Connect with us

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak
Pesantren Tebuireng

Berbeda dengan etika atau moral di luar Islam yang hanya mengatur atau menekankan etika social (hubungan seseorang dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat), akhlak dalam Islam memiliki spektrum (ruang lingkup pembahasan) yang sangat luas. Selain mengatur hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan masyarakat (علاقة الانسان للغير في الحياة الاجتماعية ), akhlak dalam Islam juga mengatur hubungan manusia kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Pencipta dan Pengatur kehidupan manusia dan alam semesta (علاقة الانسان لله)  serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri (علاقة الانسان لنفسه).

Pada dasarnya, akhlak manusia  terhadap diri sendiri adalah sifat yang melekat dalam diri seseorang yang mencerminkan komitmen dan tanggung jawabnya terhadap keselamatan, kebaikan, dan kemuliaan dirinya yang bertujuan untuk mewujudkan hal-hal sbb.:

  1. Memelihara  agama (حفظ الدين), yaitu komitmen seseorang untuk melaksanakan seluruh ajaran agama Islam yang diyakini kebenarannya, baik dalam bidang aqidah, syari’ah maupun akhlak dan tasawuf. Hal ini dapat terjadi, jika dalam dirinya telah tertanam kewajiban untuk melaksanakan shalat, berpuasa, membayar zakat, menunaikan ibadah haji dsb serta meninggalkan perbuatan dosa seperti ghibah, namimah dan menebar fitnah. Dengan demikian dia akan merasa bersalah atau merasa berdosa jika meninggalkan perintah agama atau melakukan perbuatan maksiat yang dilarang oleh agama, karena menyadari bahwa hal itu akan mendatangkan murka dan ‘adzab Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat An-Nisa’ ayat 59: 
    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”
  2. Memelihara jiwa  (حفظ النفس), yaitu komitmen seseorang untuk melindungi jiwanya dari hal-hal yang membahayakan (ضرر)  dengan mencampakkan dirinya pada kerusakan (kebinasaan), melukai diri sendiri, usaha pembunuhan atau bunuh diri. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 195 :
    “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

    Juga firman-Nya dalam surat al-Nisa’ ayat 29 :
    Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
  3. Memelihara akal  (حفظ العقل), yaitu komitmen seseorang untuk memanfaatkan akal yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT untuk berpikir logic dan ilmiah; mengali dan mengembangkan ilmu pengetahuan setinggi mungkin serta melindunginya dari hal-hal yang membahayakan (ضرر) seperti minuman keras, narkoba dan zat-zat adiktif lainnya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Maidah ayat 90 – 91:
    “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.
  4. Memelihara keturunan  (حفظ النسل), yaitu komitmen seseorang untuk memelihara keturunan dengan cara menghindari pezinaan. Karena, selain merupakan perbuatan keji yang dimurkai Allah SWT dan menimbulkan berbagai macam penyakit kelamin seperti HIV AIDS, zina juga menjadi penyebab lahirnya anak-anak atau keturunan yang lahir dengan cara haram, meskipun mereka tidak ikut memikul beben dosa akibat perbuatan orang tuanya. Oleh karena itu, Allah SWT secara tegas mengharamkan perbuatan zina sehingga wajib dihindari. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 32 :
    “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.
  5. Memelihara harta atau properti  (حفظ المال), yaitu komitmen seseorang untuk memelihara harta atau properti yang telah dianugerahkan Allah SWT kepadanya dengan cara membelanjakan atau memanfaat harta benda di jalan yang benar sesuai dengan petunjuk-Nya, tidak merusaknya, juga tidak tabdzir atau berfoya-foya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Furqon ayat 67 :
    “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”.

Akhlak terhadap Diri Sendiri  

Akhlak manusia terhadap diri sendiri  (علاقة الانسان لنفسه), tercermin pada sifat-sifat positif sbb.

Pertama: Shidiq, yakni jujur dan benar baik dalam pikiran, ucapan maupun perbuatan. Umat Islam khususnya para santri harus menghiasi diri dengan kejujuran, karena jujur merupakan sifat yang akan memperkokoh dan menjamin integritas kepribadian seseorang, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Di antara contoh kongkret dari sifat al-shidqu adalah bersatunya ucapan dengan perbuatan sehingga perbuatan tidak berbeda apalagi bertentangan dengan ucapan. Jika berjanji maka akan dipenuhi, tidak diingkari. Seseorang yang tidak jujur, maka akan terjermus dalam kemaksiatan, kemunafikan, bahkan akan terjerumus ke dalam neraka jahannam. Na’udzu Billahi dan dzalik. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasululah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud RA. :

 “Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan. Dan sesungguhnya kebaikan akan menunjukkan kepada surga. Jika seseorang bersikap jujur, maka akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat  jujur. Dan sesungguhnya kebohongan akan menunjukkan kepada kejahatan. Dan sesungguhnya kejahatan akan menunjukkan kepada neraka. Jika seseorang bersikap pembohong, maka akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat pembohong”. (Hadits disepakati oleh Imam ala-Bukhari dan Imam Muslim).[1]

Kedua: Amanah, yakni dapat dipercaya. Umat Islam khususnya para santri harus bersifat amanah atau memiliki integritas moral sehingga tidak menipu, tidak berkhianat, tidak menyalah-gunaan jabatan dan kekuasaan serta selalu berusaha mengemban tugas yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya. Sebagaimana sifat al-shidqu (jujur), al-amanah juga merupakan sifat yang akan memperkokoh dan menjamin integritas kepribadian seseorang, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Kedua sifat ini harus dimiliki oleh setiap orang yang beragama Islam karena merupakan kunci kesuksesan seseorang dalam hidup bermasyarakat. Jika sesorang menghiasi dirinya dengan kedua sifat ini, dapat dipastikan hidupnya akan sukses. Sebaliknya, jika mengabaikan kedua sifat ini, pasti hidupnya akan gagal. Sehubungan dengan itu, Allah SWT telah memerintahkan ummat Islam untuk melaksanakan amanat dengan baik. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Nisa’ ayat 58 :

