Connect with us

Artikel

‘Aqidatul Awam, Kitab Tauhid Populer

Oleh: Muhammad Nashrudin

Published

on

aqidatul awam

Tauhid merupakan salah satu pokok dalam tradisi keislaman. Tauhid menjadi dasar bagi seluruh bangunan ajaran dalam Islam. Memeluk agama Islam adalah meyakini segala fundamen yang tercakup di dalam fan ilmu tauhid: mulai dari keesaan Allah SWT; para malaikat; kitab-kitab Allah; Nabi dan Rasul; hari akhir; serta qadha dan qadar.

Semua hal ini dibahas secara utuh-seluruh dalam fan ilmu tauhid. Sesuai dengan nomenklatur yang ditetapkan, tauhid artinya mengesakan Allah SWT. Begitulah tujuan kita belajar ilmu tauhid. Titik tekan ilmu ini adalah pengenalan dan pemantapan hati untuk mengesakan Allah, sepaket dengan lima rukun lain sehingga genap menjadi enam rukun iman.

Dalam konteks ini masyarakat awam tentu saja membutuhkan pedoman sederhana untuk memahami poin-poin penting dalam keimanan. Dan kebutuhan ini terjawab dalam kitab kecil yang berjuluk ‘Aqidah al-Awam. Sesuai namanya, kitab ini merangkum kajian akidah dan ya, ditujukan kepada masyarakat awam.

Kitab ini dikarang oleh Sayyid Ahmad al-Marzuki, seorang mufti asal Makkah yang lahir pada tahun 1205 H atau 1791 M. Kitab ini berbentuk nazam atau syair yang mudah dibaca dengan lagu sehingga mudah dihafalkan, terutama bagi anak-anak. Tak heran kitab ini menjadi kitab wajib di banyak Madrasah Diniyah kelas Awwaliyah dan santri pemula Pondok Pesantren. Santri biasanya diwajibkan menghafalkan dan menyetorkan hafalan kitab ini.

Aqidatul Awam merangkum materi-materi primer dalam ilmu tauhid, mulai tentang lima puluh aqaid yang wajib diketahui, yakni: 20 sifat wajib bagi Allah SWT.; 20 sifat mustahil bagi Allah SWT (tidak disebutkan secara eksplisit); satu sifat jaiz bagi Allah SWT; empat sifat wajib bagi para Nabi; empat  sifat mustahil bagi para Nabi (tidak disebutkan secara eksplisit); dan 1 sifat jaiz bagi Nabi.

Kitab ini kemudian merinci identitas 25 Nabi dan Rasul. Lantas mengenalkan karakter dan identitas para malaikat. Setelah itu, ia merinci empat buah kitab beserta siapa saja penerimanya. Lalu mengisahkan peristiwa hari akhir. Pembahasan ini disambung dengan nasab dan kisah hidup Nabi Muhammad saw beserta putra/puteri dan para istri. Kitab ini juga merinci beberapa sahabat yang sekaligus menjadi paman dan bibi Nabi.

Peristiwa Isra Mi’raj menjadi pembahasan selanjutnya yang kemudian disambung dengan doa penulis dan penyebutan identitas kitab: nama penulis, kapan ditulis, jumlah nazam, dan judul kitab. Kitab ini agak berbeda dengan kitab lain di mana judul dan identitas justru menjadi penutup sementara lazimnya kitab mencantumkan di halaman depan.

Benar-Benar Risalah

Kitab Aqidatul Awam ini benar-benar kecil. Ia hanya terdiri atas 57 (lima puluh tujuh) syair. Tidak lebih. Jika ditulis berurutan, ia hanya membutuhkan empat halaman buku tulis ukuran A5. Kalau mengikuti standar Unesco, tentu saja naskah ini tidak akan bisa disebut sebagai buku karena kurang dari 40 halaman.

Saking kecilnya naskah matan nazan ini, penerbit harus mengakalinya dengan menulis kitab ini dengan jarak antar bait yang sangat renggang. Tentu saja hal ini bermanfaat bagi santri pemula untuk memberikan catatan makna gandul. Kalau antar bait ditulis rapat, maka ia akan dimasukkan ke dalam satu volume kitab-kitab yang biasa dihafalkan: AlfiyahImrithi, dlst lalu dicetak dalam wujud kitab saku.

Adapun edisi cetak yang paling populer adalah versi terjemah bahasa Jawa dengan aksara Pegon yang diterjemahkan oleh KH. Zahwan Anwar, Pengasuh PP Darul Huda, Ngemplak, Kajen, Pati. Kitab ini pun hanya setebal 20 halaman. Tetapi jusru terjemah pegon inilah yang mempopulerkan ‘Aqidatul Awam. Saking populernya kitab ini, santri pemula atau siswa Madrasah Diniyah Awwaliyah terkadang memahami kitab ‘Aqidatul Awam itu ya berbahasa Jawa Pegon, padahal yang ia pegang adalah terjemahnya.

Sebagai sebuah kitab yang populer, kitab ini tentu saja mendapatkan sambutan positif dari khalayak. Jika ukuran popularitas artikel di jurnal adalah jumlah sitasi, popularitas kitab matan adalah seberapa banyak kitab tersebut diberi syarah. Nazam ‘Aqidatul Awam sendiri disyarah oleh beberapa ulama.

Yang pertama oleh Sayyid Ahmad al-Marzuqi sendiri dengan judul Tahshil Nail al-Maram Libayani Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam. Kemudian Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani tak ketinggalan turut menuliskan syarahnya dengan judul Nurudh Dhalam ‘alaa Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam. Ada juga Tashil al-Maram li Daarisil Aqidatil Awam karya Syaikh Ahmad al-Qaththa’aniy al-‘Aysawiy.

Yang belakangan banyak dikaji adalah Jala’u al-Afham Syarh Aqidatul Awam. Kitab ini merupakan kumpulan penjelasan Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki Al-Makki Al-Hasani atas kitab Aqidatul Awam. Penjelasan tersebut kemudian dikumpulkan oleh KH. M Ihya Ulumuddin, mudir PP Nurul Haramain Pujon, Malang, Jawa TImur. Semoga kita mendapatkan keberkahan. Amin. [Ali Akbar]

Kunjungi MATAN Indonesia

Baca juga: Ahla al-Musamarah fi Hikayat al-Auliya’ al-‘Asyrah; Sebuah Karya Prosa Ulama Nusantara

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending