Connect with us

Akhlak Santri

Akhlak Santri, Kyai dan Wali Santri; Membangun Ekosistem Pendidikan Islami

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganugerahkan berbagai keunggulan kepada manusia atas makhluk lainnya dengan ilmu dan amal. Semoga shalawat dan salam semoga tersanjung kepada Rasulullah Muhammad SAW, Nabi terakhir yang telah membebaskan umat manusia dari kegelapan kufur menuju cahaya iman. Juga kepada para keluarga dan sahabat yang menjadi sumber ilmu dan hikmah (kebijakan/wisdom).

Pada dasarnya, setiap pemeluk agama Islam, baik laki-laki maupun perempuan (Muslim dan Muslimah) wajib mempelajari ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan merupakan anugerah Allah SWT yang hanya diberikan kepada manusia. Kalau sifat kasih sayang, keberanian, kekuatan dan lain sebagainya dimiliki oleh manusia dan binatang, maka ilmu pengetahuan hanya dimiliki oleh manusia. Oleh karena itu, berkat ilmu pengetahuan ini manusia menjadi makhluk yang mulia, sehingga para malaikat pun diperintahkan oleh Allah SWT untuk sujud (menghormat) kepada Nabi Adam AS.

Di antara ilmu pengetahun yang wajib dipelajari oleh setiap Muslim adalah sebagai berikut: (1). Ilmu Aqidah, yaitu ilmu pengetahuan yang bertujuan mengenalkan manusia kepada Allah SWT dan hal-hal yang ghaib, sehingga mereka memiliki iman yang kokoh. (2). Ilmu Syari’ah yaitu ilmu pengetahuan yang mengajarkan tentang hukum-hukum dan tata cara beribadah kepada Allah SWT serta bermu’amalah (berinteraksi) dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. (3). Ilmu Akhlak yang mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan yang harus diikuti dan dipraktekkan, serta nilai-nilai buruk yang harus dihindari dan ditinggalkan, seperti sifat dermawan dan pelit; pemberani dan pengecut; tawadlu’ (rendah hati) dan takabbur (sombong). Dari Ilmu Akhlak ini akan ditingkatkan menjadi ilmu Tasawuf, yaitu suatu ilmu yang bertujuan untuk menjaga kesucian hati manusia; menghindarkan diri dari hal-hal yang mengotorinya, serta cara-cara yang harus ditempuh untuk membersihkan kembali hati yang terlanjur kotor, karena perbuatan dosa dan maksiat. Seperti sifat ikhlas, tawakkal, ridla, dan zuhud, menghindari hal-hal yang syubhat dan makruh.

Ilmu-ilmu di atas merupakan ilmu yang paling mulia dan wajib dipelajari oleh setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan, karena ilmu-ilmu tersebut menjadi wasilah (perantara) yang akan menghantarkan pemiliknya untuk meraih derajat taqwa, suatu derajat yang akan menjamin pemiliknya medapatkan karomah (kemulian) di sisi Allah SWT serta kebahagiaan yang abadi, baik di dunia maupun akhirat.

Dewasa ini banyak santri yang mengkaji ilmu pengetahuan, namun tidak mampu menghayati dan mengamalkannya. Hal ini disebabkan karena mereka tidak memperhatikan syarat-syarat pencarian ilmu dan tidak menempuh metode yang telah digariskan oleh para ulama terdahulu. Pepatah Arab menyatakan:

Artinya: “Barang siapa salah jalan, maka akan tersesat dan tidak akan meraih tujuan, baik sedikit maupun banyak.”

Sehubungan dengan hal tersebut, maka buku ini akan menjelaskan tentang akhlak santri, kyai (guru) dan wali santri yang antara lain akan menjelaskan tentang metode dalam menggali ilmu pengetahuan, di samping nilai-nilai spiritual yang harus dimiliki dan diamalkan baik oleh santri, kyai (guru) maupun para wali santri sehingga membantu menghantarkan anak-anak kita meraih sukses di dunia dan akhirat.

Bersambung….

Akhlak Santri

Akhlak Santri kepada Orang Tua

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Orang Tua
Foto: Garakta-Studio (LC: HS6YNAGPX3)

Islam adalah agama universal yang bertujuan menciptakan rahmat bagi seluruh alam semesta serta memberikan petunjuk kepada umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Oleh karena itu, agama Islam tidak hanya mengajarkan tata cara beribadah untuk mengabdi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga memberikan petunjuk tentang tata cara bermuamalat (berinteraksi) antar sesama manusia untuk menciptakan kesejahteraan, ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan seluruh anggota masyarakat.

Keluarga sebagai komunitas terkecil dalam suatu masyarakat, sangat besar peranannya dalam menciptakan ketenangan dan ketentraman masyarakat. Jika setiap keluarga hidup dengan sejahtera dan bahagia, penuh kehangatan dan kasih sayang, saling menghormati dan menyayangi di antara para anggota keluarga, maka dapat dipastikan seluruh masyarakat akan tenang, tenteram dan bahagia. Demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu, agama Islam, sangat memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga dengan memberikan petunjuk tentang kewajiban dan hak masing-masing anggota keluarga.

Pengorbanan Kedua Orang Tua

Kedua orang tua, ayah dan ibu adalah manusia yang paling berjasa terhadap anaknya. Anak-anak lahir di muka bumi adalah dengan perantaraan (wasilah) kedua orang tua. Ibu dengan ikhlas mengandung anak di dalam perutnya selama kurang lebih 9 (Sembilan) bulan, kemudian melahirkannya dengan penuh rasa sakit, bahkan tidak jarang bersabung nyawa. Akan tetapi begitu melihat sang anak lahir dengan selamat, Ibu tersenyum bahagia dan seketika itu, hilanglah rasa sakit dan penderitaan yang dirasakan selama ini. Ayah dan seluruh anggota keluarga juga  menyambut kelahiran bayi dengan senyum bahagia. Sebagaimana diilustrasikan oleh seorang penyair :

“Wahai manusia, ketika engkau dilahirkan oleh ibumu (ke alam dunia), engkau dalam keadaan menangis sedangkan orang-orang di sekelilingmu (orangtua dan saudara-saudaramu) menyambutmu dengan suka cita. Maka berjuanglah agar ketika  wafat engkau dalam keadaan tersenyum sedangkan mereka menangis karena  meratapi kepergianmu”.

Sesudah itu, ibu menyusui anak selama 2 (dua) tahun kemudian memberikan nutrisi (asupan makanan dan minuman) yang diperlukan serta membimbingnya sehingga sang anak bisa berjalan. Ayah juga berjuang sekuat tenaga, bekerja keras agar mendapatkan rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup anak istri. Pengorbanan ayah dan ibu terus berlangsung hingga anak menempuh pendidikan sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Perguruan Tinggi, bahkan tidak jarang sampai anak melangsungkan pernikahan.

Kalau sekarang kalian para santri bisa belajar, menuntut ilmu di lembaga pendidikan Islam pondok pesantren, tidak lain adalah karena peran kedua orang tua yang sangat berkeinginan agar kalian menjadi orang-orang yang pandai (‘alim) serta berakhlak mulia sehingga dicintai oleh Allah SWT dan manusia serta memiliki kedudukan yang terhormat dan mulia di hadapan mereka. Ayah dan Ibu dengan sabar bekerja keras, bahkan mengurangi waktu istirahatnya, semata-mata agar bisa memenuhi kebutuhan hidup anaknya serta membiayai pendidikannya agar kelak anaknya lebih sukses dan mulia dibanding diri mereka sendiri.        

Akhlak Anak terhadap Orang Tua

Uraian di atas menunjukkan betapa besar pengorbanan kedua orang tua dalam melahirkan, membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang sehingga mereka tumbuh berkembang menjadi orang-orang yang sukses dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Oleh karena itu, setiap anak berkewajiban untuk berakhlak mulia kepada kedua orang tua, terutama ibu.  

Mengingat betapa besar peran dan pengorbanan kaum ibu dalam mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak-anaknya hingga tumbuh dan berkembang menjadi dewasa dan mandiri, maka agama Islam memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada kaum ibu. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Surga itu berada di bawa telapak kami kaum ibu.”

Demikian juga hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA:

“Ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW kemudian bertanya; Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya perlakukan dengan baik? Ia menjawab, “ibumu”. Orang laki-laki tersebut bertanya lagi. (Sesudah ibuku), siapa lagi wahai Rasulullah? Ia menjawab, “ibumu”. Orang laki-laki tersebut bertanya lagi. (Sesudah ibuku), siapa lagi wahai Rasulullah? Ia menjawab, “ibumu”. Orang laki-laki tersebut bertanya lagi. (Sesudah ibuku), siapa lagi wahai Rasulullah? Ia menjawab “ayahmu”.

Berdasarkan hadits shahih di atas, maka dapat dipahami bahwa kewajiban anak untuk menghormati, menyayangi, dan mentaati ibu adalah tiga kali lipat dibanding kewajibannya untukmenghormati, menyayangi, dan mentaati ayah. Oleh karena itu, anak harus senantiasa taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya terutama kepada ibu, sehingga meraih keberkahan dan kebahagiaan hidup yang hakiki.

Jika dijabarkan, akhlak mulia yang menjadi kewajiban anak terhadap orang tuanya adalah sebagai berikut:

Menghormati, mengabdi dan membahagiakan kedua orang tua. Setiap anak wajib menghormati, mengabdi dan membahagiakan orang tua, terutama ibu yang telah bersusah payah mengandungnya selama kurang lebih sembilan bulan, kemudian melahirkannya dengan menahan segala macam rasa sakit dan bahkan harus mempertaruhkan nyawanya, menyusui dan membesarkannya hingga mampu hidup mandiri. Demikian juga ayah yang telah bersusah payah mencarikan rizki untuk membiayai hidupnya, mendidiknya serta menjaga kesehatannya dengan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, sesudah mengabdi kepada Allah SWT. Dzat Yang Mencipta dan Memeliharanya, setiap manusia wajib mengabdikan hidupnya untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat an-Nisa’ ayat 36 :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu”.

Firman Allah ini, menempatkan kewajiban manusia untuk berbuat baik dan mengabdi kepada kedua orangnya, langsung sesudah kewajibannya untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Mendengarkan Nasehat dan Mentaati Perintahnya. Sebagai konsekuensi logis dari kewajiban untuk mengabdi dan membahagiakan kedua orang tua, maka setiap anak wajib mendengarkan nasehat dan mentaati semua perintah mereka, sepanjang tidak memerintahkan berbuat maksiat atau menyekutukan Allah SWT. Jika kedua orang tua memerintahkan anaknya berbuat maksiat atau menyekutukan Allah SWT, maka anak tidak boleh mentaatinya. Sungguh pun demikian, kedua orang tua tetap harus dihormati dan diperlakukan dengan baik. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Luqman ayat 14 – 15 :

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam  keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Berbicara dengan penuh sopan santun dan tidak membentaknya. Para santri wajib berbicara yang sopan kepada kedua orang tua dan tidak membentak merka, terutama jika orang tua sudah menjadi renta dan pendengaran mereka sudah sangat menurun, karena hal itu sangat menyakiti hati orang tua. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 23  :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka serta ucapkanlah perkataan yang mulia”.

Membantu pekerjaan dan berusaha memenuhi semua kebutuhan hidup orang tua. Para santri harus siap dan bersedia membantu pekerjaan orang tua seperti membersihkan rumah, merapikan tempat tidur, memasak, mencuci piring, memperbaiki letak atau mengganti geneteng yang bocor dsb. Jika orang tua sudah tidak mampu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya disebabkan kerena telah berusia lanjut, sakit atau faktor yang lain, maka semua kebutuhan hidupnya, baik berupa makanan, minuman, pakaian, perumahanan, maupun obat-obatan menjadi tanggung jawab anak-anaknya, terutama anak laki-laki yang sudah dewasa. Di banding dengan jasa orang tua terhadap anaknya, bantuan nafkah tersebut belum berarti apa-apa. Bahkan hadits Rasulullah saw telah menyebutkan, “Demi Allah, meskipun kamu telah memotong-motong dagingmu untuk memenuhi keperluan hidup orang tuamu, niscaya kamu belum memenuhi haknya, walaupun hanya seperempat”.

Menghindari hal-hal yang menimbulkan murka orang tua. Para santri wajibmenghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan kekecewaan, kemarahan dan murka orang tua. Seperti ucapan yang kasar, membentak, sikap dan perbuatan yang menyakitkan. Terutama jika orang tua telah berusia senja yang biasanya sangat mudah tersinggung dan menjadi pemarah. Karena kekecewaan, kemarahan dan murka orang tua, akan menyebabkan murka Allah SWT. Sedangkan orang yang dimurkai Allah, hidupnya tidak akan bahagia, baik di dunia maupun di akheratnya. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW :

“Ridla Allah bergantung pada ridla kedua orang tua dan murka Allah bergantung pada murka kedua orang tua”.

Mendoakan dan memohonkan ampunan. Di samping kewajiban-kewajiban di atas, setiap anak juga wajib mendoakan kepada orang tuanya agar mereka memperoleh rahmat dan kasih sayang dari Allah swt. serta diampuni semua dosa, kesalahan dan kehilafan mereka. Di antara do’a-do’a tersebut telah disebutkan dalam surat al-Isra’ ayat 24  :

Dan bersikaplah sopan santun kepada mereka dengan penuh kesayangan, serta doakanlah mereka dengan ucapan, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu masih kecil”.

Uraian di atas menunjukkan, bahwa selama orang tua tidak memerintahkan kekufuran, kemusyrikan dan perbuatan maksiat kepada Allah SWT, maka semua perintahnya wajib dilaksanakan, semua larangannya wajib dihindarkan dan semua nasehatnya wajib didengar  dipatuhi. Akan tetapi jika mereka memerintahkan kekufuran, kemusyrikan dan maksiat kepada Allah, maka tidak boleh diikuti. Meskipun demikian perbedaan agama dan kepercayaan tidak menjadi penghalang bagi anak untuk menghormati dan mentaati orang tuanya.

Akhlak Anak terhadap Orang Tua yang telah Wafat

Meskipun orang tua telah wafat, anak-anak tetap mempunyai kewajiban untuk berakhlak mulia kepadanya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Abu Daud dari sahabat Abu Usaid  Malik ibn Rabi’ah al-Sa’idi RA. Beliau berkata :

 “Ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berasal dari Bani Salimah datang. Kemudian laki-laki tersebut bertanya; ’Wahai Rasulullah, masih adakah kewajiban bagi saya untuk berbakti kepada kedua orang tua saya sesudah mereka berdua wafat? Kemudian Rasulullah SAW menjawab betul, yaitu (1). Shalatkan jenazah kedua orang tuamu (2). Mohonkan ampunan keduanya (3). Laksanakan janji (amanah/wasiat) keduanya sesudah wafat (4). Jalin hubungan sillaturrahim dengan kerabat keduanya (5). Muliakan sahabat keduanya”[1]

Berdasarkan hadits shahih di atas dapat disimpulkan, bahwa kewajiban anak terhadap kedua orang tuanya sesudah mereka wafat adalah sbb. :

