Connect with us

Akhlak Santri

Akhlak Santri, Kyai dan Wali Santri; Membangun Ekosistem Pendidikan Islami

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganugerahkan berbagai keunggulan kepada manusia atas makhluk lainnya dengan ilmu dan amal. Semoga shalawat dan salam semoga tersanjung kepada Rasulullah Muhammad SAW, Nabi terakhir yang telah membebaskan umat manusia dari kegelapan kufur menuju cahaya iman. Juga kepada para keluarga dan sahabat yang menjadi sumber ilmu dan hikmah (kebijakan/wisdom).

Pada dasarnya, setiap pemeluk agama Islam, baik laki-laki maupun perempuan (Muslim dan Muslimah) wajib mempelajari ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan merupakan anugerah Allah SWT yang hanya diberikan kepada manusia. Kalau sifat kasih sayang, keberanian, kekuatan dan lain sebagainya dimiliki oleh manusia dan binatang, maka ilmu pengetahuan hanya dimiliki oleh manusia. Oleh karena itu, berkat ilmu pengetahuan ini manusia menjadi makhluk yang mulia, sehingga para malaikat pun diperintahkan oleh Allah SWT untuk sujud (menghormat) kepada Nabi Adam AS.

Di antara ilmu pengetahun yang wajib dipelajari oleh setiap Muslim adalah sebagai berikut: (1). Ilmu Aqidah, yaitu ilmu pengetahuan yang bertujuan mengenalkan manusia kepada Allah SWT dan hal-hal yang ghaib, sehingga mereka memiliki iman yang kokoh. (2). Ilmu Syari’ah yaitu ilmu pengetahuan yang mengajarkan tentang hukum-hukum dan tata cara beribadah kepada Allah SWT serta bermu’amalah (berinteraksi) dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. (3). Ilmu Akhlak yang mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan yang harus diikuti dan dipraktekkan, serta nilai-nilai buruk yang harus dihindari dan ditinggalkan, seperti sifat dermawan dan pelit; pemberani dan pengecut; tawadlu’ (rendah hati) dan takabbur (sombong). Dari Ilmu Akhlak ini akan ditingkatkan menjadi ilmu Tasawuf, yaitu suatu ilmu yang bertujuan untuk menjaga kesucian hati manusia; menghindarkan diri dari hal-hal yang mengotorinya, serta cara-cara yang harus ditempuh untuk membersihkan kembali hati yang terlanjur kotor, karena perbuatan dosa dan maksiat. Seperti sifat ikhlas, tawakkal, ridla, dan zuhud, menghindari hal-hal yang syubhat dan makruh.

Ilmu-ilmu di atas merupakan ilmu yang paling mulia dan wajib dipelajari oleh setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan, karena ilmu-ilmu tersebut menjadi wasilah (perantara) yang akan menghantarkan pemiliknya untuk meraih derajat taqwa, suatu derajat yang akan menjamin pemiliknya medapatkan karomah (kemulian) di sisi Allah SWT serta kebahagiaan yang abadi, baik di dunia maupun akhirat.

Dewasa ini banyak santri yang mengkaji ilmu pengetahuan, namun tidak mampu menghayati dan mengamalkannya. Hal ini disebabkan karena mereka tidak memperhatikan syarat-syarat pencarian ilmu dan tidak menempuh metode yang telah digariskan oleh para ulama terdahulu. Pepatah Arab menyatakan:

Artinya: “Barang siapa salah jalan, maka akan tersesat dan tidak akan meraih tujuan, baik sedikit maupun banyak.”

Sehubungan dengan hal tersebut, maka buku ini akan menjelaskan tentang akhlak santri, kyai (guru) dan wali santri yang antara lain akan menjelaskan tentang metode dalam menggali ilmu pengetahuan, di samping nilai-nilai spiritual yang harus dimiliki dan diamalkan baik oleh santri, kyai (guru) maupun para wali santri sehingga membantu menghantarkan anak-anak kita meraih sukses di dunia dan akhirat.

