Apakah Wali Mursyid Yang Sudah Wafat Masih Membimbing Muridnya?

Salah satu pertanyaan yang kerap muncul ialah apakah wali Mursyid yang sudah wafat masih membimbing (mentarbiyah) muridnya?

Pertanyaan serupa ini pernah muncul dalam Muktamar JATMAN di Pekalongan pada Maret 2005 atau Safar 1426 H.

Dalam Kitab Jami’ Al Ushul fi Al Auliya’ dikatakan, “ketahuilah bahwa setiap wali itu memiliki keistimewaan dan kemampuan berbuat sesuatu tatkala masih hidup dan sesudah wafat.

Misalnya Syekh Muhammad Baha’uddin guru tarekat Naqsyabandiyah dalam mengukir hakikat dan mengantarkan (murid) dalam bahrul wahdah, fana dan istighraq. Lalu Syekh Abdul Qadir Al Jilani yang memiliki kemampuan berbuat dan memberikan pertolongan, serta Syekh Ali Abu Hasan As Syadzily yang memiliki kemampuan (menyampaikan) ilmu dan wirid.”

Syekh Ali Al Qurasyi berkata: “saya melihat empat orang Syekh beraktivitas di dalam kubur mereka, seperti aktivitas orang yang hidup. Syekh Abdul Qadir Al Jilany, Syekh Ma’ruf Al Karkhi, Syekh Aqil Munji, Syekh Hayat bin Qais.

Karamah Setelah Wafat

Kemudian disebutkan dalam kitab Tanwirul Qulub fi Mu’amalati ‘Allamil Ghuyub bahwa Karamah para wali itu tetap ada (tsabitah) saat hidup dan setelah wafatnya sebagaimana pendapat jumhur ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Tidak ada satupun dari empat Mazhab yang menafikan karamah setelah wafatnya, bahkan ketika itu karamah lebih utama. Karena diri (nafs) pada saat itu dalam keadaan bersih suci dari aneka kotoran.

“Siapa yang tak tampak karamahnya setelah wafatnya sebagaimana tampak ketika hidup, maka tidaklah benar (seorang wali).”

Masih dalam Tanwirul Qulub, sebagian syekh ahli hakikat mengatakan bahwa, sesungguhnya Allah mengutus malaikat kepada wali di kuburnya untuk memenuhi hajatnya. Dan terkadang wali tersebut keluar dari kuburnya untuk memenuhinya sendiri.

Dalam kitab Siraj At Thalibin Syarah Minhajul Abidin, karya Syekh Ihsan Jampes, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mengatakan dalam Taqribul Ushul li Tashilil Wushul, “banyak Al Arifin (orang yang ma’rifatullah) menyatakan secara jelas bahwa seorang wali Allah sesudah ia wafat, ruhnya akan terhubung dengan para muridnya. Sehingga mereka (murid) berkat keberkahan gurunya itu mendapatkan limpahan cahaya dan anugerah Allah Swt.

Diantara ulama yang menjelaskan masalah ini secara terbuka ialah Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Ia mengatakan bahwa perhatian seorang wali setelah ia wafat terhadap kerabat dan orang-orang yang ‘bersandar dan meminta perlindungan’ kepadanya lebih besar dibandingkan perhatiannya terhadap mereka ketika masih hidup.

Hal tersebut terjadi karena wali saat hidup sibuk untuk menunaikan kewajiban (taklif). Sementara setelah wafat, beban kewajiban (taklif) itu sudah hilang. Wali yang hidup memiliki sisi keistimewaan (khususiyah) dan memiliki sisi manusia (basyariah). Yang boleh jadi salah satunya lebih dominan dibanding sisi lainnya. Terlebih lagi di zaman sekarang ini, sisi manusianya lebih dominan. Sedangkan bagi Wali yang sudah wafat tinggallah sisi keistimewaan (khususiyah) nya saja.

Uraian di atas menegaskan bahwa para wali memiliki kemampuan beraktivitas bahkan lebih leluasa setelah wafatnya. Sehingga seorang wali Mursyid masih efektif membimbing ruhani murid-muridnya dan hal ini juga sudah diisyaratkan oleh Al Quran, dalam surah Ali ‘Imran, Ayat 169

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ

Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...