Bagaimana Mensyukuri Kemerdekaan RI dengan Cinta

JAKARTA – Bangsa Indonesia sesaat lagi akan memasuki HUT RI yang ke-74. Kemerdekaan yang diperoleh sejak 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H mesti disyukuri oleh semua pihak. Bentuk syukur itu bisa bermacam-macam. Lalu bagaimana kita mensyukuri kemerdekaan RI?

Bersyukur menurut ulama, yang paling awal ialah mengakui dengan hati nurani bahwa kemerdekaan adalah kenikmatan dari Allah swt (Al I’tiraf bin ni’mah lil Mun’im). Kemerdekaan mesti dihayati sebagai bentuk kasih sayang Allah swt kepada negeri dengan 17.504 pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Untuk sampai pada pengakuan sudah sepatutnya semua komponen bangsa baik muda maupun tua menelusuri jejak sejarah bangsanya sendiri sehingga pengakuan atas nikmatnya kemerdekaan RI betul-betul hadir dari kesadaran pribadi atau dibentuk melalui kesadaran kolektif.

Dari pengakuan itu kemudian muncul ungkapan dan berbagai ekspresi syukur kepada Allah swt (Ats tsana’u ‘alaihi liin’amihi). Yang bisa tergambarkan dalam aneka macam kreasi, mulai dari ucapan, slogan, meme, perlombaan, atraksi hingga pagelaran dan doa bersama serta dalam rangka mengenang sejarah perjuangan para ksatria dan ulama yang gigih berjuang.

Tak berhenti sampai sini, langkah komplit bersyukur selanjutnya ialah mendayagunakan dan menggunakan anugerah Tuhan tersebut sesuai dengan tujuan penganugerahannya (Isti’mal ni’amahu subahanahu ta’ala fima khuliqat).

Dalam konteks mengisi kemerdekaan. Maka setiap komponen bangsa baik, individu, masyarakat, swasta maupun pemerintah berusaha, bekerjasama, bersinergi untuk kejayaan NKRI dengan keunggulan di bidang dan perannya masing-masing.

Apa yang tertulis di atas sulit diraih terlebih untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia jika masih terdapat jiwa tamak dan rakus serta masih suka berselisih dan bertikai sesama anak bangsanya sendiri karena minimnya cinta.

Oleh sebab itu, para ulama tarekat yang banyak berperan dalam kemerdekaan Indonesia sejak lama senantiasa menanamkan dua rasa cinta kepada muridnya, yakni rasa cinta kepada Allah sekaligus rasa cinta kepada tanah airnya (nasionalisme). Dari sinilah lahir kobaran semangat untuk menjaga, merawat dan melestarikan NKRI serta berani melawan segala bentuk penjajahan dan ketidakadilan.

Isilah kemerdekaan ini dengan rasa cinta sehingga tidak ada aktivitas melainkan didasari oleh cinta. Tiada bentuk permusuhan dan perselisihan yang tidak selesai dengan jalan cinta. Dengan cinta kepada tanah air akan muncul dorongan untuk berkorban dan berjuang untuk agama, bangsa dan negara sebagai bentuk penghambaan diri kepada-Nya.

Oleh: Saepuloh

Komentar
Loading...