Bakti Santri untuk Negeri

Tiga hari yang lalu, 22 Oktober 2019, bangsa Indonesia semarak memperingati Hari Santri Nasional. Tidak hanya oleh kalangan pesantren, Hari Santri Nasional juga telah menjadi milik seluruh elemen masyarakat. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”. Kementerian Agama RI menetapkan tema ini dengan maksud peran nyata santri dalam menjaga perdamaian dapat menjadi inspirasi perdamaian dunia. Caranya ialah dengan senantiasa menjaga persatuan dan persaudaraan antar sesama.

Secara historis, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional adalah dengan merujuk Resolusi Jihad yang digelorakan oleh Hadlaratus Syekh Hasyim Asy’ari (1875-1947) pada 22 Oktober 1945. Dengan fatwa ini, rakyat Indonesia bersatu padu. Demi semangat cinta tanah air, segenap jiwa dan raga dipertaruhkan. Kota Surabaya menjadi medan pertempuran yang sengit. Ribuan pejuang gugur mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa heroik ini kita kenang sebagai Hari Pahlawan, 10 November. Sejarah ini menunjukkan bahwa peran kiai dan santri bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah sangat nyata.

Jika dulu di era perjuangan meraih dan mempertahankan kemerdekaan, para kiai dan santri turut andil bertempur di medan peperangan, lantas peran apa yang kini mesti diperankan oleh santri? Terlebih untuk memperkuat persatuan dan perdamaian bangsa? Dan sumbangan apa yang harus diberikan santri untuk turut andil menjaga perdamaian dunia?

Merawat Keragaman
Adalah sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa, Indonesia diciptakan dengan keragaman suku, ras, agama, dan golongan. Di dalamnya terdapat beragam bahasa, kebudayaan, dan kepercayaan. Indonesia terdiri dari 17.000 pulau. Memiliki lebih dari 500 bahasa. Didiami oleh 1.300 suku dan memiliki 6 agama. Dalam perjalanannya, keragaman ini dapat berbuah persatuan, tetapi tidak dapat dimungkiri bahwa perbedaan ini juga mudah memancing konflik. Jika tidak diwaspadai, kerawanan ini dapat berujung pada perpecahan antar sesama anak bangsa.

Berbicara mengenai keberagaman, Indonesia merupakan salah satu negara yang menjunjung tinggi keberagaman. Hal ini tercermin dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semboyan tersebut dibuat atas dasar pertimbangan matang para pendiri bangsa, yang menegaskan bahwa Indonesia adalah rumah besar bagi berbagai suku, etnis, adat-istiadat, agama, dan budaya. Keragaman ini telah diterima sebagai mozaik di bumi Nusantara.

Dalam konteks keragaman agama, Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas di Indonesia. Meskipun demikian, terdapat berbagai agama lain yang tetap diakui di Indonesia, yakni Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Di kalangan pemeluk Islam pun, terdapat keragaman di dalamnya. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan madzhab fikih yang dianut oleh umat Islam. Tidak semua umat Islam di Indonesia mengikuti madzhab Syafi’i. Sudah pasti ada sebagian yang menganut madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali.

Hal ini juga tercermin dalam keragaman cara membaca al-Qur’an. Baik madzhab qira’at maupun nadanya pun beragam. Demikian pula dalam keterlibatan umat Islam Indonesia dalam organisasi kemasyarakatan. Terdapat banyak wadah dakwah yang didirikan oleh masyarakat muslim Indonesia, semisal Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, al-Washliyah, Tarbiyah Islam dan lain sebagainya.

Keragaman yang dimiliki oleh Indonesia ini dapat menjadi tantangan, tetapi dapat juga menjadi peluang. Dikatakan sebagai tantangan karena keragaman dapat menyebabkan pertikaian dan perpecahan. Hal ini mungkin terjadi jika rasa saling menghormati dan toleransi memudar. Lebih-lebih jika kepentingan politik dan persaingan perebutaan kekuasaan menjadikan sentimen perbedaan suku, ras, dan agama sebagai mesiu untuk membangkitkan emosi antar anak bangsa.

Keragaman juga dapat dikatakan sebagai peluang. Yakni ketika keragaman dapat dikelola menjadi modal sosial-kultural. Perbedaan diterima sebagai sunnatullah, yang pada akhirnya akan terbentuk sikap saling asah dan asuh. Perbedaan tidak dijadikan sebagai penyubur benih-benih rasa paling benar dan paling unggul, akan tetapi, perbedaan dijadikan sebagai titik tolak untuk saling mengenal, saling belajar, dan saling memperbaiki diri.

Terkait hal ini, Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al- Hujurat: 13).

Mengokohkan Persaudaraan
Dari pemaparan singkat di atas, dapat dipahami bahwa salah satu tantangan generasi muda adalah bagaimana menjadikan kemajemukan Indonesa sebagai modal untuk membangun masa depan. Perbedaan harus dipandang sebagai anugerah untuk bergandeng tangan mewujudkan cita-cita luhur para pendiri bangsa. Di titik inilah, santri di era sekarang harus mampu membaca peluang dan aktif terlibat dalam amal-amal nyata untuk merawat persatuan bangsa.

Dengan persatuan, generasi muda akan lebih mudah menarik gerbong kemajuan peradaban Indonesia, baik di sektor pendidikan, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Santri harus mampu berperan aktif menggelorakan semangat persatuan. Untuk mencapai hal ini, santri diharapkan mampu menggali nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh agama. Di antaranya ialah nilai persaudaraan (ukhuwwah). Kerangka persaudaraan yang diajarkan oleh Islam tidak hanya terjalin antar sesama muslim (ukhuwwah islamiyyah), melainkan juga persaudaraan antar sesama anak bangsa (ukhuwwah wathaniyyah), dan persaudaraan antar umat manusia (ukhuwwah basyariyyah).

Anjuran untuk saling berbuat baik dan saling bekerja sama untuk meraih kebaikan bersama adalah salah satu ajaran dasar Islam. Bahkan Islam tidak membatasi perbuatan baik tersebut hanya untuk bagi sekelompok manusia saja, akan tetapi meluas bagi semua makhluk yang ada muka bumi ini. hal ini sebagaimana terdapat dalam salah satu riwayat hadis:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ الرَّاحِمُونَ يرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Artinya: Diriwayatkan dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang yang penyanyang akan disayangi oleh Allah yang Maha Penyayang. Maka sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya makhluk yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. al-Baihaqi).

Demikian pula dalam konteks antar sesama generasi muda Indonesia. Perbedaan latar belakang agama dan kepercayaan tidak boleh menjadi penghalang untuk saling bekerja sama. Meskipun setiap agama berhak mengeklaim kebenaran masing-masing ajaran teologinya, namun bukan lantas hal ini dijadikan sebagai keabsahan untuk saling memaksa dan mencemooh ajaran agama lain.

Selain itu, sudah sepantasnya kita sebagai makhluk sosial juga harus mampu memahami makna kemajemukan. Pluralitas tidak akan pernah lepas dalam kehidupan manusia. Islam pun telah mengajarkan makna perbedaan. Sudah sepatutnya kita memilki sikap toleransi dan menghargai sesama. Ketika setiap umat manusia menghargai keberagamaan, maka tidak akan terjadi lagi gerakan-gerakan radikal yang mengatas namakan agama.

Lebih dari itu, dengan bekal solidnya persatuan Indonesia, adalah sebuah kebanggan bersama jika santri dan generasi muda Indonesia mampu menjadi pelopor bagi peradaban dan keadaban dunia. Krisis global berupa kesenjangan, keterbelakangan, ekses negatif teknologi, pemanasan global, hingga masalah terorisme dan radikalisme adalah salah satu permasalahan krisis kemanusian yang harus dijadikan sebagai medan perjuangan bersama. Selamat Hari Santri!

Oleh: Laras Sekar Seruni

Komentar
Loading...