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Ketiga: Tawadlu’ (rendah hati). Umat Islam khususnya para santri harus bersifat tawadlu’ atau rendah hati, sehingga semakin banyak ilmunya, semakin tinggi pangkat dan kedudukannya, semakin banyak harta dan pengaruhnya akan semakin bersikap tawadlu’ karena menyadari, bahwa semua yang dimiliki adalah karunia sekaligus amanah dari Allah SWT sehingga wajib disyukuri bukan untuk disombongkan. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Sulaiman ketika beliau berhasil memindahkan singgasana Ratu Bilqis dari Yaman ke Palestina. Hal ini dikisahkan dalam surat an-Naml ayat 40 :

 Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab (Taurat dan Zabur) “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Bahkan Rasulullah SAW pun diperintahkan oleh Allah SWT agar bersikap tawadlu’ (rendah hati) kepada orang-orang beriman yang mengikuti beliau. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Syu’ara ayat 215:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.

Para santri harus bersikap rendah hati, karena sikap rendah hati merupakan cermin dari sifat-sifat orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Para santri tidak boleh menyombongkan diri dengan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya, karena kesombongan merupakan watak dari syetan yang menolak perintah Allah SWT untuk bersujud (menghormati) Nabi Adam AS. Selain itu, para santri tidak boleh bersikap sombong karena mereka tidak akan tahu nasibnya di akhirat kelak, apakah termasuk orang yang beruntung dengan menjadi penghuni surga, atau termasuk orang yang celaka karena menjadi penghuni neraka, na’udzu billahi min dzalik.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas, Said ibn Jubair, Amr ibn Dinar, Sufyan ibn al-Humaid, Rasulullah SAW mengkisahkan bahwa pada suatu hari Nabi Musa AS berpidato di hadapan kaumnya dari Bani Israil. Nabi Musa mengajak mereka untuk mensyukuri ni’mat dan karunia Allah SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Untaian kalimat-kalimat dakwah yang disampaikan oleh Nabi Musa kepada kaumnya tersebut begitu memukau dan menyejukkan hati mereka. Sesudah menyampaikan dakwah, ada salah seorang kaum Bani Israil bertanya kepada beliau; “Wahai Nabi Musa AS, siapakah hamba Allah SWT yang paling pintar di muka bumi ini? Maka Nabi Musa pun menjawab; “Aku lah orangnya yang paling pintar di antara hamba Allah di muka bumi”.

Jawaban itu wajar saja.Karena pada zaman itu hanya Nabi Musa yang berhasil membawa Bani Isra’il kepada hidayah ilahi. Dialah yang telah menaklukkan Raja Fir’aun dengan segala kekuasaan dan kesombongannya.Dia juga telah menaklukkan para tukang sihir istana sehingga mereka mengikuti agama Nabi Musa.Ia juga telah dikaruniai nikmat terbesar sebagai Rasul-Nya yaitu nikmat berupa kesempatan berbicara langsung dengan Allah. Selain itu, beliau juga telah berhasil membongkar rahasia tentang pembunuhan yang kejam.

Baru saja Nabi Musa mengingat kelebihan dan jasa dirinya atas kaumnya itu, datanglah wahyu Allah berupa teguran atas tindakan yang tak sepatutnya dilakukannya.Allah memperingatkannya bahwa seluas apapun ilmu pengetahuannya, itu semua niscaya hanyalah karunia pemberian Allah semata. Dan, tidak menutup kemungkinan bahwa ada hamba-Nya yang lain yang dianugerahi pengetahuan melebihi apa yang diberikan pada Nabi Musa.

Untuk lebih menekankan peringatan-Nya ini, Allah juga memerintahkan Nabi Musa untuk menemui hamba-Nya yang lain, di suatu tempat yang dalam Al-Qur’an disebut “bertemunya dua lautan”.Mendapat perintah itu, Nabi Musa bertanya, “Ya Allah, siapakah hamba-Mu itu? Dan bagaimana aku bisa menemuinya?” Allah menjawab dengan wahyu-Nya, “bawalah seekor ikan yang kau letakkan dalam sebuah keranjang.Di mana pun ikan itu mulai menghilang, maka di sekitar situ lah tempat tinggal orang tersebut”.

Setelah mendapat kejelasan, Nabi Musa segera menyiapkan bekal perjalanannya. Ia juga mengajak serta salah seorang pengikutnya yang paling setia dan dipercaya, Yusya’ bin Nun. Sebagai orang yang bertugas memastikan kelengkapan dan kelancaran perjalanan Nabi Musa, Yusya’ dipesani oleh Nabi Musa, agar dia memberitahu kepada Nabi Musa begitu ikan yang dibawanya menghilang.

Singkat cerita, ketika keduanya beristirahat di suatu tempat di dekat batu besar, di saat itulah ikan yang tadinya sudah mati, tiba-tiba hidup, bergerak-gerak, lalu meloncat dan mengarah ke lautan.

Setelah Yusya’ bin Nun melaporkan kejadian ini kepada Nabi Musa, Nabi Musa pun berkata, “inilah tempat yang kita cari”. Tak lama kemudian, ia pun menyambung, “aku mencium bau manusia. Pasti di sinilah kita akan menemui hamba Allah itu.”

