Bagaimana Seseorang Dapat Ikhlas di dalam Beribadah?

Mencapai tingkatan ikhlas dalam beribadah merupakan tujuan utama manusia untuk terus ditingkatkan. Karena ikhlas tidak ada batasnya. Saat kau meningkat satu derajat di dalam ikhlas, maka kau akan melihat cahaya ikhlas pada tingkatan yang lebih tinggi. Namun bagaimana kita mencapai permulaan ikhlas?

Memerlukan dua hal yaitu ilmiah dan praktek. Perkara ilmiah yaitu mempelajari ilmu yang membahas tentang perbaikan hati. Kaum salaf terdahulu menyebutnya ilmu tasawuf. Yang saya maksud tasawuf adalah tasawuf amaly bukan tasawuf falsafi.

Apa contohnya tasawuf amaly? seperti Kitab Ihya Ulumuddin. Pada jilid ketiga kitab itu Imam Ghazali menerangkan tentang berbagai penyakit hati. Contoh lain adalah Madarijus Salikin karya Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah, Syarah Manazilus Sairin, masih banyak lagi contohnya. Seperti kitab-kitab Imam Al Haddad, Imam Ibnu Athaillah As Sakandary. Kitab-kitab ini menyingkapkan aib-aib diri. Menyebutkan tanda-tanda ikhlas dan lawannya adalah riya’ beserta tanda-tandanya. Begitu juga dengan sikap ‘ujub. Kemudian diterangkan cara melepaskan diri dari (penyakit) nya. Itu dari segi ilmunya.

Adapun prakteknya adalah pengendalian diri. Hakikatnya setiap hati ini merasakan keagungan Allah SWT. Semakin agung makna laa ilaha illallah di dalam hati. Maka akan semakin kecil pula kecenderungan hati untuk dipuji oleh orang lain. Yang hal tersebut tidak memberikan manfaat.

Perbanyaklah kalimat ikhlas yakni laa ilaha illallah. Jadikanlah kalimat ini sebagai wiridmu. Sebanyak 100 kali, 300 atau 1000 kali pada setiap harinya harus dijaga. Saat lisanmu menyebut tiada tuhan selain Allah لا اله الا الله dan kau merasakan bahwa hatimu mengeluarkan segala sesuatu selain Allah. Tidak mengagungkan selain Allah. Tidak perlu mencari pujian, pandangan, atau kedudukan dari orang lain. Yang menyibukkan hati ini selain Allah.

Oleh: Syaikh Ali Al Jufri

Komentar
Loading...