan dimaksud adalah: Semua jemaah harus dites sebelum tiba di semua tempat suci; Semua jemaah harus melakukan isolasi mandiri setelah menjalani rangkaian ibadah; Semua pekerja dan sukarelawan harus dites sebelum ibadah haji dimulai; Status kesehatan semua jemaah diawasi setiap hari; Disiapkan satu rumah sakit bila kondisi gawat darurat terjadi selama ibadah; Physical Distancing atau jaga jarak akan tetap diterapkan.

Sebelumnya, ada kekhawatiran bahwa ibadah haji tahun ini bakal dibatalkan sama sekali lantaran pandemi Covid-19. Jika terjadi, ini akan menjadi kali pertama dalam sejarah modern sejak Kerajaan Arab Saudi berdiri.

Tapi syukurnya pembatalan tidak terjadi, meskipun ibadah haji diselenggarakan dengan beragam pembatasan, termasuk tidak diperbolehkannya muslim yang tinggal di luar Arab Saudi untuk mengikuti rukun Islam kelima ini. Dalam situasi normal, ibadah haji diikuti oleh lebih dari dua juta orang dari seluruh penjuru dunia. Tapi tidak untuk tahun ini.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...