Ternyata hamba Allah itu adalah seorang laki-laki tua yang kurus badannya, tetapi wajah dan sorot matanya menampakkan cahaya kenabian yang terpancar ke hadapan Nabi Musa. Setelah mengulukkan salam, ternyata orang tersebut sudah mengetahui seluk-beluk identitas Nabi Musa, seperti namanya dan statusnya sebagai pemimpin Bani Israil. Nabi Musa mulanya heran akan hal ini. Namun ia segera menyadari bahwa orang ini mungkin memang orang yang dimaksudkan oleh Allah. Karenanya, ia segera saja mengemukakan, “tujuanku kemari adlah untuk memenuhi perintah berguru kepadamu, apakah engkau berkenan mengajariku ilmu-ilmu yang sudah dianugerahkan Allah kepadamu?

Lalu laki-laki yang kemudian diketahui bernama Khidir itu berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar diri bersamaku.Allah telah mengajariku ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang ghaib, yang engkau sendiri belum diajari oleh-Nya.Tetapi, jika engkau memang ingin belajar bersmaku, syaratnya, jangan sekali-kali menanyakan tentang sesuatu yang aku lakukan, kecuali akan aku jelaskan sendiri kepadamu”.Setelah syarat ini disepakati, Nabi Musa mulai mengikuti perjalanan dan segala gerak-gerik Khidir AS.

Ketika keduanya menyusuri tepi pantai, Nabi Khidir mengatakan, “wahai Musa, ketahuilah sesungguhnya perbandingan dan perumpamaan ilmu Allah dengan ilmu manusia adalah ibarat seluruh air di lautan dan sedikit air yang membasahi kakimu sebagai karunia-Nya kepada manusia. Dan kelak, manusia akan dimintai pertanggungjawaban akan ilmunya kelak”.

Setelah itu, Nabi Khidir naik ke atas perahu dan justru merusak dinding perahu itu. Melihat perbuatan yang janggal itu, Nabi Musa spontan menegurnya, “apakah engkau hendak merugikan orang lain dan menenggelamkan perahu ini dan awaknya?”. Nabi Khidir hanya menjawab, “bukankah sudah ku katakana bahwa jangan menanyakan sesuatu hingga aku menjelaskannya sendiri?”.

Setelah meminta maaf, Nabi Musa kembali mengikuti perjalanan Khidir AS. Hingga ketika mereka sampai di suatu perkampungan, lalu bertemu dengan anak kecil di kampong tersebut, Khhidir AS justru mencekik bocah itu hhingga mati di tangannya sendiri.Nabi Musa yang kaget melihat itu kontan bereaksi, “mengapa engkau membunuh anak tak berdosa ini, bukankah kau sudah melakukan kemungkaran”.Namun, Nabi Khidir hanya menjawab sebagaimana pada kesempatan sebelumnya.

Lalu keduanya meneruskan perjalanan sampai ketika mencapai suatu daerah yang penduduknya tak mau menghormati keduanya selayaknya tamu.Tetapi, ketika keduanya melihat suatu dinding rumah yang hamper rusak, Nabi Khidir justru memperbaikinya hingga tegak kembali.Nabi Musa yang keheranan kkembali bertanya, “kenapa engkau memperbaiki rumah itu, padahal pemiliknya sama sekali tak menghargai kita”.Nabi Khidir yang sudah merasa cukup hanya menanggapi, “sepertinya ini menjadi perpisahan antara aku dan engkau, karena engkau telah berkali-kali melanggar kesepakatan dan syarat yang sudah ditentukan tadi. Namun sebelum berpisah, akan aku jelaskan alasan-alasan kenapa aku mengerjakan hal-hal yang ku lakukan tadi.

Pertama, tindakanku merusak kapal, itu karena aku tahu bahwa di pulau seberang, tempat para nelayan akan berlabuh, ada seorang penguasa yang akan merampas kapal-kapal di sana. Dengan merusaknya, maka penguasa itu jadi tak berminat mengambil kapal itu, dan pemilik kapal bisa memperbaikinya kembali tanpa ia harus kehilangan kapal. Sedangkan anak kecil yang aku bunuh tadi, ia adalah anak yang ketika dewasa kelak akan menjadi seorang yang ingkar dan durhaka kepada Allah dan orang tuanya. Dengan membunuhnya, aku justru menyelamatkan nasibnya dari siksa Allah di akhirat kelak.Yang terakhir, tembok rumah yang aku perbaiki tadi, di bawahnya terdapat harta benda orang tua yang diwariskan kepada anak yatim pemilik sesungguhnya dari rumah tersebut.Kalau sampai dinding rumah itu rubuh dan lalu ketahuan di bawahnya terdapat harta peninggalan, niscaya harta itu akan diambil lebih dulu oleh walinya dan penduduk kampong itu, tanpa pernah sampai kepada si anak yang berhak mewarisinya”.

Bersikap rendah hati (tawadlu’), bukan berarti bersikap rendah diri (minder) dengan takut menyampaikan pendapat dan aspirasi; takut berpakaian yang bagus dsb.Imam Abu Hanifah mengajarkan,  sebagai orang yang berilmu, para santri harus tampil dengan pakaian yang bagus dan rapi, agar tidak direndahkan orang lain. Demikian juga, para santri harus berani menyampaikan pendapat dan aspirasi serta menghadapi siapa pun,dengan tetap menjaga sopan santun dan al-akhlak al-karimah.