  1. Menshalati (menyembahyangkan) jenazahnya
  2. Memohonkan ampunan kepada Allah SWT dan sesama manusia
  3. Melaksanakan semua janji-janji atau wasiatnya.
  4. Menyambung tali persaudaraan dengan keluarga dan sanak famili almarhum dan almarhumah
  5.  Memuliakan para sahabatnya.[]

[1] Al-Imam Abi Zakaria Yahya ibn Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Riyadu al-Sholihin, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Jakarta, 2010, h. 137

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak kepada Rasulullah SAW

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Rasulullah SAW

Selain wajib berakhlak mulia kepada Allah SWT, umat Islam juga wajib berakhkak mulia kepada Rasulullah SAW, karena beliau adalah kekasih Allah yang diutus untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia agar mereka menjalani hidup dan kehidupan sesuai petunjuk-Nya sehingga meraih kebahagiaan hidup yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat (السعادة في الدارين).

Beliau-lah yang mengenalkan kita kepada Allah SWT. Beliau-lah yang mengajarkan hukum-hukum Islam kepada kita, baik hukum-hukum tentang ibadah, mu’amalah, munakahah maupun jinayah. Beliau-lah yang mendidik kita agar berakhlak mulia, baik kepada Allah, diri sendiri maupun kepada orang lain, bahkan flora, fauna serta alam di sekeliling kita. 

Di antara bentuk nyata akhlak mulia kepada Rasulullah SAW  adalah sebagai berikut :

  1. Meyakini dengan sepenuh hati (beriman) bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT. kepada seluruh manusia dan jin untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Fath ayat 29 :
    “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras (tegas) terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”.

    Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Anbiya’ ayat 107 :
    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”
  2. Meyakini dengan sepenuh hati (beriman) bahwa semua informasi (al-Qur’an & al-Hadits) yang disampaikan oleh beliau adalah pasti benar, karena berasal dari wahyu Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat an-Najm ayat 3 – 4 :
    “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
  3. Mentaati beliau dengan melaksanakan semua perintahnya, menjauhi larangan-larangannya serta mengikuti dan menghidupkan sunnah-sunnahnya. Hal ini merupakan bukti nyata keincintaan manusia kepada Allah SWT, Dzat yang menganugerahkan berbagai macam keni’matan kepada manusia. Sebagaimana difirmankan dalam surat Ali Imrah ayat 31 :
    “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

    Demikian juga firman-Nya dalam surat an-Nisa’ ayat 59 :
    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.
  4. Tidak membantah apalagi menentang keputusan Rasulullah SAW. karena meyakini bahwa keputusan beliau pasti benar karena beliau selalu mendapat bimbingan dan pengawasan dari Allah SWT. Barangsiapa membantah apalagi menentang keputusan Rasulullah SAW, kemudian tidak segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar, maka tempatnya adalah di neraka Jahannam. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat an-Nisa’ ayat 115 :
    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
  5. Menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh teladan dalam seluruh aspek kehidupan, karena Allah SWT telah merekomendasikan kepada orang-orang yang beriman agar mencontoh sikap dan prilaku beliau. Sebagaimana telah difiramkan dalam surat al-Ahzab ayat 21 :
    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
  6. Memperbanyak membaca shalawat dan salam sebagai ekpsresi dari rasa cinta (mahabbah) kepada Rasulullah SAW. Jangankan kita umat yang sangat mengharapkan syafaat (pertolongan) beliau pada hari kiamat kelak, Allah SWT Dzat yang menciptakan beliau dan para malaikat yang tidak mempunyai dosa saja selalu membaca shalawat kepada beliau. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ahzab ayat 56 :
    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

    Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad. Sedangkan mengucapkan salam, adalah ucapan seperti: Assalamu’alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi. Seseoang yang rajin bershalawat, maka akan dibalas berlipat-lipat oleh Allah SWT, bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW mendapatkan syafa’at.
  7. Tidak berbicara dengan suara keras, melebihi suara Rasulullah SAW padahal beliau adalah manusia yang paling halus. Jika kita berbicara dengan suara keras apalagi berteriak-teriak di hadapan beliau atau makam beliau, maka hal itu berpotensi menghapuskan pahala amal ibadah yang telah kita lakukan. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Hujurat ayat 2 :

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”.
  8. Menghormati dan memuliakan ahlul bait (keluarga) Nabi Muhammad SAW, baik para istri (umahat al-mukminin), para putra dan putri maupun para cucu keturunan beliau yang dikenal dengan sebutan habib (habaib) atau sayyid, karena mereka adalah orang-orang yang disucikan oleh Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ahzab ayat 33 :
    “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

[]

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak kepada Allah SWT (2)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Allah SWT
  1. Ikhlas, baik dalam melaksanakan ibadah mahdlah kepada Allah SWT maupun dalam membantu sesama umat manusia (kerja sosial). Karena ikhlas merupakan syarat mutlak diterimanya suatu ibadah atau amal perbuatan seseorang. Sebagaimana telah dijelaskan oleh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar Ibn Khatab :

