Beberkan Peran Thariqah, MATAN UIN SUKA Gelar Ngaji Kebangsaan

0

YOGYAKARTA – Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Ngaji Kebangsaan yang bertemakan ‘Peran Thariqah dalam Kemerdekaan Indonesia’ sekaligus Pelantikan Pengurus Baru Periode 2019-2020 pada Sabtu (4/5).

Agenda diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Shalawat Thariqiyah dan Tahlil yang dipimpin langsung oleh Rais Syuriah PWNU D.I.Y KH. Mas’ud Masduki, dan dilanjutkan dengan Pelantikan Pengurus Baru.

Dalam sambutannya, KH. Mas’ud Masduki mengatakan bahwa MATAN adalah wadah yang sangat tepat bagi pemuda. “MATAN ini merupakan sebuah wadah yang bagus sebagai sebuah jalan bagi para mahasiswa (pemuda) untuk menjadi pribadi yang shalih atau shalihah namun terkontrol oleh para guru Mursyid,” ucap Rais Syuriah PWNU D.I.Y. tersebut.

Agenda bertujuan untuk mengenalkan thariqah mu’tabarah di lingkungan kampus serta menguatkan jiwa nasionalisme kader MATAN.

“Ngaji Kebangsaan yang di isi oleh Dr. Phil. Sahiron Samsuddin, MA (Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga) dan Gus Abdur Rosyid, S.Pd., M.Tsol. (Sekjend PP MATAN) bertujuan untuk mengenalkan thariqah, memperkuat kader MATAN UIN Sunan Kalijaga dalam hal kethariqahan dan nasionalisme. Acara ini juga untuk mengingatkan perjuangan para ulama sufi terdahulu dalam kemerdekaan Indonesia,” tutur Muhamad Saiful Afif selaku Ketua Komisariat MATAN UIN Sunan Kalijaga yang baru.

Dr. Phil. Sahiron mengungkapkan bahwa para kiai, ulama nusantara dan tokoh-tokoh pejuang terdahulu yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah sufi. Sebagaimana pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari, Pangeran Diponegoro, dan lainnya.

Lebih lanjut, Dr. Phil Sahiron mengatakan bahwa dalam memperjuangkan NKRI dan Pancasila, para ulama ittiba’ lirrasul (meneladani Rasulullah) sayyidina Muhammad saw. Yakni, pada saat Rasulullah hijrah ke Madinah terdapat masyarakat yang kompleks, multikultural, dan multi agama. Disana Rasulullah saw. membuat Piagam Madinah. Demikian pula dengan para ulama, kiai, dan pahlawan bangsa membuat NKRI dan Pancasila sebagai pemersatu bangsa.

“Para ulama nusantara kita berjuang untuk NKRI dan Pancasila supaya terhindar dari perpecahan antar suku bangsa serta senantiasa bersyukur atas adanya NKRI dan Pancasila yang fungsinya sebagai pemersatu bangsa,” imbuh Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga lulusan S3 Jerman itu.

Sedangkan, Gus Abdur Rosyid selaku Sekjend PP MATAN menuturkan bahwa kader MATAN harus bisa menyelaraskan antara ibadah dengan refleksi ibadah dalam ranah sosial. “Seorang yang ibadahnya rajin, maka sosialnya juga harus bertambah baik,” jelas Gus Rosyid.

Sebagai kader MATAN, lanjut Gus Rosyid, dalam merefleksikan peran ulama’ sufi atau ulama tarekat dalam kemerdekaan Indonesia di era milenial saat ini, kader MATAN harus bisa mewarnai diskursus Ilmiah namun tetap didalamnya ada hidden behind the teks (tersirat nilai-nilai sufiyah dalam hati kader MATAN).

“Sehingga MATAN akan menjadi Intelektual yang ulama’ dan atau ulama’ yang intelektual. Bergerak sesuai bidang keilmuan dan tetap memiliki kebersihan hati sehingga akan tercermin seorang ilmuwan atau cendekiawan yang berakhlak mulia,” tutup Gus Rosyid. (risky/eep)

Comments
Loading...