Bagaimana Moderat dalam Mengamalkan Teks Keagamaan? Ini Ciri-Cirinya

Sikap moderat dalam beragama, terutama dalam memahami dan mengamalkan teks-teks keagamaan, ditandai dengan beberapa ciri, antara lain:

1. Memahami realitas (fiqh al-waqi’)
Kehidupan manusia selau berubah dan berkembang tiada batas, sementara teks-teks keagamaan terbatas. Karena itu ajaran Islam berisikan ketentuan-ketentuan yang tsawabit (tetap), dalam hal-hal yang dimungkinkan untuk berubah sesuai dengan perkembangan ruang dan waktu (mutaghayyirat). Yang tsawabit hanya sedikit, yaitu berupa prinsip-prinsip akidah, ibadah, mumalah, dan akhlak, dan tidak boleh diubah.

Sedangkan selebihnya mutaghayyirat yang bersifat elastis/fleksibel (murunah) dan dimungkinkan untuk dipahami sesuai perkembangan zaman. Kenyataan inilah yang mendasari beberapa lembaga fatwa terkemuka di negara-negara minoritas Muslim untuk mengambil pandangan yang berbeda dengan apa yang selama ini dipahami dari kitab-kitab fiqih, misalnya membolehkan seorang wanita yang masuk Islam untuk mempertahankan perkawinannya sementara suaminya tetap dalam agama semula, seperti yang difatwakan oleh Majelis fatwa dan Riset Eropa

Segala tindakan hendaknya diperhitungkan maslahat dan mudharatnya secara realistis, sehingga jangan sampai keinginan melakukan kemaslahatan mendatangkan mudharat yang lebih besar. Contoh, menggulingkan seorang pemimpin yang zalim adalah sebuah keharusan, tetapi para fuqaha membolehkan untuk membiarkannya berkuasa manakala upaya penggulingan itu akan mengakibatkan bahaya atau mudharat yang lebih besar. Atas dasar pertimbangan realitas para ulama merumuskan kaidah-kaidah seperti al-dhararu la yuzalu bi adh-dharar.

Selama 13 tahun Nabi berdakwah dan mendidik generasi Islam di Mekkah, beliau bersama pengikutnya hidup di tengah kemusyrikan. Tidak kurang dari 360 patung terpajang d sekeliling Ka’bah, sementara beliau shalat dan thawaf di sekelilingnya. Tetapi, tidak pernah terpikir olehnya atau pengikutnya untuk menghancurkan patung-patung yang melambangkan kemusyrikan karena Nabi merasa belum memiliki kekuatan untuk itu.

2. Memahami fiqih prioritas (fiqh al-awlawiyyat)

Di dalam Islam perintah dan larangan ditentukan bertingkat-tingkat. Misalnya perintah ada yang bersifat anjuran, dibolehkan (mubah), ditekankan untuk dilaksanakan (sunnah muakkadah), wajib dan fardhu (‘ain dan kifayah). Sedangkan larangan ada yang bersifat dibenci bila dilakukan (makruh) dan ada yang sama sekali tidak boleh dilakukan (haram). Demikian pula ada ajaran Islam yang bersifat ushul (pokok-pokok/prinsip), dan ada yang bersifat furu (cabang). Sikap moderat menuntut seorang untuk tidak mendahulukan dan mementingkan hal-hal yang bersifat sunnah dan meninggalkan yang wajib. Mengulang-ulang ibadah haji adalah sunnah, sementara membantu saudara Muslim yang kesusahan, apalagi tetangganya, adalah sebuah keharusan bila ingin mencapai kesempurnaan iman. Maka yang wajib seyogianya didahulukan dari yang sunnah. Demikian pula penentuan hilal puasa dan idul fitri adalah persoalan furui’yyah yang tidak boleh mengalahkan dan mengorbankan sesuatu yang prinsip dalam ajaran agama, yaitu persatuan umat.

3. Memahami sunnatullah dalam penciptaan

Sunnatullah yang dimaksud adalah graduasi atau penahapan (tadarruj) dalam segala ketentuan hukum alam dan agama. Langit dan bumi diciptakan oleh Allah dalam enam masa (sittati ayyam), padahal sangat mungkin bagi Allah untuk menciptakannya sekali jadi dengan “kun fayakun”. Demikian pula penciptaan manusa, hewan, dan tumbuh-tumbuhan yang dilakukan secara bertahap. Seperti halnya alam raya, ajaran agama pun diturunkan secara bertahap. Pada mulanya dakwah Islam di Mekkah menekankan sisi keimanan/tauhid yang benar, kemudian secara bertahap turun ketentuan ketentuan syariat. Bahkan dalam menentukan syariat pun terkadang dilakukan secara bertahap seperti pada larangan minum khamar yang melalui empat tahapan (baca: QS. An-Nahl [16]: 67, QS. al Baqarah [2]: 219, QS. an-Nisa [4]: 43, QS. al-Ma’idah [5]: 90). Tahapan dalam ajaran agama terbaca jelas dalam ungkapan Sayyidah Aisyah:

“Yang pertama kali turun dari al-Qur’an adalah surah-surah yang menyebutkan surga dan nereka, kemudian ketika orang banyak masuk islam, turunlah ketentuan halal dan haram kalau yang turun pertama kali ‘jangan minum khamr’, maka mereka akan mengatakan, ‘kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya’, dan bila pertama kali turun ‘jangan berzina’, maka mereka akan mengatakan, ‘kami tidak akan meninggalkan perbuatan zina selamanya” (HR. al-Bukhari dari Aisyah).