    “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu (akan dibalas oleh Allah SWT) sesuai dengan niat, dan setiap manusia akan memperoleh balasan amal perbuatan sesuai dengan niatnya masing-masing. Barangsiapa berhijrah (dari Makkah ke Madinah) semata-mata bertujuan untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka akan diterima (sebagai amal ibadah kepada Allah dan Rasul). Tetapi barangsiapa berhijrah semata-mata untuk memperoleh harta atau menikahi wanita, maka ia tidak memperoleh pahala apa-apa (karena hijrahnya tidak bernilai ibadah)”.
  2. Syukur dalam memperoleh anugerah nikmat dari Allah SWT. Umat Islam, khususnya para santri wajib bersyukur atas nikmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT.           Seorang hamba  yang  tidak  pandai  bersyukur, alias mengkufuri nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke dalam api neraka, karena Allah SWT telah memerintahkan para hambaNya  untuk  mengingat-Nya  dan  bersyukur  atas  nikmat-nikmatNya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 152 :

    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

    Prof. Dr. Syaih Mohammad Ali Ash-Shabuni dalam menafsirkan ayat di atas menyatakan; “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan. Sedangkan maksud firman Allah SWT,” bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah  kamu mengingkari nikmat-Ku”, bermakna: “Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat.

    Berdasarkan ayat di atas,  mak bersyukur  atas  nikmat  Allah  merupakan  kewajiban setiap muslim. Namun, seorang muslim harus memahami bagaimana cara merefleksikan rasa syukur secara benar. Betapa banyak orang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Misalnya, ada orang yang mewujudkan rasa syukurnya dengan cara mabuk-mabukkan, pesta pora, pergi ke tempat-tempat maksiyat, bernyanyi-nyanyi hingga melupakan kewajibannya, dan seterusnya. Adapula yang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara menyediakan sesaji dan persembahan kepada pohon dan tempat-tempat keramat. Refleksi syukur seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam.

    Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah SWT serta meninggalkan perbuatan maksiyat.         Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam ‘Ali Al-Shabuni. Ibadah dan taat kepada Allah SWT serta meninggalkan larangan-larangan-Nya adalah perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Seseorang yang selalu taat kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh aturan-aturanNya dan sunnah Nabinya pada hakekatnya adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Ny. Sebaliknya, orang yang menolak melaksanakan syari’at Islam, adalah termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya.
  3. Sabar ketika tertimpa musibah (cobaan/ujian). Secara literal, sabar adalah habsu al-nafs ‘an al-jaza’ (menahan diri dari keluh kesah (ketidak sabaran).[1] Setiap orang pasti akan diuji oleh Allah SWT dengan berbagai macam ujian. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 155 – 156 :

    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”

    Apabila seseorang mampu menahan diri dari keluh kesah, kegelisahan, dan kegundahan akibat berbagai macam ujian dan cobaan, maka ia tergolong orang-orang yang sabar. Sebaliknya, tatkala seseorang suka mengeluh, mengaduh, dan selalu merasa jengah serta khawatir atas berbagai macam musibah, maka ia bukanlah termasuk bagian orang-orang yang sabar. Jamaluddin al-Qasimi menyatakan, “Barangsiapa yang tetap tegak bertahan sehingga dapat menundukkan hawa nafsunya secara terus-menerus, orang tersebut termasuk golongan orang yang sabar.”[Al-Qasimi, Mau’idlaat al- Mukminiiin].

    Kesabaran merupakan perhiasan hati yang sangat agung dan mulia. Kesabaran akan menjadikan seseorang bersifat qana’ah, mulia dan dihormati oleh siapapun.  Selain itu, kesabaran juga merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh seseorang agar mendapatkan keberhasilan dan kemenangan. Sebaliknya, sifat tergesa-gesa, gelisah dan berlebihan akan menjatuhkan seseorang ke dalam kegagalan dan kemurkaan Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat Hud ayat 115 :

    “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.

    Demikian juga firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 200 :

     “Hai orang-orang yang beriman, berlakulah sabar dan perkuat kesabaran diantara  sesama  kalian,  dan  bersiagalah  kalian  serta  bertaqwalah  kepada Allah, supaya kalian memperoleh kemenangan.”[Ali Imran:200]

    Kesabaran yang dimaksud pada ayat di atas adalah kesabaran dalam menghadapi segala bentuk kesulitan dan penderitaan tatkala menjalankan perintah Allah SWT. Kesabaran dalam menunut ilmu harus diwujudkan dengan cara menjalankan seluruh proses, dimulai dengan niat yang ikhlas, semangat yang kuat, kemudian mempersiapkan strategi belajar yang tepat, melengkapi diri dengan berbagai sarana dan prasarana yang memadai, serta mentaati instruksi-instruksi para pendidik. Selanjutnya, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

    Kesabaran dalam  bekerja harus   direfleksikan   dengan cara mengorganisasikan segala sesuatu yang bisa menunjang keberhasilan pekerjaannya. Ia mempersiapkan seluruh potensi dirinya untuk meraih rizki yang halal, dan berserah diri kepada Allah atas semua hasil yang diterimanya. Kesabaran  dalam  berdakwah  harus  diwujudkan  dengan  cara berjalan  sesuai  dengan  manhaj  dakwah  Rasulullah SAW  walaupun  jalan  itu terasa  sulit,  panjang,  berliku  dan  penuh  dengan  cobaan  dan  musibah. Selanjutnya, ia membuat rencana-rencana program yang terarah, realistis, dan jelas. Seorang da’i juga harus kreatif dalam menciptakan uslub-uslub yang sesuai dengan kondisi dan fakta yang ada, yang secara logis akan mengantarkan kepada keberhasilan. Ia juga selalu mencari dan menciptakan cara-cara baru yang bisa mempermudah akses dakwahnya di tengah-tengah masyarakat. Atas dasar itu, kesabaran harus diwujudkan dengan cara mempersiapkan diri menghadapi segala macam kesulitan dan derita dalam menjalankan seluruh perintah Allah swt.