[1] Al-Imam Abi Zakaria Yahya ibn Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Riyadu al-Sholihin, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Jakarta, 2010, h. 33

Bersambung ke Akhlak kepada Diri Sendiri (2)

Baca juga: Karakteristik Akhlak dalam Islam

Akhlak Santri

Akhlak Santri kepada Kyai

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak Santri Kepada Kyai
Foto Barisan.co

Sebelum menetapkan pilihan untuk belajar di sebuah lembaga pendidikan, pondok pesantren atau mengaji kepada seorang guru, hendaknya para calon santri atau orang tuanya melakukan survey terlebih dahulu, bahkan kalau perlu shalat istikharah untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT. Hal ini pernah dilakukan oleh Imam Hanifah ketika akan berguru kepada Hammad ibn Abi Sulaiman yang mengantarkan beliau menjadi ulama besar, salah satu mujtahid mutlak yang sampai sekarang banyak diikuti oleh umat Islam yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Sebaiknya para calon santri atau orang tuanya memilih lembaga pendidikan, pondok pesantren atau mengaji kepada seorang guru yang ‘alim (pandai), luas dan mendalam ilmunya, berakhlak mulia, memiliki sifat khashyatullah (takut kepada Allah SWT), serta benar-benar mampu mendidik para santri dengan baik dan berkualitas sehingga kelak mereka menjadi orang-orang yang ‘alim (pandai) dan berakhlak mulia serta bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Hal ini dapat dilihat dari segi kualitas pendidikannya, guru-gurunya dan faham keagamaannya.

Sebaiknya para calon santri atau orang tuanya memilih lembaga pendidikan atau guru yang memiliki faham keagamaan atau berhaluan AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH dan dapat ditelusuri sanad keilmuannya hingga Rasulullah SAW. Sebagian ulama salaf, — — yakni para ulama yang hidup sesudah Rasulullah SAW hingga abad ketiga hijriyah– — mengatakan :

“Sesungguhnya ilmu ini adalah masalah agama. Oleh karena itu, perhatikanlah dari siapa engkau akan mengambil (ilmu yang menjadi) ajaran agama kalian”.

Memilih guru yang memenuhi kualifikasi di atas sangat penting, karena guru bukan hanya bertugas menyampaikan ilmu (transfer of knowledge), tetapi juga membimbing rohaniah para santri (transfer of value) agar mereka memiliki hati yang bersih serta jiwa yang teguh sehingga mampu meraih kedekatan dengan Allah SWT.

Dengan memilih lembaga pendidikan dan guru-guru yang tepat, diharapkan para santri tidak akan berpindah ke lembaga pendidikan lain atau meninggalkan guru pertamanya dan berpaling kepada guru lain yang dinilai lebih berkualitas. Hal ini dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti menambah biaya pendidikan, adaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru, serta sakit hati guru pertamanya sehingga bisa menyebabkan kurang berkah ilmunya.

Para santri harus selalu menghormati dan memuliakan guru, karena mreka tidak akan meraih ilmu yang bermanfaat kecuali jika mereka selalu menghormati dan memuliakan guru. Guru adalah bagaikan orang tua, bahkan melebihi orang tua, karena orang tua hanya bertanggung jawab dalam masalah pertumbuhan fisik anak, sedangkan guru bertanggung-jawab terhadap perkembangan rohaniah dan keberagamaan para muridnya. Jika orang tua juga berperan sebagai guru, maka dia adalah orang yang paling mulia dan paling wajib dihormati, karena dia bertanggungjawab terhadap pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan rohaniah dan keberagamaan anaknya. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib berkata; “Aku adalah hamba orang yang pernah mengajariku ilmu pengetahuan, meskipun hanya satu huruf. Jika guruku mau, aku persilahkan menjual aku, atau menjadikan aku hamba sahayanya, atau memerdekakan aku.”

Dengan menghormati guru, diharapkan para santri meraih ridla guru dan terhindar dari murkanya, sehingga ilmunya bermanfaat serta berkah di dunia dan di akhirat. Di antara bentuk kongkret memuliakan kyai (guru) adalah sebagai berikut:

  1. Meyakini dan memandang kyai (guru) sebagai sosok manusia agung yang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu serta bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga sangat layak untuk diikuti dan dijadikan suri tauladan oleh para santri. Dengan cara demikian, maka para santri akan mampu mengambil manfaat serta meraih keberuntungan. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Nadlam ‘Umrithy :
    “Seorang pemuda akan diangkat (derajatnya) sesuai dengan kadar keyakinannya. Dan setiap orang yang tidak yakin, maka tidak akan bisa mengambil manfaat”