Bersambung….

Akhlak Santri

Urgensi Akhlak dalam Islam

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

By

Akhlak
Foto: Tebuireng Online

Pengertian  Akhlak

Ditinjau dari segi bahasa, kata akhlaq berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak (plural) dari kata khilqun atau khuluqun, yang berarti perangai, tabiat, watak dasar, budi pekerti, kebiasaan, tingkah laku,  atau sopan santun.[1] Secara linguistik (kebahasaan), kata akhlaq merupakan isim jamid atau ghairu musytaq, yakni kata benda yang tidak mempunyai akar kata, melainkan muncul begitu saja sehingga tidak bisa ditashrif (non derivatif). Kata akhlak dapat dijumpai dalam al-Hadits, tetapi tidak disebutkan dalam al-Qur’an. Sebaliknya bentuk tunggalnya (khuluq), dapat dijumpai di dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Seperti dalam surat al-Qalam (68) ayat 4:

 “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang luhur”.

Demikian juga dalam surat al-Syu’ara (26) ayat 137 :

“(Agama Kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu”

Kata khuluq pada surat al-Qalam (68) ayat 4 di atas menunjukkan arti budi pekerti, sedangkan pada surat al-Syu’ara (26) ayat 137 menunjukkan arti adat kebiasaan. Adapun penggunaan kata akhlaq dan khuluq dalam hadits, antara lain adalah sabda Rasululah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad sbb. :

“Sesungguhnya aku diutus Allah  untuk menyempurnakan keluhuran budi pekerti”.

Demikian juga sabda Rasululah SAW yang diriwayatkan Imam al-Turmudzi sbb. :

”Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling baik budi pekertinya”

Sedangkan menurut istilah, para ulama merumuskan berbagai macam definisi, yang antara lain adalah sbb. :

1. Menurut Ibnu Maskawih[2] dalam kitabnya Tahdzib al-Akhlaq :

“Akhlaq adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong seseorang untuk bersikap, berprilaku dan melakukan suatu perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan dipertimbangkan lagi”.[3]

2. Menurut Imam al-Ghazali :

 ”Akhlaq adalah suatu keadaan (sikap) yang mengakar di dalam jiwa yang darinya muncul berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Jika dari sikap batin tersebut lahir perbuatan yang baik dan terpuji, maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika yang lahir dari sikap batin tersebut perbuatan yang tercela, maka ia disebut akhlak yang buruk”.

Berdasarkan definisi di atas dapat dirumuskan, bahwa akhlak pada dasarnya adalah sikap batin yang melekat pada diri seseorang yang secara spontan tercermin dalam sikap, tingkah laku atau perbuatan yang tampak. Hal ini dapat terjadi karena didasarkan pada watak yang dibawa sejak lahir, atau boleh jadi karena didasarkan pada latihan dan kebiasaan.  Dalam kerangka ini, Nabi Muhammad diutus oleh Allah sebagai seorang Rasul yang bertugas untuk menyempurnakan budi pekerti manusia. Sebagaimana telah beliau sabdakan :

“Sesungguhnya aku diutus Allah  untuk menyempurnakan keluhuran budi pekerti”.

Akhlak, Etika dan Moral

Di samping  akhlak kita juga mengenal istilah etika dan moral. Etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos” yang berarti adat istiadat, kebiasaan baik, moral, atau karakter. Etika merupakan filsafat moral untuk mendapatkan petunjuk tentang perilaku yang baik, nilai-nilai yang benar dan aturan-aturan pergaulan yang baik dalam hidup bermasyarakat dan kehidupan pribadi seseorang. Etika bertujuan agar manusia hidup bermoral baik dan berkepribadian, sesuai etika atau moral yang dianut oleh kesatuan atau lingkungan hidupnya.

Etika atau moral ini menimbulkan kaidah-kaidah atau norma-norma etika yang mencakup teori nilai tentang hakikat apa yang baik dan apa yang buruk dan teori tentang perilaku (conduct) tentang perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk.

Moral berkaitan erat dengan pandangan hidup, agama, atau kepercayaan ataupun adat kebiasaan masyarakat yang bersangkutan. Bangsa Indonesia mempunyai Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara dan sebagai pandangan hidup serta jati diri Bangsa Indonesia, sehingga nilai-nilai Pancasila harus menjadi landasan etika atau moral bangsa kita.

Menurut istilah, etika adalah suatu sistem nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Dengan demikian obyek pembahasan etika adalah kebiasaan-kebiasaan manusia yang terdapat di dalam konvensi atau kesepakatan. Misalnya  kesepakatan nilai dalam berbusana, etika dalam berbicara dan bergaul dengan orang lain. Dengan kata lain, makna etika di samping sebagai penilaian terhadap perbuatan seseorang, ia juga merupakan suatu predikat dari perbuatan-perbuatan seseorang. Oleh karena itu, etika acapkali dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang menetapkan ukuran-ukuran atau kaidah-kaidah yang mendasari pemberian tanggapan atau penilaian terhadap perbuatan-perbuatan.[4]

Etika seringkali dikaitkan dengan profesi tertentu sehingga disebut Etika Profesi, yaitu suatu etika moral yang secara khusus diciptakan untuk kebaikan jalannya profesi yang bersangkutan, karena setiap profesi mempunyai identitas, sifat atau ciri dan standar profesi sendiri, sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Profesi berbeda dengan pekerja. Pekerja adalah orang yang melakukan sesuatu kegiatan, dan bertujuan mencari sumber nafkah guna mendapatkan upah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sedangkan profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi dengan persyaratan adanya keahlian khusus, serta tersedia wadah untuk memberikan dukungan kepada penyandang profesi.

Sedangkan moral berasal dari bahasa latin mores bentuk jama’ dari kata mos yang berarti adat kebiasaan atau susila. Suatu perbuatan atau tindakan dinilai bermoral, jika perbuatan atau tindakan tersebut dapat diterima dengan baik dan wajar oleh kelompok sosial atau lingungan tertentu; atau sesuai dengan ide-ide atau ukuran-ukuran atau nilai-nilai yang berlaku dalam sebuah kelompok sosial atau lingkungan tertentu. Moral adalah suatu kelakuan atau tindakan yang sesuai dengan ukuran-ukuran atau nilai-nilai masyarakat, yang timbul dari hati seseorang (bukan paksaan dari luar) dan disertai oleh rasa tangung jawab atas kelakuan atau tindakan  tersebut. Dengan demikian, moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik dan buruk yang diterima oleh masyarakat secara umum.

Dalam sejarah filsafat, terdapat banyak aliran tentang moral atau etika. Sebagian menyatakan bahwa etika bersandar pada Kebenaran Abadi dan ada pula yang berpendapat bahwa etika sangat erat berhubungan dengan situasi dan kondisi suatu lingkungan. Sungguh pun pengertian dan sumber akhlak, etika serta moral mempunyai perbedaan, namun ketiganya memiliki kesamaan mengenai obyek pembahasannya, yakni segala sesuatu yang berhubungan dengan nilai baik dan buruk, serta keindahan dan kejelekan.

Pada dasarnya, konsep akhlak dalam Islam memiliki cakupan yang sangat luas, karena akhlak berarti agama itu sendiri. Akhlak dalam pengertian ini meliputi hubungan antara manusia dengan dirinya, dengan Tuhannya, dengan orang lain dan dengan lingkungannya. Akhlak merupakan cermin dari apa yang ada di dalam jiwa seseorang. Akhlak yang baik merupakan dorongan keimanan seseorang, karena keimanan harus ditampilkan dalam perilaku nyata sehari-hari. Oleh karena itu, akhlak bersifat universal dan abadi, sedangkan moral dan etika bersifat local dan temporal.