    Secara umum, kesabaran dibagi  menjadi  2 (dua) macam. Pertama,  kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat  fisik. Kedua, kesabaran  dalam menghadapi cobaan yang bersifat non fisik. Kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat fisik adalah tabah dalam memikul tugas-tugas yang berat, tabah dalam menghadapi kemiskinan, cacat, atau menderita rasa sakit (akibat penyakit maupun siksaan).

    Kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat non fisik terbagi menjadi beberapa hal. Di antaranya adalah sbb. :
  • Sabar dalam menahan hawa nafsu dan kecenderungan seksual. Kesabaran semacam ini disebut dengan ‘iffah.’
  • Sabar dalam menghadapi musibah, kesulitan, dan bencana tanpa ada keluh kesah, mengumpat, rasa kesal dan sebagainya. Kesabaran semacam ini sering dianggap sebagai bentuk kesabaran secara umum.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari kehidupan mewah pada waktu sedang kaya.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari sifat pengecut di medan peperangan yang dalam akhlak Islam disebut syaja’ah (keberanian),.     Lawan kata dari sifat syaja’ah adalah al-jubun (pengecut).
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari marah dalam menghadapi musuh atau orang yang berbeda pendapat, yang disebut tasamuh (toleran).
  • Sabar dalam bentuk menahan diri untuk tidak menyampaikan suatu ‘aib atau rahasia –baik rahasia diri sendiri, orang lain dan negara– kepada pihak lain, yang disebut kitman al-sirr.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari kenikmatan dan kesenangan dunia untuk memperoleh kesenangan akherat, yang disebut zuhud.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari pola hidup yang berlebih-lebihan (berfoya-foya), dan merasa puas dengan kehidupan yang sederhana sesuai dengan kemampuan, yang disebut qana’ah.
  1. Tawakkal. Ditinjau dari segi bahasa, kata tawakkal berasal dari kata wakkala – yawakkilu – taukiilan – wa tawakkalan (وكل – يوكل – توكيلا – وتوكلا) yang berarti mewakilkan. Sedangkan pengertian tawakkal dalam ajaran agama Islam adalah; “Menyerahkan semua kejadian yang telah, sedang dan akan terjadi pada diri kita kepada Allah SWT, karena yakin dan percaya bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mencipta dan Mengatur hidup dan mati manusia dengan penuh hikmah, kebijaksanaan dan kasih saying. Sikap tawakkal ini dilakukan sesudah melakukan usaha secara maksimal”.

    Definisi di atas menunjukkan, bahwa bertawakkal kepada Allah SWT  bukan berarti bersikap pasif dan apatis tanpa melakukan sesuatu usaha dan aktivitas apapun, melainkan tetap berusaha secara maksimal dan bekerja dengan baik, tetapi menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dengan demikian tidak benar asumsi sementara orang yang menyatakan, bahwa sikap tawakkal telah menjadikan umat Islam malas belajar, bekerja dan berusaha, sehingga mereka mengalami kebodohan kemiskinan dan keterbelakangan.

    Jika ada sebagian masyarakat yang memahami sikap tawakkal adalah menyerahkan semua persoalan kepada Allah SWT. tanpa melakukan usaha sama sekali, maka perlu diluruskan, karena pemahaman  tersebut sama sekali tidak benar dan bertentangan dengan ajaran agama Islam yang memerintahkan pemeluknya bersungguh-sunggguh memperjuangkan tegaknya ajaran agama Islam yang dikenal dengan istilah jihad (الجهاد); bersungguh-bersungguh dalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahun dengan rajin belajar, melakukan penelitian dan analisa yang dikenal dengan istilah ijtihad (الاجتهاد); serta berusaha dan bekerja keras untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang dikenal dengan istilah mujahadah (المجاهدة); Ketiga istilah tersebut berasal dari akar kata yang sama yakni al-juhdu (الجهد); yang berarti usaha dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ankabut ayat 69  :

    “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridhaan) Kami, pasti (benar- benar) akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

    Jangankan mencari ilmu yang sulit, hal-hal yang mudah saja tidak akan berhasil jika tidak diusahakan dan dikerjakan. Sebagai contoh, nasi dan lauk pauk yang sudah dihidangkan di meja makan, tidak akan menghilangkan rasa lapar jika tidak dimakannya. Air mineral yang sudah dihidangkan di atas meja, tidak akan menghilangkan rasa haus dan dahaga jika tidak diminumnya. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan semua manusia untuk mencari rizki di muka bumi ini, tidak boleh berpangku tangan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Jum’ah ayat 10  :

    “Apabila telah selesai menunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia (rizki) Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung”.