    Syeh Yusuf berkata bahwa beliau mendengar sebagian ulama salaf berkata :
    “Barang siapa tidak meyakini keagugungan gurunya, maka tidak akan sukses (beruntung)”1
    .
  2. Melaksanakan perintah guru selama perintah tersebut tidak melanggar syari’at agama Islam. Jika guru memerintahkan para murid melakukan suatu perbuatan yang melanggar hukum Islam, maka para murid tidak boleh melaksanakannya. Dikisahkan, suatu ketika Syaikh al-Halwani, seorang ulama yang berasal dari Negara Bukhara Uni Soviet tinggal di sebuah perkampungan. Kemudian beliau meminta para murid yang sudah menjadi alumni agar mengunjungi beliau. Maka seluruh alumni datang mengunjungi beliau, kecuali al-Syaikh al-Imam al-Qodli Abu Bakar al-Zaranji. Pada kesempatan berikutnya, Syaikh al-Halwani berjumpa al-Syaikh al-Imam al-Qodli Abu Bakar al-Zaranji dan menanyakan, “Mengapa engkau tidak memenuhi undanganku?” Maka al-Syeh al-Imam al-Qodli Abu Bakar al-Zaranji menjawab; “Mohon maaf saya tidak bisa memenuhi undangan Tuan Guru karena saya sibuk mengurus ibu saya”. Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Halwani berkata; “Baik kalau begitu anda akan memperoleh keberkahan usia tetapi tidak mendapatkan keberkahan ilmu”. Akibat dari kemarahan Syaikh al-Halwani Sang Guru tersebut, maka al-Syaikh al-Imam al-Qodli Abu Bakar al-Zaranji lebih banyak menghabiskan hidupnya di perkampungan dan sama sekali tidak mengajar. Hal ini menunjukkan, bahwa seorang murid yang mengecewakan hati guru akan menyebabkan ilmunya kurang berkah dan kurang bermanfaat.2
  1. Meminta saran dan pertimbangan kepada guru dalam memilih disiplin ilmu yang akan dikaji dan hal-hal yang terkait dengan proses belajar-mengajar, jurusan, program studi atau fakultas karena meyakini bahwa guru lebih berpengalaman dalam masalah ini. Syaikhul Imam Burhanal-Haq wa al-Din RA. berkata: “Pada masa dahulu, para santri dengan suka rela menyerahkan sepenuhnya urusan belajar-mengajar kepada gurunya, maka mereka sukses dan meraih apa saja yang dicita-citakan. Akan tetapi pada masa kini, banyak santri yang menentukan sendiri pilihannya, maka akhirnya mereka gagal meraih cita-citanya dan tidak bisa meraih ilmu pengetahuan.” Dikisahkan, bahwa pada mulanya Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhariy belajar Ilmu Fiqh kepada Imam Muhammad ibn al-Hasan. Ketika Sang Guru melihat al-Bukhari lebih berbakat dalam bidang Ilmu Hadits, maka Sang Guru memerintahkan agar al-Bukhari menekuni Ilmu Hadits. Akhirnya al-Bukhari pun belajar Ilmu Hadist sehingga menjadi imam hadist paling terkemuka di seluruh penjuru dunia.
  2. Memanggil atau menyebut kyai (guru) dengan panggilan terhormat seperti menyebut status atau kedudukannya. Bukan langsung memanggil atau menyebut namanya, karena hal ini dinilai tidak sopan. Jika berbicara dengan guru, para santri harus memperhatikan sopan santun. Tidak boleh berbicara dengan suara keras, apalagi membentak; tidak boleh memulai berbicara kepada guru sebelum dipersilahkan; Juga tidak banyak berbicara di hadapan guru, atau bertanya hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi jika guru dalam keadaan lelah.
  1. Jika para santri ingin berkunjung ke rumah atau kamar kyai (guru) untuk mengaji, dipanggil, atau ada suatu keperluan, hendaklah memakai pakaian yang sopan dan rapi. Jika perlu mandi terlebih dahulu dan memakai parfum. Hendaklah para santri tidak mengganggu istirahat kyai (guru). Oleh karena itu, para santri tidak boleh mengetuk pintu rumah atau kamar, tetapi hendaknya sabar menunggu hingga kyai (guru) keluar dari kamar atau rumahnya. Jika sudah dipersilahkan masuk ke dalam rumah atau kamar kyai (guru), hendaklah para santri mengucapkan salam dan bermushofahah (salaman), kemudian duduk dengan penuh tawadlu’ seperti duduknya seseorang yang sedang tahiyyat atau bersila. Tidak boleh duduk di tempat duduk kyai (guru). Demikian juga tidak boleh duduk terlalu dekat dengan kyai (guru) kecuali dalam keadaan darurat, karena dikhawatirkan dapat mengurangi penghormatan kepada guru. Sesudah selesai, hendaknya para santri segera berpamitan. Karena jika para santri terlalu lama, dapat mengganggu aktivitas atau waktu istirahat kyai (guru).
  2. Jika bertemu kyai (guru), hendaklah para santri menundukkan pandangannya. Tidak boleh memandang wajah kyai (guru) dengan pandangan yang tajam (melotot) atau menoleh ke arah kanan, kiri dan atas, kecuali sangat darurat.
  3. Jika kyai (guru) sedang mengajar, hendaklah para santri menyimak dengan penuh konsentrasi serta mencatat penjelasannya dengan rapi agar dapat dibaca ulang sehingga meresap di dalam qalbu. Oleh karena itu para santri tidak boleh mengobrol atau bermain-main sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM). Para santri juga tidak boleh bersikap “sok pintar” dengan menyahuti ayat suci al-Qur’an, hadits, syi’ir atau lainnya yang sedang dibacakan oleh kyai (guru); atau menjawab pertanyaan kyai (guru) sebelum kyai (guru) menyelesaikan pertanyaannya, atau sebelum mempersilahkannya untuk menjawab; atau memandang rendah atau mengoreksi penjelasan kyai (guru). Jika ada penjelasan kyai (guru) yang dirasa tidak sesuai atau dinilai salah, hendaklah disampaikan dengan cara yang santun.
  1. Membantu kyai (guru) dalam menyelesakan tugas atau pekerjaannya. Seperti memasak makanan, memebersihkan rumah dan mencuci pakaian. Al-Qodli al-Imam Fahruddin al-Irsabandi, seorang ulama besar yang menjadi pimpinan para Imam di wilayah Marwa dan sangat dihormati oleh Sultan negeri tersebut mengatakan; “Saya memperoleh derajat atau kedudukan yang tinggi ini semata-mata karena berkah dari guruku, al-Qodli Abu Yazid al-Dabbusy. Saya selalu melayani beliau dan membantu beliau memasak makanannya”. Para ulama yang telah sukses meraih derajat yang tinggi menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu memang perlu tekun belajar. Akan tetapi, untuk meraih keberkahan, harus diusahakan dengan melayani para guru ( العلم بِلتعلم والبَكة
    بِلخدمة )
  2. Memberikan hadiah kepada kyai (guru), sesuai dengan kemampuannya. Syeh Sadiduddin al-Syairazi menceritakan, bahwa salah seorang gurunya berkata; “Barangsiapa ingin mempunyai anak, cucu, atau keturunan yang ‘alim (menjadi ulama), hendaklah ia memuliakan para ulama dan memberikan hadiah kepada mereka. Jika seseorang senang memuliakan para ulama dan memberikan hadiah kepada mereka, maka dapat dipastikan anaknya, atau cucunya, atau keturunnya akan menjadi ulama”.
  3. Memuliakan putra-putri kyai (guru) dan orang-orang yang terkait dengan sang kyai (guru), seperti para pembantu, sopir dsb. Dikisahkan, pada masa dahulu ada seorang ulama besar di Bukhara Asia Tengah. Ketika beliau sedang mengajar, tiba-tiba beliau berdiri dan menghormati anak kecil. Maka para murid bertanya; “Mengapa sang ulama berdiri dan menghormati anak kecil?” Belau menjawab; “Dia adalah anak guruku. Aku menghormatinya sebagai penghormatan kepada ayahnya yang menjadi guruku”.
  1. Hendaknya para santri selalu mengenang kebaikan kyai (guru) dan memaafkan kesalahannya. Oleh karena itu para santri harus selalu mendoakan kyai (guru), baik sewaku masih hidup maupun sesudah wafat. Jika kyai (guru) sudah wafat, hendaknya para santri menziarahi kuburnya serta memohonkan ampunan atas semua dosa dan kesalahan kyai (guru) kepada Allah SWT.[]

1KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, Maktabah al-Turats al-Islami, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, tt. h. 10

2Syeh Ibrahim ibn Ismail, “Syarah Ta’lim al-Muta’allim”, karya Syeh al-Zarnuji, al-Haramaim Surabaya, 2006, h. 17

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak Santri kepada Orang Tua

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Orang Tua
Foto: Garakta-Studio (LC: HS6YNAGPX3)

Islam adalah agama universal yang bertujuan menciptakan rahmat bagi seluruh alam semesta serta memberikan petunjuk kepada umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Oleh karena itu, agama Islam tidak hanya mengajarkan tata cara beribadah untuk mengabdi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga memberikan petunjuk tentang tata cara bermuamalat (berinteraksi) antar sesama manusia untuk menciptakan kesejahteraan, ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan seluruh anggota masyarakat.

Keluarga sebagai komunitas terkecil dalam suatu masyarakat, sangat besar peranannya dalam menciptakan ketenangan dan ketentraman masyarakat. Jika setiap keluarga hidup dengan sejahtera dan bahagia, penuh kehangatan dan kasih sayang, saling menghormati dan menyayangi di antara para anggota keluarga, maka dapat dipastikan seluruh masyarakat akan tenang, tenteram dan bahagia. Demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu, agama Islam, sangat memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga dengan memberikan petunjuk tentang kewajiban dan hak masing-masing anggota keluarga.

Pengorbanan Kedua Orang Tua

Kedua orang tua, ayah dan ibu adalah manusia yang paling berjasa terhadap anaknya. Anak-anak lahir di muka bumi adalah dengan perantaraan (wasilah) kedua orang tua. Ibu dengan ikhlas mengandung anak di dalam perutnya selama kurang lebih 9 (Sembilan) bulan, kemudian melahirkannya dengan penuh rasa sakit, bahkan tidak jarang bersabung nyawa. Akan tetapi begitu melihat sang anak lahir dengan selamat, Ibu tersenyum bahagia dan seketika itu, hilanglah rasa sakit dan penderitaan yang dirasakan selama ini. Ayah dan seluruh anggota keluarga juga  menyambut kelahiran bayi dengan senyum bahagia. Sebagaimana diilustrasikan oleh seorang penyair :

“Wahai manusia, ketika engkau dilahirkan oleh ibumu (ke alam dunia), engkau dalam keadaan menangis sedangkan orang-orang di sekelilingmu (orangtua dan saudara-saudaramu) menyambutmu dengan suka cita. Maka berjuanglah agar ketika  wafat engkau dalam keadaan tersenyum sedangkan mereka menangis karena  meratapi kepergianmu”.

Sesudah itu, ibu menyusui anak selama 2 (dua) tahun kemudian memberikan nutrisi (asupan makanan dan minuman) yang diperlukan serta membimbingnya sehingga sang anak bisa berjalan. Ayah juga berjuang sekuat tenaga, bekerja keras agar mendapatkan rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup anak istri. Pengorbanan ayah dan ibu terus berlangsung hingga anak menempuh pendidikan sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Perguruan Tinggi, bahkan tidak jarang sampai anak melangsungkan pernikahan.

Kalau sekarang kalian para santri bisa belajar, menuntut ilmu di lembaga pendidikan Islam pondok pesantren, tidak lain adalah karena peran kedua orang tua yang sangat berkeinginan agar kalian menjadi orang-orang yang pandai (‘alim) serta berakhlak mulia sehingga dicintai oleh Allah SWT dan manusia serta memiliki kedudukan yang terhormat dan mulia di hadapan mereka. Ayah dan Ibu dengan sabar bekerja keras, bahkan mengurangi waktu istirahatnya, semata-mata agar bisa memenuhi kebutuhan hidup anaknya serta membiayai pendidikannya agar kelak anaknya lebih sukses dan mulia dibanding diri mereka sendiri.        

Akhlak Anak terhadap Orang Tua

Uraian di atas menunjukkan betapa besar pengorbanan kedua orang tua dalam melahirkan, membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang sehingga mereka tumbuh berkembang menjadi orang-orang yang sukses dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Oleh karena itu, setiap anak berkewajiban untuk berakhlak mulia kepada kedua orang tua, terutama ibu.  

Mengingat betapa besar peran dan pengorbanan kaum ibu dalam mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak-anaknya hingga tumbuh dan berkembang menjadi dewasa dan mandiri, maka agama Islam memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada kaum ibu. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Surga itu berada di bawa telapak kami kaum ibu.”