Dalam perkembangannya, akhlak sering dipahami sebagai tabiat atau sifat manusia serta sopan santun dalam kehidupan sehari-hari, seperti akhlak kepada orang tua, kepada orang yang lebih muda, kepada guru dan lain-lain. Akhlak dalam pengertian ini sama dengan moral dan etika pergaulan hidup yang  kemudian berkembang menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri.

Sebagai sebuah disiplin tersendiri, ilmu akhlak mempelajari tentang prilaku hidup yang seharusnya dan  tidak seharusnya dijalankan oleh manusia. Ilmu akhlak kemudian membagi prilaku manusia kepada dua kelompok besar, yakni prilaku yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) dan prilaku yang tercela (al-akhlaq al-madzmumah). Baik atau buruknya suatu akhlak dalam Islam, diukur dengan nilai-nilai yang bersumber pada al-Qur’an dan al-Hadist, sebagai pedoman hidup umat manusia.

Akhlak Santri, Ulama (Kyai/Guru) dan Wali Santri

Ditinjau dari segi bahasa, kata ”santri” berasal dari bahasa Tamil  (India) ”shastri” yang berarti guru mengaji atau orang yang paham tentang buku-buku suci, karena kata  shastri merupakan turunan dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku ilmu pengetahuan.[5] Dalam perkembangannya di Indonesia, kata santri bermakna orang yang mempelajari ilmu-ilmu agama, khususnya yang bermukin di lembaga pendidikan pondok pesantren, sementara sang guru disebut kyai. Santri juga berarti sekelompok masyarakat muslim yang taat menjalankan ajaran-ajaran agama Islam, baik dalam bidang aqidah, syari’ah maupun al-akhlak al-karimah, khususnya dalam beribadah kepada Allah SWT. Lawan katanya adalah “abangan” (kelompok merah), yaitu sekelompok masyarakat yang beragama Islam, tetapi tidak atau kurang taat dalam menjalankan ajaran agama Islam.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa kata “santri” adalah sebuah akronim yang terdiri dari 5 (lima) huruf yang merupakan singkatan dari kalimat sbb. :

  1. Sin (س) adalah kepanjangan dari الخَيْرِ سابق  yang berarti pelopor kebaikan.
  2. Nun (ن) adalah kepanjangan dari العُلَمَاءِ   نَائبُ yang berarti (calon)  pengganti atau penerus ulama.
  3. Ta (ت) adalah kepanjangan dari الْمَعَاصِى   تَارِكُ yang berarti orang yang meninggalkan kemaksiatan.
  4. Ra(ر)  adalah kepanjangan dari  اللهِ رِضَى yang berarti (orang yang mencari) ridho Allah.
  5. Ya (ي) adalah kepanjangan dari اَلْيَقِيْنُ yang berarti (orang yang memiliki) keyakinan (keimanan).

Sementara itu sebagian ulama yang lain berpendapat, bahwa kata “santri” adalah sebuah akronim yang terdiri dari 5 (lima) huruf yang merupakan singkatan dari kalimat sbb. :

  1. Sin (س) adalah kepanjangan dari  الاخَرةِ سالك الى  yang berarti orang yang berjalan menuju akhirat sehingga semua aktivitasnya berorientasi untuk meraih ridla Allah SWT  dan kebahagiaan hidup di dunia serta akhirat.
  2. Nun (ن) adalah kepanjangan dari العُلَمَاءِ نَائبُ عن yang berarti calon  pengganti atau penerus ulama. Oleh karena itu, santri adalah orang yang siap menggantikan kedudukan para ulama yang sholih dan cintai Allah SWT, terutama sesudah para ulama wafat. 
  3. Ta (ت) adalah kepanjangan dari الْمَعَاصِى   تَائب من yang berarti orang yang bertaubat dari kemaksiatan. Yakni santri adalah orang yang ketika terlanjur berbuat dosa, segera menyadari kesalahannya kemudian segera bertaubat untuk membersihkan diri dari berbagai kotoran dosa yang dapat menjadi penghalang dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  4. Ra(ر)  adalah kepanjangan dari   راغب في الخيراتyang berarti orang yang senang berbuat baik dengan beribadah kepada Allah SWT dan membantu sesama manusia.
  5. Ya (ي) adalah kepanjangan dari   يرجو رضاالله والسعادة في الدارينyang berarti orang yang mengharapkan ridla Allah SWT  dan kebahagiaan hidup di dunia serta akhirat.