    Demikian juga Rasulullah memerintahkan umatnya yang sakit untuk berobat agar sembuh dari sakitnya. Jika sudah berobat ternyata tidak tertolong dan akhinya meninggal dunia, maka harus menerima kenyataan dengan penuh keimanan bahwa Allah SWT. telah mentakdirkan kematiannya pada saat itu. Akan tetapi tidak boleh membiarkannya tanpa berobat dengan alasan tawakkal kepada Allah. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad bin Hambal, al-Hakim dkk dari sahabat Usamah sebagai berikut:

    “Berobatlah kamu sekalian wahai para hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan pasti menyediakan obatnya, kecuali satu penyakit yakni penyakit pikun”.

    Demikian juga Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk menyimpan harta benda di tempat yang aman serta menjaganya dari kerusakan dan pencurian. Oleh karena itu beliau memarahi seorang sahabat yang meninggalkan ontanya di tengah jalan tanpa diikat, dengan alasan bertawakkal kepada Allah. Kemudian beliau memerintahkan sahabat tersebut untuk mengikat ontanya, sesudah itu baru bertawakkal kepada Allah swt.

    Seluruh ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan al-Hadits, baik yang berupa perintah dan anjuran maupun yang berupa larangan untuk mengerjakan sesuatu, pasti mengandung dampak positif serta menghindarkan dampak negatif bagi pelakunya serta bagi orang lain, baik di dunia maupun di akherat. Tawakkal sebagai salah satu ajaran Islam yang diperintahkan oleh Allah SWT. kepada para hamba-Nya yang beriman pasti mengandung dampak positif serta menghindarkan dampak negatif.

Di antara dampak positif tawakkal adalah sbb. :

  • Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Dengan bertawakkal kepada Allah serta menyerahkan persoalan dan permasalahan yang kita hadapi kepada-Nya, maka berarti kita yakin dan percaya bahwa Allah SWT adalah Dzat yang berkuasa untuk memberikan keputusan yang terbaik kepada kita dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Allah SWT adalah Dzat yang mencipta dan mengatur hidup serta mati manusia dengan penuh hikmah, kebijaksanaan dan kasih sayang. Sebaliknya, jika kita tadak bertawakkal, maka berarti kita tidak atau kurang beriman kepada-Nya. Karena salah satu ciri orang yang benar-benar beiman adalah orang yang bertawakkal kepada Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Anfal ayat 2 :

    “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman ialah; mereka yang apabila disebutkan sifat-sifat Allah, maka gemetarlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambahlah iman mereka, dan kepada Allah-lah mereka bertawakkal”.

    Bahkan Allah SWT. telah menjadikan tawakkal sebagai salah satu syarat beriman kepada-Nya. Dengan demikian seseorang yang mengaku beriman tetapi tidak bertawakkal, maka pada hakekatnya ia belum beriman, karena tawakkal merupakan salah satu konsekuensi logis dari keimanan kita kepada AllahSWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Maidah ayat 23 :

    “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.
  • Menumbuh-kembangkan jiwa pemberani dan optimism. Seseorang yang bertawakkal kepada Allah SWT, maka dapat dipastikan bahwa ia adalah seorang pemberani. Ia berani memperjuangkan kebenaran, karena tidak merasa takut terancam kedudukannya atau menghadapi kesulitan hidup. Ia juga tidak takut mati, jika harus berperang melawan musuh-musuh Islam, karena yakin bahwa kematiannya tidak ditentukan oleh peperangan dan perjuangan, tetapi semata-mata ditetapkan oleh Allah SWT. Sekalipun berada dalam benteng yang dikelillingi pagar besi baja, kalau sudah tiba masa kematiannya, maka seseorang tidak akan mampu menghindarinya. Sebaliknya, walaupun seseorang ikut berperang atau naik pesawat terbang yang mengalami kecelakaan, kalau belum tiba masa kematiannya, maka ia tidak akan mati. Oleh karena itu sebagai orang yang beriman kita harus bertawakkal kepada Allah sehingga kita mempunyai keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, tanpa dibayang-bayangi rasa takut mati, terancam kedudukan serta kesulitan hidup. Karena kita yakin bahwa nasib kita tidak berada di tangan atasan kita dan musuh-musuh kebenaran, tatapi semata-mata berada dalam kekuasaan Allah SWT. Sepanjang kita beriman dan bertawakkal kepada-Nya, maka tidak perlu ada yang ditakutkan. Karena Allah telah berjanji akan memberikan kecukupan dalam segala hal kepada orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Thalak ayat 3 :

    “Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi semua kebutuhannya”.
  • Memberikan ketenaangan batin. Jika seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin, bekerja secara profesional, kemudian bertawakkal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT., maka batinnya akan selalu tenang dan tenteram. Demikian juga jika seseorang telah menyimpan hartanya di tempat yang aman serta menjaganya dari kerusakan dan pencurian, kemudian ia bertawakkal kepada Allah, maka batinnya akan selalu tenang dan tenteram. Karena ia yakin dan percaya bahwa Allah akan menjaganya dan memberikan sesuatu yang terbaik, bermanfaat dan penuh hikmah kepadanya. Sebagaimana janji Allah dalam surat al-Ahdzab ayat 3 :

