Portal Berita & Informasi JATMAN

Apakah Benar Urusan Dunia dan Akhirat Harus Seimbang?

0 53

“Dan carilah kebahagiaan akhirat pada apa yang Allah berikan (petunjuk) untukmu, namun jangan lupa bagianmu dari urusani dunia,” (QS. Al-Qashash: 77).

Dunia modern dengan keanekaragaman masalah dan persoalan yang dihadapi, terjadinya perubahan tata nilai, integritas budaya. Kecenderungan menuju arah globalisasi dan aspek-aspek lainnya, ialah merupakan konsekwensi logis dari bergulirnya suatu proses, sehingga dampak positif maupun negatif pasti akan selalu ada.

Lalu apakah kita sudah merasa berpemahaman secara benar dalam memaknai ayat Allah di atas? Sehingga kita menjadikan pembagian dengan sangat pasti bahwa separuh untuk dunia dan separuh untuk akhirat. Pengamat keruhanian cukup beralasan dikala melihat perkembangan global dan merasa khawatir akan terjadi ketidakseimbangan antara pembinaan ruhani dan jasmani, mental spiritual dengan fisik material. Ketidakseimbangan tersebut pada kurun waktu tertentu memungkinkan terjadinya akibat yang fatal bagi terwujudnya dunia baru yang dicita-citakan. Yaitu, dunia yang dijalin oleh rasa cinta kasih dan kedamaian.

Sudah sejak lama kalangan ulama Sufi mengkhawatirkan ketidakseimbagan itu, sehingga nada suara baik dalam bentuk ucapan maupun tulisan, termasuk Imam Al-Ghazali yang seakan-akan seperti membenci dunia dengan segala serba-serbinya. Sehingga timbul satu tanda tanya, “apakah suara mereka itu tidak bertentangan dengan azas keseimbangan yang difirmankan oleh Allah Swt”. Maka untuk itu kita tidak seharusnya berburuk sangka, namun marilah kita coba pelajari terlebih dahulu realita kehidupan manusia.

Meskipun sudah ditentukan target keseimbangan itu, ternyata dalam hubungan manusia sebagai makhluk sosial selalu saja terdapat perbedaan-perbedaan kepentingan dan hajat hidup antar individu, antar kelompok, atau antar lingkungan yang lebih besar. Perbedaan kepentingan-kepentingan itu kadang-kadang menjurus kepada pertentangan yang akhirnya lahir permusuhan. Menjadikan manusia tenggelam dalam urusan dunianya dan garis pilihan semakin kabur.

Kalau kita amati bentuk-bentuk ungkapan ulama Sufi yang sebenarnya mengenai sorotan-sorotan mereka kepada dunia, juga sebagaimana dituliskan dalam kitab Ilmu Ketuhanan, maka dapat disimpulkan:

“Silahkan anda untuk merebut kedua-duanya (dunia akhirat) kalau anda memang mampu. Tetapi kenyataan menunjukkan betapa banyak sudah manusia yang tenggelam dalam kepentingan dunianya, yang sukar untuk diselamatkan. Bila akhir hayat datang menjelang, mereka tinggalkan dunianya tanpa membawa apa-apa, dan datang ke negeri akhirat tiada mendapat apa-apa. Dengan tidak membawa apa-apa dan tidak mendapat apa-apa pasti mengalami penderitaan, kesengsaraan yang sulit untuk digambarkan”.

Maka sudah jelas maknanya, bahwa manusia dihiasi dengan teramat banyak macam kepentingan dan hajat hidup. Dalam arti global, terdapat dua pokok kepentingan dan hajat hidup; yaitu kepentingan dunia dan kepentingan akhirat. Untuk itu, manusia dengan nafsunya selalu berkeinginan agar semua macam kepentingannya bisa berhasil semaksimal mungkin dan agar dapat ia nikmati bagian Fi Al-Dunya Hasanah wa fi Al-akhirati hasanah. Untuk mewujudkan dua macam kepentingan ini, manusia memang memiliki keterbatasan. Karena itu faktor pilihan harus ada sesuai dengan keterbatasannya.

Oleh: Putro Suryonegoro

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

twelve + 17 =