Demikian juga hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA:

“Ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW kemudian bertanya; Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya perlakukan dengan baik? Ia menjawab, “ibumu”. Orang laki-laki tersebut bertanya lagi. (Sesudah ibuku), siapa lagi wahai Rasulullah? Ia menjawab, “ibumu”. Orang laki-laki tersebut bertanya lagi. (Sesudah ibuku), siapa lagi wahai Rasulullah? Ia menjawab, “ibumu”. Orang laki-laki tersebut bertanya lagi. (Sesudah ibuku), siapa lagi wahai Rasulullah? Ia menjawab “ayahmu”.

Berdasarkan hadits shahih di atas, maka dapat dipahami bahwa kewajiban anak untuk menghormati, menyayangi, dan mentaati ibu adalah tiga kali lipat dibanding kewajibannya untukmenghormati, menyayangi, dan mentaati ayah. Oleh karena itu, anak harus senantiasa taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya terutama kepada ibu, sehingga meraih keberkahan dan kebahagiaan hidup yang hakiki.

Jika dijabarkan, akhlak mulia yang menjadi kewajiban anak terhadap orang tuanya adalah sebagai berikut:

Menghormati, mengabdi dan membahagiakan kedua orang tua. Setiap anak wajib menghormati, mengabdi dan membahagiakan orang tua, terutama ibu yang telah bersusah payah mengandungnya selama kurang lebih sembilan bulan, kemudian melahirkannya dengan menahan segala macam rasa sakit dan bahkan harus mempertaruhkan nyawanya, menyusui dan membesarkannya hingga mampu hidup mandiri. Demikian juga ayah yang telah bersusah payah mencarikan rizki untuk membiayai hidupnya, mendidiknya serta menjaga kesehatannya dengan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, sesudah mengabdi kepada Allah SWT. Dzat Yang Mencipta dan Memeliharanya, setiap manusia wajib mengabdikan hidupnya untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat an-Nisa’ ayat 36 :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu”.

Firman Allah ini, menempatkan kewajiban manusia untuk berbuat baik dan mengabdi kepada kedua orangnya, langsung sesudah kewajibannya untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Mendengarkan Nasehat dan Mentaati Perintahnya. Sebagai konsekuensi logis dari kewajiban untuk mengabdi dan membahagiakan kedua orang tua, maka setiap anak wajib mendengarkan nasehat dan mentaati semua perintah mereka, sepanjang tidak memerintahkan berbuat maksiat atau menyekutukan Allah SWT. Jika kedua orang tua memerintahkan anaknya berbuat maksiat atau menyekutukan Allah SWT, maka anak tidak boleh mentaatinya. Sungguh pun demikian, kedua orang tua tetap harus dihormati dan diperlakukan dengan baik. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Luqman ayat 14 – 15 :

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam  keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Berbicara dengan penuh sopan santun dan tidak membentaknya. Para santri wajib berbicara yang sopan kepada kedua orang tua dan tidak membentak merka, terutama jika orang tua sudah menjadi renta dan pendengaran mereka sudah sangat menurun, karena hal itu sangat menyakiti hati orang tua. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 23  :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka serta ucapkanlah perkataan yang mulia”.

Membantu pekerjaan dan berusaha memenuhi semua kebutuhan hidup orang tua. Para santri harus siap dan bersedia membantu pekerjaan orang tua seperti membersihkan rumah, merapikan tempat tidur, memasak, mencuci piring, memperbaiki letak atau mengganti geneteng yang bocor dsb. Jika orang tua sudah tidak mampu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya disebabkan kerena telah berusia lanjut, sakit atau faktor yang lain, maka semua kebutuhan hidupnya, baik berupa makanan, minuman, pakaian, perumahanan, maupun obat-obatan menjadi tanggung jawab anak-anaknya, terutama anak laki-laki yang sudah dewasa. Di banding dengan jasa orang tua terhadap anaknya, bantuan nafkah tersebut belum berarti apa-apa. Bahkan hadits Rasulullah saw telah menyebutkan, “Demi Allah, meskipun kamu telah memotong-motong dagingmu untuk memenuhi keperluan hidup orang tuamu, niscaya kamu belum memenuhi haknya, walaupun hanya seperempat”.

Menghindari hal-hal yang menimbulkan murka orang tua. Para santri wajibmenghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan kekecewaan, kemarahan dan murka orang tua. Seperti ucapan yang kasar, membentak, sikap dan perbuatan yang menyakitkan. Terutama jika orang tua telah berusia senja yang biasanya sangat mudah tersinggung dan menjadi pemarah. Karena kekecewaan, kemarahan dan murka orang tua, akan menyebabkan murka Allah SWT. Sedangkan orang yang dimurkai Allah, hidupnya tidak akan bahagia, baik di dunia maupun di akheratnya. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW :

“Ridla Allah bergantung pada ridla kedua orang tua dan murka Allah bergantung pada murka kedua orang tua”.

Mendoakan dan memohonkan ampunan. Di samping kewajiban-kewajiban di atas, setiap anak juga wajib mendoakan kepada orang tuanya agar mereka memperoleh rahmat dan kasih sayang dari Allah swt. serta diampuni semua dosa, kesalahan dan kehilafan mereka. Di antara do’a-do’a tersebut telah disebutkan dalam surat al-Isra’ ayat 24  :

Dan bersikaplah sopan santun kepada mereka dengan penuh kesayangan, serta doakanlah mereka dengan ucapan, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu masih kecil”.

Uraian di atas menunjukkan, bahwa selama orang tua tidak memerintahkan kekufuran, kemusyrikan dan perbuatan maksiat kepada Allah SWT, maka semua perintahnya wajib dilaksanakan, semua larangannya wajib dihindarkan dan semua nasehatnya wajib didengar  dipatuhi. Akan tetapi jika mereka memerintahkan kekufuran, kemusyrikan dan maksiat kepada Allah, maka tidak boleh diikuti. Meskipun demikian perbedaan agama dan kepercayaan tidak menjadi penghalang bagi anak untuk menghormati dan mentaati orang tuanya.