    “Bertawakkal-lah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai wakil”.
  • Menghilangkan stress dan frustasi. Dengan selalu bertawakkal kepada Allah, maka seseorang yang gagal dalam mencapai cita-cita dan keinginannya, seperti gagal dalam bercinta, gagal dalam memperoleh kejujuran, gagal dalam menduduki suatu jabatan, gagal dalam berbisnis dan sebagainya, atau kehilangan sesuatu yang disenanginya, atau ditinggal mati oleh seseorang yang sangat dicintai, atau tertimpa musibah yang lain, maka ia tidak akan stress dan frustasi. Karena ia yakin bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT yang pasti banyak hikmah dan manfaatnya. Sebaliknya jika ia sukses dalam mencapai sesuatu, ia tidak akan sombong dan lupa diri, karena menyadari bahwa walaupun memiliki kecerdasan yang tinggi, menguasai sains dan teknologi, mampu memprediksi segala sesuatu yang akan terjadi, tapi tanpa pertolongan Allah SWT. semuanya itu tidak akan mempunyai arti apa-apa. Oleh karena itu semua orang mukmin harus bertawakkal kepada Allah SWT. dengan menghayati dan mengamalkan makna Kalimat Hauqalah (LA HAULA WALA KUWWATA ILLA BILLAH AL-‘ALIYYI AL-ADZIM) yang berarti tiada daya untuk melakukan sesuatu kebaikan, dan tiada kekuatan untuk menghindari kejahatan, kecuali dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dengan tawakkal tersebut maka seseorang tidak akan frustasi karena gagal dalam mencapai sesuatu, serta tidak akan sombong jika sukses dalam meraih prestasi. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Hadid ayat 23 :

    “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan frustasi (berduka cita) dalam menghadapi kegagalan, serta jangan lupa diri (terlalu gembira) dalam menghadapi kesuksesan yang diberikan oleh Allah kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
  • Menumbuh-kembangkan sifat dermawan. Seseorang yang benar-benar bertawakkal kepada Allah SWT pasti bersifat dermawan. Karena ia tidak akan takut kekurangan rizki. Ia yakin dengan sepenuh hati, bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Allah akan selalu memberikan rizki yang cukup untuk diri dan keluarganya. Allah akan mengganti setiap harta yang disedekahkan kepada para fakir miskin dan atau untuk kepentingan perjuangan agama Islam, dengan balasan yang berlipat ganda, baik di dunia maupun di akherat. Oleh karena itu jika seorang mukmin bersifat pelit hingga tidak mau bersedekah dan bahkan tidak mau membayar zakat karena takut jatuh miskin, maka pada hakekatnya ia tidak (belum) bertawakkal kepada Allah SWT. Jika ia bertawakkal pasti tidak akan pelit karena yakin bahwa Allah akan menjamin hidupnya dan mengganti sedekahnya dengan balasan yang berlipat ganda. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 261 :

    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang meumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

    Sebaliknya, seseorang yang tidak atau kurang bertawakkal kepada Allah SWT pasti akan merasakan dampak negatif. Antara lain adalah sbb. :
  1. Berjiwa kerdil dan penakut. Seorang yang tidak bertawakkal kepada Allah SWT akan berjiwa kerdil dan penakut. Oleh karena itu, ia tidak berani memperjuangkan kebenaran karena takut menghadapi kesulitan hidup. Tidak berani berkompetinsi secara sportif karena takut kalah. Tidak berani berdagang karena takut rugi dan sebagainya.
  2. Suka meminta bantuan kepada dukun. Sebagai akibat dari jiwa kerdil dan penakut, maka seseorang tidak memiliki rasa percaya diri. Akibatnya bisa terjemurus pada praktek perdukunan atau mendatangi dukun serta meminta bantuan kepada jin dan setan utnuk menghadapi berbagai problem kehidupan. Padahal mendatangi dukun yang meminta bantuan kepada jin dan setan adalah haram karena dapat menjerumuskan kepada kemusyrikan.
  3. Bersifat hasad (iri hati/dengki). Jika seseorang tidak bertawakkal dan menyerahkan semua kejadian kepada Allah SWT, maka ia akan mudah terserang penyakit hasad ketika melihat orang lain yang dianggap rivalnya memperoleh kesuksesan. Sehingga ia melakukan sesuatu yang dapat merugikan rival tersebut.
  4. Bersikap takabbur dan mudah frustasi. Jika seseorang yang tidak bertawakkal kepada Allah SWT. meraih sukses, maka akan bersikap sombong (takabbur) dan lupa diri, karena merasa bahwa kesuksesan tersebut semata-mata karena kehebatan dirinya. Sebaliknya jika gagal, ia akan mudah frustasi. Sebagai pelariannya ia akan terjerumus mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, bahkan terkadang sampai melakukan bunuh diri. Di samping itu, orang yang tidak bertawakkal kepada Allah akan bersifat pelit, karena takut jatuh miskin.

[1] Abu Bakar Al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal.354.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending