Bagaimana Bertarekat melalui Kitab para Ulama tanpa Bimbingan Mursyid?

Pertama alhamdulillah, atas karunia dari Allah, ulama-ulama terdahulu kita begitu rajin menulis, berkarya, menuangkan ilmu dan buah dari spiritualitasnya. Kita bisa lihat kajian yang luas dan mendalam. Betapa ini adalah karunia dari Allah sehngga kita bisa merasakan betapa hebatnya ilmu yang Allah berikan kepada mereka. Jadi baca literatur sangat penting sekali, supaya bertambah luas pengetahuan kita. Akan tetapi kita menjadikan seorang mursyid sebagai pembimbing untuk mempelajari dan mengamalkan tasawuf itu adalah untuk menyempurnakan ilmu tasawuf kita. Sebab kita punya keterbatasan, tulisan-tulisan punya keterbatasan. Apa sih di balik tulisan itu, ada makna yang dalam.

Contoh misalnya, kita sering di pesanren-pesantren menjadi literatur yang membanggakan. Misalnya karya Ibnu Athaillah As Sakandary. Apa namanya? Kitab al Hikam. Kitab hikam itu sebetulnya buah dari beliau bertasawuf, dan beliau seorang mursyid thariqah. Kemudian beliau tuangkan, mangkanya nama kitabnya hikam, buah dari hasil perjalanan spiritualnya. Nah akan tetapi, kalau hanya buahnya saja yang kita lihat, kita pelajari, lalu di situ tidak ada langkah-langkah untuk mendapatkan buahnya maka tentu kita juga tidak akan mendapatkan buah yang besar buah yang luar biasa.

Jadi pada akhirnya, kita harus menggenapkan supaya lengkap, lebih komprehensif, selain literatur yang sudah ada, kita bisa langsung mereguk ilmu, hikmah yang baru, sebab hikmah itu akan terus Allah berikan, ‘yu’til hikmah man yasya dengan fiil mudhari’. Hikmah terus diberikan kepada orang yang dikehendakinya. Bukan ulama terdahulu saja, bukan kepada para nabi saja, tetapi setiap zaman ada orang yang diberi hikmah.

Sehingga kita berguru langsung kepada seorang mursyid dalam thariqah, maka kita akan mendapatkan hikmah-hikmah yang baru yang kekinian. Kita kan harus kekinian. Disamping kita juga mendapakan hikmah-hikmah yang terdahulu. Sehingga walhasil, maka ketika menjalankan tasawuf dengan bimbingan seorang mursyid dalam thariqah yang mu’tabarah, maka akan lebih mendalam, akan lebih lengkap, akan lebih komprehensif, dan tentu juga akan lebih praktis untuk mengamalkan karena ada arahan dan ada tahapan-tahapan tadarruj.

Oleh: Syekh M. Fathurrahman

Komentar
Loading...