Sunnatullah yang berbentuk tadarruj ini perlu mendapat perhatian dari mereka yang berkeinginan untuk mendirikan negara Islam demi tegaknya syariat/hukum Tuhan. Dalam kaitan ini perlu diperhatikan peta kekuatan dan hambatan yang ada. Keinginan sebagian kalangan untuk menegakkan negara Islam dengan menggunakan kekuatan atau kekerasan dalam sejarah di banyak negara Islam, termasuk Indonesia, justru merugikan dakwah Islam, sebab pemerintah negara- negara itu menghadapinya secara represif.

4. Memberikan kemudahan kepada orang lain dalam beragama

Memberikan kemudahan adalah metode al-Quran dan metode yang diterapkan oleh Rasulullah. Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari ke Yaman, beliau berpesan agar keduanya memberi kemudahan dalam berdakwah dan berfatwa, dan tidak mempersulit orang (yassiru wala tu’assiru)
(HR. al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari). Ini tidak berarti sikap moderat mengorbankan teks-teks keagamaan dengan mencari yang termudah bagi masyarakat, tetapi dengan mencermati teks-teks itu dan memahaminya secara mendalam untuk menemukan kemudahan yang diberikan oleh agama. Bila dalam suatu persoalan ada dua pandangan yang berbeda, yang satu lebih ketat dan yang lainnya lebih mudah, maka yang termudah itulah yang diambil sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah bahwa setiap kali beliau disodorkan dua pilihan beliau selalu mengambil yang paling mudah di antara keduanya.

5. Memahami teks-teks keagamaan secara komprehensif

Syariat Islam akan dapat dipahami dengan baik manakala sumber-sumber ajarannya (al-Qur’an dan Hadits) dipahami secara komprehensif, tidak parsial (sepotong-sepotong). Ayat-ayat al-Qur’an, begitu pula hadits-hadits Nabi, harus dipahami secara utuh, sebab antara satu dengan lainnya saling menafsirkan (al-Qur’an yufassiru ba’dhuhu ba’dhan). Dengan membaca ayat-ayat al-Qur’an secara utuh akan dapat disimpulkan bahwa kata jihad dalam al-Qur’an tidak selalu berkonotasi perang bersenjata melawan musuh, tetapi dapat bermakna jihad melawan hawa nafsu dan setan. Membaca al-Qur’an secara utuh dapat diibaratkan seperti melihat tahi lalat di wajah seorang perempuan yang memberinya nilai plus dan menambah daya tarik. Tetapi tidak akan menarik bilamana yang diperhatikan hanya tahi lalatnya. Demikian pula al-Qur’an akan tampak sebagai sebuah rahmatan lil alamin, berwatak toleran dan damai bila dicermati semangat umum ayat-ayatnya. Sebaliknya bila ayat-ayat qital (perang) yang diperhatikan, terlepas dari konteks dan kaitannya dengan ayat-ayat lain, maka al-Qur’an akan terkesan sebagai ajaran keras, kejam, dan tidak toleran.

6. Terbuka dengan dunia luar, mengedepankan dialog dan bersikap toleran

Sikap moderat Islam ditunjukkan melalui keterbukaan dengan pihak-pihak lain yang berbeda pandangan. Sikap ini didasari pada kenyataan bahwa perbedaan di kalangan umat manusia adalah sebuah keniscayaan, termasuk pilihan untuk beriman atau tidak (Qs. al-Kahfi [18]:29). Perbedaan sebagai sebuah keniscayaan dinyatakan dalam firman Allah: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnnya aku akan memenuhi nereka jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.”

Ungkapan “tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat” menunjukan bahwa Allah tidak menghendaki manusia satu pandangan, dan penggunaan bentuk kata kerja yang menunjuk pada masa mendatang (al-Fi’l al-mudhari) menunjukkan bahwa perbedaan di antara manusia akan terus terjadi. Karena itu pemaksaan dalam berdakwah kepada mereka yang berbeda pandangan, baik dalam satu agama maupun dengan penganut agama lain, tidak sejalan dengan semangat menghargai perbedaan yang menjadi tuntunan al-Qur’an.

Selain itu, dalam pandangan al-Qur’an, manusia secara keseluruhan telah mendapat kemuliaan (takrim) dari Allah swt. Tanpa membedakan agama, ras, warna kulit, dan sebagainya (QS. al-Isra [17]:70). Hubungan sesama manusia harus senantiasa dijaga. Maka ketika di hadapan Rasulullah melintas jenazah orang Yahudi, beliau berdiri memberi penghormatan dengan alasan “bukankah ia juga manusia” (alaysat nafsan) (HR. al-Bukhari).

Keterbukaan dengan sesama mendorong seorang Muslim moderat untuk melakukan kerjasama dalam mengatasi persoalan-persoalan bersama dalam kehidupan. Prinsipnya adalah, bekerjasama dalam hal-hal yang menjadi kesepakatan untuk diselesaikan secara bersama, dan bersikap toleran terhadap perbedaan yang ada” (nata’awanu fima ittafaqna wa ya’dzuru ba’dhuna ba’dhan fima ikhtalafna). Bila dengan sesama Muslim yang berbeda pandangan lebih patut ditegakan sifat-sifat tersebut. Demikian antara lain beberapa ciri wasathiyyah.

Oleh: Dr. Muchlis M. Hanafi, MA

Komentar
Loading...