Bagaimana Hukumnya Berkata Bahwa Tarekat itu Menyebabkan Kemunduran?

Tarekat atau thariqah sering kali mendapat tuduhan negatif. Ajaran dan praktek tasawuf dianggap menyebabkan kemunduran dan anti kemajuan. Tarekat dinilai menjauhi realitas kehidupan dunia sehingga menyebabkan keterbelakangan dan kejumudan umat Islam.

Bisa jadi pemahaman seperti itu muncul akibat melihat ajaran tarekat secara parsial, atau berkaca terhadap sebagian pengamal tarekat yang mengindikasikan hal tersebut di atas.

Sehingga pada Abad ke 17, ulama sufi yang juga ahli fikih atau disebut neo sufism kembali menggiatkan kajian hadist agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami kehidupan tasawuf. Karena kesalahpahaman tentu bisa berdampak kesalahan praktek yang berimbas pada penilaian negatif terhadap tasawuf dan tarekat.

Selain itu, Imam Al Ghazali telah melakukan rekonsiliasi fikih dan tasawuf dan menjadikan keduanya (fikih dan tasawuf) menjadi bagian integral tradisi dan ortodoksi Islam. Sehingga praktek tasawuf tidaklah berdiri sendiri apalagi berhadap-hadapan dengan praktek fikih atau syariah.

Imam Junaid Al Baghdady menekankan bahwa tasawuf berdiri di atas landasan al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga praktek tasawuf tidak boleh bertentangan dengan kedua pedoman tersebut. Dengan demikian meninggalkan realitas kehidupan, dan acuh terhadap perkembangan dunia serta abai terhadap problematika manusia bukanlah ajaran tarekat yang sebenarnya.

Maka untuk mengikis adanya kesan kemunduran dan keterbelakangan pada tarekat. Ulama sufi meninggalkan praktek tasawuf atau tarekat yang antinomian eksesif, praktek-praktek tasawuf yang hanya berkutat pada dzikir.

Mereka justru menekankan bahwa sufi atau pengamal tarekat itu aktif dalam kehidupan sehari-hari. Terlibat dalam sosial-politik, perlawanan/jihad melawan penjajah. Serta adaptif menghadapi tantangan perubahan seperti modernisasi, sekularisasi dan globalisasi dengan berbagai dampak disruptifnya.

Selain itu para ulama sufi juga membatasi tasawuf falsafi spekulatif dan teoritis hanya untuk ‘khas al-khawas’ karena cenderung bisa membuat pelakunya mengabaikan syari’ah/fikih. Serta menekankan tasawuf akhlaqi untuk awam atau masyarakat umum.

Lalu muncul pertanyaan pada Muktamar ke II di Pekalongan pada November 1959. Bagaimana pendapat muktamirin tentang orang yang berkata kepada orang yang akan masuk thariqah, “janganlah engkau masuk thariqah, karena thariqah itu menimbulkan kemunduran dalam agama”. Padahal thariqah adalah ilmu para wali. Maka bagaimana hukum ucapan itu?

Para kiyai muktamirin pada saat itu memutuskan bahwa jika orang yang berkata demikian karena bermaksud ingkar dan menentang maka hukumnya adalah haram. Dan orang yang bersangkutan jika tidak bertobat akan terlaknat dan tidak memperoleh kebahagiaan selama-lamanya.

Hal tersebut berdasarkan pada kitab Taqribul Ushul karya Syekh Zaini Dahlan yang menyatakan;

وقال الشيخ أبو عثمان رضي الله عنه على رؤوس الأشهاد لعن الله من أنكر على هذا الطريق ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل لعنة الله عليه وكان يقول من اعترض هذا الطريق لا يفلح أبدا

Syekh Abu Utsman ra berkata dalam menjelaskan isi kitab Ru’usul Asyhad, “Allah melaknat orang yang ingkar terhadap thariqah ini. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata, “laknat Allah atasnya (yakni atas orang yang ingkar terhadap thariqah)”. Syekh Abu Utsman pernah berkata, “Siapa menghalangi thariqah ini, maka ia selamanya tidak beruntung.”

Baca Lainnya
Komentar
Loading...