Apa yang Harus Dilakukan Jika Wabah Terjadi

Coronavirus di Wuhan China sudah menjadi wabah, dengan terpaksa warga kota Wuhan dikarantina atau diisolasi dari warga luar. Tidak boleh ada warga yang boleh keluar-masuk ke Wuhan. Warga negara asing yang terlanjur berada di kota itu pun tidak diperbolehkan meninggalkan Wuhan. Bahkan, saat ini pemerintah China sedang berpacu dengan waktu membangun rumah sakit khusus di kota itu. Targetnya kurang dari seminggu harus selesai.

Sedemikiankah cara penanganan wabah penyakit?

Coronavirus kini bukan saja mengancam China tapi juga masyarakat dunia. Wabah penyakit bukanlah cerita baru. Sepanjang sejarah, dunia telah mengalami berkali-kali berbagai jenis wabah penyakit.

Tahun 1918 dunia pernah dihebohkan oleh pandemi influenza, yang diperkirakan telah menewaskan 50 juta orang, menulari orang kaya maupun miskin. Menyebar di Amerika Serikat, muncul di Afrika Barat dan Prancis, lalu menyebar hampir ke seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Influenza Tipe A subtipe H1N1.

Kasusnya hampir sama, virus baru mulai dikenali dan dokter belum memiliki vaksin, tidak ada antivirus, tidak ada antibiotik.

Sebelumnya, wabah penyakit menular juga pernah membinasakan orang-orang Eropa. Dikenal dengan Wabah Hitam, merenggut korban sekitar 25 juta jiwa atau lebih dari sepertiga populasi Eropa pada masa 1347 hingga 1351.

Di era modern, dimana perkembangan dunia medis dan kedokteran sudah begitu pesat, wabah penyakit ternyata masih kerap muncul dan butuh waktu lama untuk mengatasinya, sehingga kerap menimbulkan banyak korban. Virus-virus semacam HIV, SARS dan Ebola, yang sempat menggegerkan warga dunia diduga masih bakal mengancam dan masih bisa kembali mewabah, entah kapan waktunya.

Apalagi lalu lintas manusia antar-negara saat ini begitu cepat dan begitu mudah. Ini yang membuat penyebaran virus penyakit menjadi lebih mudah. Coronavirus pada akhirnya tidak saja menjadi problem bagi pemerintah China di mana wabah itu muncul, tapi juga problem bagi pemerintah semua negara di dunia. Kenapa? Karena kita semua saling terhubung, baik oleh udara yang kita hirup, makanan yang kita makan dan perjalanan yang kita lakukan.

Apa yang semestinya kita lakukan saat wabah penyakit benar-benar terjadi di sekitar kita?

Tentu saja, langkah yang massif dan profesional harus dilakukan oleh pemerintah. Tapi langkah-langkah sederhana berikut ini mungkin bisa kita lakukan saat wabah benar-benar terjadi atau kita terjebak di wilayah terkena wabah, mengutip dari laman foreignpolicy.com sebagai berikut:

Foto: Hasseworld.com

Pertama, ketika keluar rumah kenakanlah sarung tangan, baik sarung tangan untuk musim dingin atau sarung tangan luar ruangan.

Kedua, jika harus melepas sarung tangan, misalnya untuk berjabat tangan atau makan, jangan menyentuh wajah atau mata Anda, walapun ada yang terasa gatal. Sebelum kembali mengenakan sarung tangan, cuci tangan Anda dengan sabun dan air hangat dengan menggosok jari-jari.

Ketiga, ganti sarung tangan setiap hari. Cuci secara menyeluruh serta hindari mengenakan sarung tangan yang basah.

Keempat, berhati-hati mengenakan masker. Masker yang digunakan lebih dari satu kali pemakaian justru malah memperburuk keadaan. Ganti masker jika sudah kotor, karena justru akan mengundang bakteri dan bau. Lebih baik, menjauh dari keramaian serta menjaga jarak ketika melakukan kontak dengan orang lain, jarak standar adalah sekitar setengah meter.

Kelima, sarankan orang-orang yang batuk dan bersin untuk mengenakan masker, dan menjauhlah dari mereka sejarak satu meter atau tinggalkan mereka.

Keenam, jangan berjabat tangan atau memeluk orang lain, walaupun dia memintanya. Mengatakan permintaan maaf lebih baik untuk Anda untuk mencegah persebaran virus selama wabah masih berlangsung.

Ketujuh, di dalam rumah, angkat semua handuk dari kamar mandi dan dapur Anda, gantilah dengan handuk bersih yang memiliki nama masing-masing anggota keluarga. Instruksikan semua orang di rumah Anda untuk hanya menggunakan handuk mereka sendiri-sendiri. Cuci semua handuk dua kali seminggu. Handuk yang lembab adalah rumah yang luar biasa bagi virus.

Kedelapan, hati-hati dengan gagang pintu. Jika Anda bisa membuka dan menutup pintu menggunakan siku atau bahu Anda, lakukanlah atau gunakan sarung tangan untuk memutar gagang pintu, jika terpaksa cucilah tangan setelah menyentuhnya.

Kesembilan, jika ada orang di rumah Anda yang sakit, cucilah kenop pintu Anda secara teratur. Demikian pula, berhati-hatilah dengan pegangan tangga, laptop, ponsel, mainan dan benda apa pun yang dipegang dengan tangan. Selama itu benda-benda pribadi, Anda akan aman, tetapi jika Anda perlu mengambil ponsel atau peralatan milik orang lain atau menggunakan keyboard komputer orang lain, berhati-hatilah agar tidak menyentuh wajah Anda sebelum mencuci tangan.

Wabah penyakit di zaman Nabi

Di zaman nabi juga pernah terjadi wabah penyakit. Nabi sendiri punya semacam prosedur tetap (protap) atau SOP (Standar Operasional Prosedur) untuk menghadapi wabah penyakit. Misalnya, beliau memerintahkan agar tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami wabah lepra atau leprosy.

Ilustrasi penyakit lepra. Foto: cam.ac.uk

Nabi Saw bersabda terkait wabah lepra, “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhori).

Nabi Saw juga mengingatkan agar kita tidak mendekati wilayah yang terkena wabah penyakit atau jika terlanjur terjebak di dalam wilayah tersebut, jangan pergi ke mana-mana.

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Selain protap dan SOP nabi juga menganjurkan agar menghadapi situasi tersebut dengan sabar sambil meminta pertolongan Allah Swt. Seraya memanjatkan doa sebagai berikut:

“Allahumma inni a’udhu bika minal-barasi, wal- jununi, wal-judhami, wa min sayyi’il-asqami.”

Ya Allah, aku mencari perlindungan kepada-Mu dari kusta, kegilaan, kaki gajah, dan penyakit jahat. (HR Abu Daud).

Semoga kita semua terhindar dari wabah penyakit. Amin.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...