Sementara itu sebagian ulama yang lain berpendapat, bahwa kata “santri” adalah sebuah akronim yang terdiri dari 5 (lima) huruf yang merupakan singkatan dari kalimat sbb. :

  1. Sin (س) adalah kepanjangan dari  سا فر  الى المعهد لطلب العلم yang berarti (orang yang) pergi ke pondok pesantren dengan tujuan untuk mencari ilmu.
  2. Nun (ن) adalah kepanjangan dari نَال كثيرا من العلم والحكمة yang berarti (orang yang) meraih ilmu dan hukmah yang banyak.
  3. Ta (ت) adalah kepanjangan dari  على منهج اهل السنة والجماعة  تمسك دين الاسلام yang berarti (orang yang) berpegang teguh terhadap ajaran-ajaran agama Islam menurut faham Ahlus Sunnah wal Jamaah.
  4. Ra(ر)  adalah kepanjangan dari   رجع الى بلده للدعوة yang berarti (orang yang) kembali ke daerahnya untuk melaksanakan kegiatan dakwah di tengah-tengah masyarakatnya.
  5. Ya (ي) adalah kepanjangan dari   يؤسس معهدا مباركا لنشر العلم وتربية كوادير العلماءyang berarti (orang yang) mendirikan pondok pesantren yang penuh berkah untuk menyebar luaskan ilmu pengetahuan dan mendidik para kader ulama dengan niat ikhlas semata-mata mengharapkan ridla Allah SWT  dan kebahagiaan hidup di dunia serta akhirat.

Berdasarkan urian di atas dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud “Akhlak Santri, Kyai (Guru) dan Wali Santri” adalah; akhlak yang seharusnya difahami, dihayati, dimiliki dan diamalkan oleh para santri, kyai (guru) dan wali santri dalam kehidupan sehari-hari, terutama para santri yang sedang dalam proses tholab al-ilmi (mencari ilmu pengetahuan) di lembaga pendidikan Islam Pondok Pesantren. Pada dasarnya Akhlak Santri, Kyai (Guru) dan Wali Santri adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Akhlak Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan al-Hadist, sebagai pedoman hidup umat manusia, khususnya dalam menentuan nilai-nilai baik dan nilai-nilai buruk terhadap prilaku manusia.   


Baca sebelumnya: Akhlak Santri, Kyai dan Wali Santri; Membangun Ekosistem Pendidikan Islami

Lihat juga di Perpustakaan Digital JATMAN

[1] Jamil Shaliba, al-Mu’jam al-Falsafi, Juz I, h. 539.

[2] Ibnu Maskawaih adalah salah seorang pemikir dalam bidang Ilmu Akhlak yang sangat terkenal. Pemikirannya tentang Akhlak Islam selalu menjadi perhatian, karena pengalaman hidupnya  pada waktu muda  yang banyak melakukan perbuatan sia-sia, sehingga memiliki motivasi yang cukup kuat untuk menulis buku-buku tentang akhlak agar dapat menjadi tuntunan bagi generasi sesudahnya.

[3] Ibnu Maskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq, (terjemahan dari Tahdzib al-Akhlak), Bandung: Mizan, 1995, Cet. Ketiga, h. 14 – 15.

[4]Louis O. Kattsoff, Elements of Philosophy, (Pengantar Filsafat), alih bahasa Soejono Soekanto, (Yogyakarta, Tiara Wacana, 1987), Cet. II, h. 352

[5] Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren, (Jakarta, LP3ES, 1982), h. 18

Bersambung…

Continue Reading

Facebook

Trending