Apa itu Haji Mabrur?

0

JAKARTA – Istilah haji mabrur tidak dikenal dalam al Qur’an. Tetapi beberapa hadits menyebut istilah itu, yang paling populer adalah “Tidak ada ganjaran bagi haji mabrur, kecuali surga.” Hadits lengkapnya dalam Sunan at Tirmidzi berbunyi demikian: “Ikutkanlah antara haji dan umrah, karena keduanya menghapuskan dosa, sebagaimana las menghapus kotoran besi, emas dan perak. Tidak ada bagi haji yang mabrur ganjaran kecuali surga. Tidak seorang mukmin pun sepanjang hari berada dalam keadaan berihram kecuali dosa-dosanya terbenam bersama matahari.” (HR. at Tirmidzi melalui Ibnu Mas’ud).

Dari segi bahasa, kata mabrur terambil dari akar kata barra, yang mempunyai banyak makna, antara lain, “surga, benar, diterima, pemberian, keluasan dalam kebajikan.” Para ulama berbeda pendapat tentang pengertiannya. Dalam kitab Nayl Al Awthar, asy Syaukani mengemukakan pendapat Ibnu Khalawayh bahwa haji mabrur adalah yang diterima Allah (maqbul). Ulama lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah “haji yang tidak dinodai dosa.” Pendapat ini dipilih dan dikuatkan oleh an Nawawi.

Imam Ahmad dan Al Hakim meriwayatkan dari sahabat Nabi, Jabir, bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Apakah haji mabrur itu?” Beliau menjawab, “Memberi pangan dan menyebarluaskan kedamaian.” Tetapi hadits ini dinilai lemah oleh beberapa ulama. Seandainya dipandang shahih, pengertian haji mabrur tidak memerlukan penjelasan lain lagi. Al Qurthubi mengemukakan bahwa pendapat-pendapat tentang pengertian haji mabrur saling berdekatan makna.

Kesimpulannya, haji mabrur adalah “haji yang sempurna hukum-hukumnya sehingga terlaksana secara sempurna sebagaimana yang dituntut.” Kalau kesimpulan itu diterima, maka harus diingat bahwa di balik hukum-hukum itu ada makna yang dalam yang harus dihayati bahwa di balik hukum-hukum itu ada makna yang dalam yang harus dihayati oleh seorang haji.

Sebab, seperti ditulis Prof. Abdul Halim Mahmud, mantan pemimpin tertinggi al Azhar, “Haji merupakan kumpulan yang sangat indah dari simbol-simbol keruhanian, yang mengantarkan seorang muslim -bila dilaksanakan dalam bentuk dan caranya yang benar- masuk dalam lingkungan ilahi,” dan ketika itu, pastilah seluruh aktivitasnya sejalan dengan apa yang dikehendaki oleh Allah sehingga hajinya mabrur, yakni benar, diterima, dan dia tidak segan memberi dan akhirnya dia memperoleh surga.

Oleh: Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Comments
Loading...