Akhlak Anak terhadap Orang Tua yang telah Wafat

Meskipun orang tua telah wafat, anak-anak tetap mempunyai kewajiban untuk berakhlak mulia kepadanya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Abu Daud dari sahabat Abu Usaid  Malik ibn Rabi’ah al-Sa’idi RA. Beliau berkata :

 “Ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berasal dari Bani Salimah datang. Kemudian laki-laki tersebut bertanya; ’Wahai Rasulullah, masih adakah kewajiban bagi saya untuk berbakti kepada kedua orang tua saya sesudah mereka berdua wafat? Kemudian Rasulullah SAW menjawab betul, yaitu (1). Shalatkan jenazah kedua orang tuamu (2). Mohonkan ampunan keduanya (3). Laksanakan janji (amanah/wasiat) keduanya sesudah wafat (4). Jalin hubungan sillaturrahim dengan kerabat keduanya (5). Muliakan sahabat keduanya”[1]

Berdasarkan hadits shahih di atas dapat disimpulkan, bahwa kewajiban anak terhadap kedua orang tuanya sesudah mereka wafat adalah sbb. :

  1. Menshalati (menyembahyangkan) jenazahnya
  2. Memohonkan ampunan kepada Allah SWT dan sesama manusia
  3. Melaksanakan semua janji-janji atau wasiatnya.
  4. Menyambung tali persaudaraan dengan keluarga dan sanak famili almarhum dan almarhumah
  5.  Memuliakan para sahabatnya.[]

[1] Al-Imam Abi Zakaria Yahya ibn Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Riyadu al-Sholihin, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Jakarta, 2010, h. 137

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak kepada Rasulullah SAW

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Rasulullah SAW

Selain wajib berakhlak mulia kepada Allah SWT, umat Islam juga wajib berakhkak mulia kepada Rasulullah SAW, karena beliau adalah kekasih Allah yang diutus untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia agar mereka menjalani hidup dan kehidupan sesuai petunjuk-Nya sehingga meraih kebahagiaan hidup yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat (السعادة في الدارين).

Beliau-lah yang mengenalkan kita kepada Allah SWT. Beliau-lah yang mengajarkan hukum-hukum Islam kepada kita, baik hukum-hukum tentang ibadah, mu’amalah, munakahah maupun jinayah. Beliau-lah yang mendidik kita agar berakhlak mulia, baik kepada Allah, diri sendiri maupun kepada orang lain, bahkan flora, fauna serta alam di sekeliling kita. 

Di antara bentuk nyata akhlak mulia kepada Rasulullah SAW  adalah sebagai berikut :

  1. Meyakini dengan sepenuh hati (beriman) bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT. kepada seluruh manusia dan jin untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Fath ayat 29 :
    “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras (tegas) terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”.

    Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Anbiya’ ayat 107 :
    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”
  2. Meyakini dengan sepenuh hati (beriman) bahwa semua informasi (al-Qur’an & al-Hadits) yang disampaikan oleh beliau adalah pasti benar, karena berasal dari wahyu Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat an-Najm ayat 3 – 4 :
    “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
  3. Mentaati beliau dengan melaksanakan semua perintahnya, menjauhi larangan-larangannya serta mengikuti dan menghidupkan sunnah-sunnahnya. Hal ini merupakan bukti nyata keincintaan manusia kepada Allah SWT, Dzat yang menganugerahkan berbagai macam keni’matan kepada manusia. Sebagaimana difirmankan dalam surat Ali Imrah ayat 31 :
    “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

    Demikian juga firman-Nya dalam surat an-Nisa’ ayat 59 :
    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.
  4. Tidak membantah apalagi menentang keputusan Rasulullah SAW. karena meyakini bahwa keputusan beliau pasti benar karena beliau selalu mendapat bimbingan dan pengawasan dari Allah SWT. Barangsiapa membantah apalagi menentang keputusan Rasulullah SAW, kemudian tidak segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar, maka tempatnya adalah di neraka Jahannam. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat an-Nisa’ ayat 115 :
    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
  5. Menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh teladan dalam seluruh aspek kehidupan, karena Allah SWT telah merekomendasikan kepada orang-orang yang beriman agar mencontoh sikap dan prilaku beliau. Sebagaimana telah difiramkan dalam surat al-Ahzab ayat 21 :
    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
  6. Memperbanyak membaca shalawat dan salam sebagai ekpsresi dari rasa cinta (mahabbah) kepada Rasulullah SAW. Jangankan kita umat yang sangat mengharapkan syafaat (pertolongan) beliau pada hari kiamat kelak, Allah SWT Dzat yang menciptakan beliau dan para malaikat yang tidak mempunyai dosa saja selalu membaca shalawat kepada beliau. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ahzab ayat 56 :
    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

    Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad. Sedangkan mengucapkan salam, adalah ucapan seperti: Assalamu’alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi. Seseoang yang rajin bershalawat, maka akan dibalas berlipat-lipat oleh Allah SWT, bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW mendapatkan syafa’at.
  7. Tidak berbicara dengan suara keras, melebihi suara Rasulullah SAW padahal beliau adalah manusia yang paling halus. Jika kita berbicara dengan suara keras apalagi berteriak-teriak di hadapan beliau atau makam beliau, maka hal itu berpotensi menghapuskan pahala amal ibadah yang telah kita lakukan. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Hujurat ayat 2 :

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”.
  8. Menghormati dan memuliakan ahlul bait (keluarga) Nabi Muhammad SAW, baik para istri (umahat al-mukminin), para putra dan putri maupun para cucu keturunan beliau yang dikenal dengan sebutan habib (habaib) atau sayyid, karena mereka adalah orang-orang yang disucikan oleh Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ahzab ayat 33 :
    “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

[]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending