Asal Mula Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Tharieq

0

Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq, kalimat penutup pidato dan surat menyurat khas warga NU (Nahdlatul Ulama) sebelum salam penutupan. Arti harfiahnya, “Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya.” Istilah ini diciptakan oleh KH. Ahmad Abdul Hamid dari Kendal, Jawa Tengah.

Sebelum menciptakan kalimat wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq, Kiai Ahmad telah lebih dulu menciptakan istilah billahit taufiq wal hidayah. Namun, karena billahit taufiq wal hidayah kemudian digunakan oleh hampir semua kalangan umat islam, maka ia merasa kekhasan untuk orang NU tidak ada lagi. Untuk itu, ia menciptakan istilah baru, wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq yang dirasakan cukup sulit ditirukan oleh orang non-NU.

KH. Ahmad Abdul hamid adalah salah satu ulama karismatik di Jawa Tengah. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah dan Imam Masjid Besar Kendal. Karena peran dan ketokohannya, masyarakat kendal menyebutnya sebagai “Bapak Kabupaten Kendal.”

Kiprah Kiai Ahmad, demikian panggilannya sehari-hari, di lingkungan NU dimulai dari tingkat daerah sampai PBNU. Beberapa posisi penting di NU yang pernah didudukinya adalah Rais Syuriah PCNU Kabupaten Kendal; Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah; Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah (dengan Katib KH. Sahal Mahfudz), dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU.

Kiai Ahmad termasuk sangat produktif menulis dan menerjemahkan kitab-kitab. Kitab-kitabnya umumnya ditulis dalam bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon. Salah satu tulisannya yang cukup fenomenal adalah terjemahan Qanun Asasi Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang ia terjemahkan atas permintaan Sekretaris Jenderal PBNU Prof. KH. Saifuddin zuhri. Terjemahan itu telah dimulai oleh KH. Mahfud Siddiq, tetapi tidak selesai sehingga PBNU meminta Kiai Ahmad untuk menyelesaikannya. Terjemahan itu oleh Kiai Ahmad dinamaikan Ihyau Amalil Fudlala’ Fi Tarjamati Muqaddimatil Qanunil Asasi Li-Jam’iyyati Nahdlatil Ulama.

KH. Ahmad Abdul Hamid wafat pada 14 Februari 1998 bertepatan dengan 16 Syawwal 1418 H.

Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama

Comments
Loading...