Connect with us

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (2)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Diri Sendiri
Foto @alasantri

Akhlak kepada Diri Sendiri; berbeda dengan etika atau moral di luar Islam yang hanya mengatur atau menekankan etika social (hubungan seseorang dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat), akhlak dalam Islam memiliki spektrum )ruang lingkup pembahasan) yang sangat luas. Selain mengatur hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan masyarakat (علاقة الانسان للغير في الحياة الاجتماعية ), akhlak dalam Islam juga mengatur hubungan manusia kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Pencipta dan Pengatur kehidupan manusia dan alam semesta(علاقة الانسان لله)  serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri  (علاقة الانسان لنفسه).

Baca juga: Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

Keempat, Menjaga kehormatan diri (al-‘iffah). Para santri harus menjaga kehormatan diri (al-‘iffah) dengan tidak bersikap thama’ terhadap harta atau kedudukan orang lain.

“Barangsiapa merasakan kelezatan ilmu dan mengamalkannya, dapat dipastikan bahwa dia tidak akan silau atau memiliki keinginan(thama’)  terhadap harta atau jabatan orang lain”

Oleh karena itu para santri harus memiliki sikap mandiri dan menerima serta menikmati anugerah Allah SWT apa adanya (bersikap qonaah). Jangan membiasakan diri meminta-minta atau mengemis, karena agama Islam sangat mencela orang yang berprofesi sebagai pengemis, serta menghargai orang yang bekerja untuk mencari nafkah secara halal, baik dengan bertani, berdagang, menjadi karyawan, buruh dsb. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Al-Baqarah ayat 273 :

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya. Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”.

Firman Allah SWT  di atas, memuji para sahabat Rasul yang tidak mau “menjadi pengemis”, meskipun mereka miskin karena tidak bisa berdagang lantaran sedang berperang membela agama Allah SWT melawan orang-orang kafir. Berhubung mereka tidak mau “menjadi pengemis”, maka masyarakat menyangka mereka adalah orang-orang kaya yang berkecukupan, padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang miskin. 

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari sahabat Hakim ibn Hizam RA.:

“Tangan di atas adalah lebih baik dari pada tangan di bawah. Tangan di atas ialah tangan yang memberi dan tangan di bawah ialah tangan yang meminta”

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA.

“Sungguh jika salah seorang di antara kamu pada waktu pagi-pagi buta mengambil tali kemudian mencari kayu bakar dan menjualnya sehingga ia memperoleh makanan secukupnya dan bersedekah, maka hal itu lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada manusia”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar RA.

“Mengemis (meminta-minta) itu senantiasa merupakan cacat bagi seseorang di antara kamu sehingga dia menemui Allah di hari kiamat tanpa sepotong daging yang melekat di mukanya”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat Abdullah ibn Adi :

“Ada dua orang sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW untuk  meminta sedekah. Setelah Rasulullah SAW memperhatikan keadaan mereka, ternyata keduanya bertubuh kekar (kuat). Maka beliau  bersabda: Kalau kamu berdua meminta, saya akan memberi, tetapi ketahuliah bahwa orang-orang kaya dan mampu berusaha (kuat) tidaklah berhak menerimanya”.

Pernah salah seorang penduduk Madinah (kaum Anshor) datang meminta sedekah kepada Nabi. Beliau bertanya: Apakah anda mempunyai sesuatu benda di rumah? Orang Anshor itu menjawab: Saya hanya mempunyai sehelai tikar yang sebagian saya jadikan alas dan sebagian lainnya saya jadikan selimut, serta sebuah mangkok tempat air minum. Bawalah padaku, perintah Nabi. Setelah orang Anshor itu kembali kepada Rasulullah SAW dengan membawa barang-barang yang dimiliki, beliau melelang barang-barang tersebut kepada para sahabat, dan laku dua dirham. Kemudian beliau menyerahkan uang dua dirham tersebut kepada pemiliknya sambil berkata: Pergunakanlah satu dirham untuk membeli makananmu dan satu dirham lagi belikan sebuah kampak, dan bawalah padaku!. Setelah pemuda itu menyerahkan kampaknya kepada Rasulullah, maka beliau memasang tangkainya kemudian menyerahkannya kepada pemuda itu sambil bersabda; Pergilah mencari kayu bakar, dan juallah! Dua minggu kemudian kembalilah melapor padaku!. Dengan patuh pemuda itu keluar dan demikianlah, dua minggu kemudian dia kembali menghadap Nabi melaporkan bahwa dia telah berhasil menerima keuntungan 10 dirham. Lima dirham di antaranya telah dibelikan pakaian, sedang sisanya dipergunakan untuk persediaan membeli makanan mereka sekeluarga. Mendengar laporan itu Nabi bersabda: Bukankah itu lebih baik bagimu dari pada meminta-minta yang menjadikan cacat hitam di mukamu ketika menghadap Allah di hari kiamat nanti?”. Hadits Riwayat Abu Daud.

Kelima, Bersifat Wara’. Para santri harus bersifat wara’, yaitu bersikap hati-hati agar tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram atau diperoleh dengan cara yang tidak halal seperti mencuri, menipu, korupsi dsb. Demikian juga pakaian, kendaraan, tempat tinggal dsb. Seseorang yang bersifat wara’ insya Allah hatinya akan bersinar sehingga mudah menangkap ilmu dari Allah SWT serta doa yang dipanjatkan akan mudah diijabah oleh Allah SWT. Sebaiknya seseorang yang suka mengkomsi makanan atau minuman yang haram, atau memakai pakaian dan menggunakan barang-barang yang haram atau diperoleh secara tidak halal, maka hatinya akan gelap gulita sehingga sulit menangkap ilmu Allah SWT, bahkan doa-doanya pun tidak akan dijabah. Sebagai telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 188:

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.

Demikian juga dijelaskan oleh hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah :

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Suci, yang tidak akan menerima, kecuali sesuatu yang suci. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang diperintahkan kepada para rasul-Nya. Maka Allah SWT berfirman; ‘Wahai para rasul, makanlah kamu dari sesuatu yang baik dan beramallah yang baik’. Dan Allah pun berfirman; ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki yang baik yang telah Kami anugerahkan kepada kalian’. Kemudian Rasul mengkisahkan seorang laki-laki yang sudah lama sekali berdo’a memohon sesuatu kepada Allah. Begitu lamanya berdo’a sampai rambunya acak-acakan (tidak rapi), pakaiannya kotor terkena debu. Akan tetapi, bagaimana mungkin doanya dikabulkan kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan sejak kecil diberi makanan yang haram”.[1]

Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia juga akan mempengaruhi kehidupannya di alam akhirat. Jika halal dan thayyib, maka akan mengantarkan manusia ke surga. Sebaliknya, jika bersumber dari atau diperoleh dengan cara yang haram, maka akan mengantarkannya ke dalam neraka. Sebagimana disabdakan Rasulullah dalam hadits hasan:

“Setiap daging (manusia) yang tumbuh dari (makanan dan minuman) yang haram, maka lebih berhak untuk masuk neraka” (HR. Imam Tirmidzi dari Ka’ab ibn ‘Ajazah). [2]

Para santri juga harus menghindari makanan dan minuman yang syubhat (belum jelas halal atau haram),  karena seseorang yang terjerumus dalam hal-hal yang syubhat pasti akan terjerumus dalam hal-hal yang haram. Sebagaimana telah disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Abdillah Nu’man Ibnu Basyir RA.

“Dari sahabat Abu Abdillah Nu’man ibn al-Basyir RA. beliau berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Sesungguhnya sesuatu yang halal itu sudah jelas. Demikian pula, sesuatu yang haram juga sudah jelas. Akan tetapi, di antara yang halal dan yang haram itu terdapat sesuatu yang samar (syubhat) yang tidak banyak diketahui oleh umat manusia. Barangsiapa menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, maka berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Sebaliknya barangsiapa terjatuh dalam sesuatu yang syubhat, maka ia pasti akan terjatuh pada sesuatu yang haram. Seperti pengembala yang mengembalakan hewan ternak di sekitar tanah larangan, maka dapat dipastikan hewan ternak tersebut memasuki tanah larangan. Ingat, bahwa sesungguhnya setiap raja mempunyai larangan. Ingat, bahwa sesungguhnya larangan Allah adalah hal-hal yang telah diharamkan. Ingat, sesungguhnya di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, yang jika baik maka seluruh anggota badannya menjadi baik. Sebaliknya, jika segumpal daging tersebut buruk, maka seluruh anggota badan menjadi buruk. Ingat, segumpal daging tersebut adalah hati. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).[3]

Keenam, Rajin dan Bersungguh-sungguh dalam Belajar

Para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar secara istiqomah (kontinu/ terus-menerus). Hal ini antara lain dilakukan dengan mengulang-ulang pelajaran (tikrar) agar memiliki pemahaman yang lebih mantap sehingga tidak mudah melupakan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari.  Sebagaimanadifirmankandalam surat al-Ankabut ayat 69 :

“Dan Orang-orang yang mencari keridhaan Kami, niscaya Kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami” (Surat 29, Al-Ankabut 69).

Pepatah Arab mengatakan :

“Barangsiapa sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu pastilah ketemu dan barangsiapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti dapat memasuki”.

Pepatah lain mengatakan :

“Sesuai dengan kadar usahamu, engkau akan meraih cita-citamu”

Imam al-Syafi’i telah menggubah syi’ir sbb. :

Engkau mengidam-idamkan dirimu menjadi seorang ahli fiqh yang pandai berargumentasi, tetapi engkau tidak mau berpayah-payah belajar.Maka (hal itu adalah suatu kegilaan, karena) gila itu sangat banyak bentuknya.

Kalau untuk mencari harta benda saja harus berpayah-payah dan penuh derita, apalagi untuk meraih ilmu pengetahuan”

Ketujuh, Bersikap Sabar dan Istiqomah

Para santri hendaknya bersikap sabar dan istiqomah untuk belajar di sebuah lembaga pendidikan (pondok pesantren) hingga menamatkan pendidikannya. Juga istiqomah dalam mengkaji satu disiplin ilmu, sehingga tidak berpindah ke disiplin ilmu lainnya sebelum menguasai disiplin ilmu yang pertama. Dengan berpindah-pindah tempat belajar, maka akan mengganggu konsentrasi belajar, membuang-buang waktu, biaya, tenaga dan pikiran, bahkan menyakiti para guru yang ditinggalkannya.

Para santri juga harus bersikap sabar dalam menghadapi berbagai macam ujian hidup.Kesuksesan sebuah cita-cita sangat bergantung pada kesabaran dalam menghadapi ujian.

Kedelapan, Rajin Bangun Malam

Para santri hendaknya rajin bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajjud, berdizkir dan berdo’a. Karena pada sepertiga malam terakhir Allah SWT menurunkan rahmat-Nya dan merupakan waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Jika para santri rajin melaksanakan tahajjud, maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya hingga meraih derajat yang terpuji. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 79:

“Dan pada sebahagian malam hari bershalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”.

Imam al-Syafi’i membagi waktu malam hari menjadi tiga bagian. Sepertiga malam untuk tidur (istirahat); sepertiga malam untuk mengkaji ilmu atau mengajar; sepertiga malam untuk ibadah (tahajjud). Agar mudah bangun malam, maka hendaklah para santri mengurangi konsumsi makanan.


[1] Imam Yahya ibn Syarafuddin al-Nawai, Matan al-Arba’in al-Nawawiyah Fi al-Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyah,  (Riyadl: Daar al-Ilmiyah Li al-Kitab al-Islami, 1413 H./1992 M.)  h. 18 – 19

[2] Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghozali, Ihya’ Ulum al-Din,  (Beirut: Daar al-Fikr, 1995 M./1405 H.),  juz 2, h. 80

[3] Imam Yahya ibn Syarafuddin al-Nawawi, Matan al-Arba’in al-Nawawiyah Fi al-Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyah, (Riyadl: Daar al-Ilmiyah Li al-Kitab al-Islami, 1413 H./1992 M.), h. 13-15; Dr. Mustafa al-Bugha dan Muhyiddin Mastu, Al-Wafi Fi Syarah al-Arba’in al-Nawawiyah, (Damaskus: Daar Ibnu Katsir, 1998 M./1418 H.) Cetakan ke-10, h. 35

Bersambung….

Baca juga: Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

Kunjungi koleksi pustaka digital JATMAN

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (3)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Diri Sendiri

Imam al-Syafi’i membagi waktu malam hari menjadi tiga bagian. Sepertiga malam untuk tidur (istirahat); sepertiga malam untuk mengkaji ilmu atau mengajar; sepertiga malam untuk ibadah (tahajjud). Agar mudah bangun malam, maka hendaklah para santri mengurangi konsumsi makanan.

Selain itu, para santri juga harus menghindari akhlak tercela (al-akhlak al-madzmumah) yang bersemayam di dalam dirinya. Di antaranya adalah sbb. :

  1. Pembohong. Bohong adalah menyampaikan informasi yang tidak sesuai atau tidak cocok dengan kejadian yang sebenarnya. Apabila kita ingin menjadi manusia yang sukses, maka pertama-tama yang harus kita lakukan adalah menjauhi kebohongan serta berpegang teguh pada kejujuran. Jika seseorang suka berdusta maka ia akan terjerumus pada kemunafikan sehingga layak disebut sebagai orang munafik.
  2. Munafik. Yaitu orang yang lahiriahnya berbeda batiniahnya. Performen lahiriahnya tampak bagus tetapi hatinya busuk, sehingga banyak orang yang tertipu.  Sifat munafik sangat tercela, sehingga  Al-Qur’an menyebutkan, bahwa orang-orang munafik itu kelak berada di neraka paling bawah. Pada masa Rasulullah SAW, orang-orang munafik sangat merepotkan karena mengganggu perjuangan beliau. Secara lahiriah mereka menampakkan seperti seorang muslim yang taat kepada Nabi, tetapi pada kenyataannya mereka berusaha merusak dan menghancurkan perjuangan beliau dari dalam. Rasulullah dalam hadistnya menyebutkan bahwa di antara ciri-ciri orang munafik adalah apabila  berbicara, suka berbohong; apabila berjanji, suka menginkari, dan apabila diberi amanah (dipercaya), suka berkhianat.

    “Ciri-ciri orang munafiq itu ada tiga; jika berbicara bohong, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanat berkhianat”.
  3. Bermuka dua. Di antara bentuk lain dari sifat munafiq adalah bermuka dua, yaitu ketika bertemu seseorang dia memujinya, tetapi di belakangnya ia menjelek-jelekkan bahkan mencaci makinya. Sebagaiman disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukahri dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA.

    “Dan engkau akan menjumpai sejahat-jahat manusia adalah orang yang bermuka dua. Dia menghadapi suatu kelompok dengan satu muka dan menghadapi kelompok yang lain dengan muka yang lain pula”.

    Demikian juga ucapan sahabat Abdullah ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

    “Dari Muhammad ibn Zaid bahwa ada sekelompok orang yang bertanya kepada kakeknya, yakni sahabat Abdullah ibn Umar RA.: Sesungguhnya kami, jika  menghadap para pejabat kami akan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang kami bicarakan ketika kami telah keluar dari ruangan mereka. Sahabat Ibnu Umar berkata; Menurut hemat kami, perbuatan tersebut pada masa Rasulullah SAW dinilai sebagai perbuatan munafiq.”
  4. Egois, yaitu sifat yang hanya mementingkan diri sendiri dan sama sekali tidak memperdulikan penderitaan orang lain, terutama penderitaan yang dialami oleh umat Islam. Orang seperti ini pada hakikatnya tidak layak dikelompokkan sebagai bagian dari umat Islam. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW :

    “Barangsiapa tidak memperdulikan nasib ummat Islam, maka ia tidak  termasuk golongan mereka”.
  5. Konsumtif dan berlebih-lebihan  dalam mengkonsumsi makanan dan minuman, karena hal itu sangat berpotensi menambah berat badan dan kegemukan (obesitas) sehingga mudah mengantuk dan malas beribadah serta belajar, bahkan berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit.

    Demikian juga berfoya-foya dalam membelanjakan dan mempergunakan harta sehingga mubaddzir. Bentuk lain dari sifat tabdzir adalah membuang sisa-sisa makanan yang tidak habis karena terlalu banyak dalam memasak atau mengambil makanan melebihi kebutuhan. Sifat tabdzir dinilai oleh Allah SWT sebagai sifat dan prilaku syaitan. Mereka dengan gampang membuang-membuang makanan, padahal di tempat lain banyak orang yang kelaparan karena tidak memiliki bahan makanan. Sebagaimana telah difirmankan Allah dalam surat al-Isra’ ayat 26 – 27:

    “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros adalah teman syetan dan syetan sangat ingkar kepada Allah”.
  6. Pelit (bakhil) dalam membayar zakat, infak dan sedekah serta dalam membantu kaum yang lemah. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Ali Imran ayat 180:

    “Janganlah sekali-kali orang-orang yang pelit (bakhil) dengan harta yang Allah telah anugerahkan kepada mereka menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) dilangit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
  7. Takabbur (sombong), yaitu suatu sifat buruk yang bersemayam dalam diri seseorang karena merasa bahwa dirinya adalah orang hebat atau merasa memiliki keunggulan-keunggulan di atas orang lain. Sifat ini bisa muncul karena berbagai faktor. Bisa jadi karena merasa berasal dari keturunan orang-orang yang terhormat, bisa jadi karena merasa kaya, pandai, mempunyai pangkat dan kedudukan yang tinggi dsb. Takabbur atau sombong merupakan sifat buruk yang dibenci oleh Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Al-Isra’ ayat 37:

    Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan mampu mencapai puncak gunung”.

    Takabbur  terbagi menjadi  3 (tiga) macam; yaitu (1). Takabbur kepada Allah SWT, yang tercermin dalam sikap menolak untuk beribadah serta tidak mau memperdulikan ajaran-ajaran-Nya. (2). Takabbur kepada Rasulullah SAW yang tercermin dalam sikap menolak untuk mematuhi ajaran-ajarannya serta mengikuti sunnah-sunnahnya. (3). Takabbur kepada sesama manusia yang tercermin dalam sikap dan prilaku yang menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain.

    Untuk menghilangkan atau mengurangi sifat takabbur (sombong) yang bersemayam di dalam hati serta menumbuh kembangkan sifat tawadlu’, dapat dilakukan dengan beberapa cara sbb.:

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya bahwa manusia pada mulanya tercipta dari sperma (air mani) yang menjijikkan dan sama sekali tidak berharga, kemudian pada akhir kehidupannya, sesudah wafat akan menjadi bangkai yang lama kelamaan membusuk dan baunya sangat menyengat sehingga tidak ada seorang pun yang mau mendekati apalagi menemaninya, meskipun istri atau suami dan anak-anaknya. (الانسان اوله نطفة واخره جيفة). 

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya, bahwa semua kelebihan yang dimilikinya, baik berupa wajah yang tampak atau cantik, harta benda yang melimpah ruah, ilmu pengetahuan dan gelar atau prestasi akademiki, pangkat, jabatan dsb. adalah karunia atau anugerah dari Allah SWT  yang wajib disyukuri, bukan untuk disombongkan; sekaligus juga  amanah yang kelak akan dimintakan pertanggung-jawaban.

    – Memandang orang lain dengan kelebihannya serta memandang diri sendiri dengan kekurangannya. Di antara nasehat Sulthan al-Auliya’ al-Syeh Abdul Qadir al-Jilani kepada para muridnya adalah sbb. ”Jika engkau bertemu orang yang berilmu (ulama), maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena beliau beribadah didasarkan pada ilmu, sedangkan engkau beribadah hanya ikut-ikutan tanpa ilmu. Jika engkau bertemu orang yang bodoh, engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Dia berbuat maksiat dan dosa karena kebodohannya. Sedangkan engkau sudah berilmu, tapi masih berbuat maksiat dan dosa. Jika engkau bertemu orang yang lebih tua, maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena beliau sudah banyak amal ibadahnya, sedangkan engkau masih muda sehingga belum banyak beribadah. Jika engkau bertemu orang yang lebih muda, maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena dia masih muda sehingga belum banyak dosanya, sedangkan engkau sudah tua sehingga sudah banyak berbuat dosa dan maksiat.

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya, bahwa sifat takabbur (sombong) dapat menyebabkan penolakan terhadap kebenaran, bahkan penolakan terhadap perintah Allah SWT. Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud (menghormat) kepada Adam, karena sifat sombong. Iblis yang diciptakan dari api merasa lebih baik dari pada Adam yang diciptakan dari tanah. Akibatnya Allah SWT membencinya dan mengusirnya dari surga. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-A’raf 12 – 13 :

    Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Iblis menjawab “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surge, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.
  8. Hasad (Iri Hati atau Dengki) adalah sifat atau rasa tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain, baik berupa harta, jabatan, pangkat, kesehatan maupun yang lain, kemudian dia ingin atau berusaha menghilangkan kenikmatan tersebut dari orang lain tersebut, baik dengan maksud supaya kenikmatan itu berpindah kepadanya atau tidak. Hasad adalah termasuk akhlak yang tercela (al-akhlaq al-madzmumah), bahkan sangat berbahaya karena dapat mencelakakan orang lain. Seseorang yang hasad kepada orang lain akan berusaha menghilangkan kenikmatan yang diperoleh orang tersebut dengan berbagai cara, termasuk mencelakakan bahkan membunuhnya.

    Pada hakikatnya, seseorang yang bersifat hasad  adalah orang yang kurang beriman karena dia tidak rela terhadap kehendak dan ketentuan Allah SWT yang menganugerahkan kenikmatan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, untuk meredam sifat hasad yang bersemayam dalam diri manusia, diperlukan peningkatan dan penguatan iman sehingga dia menyadari bahwa kenikmatan adalah anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Perlu ditanamkan juga bahwa sifat hasad itu akan menggerogoti pahala amal kebaikan, bagaikan api yang melahap kayu bakar.[]

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak
Pesantren Tebuireng

Berbeda dengan etika atau moral di luar Islam yang hanya mengatur atau menekankan etika social (hubungan seseorang dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat), akhlak dalam Islam memiliki spektrum (ruang lingkup pembahasan) yang sangat luas. Selain mengatur hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan masyarakat (علاقة الانسان للغير في الحياة الاجتماعية ), akhlak dalam Islam juga mengatur hubungan manusia kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Pencipta dan Pengatur kehidupan manusia dan alam semesta (علاقة الانسان لله)  serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri (علاقة الانسان لنفسه).

Pada dasarnya, akhlak manusia  terhadap diri sendiri adalah sifat yang melekat dalam diri seseorang yang mencerminkan komitmen dan tanggung jawabnya terhadap keselamatan, kebaikan, dan kemuliaan dirinya yang bertujuan untuk mewujudkan hal-hal sbb.:

  1. Memelihara  agama (حفظ الدين), yaitu komitmen seseorang untuk melaksanakan seluruh ajaran agama Islam yang diyakini kebenarannya, baik dalam bidang aqidah, syari’ah maupun akhlak dan tasawuf. Hal ini dapat terjadi, jika dalam dirinya telah tertanam kewajiban untuk melaksanakan shalat, berpuasa, membayar zakat, menunaikan ibadah haji dsb serta meninggalkan perbuatan dosa seperti ghibah, namimah dan menebar fitnah. Dengan demikian dia akan merasa bersalah atau merasa berdosa jika meninggalkan perintah agama atau melakukan perbuatan maksiat yang dilarang oleh agama, karena menyadari bahwa hal itu akan mendatangkan murka dan ‘adzab Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat An-Nisa’ ayat 59: 
    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”
  2. Memelihara jiwa  (حفظ النفس), yaitu komitmen seseorang untuk melindungi jiwanya dari hal-hal yang membahayakan (ضرر)  dengan mencampakkan dirinya pada kerusakan (kebinasaan), melukai diri sendiri, usaha pembunuhan atau bunuh diri. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 195 :
    “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

    Juga firman-Nya dalam surat al-Nisa’ ayat 29 :
    Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
  3. Memelihara akal  (حفظ العقل), yaitu komitmen seseorang untuk memanfaatkan akal yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT untuk berpikir logic dan ilmiah; mengali dan mengembangkan ilmu pengetahuan setinggi mungkin serta melindunginya dari hal-hal yang membahayakan (ضرر) seperti minuman keras, narkoba dan zat-zat adiktif lainnya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Maidah ayat 90 – 91:
    “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.
  4. Memelihara keturunan  (حفظ النسل), yaitu komitmen seseorang untuk memelihara keturunan dengan cara menghindari pezinaan. Karena, selain merupakan perbuatan keji yang dimurkai Allah SWT dan menimbulkan berbagai macam penyakit kelamin seperti HIV AIDS, zina juga menjadi penyebab lahirnya anak-anak atau keturunan yang lahir dengan cara haram, meskipun mereka tidak ikut memikul beben dosa akibat perbuatan orang tuanya. Oleh karena itu, Allah SWT secara tegas mengharamkan perbuatan zina sehingga wajib dihindari. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 32 :
    “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.
  5. Memelihara harta atau properti  (حفظ المال), yaitu komitmen seseorang untuk memelihara harta atau properti yang telah dianugerahkan Allah SWT kepadanya dengan cara membelanjakan atau memanfaat harta benda di jalan yang benar sesuai dengan petunjuk-Nya, tidak merusaknya, juga tidak tabdzir atau berfoya-foya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Furqon ayat 67 :
    “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”.

Akhlak terhadap Diri Sendiri  

Akhlak manusia terhadap diri sendiri  (علاقة الانسان لنفسه), tercermin pada sifat-sifat positif sbb.

Pertama: Shidiq, yakni jujur dan benar baik dalam pikiran, ucapan maupun perbuatan. Umat Islam khususnya para santri harus menghiasi diri dengan kejujuran, karena jujur merupakan sifat yang akan memperkokoh dan menjamin integritas kepribadian seseorang, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Di antara contoh kongkret dari sifat al-shidqu adalah bersatunya ucapan dengan perbuatan sehingga perbuatan tidak berbeda apalagi bertentangan dengan ucapan. Jika berjanji maka akan dipenuhi, tidak diingkari. Seseorang yang tidak jujur, maka akan terjermus dalam kemaksiatan, kemunafikan, bahkan akan terjerumus ke dalam neraka jahannam. Na’udzu Billahi dan dzalik. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasululah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud RA. :

 “Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan. Dan sesungguhnya kebaikan akan menunjukkan kepada surga. Jika seseorang bersikap jujur, maka akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat  jujur. Dan sesungguhnya kebohongan akan menunjukkan kepada kejahatan. Dan sesungguhnya kejahatan akan menunjukkan kepada neraka. Jika seseorang bersikap pembohong, maka akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat pembohong”. (Hadits disepakati oleh Imam ala-Bukhari dan Imam Muslim).[1]

Kedua: Amanah, yakni dapat dipercaya. Umat Islam khususnya para santri harus bersifat amanah atau memiliki integritas moral sehingga tidak menipu, tidak berkhianat, tidak menyalah-gunaan jabatan dan kekuasaan serta selalu berusaha mengemban tugas yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya. Sebagaimana sifat al-shidqu (jujur), al-amanah juga merupakan sifat yang akan memperkokoh dan menjamin integritas kepribadian seseorang, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Kedua sifat ini harus dimiliki oleh setiap orang yang beragama Islam karena merupakan kunci kesuksesan seseorang dalam hidup bermasyarakat. Jika sesorang menghiasi dirinya dengan kedua sifat ini, dapat dipastikan hidupnya akan sukses. Sebaliknya, jika mengabaikan kedua sifat ini, pasti hidupnya akan gagal. Sehubungan dengan itu, Allah SWT telah memerintahkan ummat Islam untuk melaksanakan amanat dengan baik. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Nisa’ ayat 58 :

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Ketiga: Tawadlu’ (rendah hati). Umat Islam khususnya para santri harus bersifat tawadlu’ atau rendah hati, sehingga semakin banyak ilmunya, semakin tinggi pangkat dan kedudukannya, semakin banyak harta dan pengaruhnya akan semakin bersikap tawadlu’ karena menyadari, bahwa semua yang dimiliki adalah karunia sekaligus amanah dari Allah SWT sehingga wajib disyukuri bukan untuk disombongkan. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Sulaiman ketika beliau berhasil memindahkan singgasana Ratu Bilqis dari Yaman ke Palestina. Hal ini dikisahkan dalam surat an-Naml ayat 40 :

 Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab (Taurat dan Zabur) “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Bahkan Rasulullah SAW pun diperintahkan oleh Allah SWT agar bersikap tawadlu’ (rendah hati) kepada orang-orang beriman yang mengikuti beliau. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Syu’ara ayat 215:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.

Para santri harus bersikap rendah hati, karena sikap rendah hati merupakan cermin dari sifat-sifat orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Para santri tidak boleh menyombongkan diri dengan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya, karena kesombongan merupakan watak dari syetan yang menolak perintah Allah SWT untuk bersujud (menghormati) Nabi Adam AS. Selain itu, para santri tidak boleh bersikap sombong karena mereka tidak akan tahu nasibnya di akhirat kelak, apakah termasuk orang yang beruntung dengan menjadi penghuni surga, atau termasuk orang yang celaka karena menjadi penghuni neraka, na’udzu billahi min dzalik.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas, Said ibn Jubair, Amr ibn Dinar, Sufyan ibn al-Humaid, Rasulullah SAW mengkisahkan bahwa pada suatu hari Nabi Musa AS berpidato di hadapan kaumnya dari Bani Israil. Nabi Musa mengajak mereka untuk mensyukuri ni’mat dan karunia Allah SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Untaian kalimat-kalimat dakwah yang disampaikan oleh Nabi Musa kepada kaumnya tersebut begitu memukau dan menyejukkan hati mereka. Sesudah menyampaikan dakwah, ada salah seorang kaum Bani Israil bertanya kepada beliau; “Wahai Nabi Musa AS, siapakah hamba Allah SWT yang paling pintar di muka bumi ini? Maka Nabi Musa pun menjawab; “Aku lah orangnya yang paling pintar di antara hamba Allah di muka bumi”.

Jawaban itu wajar saja.Karena pada zaman itu hanya Nabi Musa yang berhasil membawa Bani Isra’il kepada hidayah ilahi. Dialah yang telah menaklukkan Raja Fir’aun dengan segala kekuasaan dan kesombongannya.Dia juga telah menaklukkan para tukang sihir istana sehingga mereka mengikuti agama Nabi Musa.Ia juga telah dikaruniai nikmat terbesar sebagai Rasul-Nya yaitu nikmat berupa kesempatan berbicara langsung dengan Allah. Selain itu, beliau juga telah berhasil membongkar rahasia tentang pembunuhan yang kejam.

Baru saja Nabi Musa mengingat kelebihan dan jasa dirinya atas kaumnya itu, datanglah wahyu Allah berupa teguran atas tindakan yang tak sepatutnya dilakukannya.Allah memperingatkannya bahwa seluas apapun ilmu pengetahuannya, itu semua niscaya hanyalah karunia pemberian Allah semata. Dan, tidak menutup kemungkinan bahwa ada hamba-Nya yang lain yang dianugerahi pengetahuan melebihi apa yang diberikan pada Nabi Musa.

Untuk lebih menekankan peringatan-Nya ini, Allah juga memerintahkan Nabi Musa untuk menemui hamba-Nya yang lain, di suatu tempat yang dalam Al-Qur’an disebut “bertemunya dua lautan”.Mendapat perintah itu, Nabi Musa bertanya, “Ya Allah, siapakah hamba-Mu itu? Dan bagaimana aku bisa menemuinya?” Allah menjawab dengan wahyu-Nya, “bawalah seekor ikan yang kau letakkan dalam sebuah keranjang.Di mana pun ikan itu mulai menghilang, maka di sekitar situ lah tempat tinggal orang tersebut”.

Setelah mendapat kejelasan, Nabi Musa segera menyiapkan bekal perjalanannya. Ia juga mengajak serta salah seorang pengikutnya yang paling setia dan dipercaya, Yusya’ bin Nun. Sebagai orang yang bertugas memastikan kelengkapan dan kelancaran perjalanan Nabi Musa, Yusya’ dipesani oleh Nabi Musa, agar dia memberitahu kepada Nabi Musa begitu ikan yang dibawanya menghilang.

Singkat cerita, ketika keduanya beristirahat di suatu tempat di dekat batu besar, di saat itulah ikan yang tadinya sudah mati, tiba-tiba hidup, bergerak-gerak, lalu meloncat dan mengarah ke lautan.

Setelah Yusya’ bin Nun melaporkan kejadian ini kepada Nabi Musa, Nabi Musa pun berkata, “inilah tempat yang kita cari”. Tak lama kemudian, ia pun menyambung, “aku mencium bau manusia. Pasti di sinilah kita akan menemui hamba Allah itu.”

Ternyata hamba Allah itu adalah seorang laki-laki tua yang kurus badannya, tetapi wajah dan sorot matanya menampakkan cahaya kenabian yang terpancar ke hadapan Nabi Musa. Setelah mengulukkan salam, ternyata orang tersebut sudah mengetahui seluk-beluk identitas Nabi Musa, seperti namanya dan statusnya sebagai pemimpin Bani Israil. Nabi Musa mulanya heran akan hal ini. Namun ia segera menyadari bahwa orang ini mungkin memang orang yang dimaksudkan oleh Allah. Karenanya, ia segera saja mengemukakan, “tujuanku kemari adlah untuk memenuhi perintah berguru kepadamu, apakah engkau berkenan mengajariku ilmu-ilmu yang sudah dianugerahkan Allah kepadamu?

Lalu laki-laki yang kemudian diketahui bernama Khidir itu berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar diri bersamaku.Allah telah mengajariku ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang ghaib, yang engkau sendiri belum diajari oleh-Nya.Tetapi, jika engkau memang ingin belajar bersmaku, syaratnya, jangan sekali-kali menanyakan tentang sesuatu yang aku lakukan, kecuali akan aku jelaskan sendiri kepadamu”.Setelah syarat ini disepakati, Nabi Musa mulai mengikuti perjalanan dan segala gerak-gerik Khidir AS.

Ketika keduanya menyusuri tepi pantai, Nabi Khidir mengatakan, “wahai Musa, ketahuilah sesungguhnya perbandingan dan perumpamaan ilmu Allah dengan ilmu manusia adalah ibarat seluruh air di lautan dan sedikit air yang membasahi kakimu sebagai karunia-Nya kepada manusia. Dan kelak, manusia akan dimintai pertanggungjawaban akan ilmunya kelak”.

Setelah itu, Nabi Khidir naik ke atas perahu dan justru merusak dinding perahu itu. Melihat perbuatan yang janggal itu, Nabi Musa spontan menegurnya, “apakah engkau hendak merugikan orang lain dan menenggelamkan perahu ini dan awaknya?”. Nabi Khidir hanya menjawab, “bukankah sudah ku katakana bahwa jangan menanyakan sesuatu hingga aku menjelaskannya sendiri?”.

Setelah meminta maaf, Nabi Musa kembali mengikuti perjalanan Khidir AS. Hingga ketika mereka sampai di suatu perkampungan, lalu bertemu dengan anak kecil di kampong tersebut, Khhidir AS justru mencekik bocah itu hhingga mati di tangannya sendiri.Nabi Musa yang kaget melihat itu kontan bereaksi, “mengapa engkau membunuh anak tak berdosa ini, bukankah kau sudah melakukan kemungkaran”.Namun, Nabi Khidir hanya menjawab sebagaimana pada kesempatan sebelumnya.

Lalu keduanya meneruskan perjalanan sampai ketika mencapai suatu daerah yang penduduknya tak mau menghormati keduanya selayaknya tamu.Tetapi, ketika keduanya melihat suatu dinding rumah yang hamper rusak, Nabi Khidir justru memperbaikinya hingga tegak kembali.Nabi Musa yang keheranan kkembali bertanya, “kenapa engkau memperbaiki rumah itu, padahal pemiliknya sama sekali tak menghargai kita”.Nabi Khidir yang sudah merasa cukup hanya menanggapi, “sepertinya ini menjadi perpisahan antara aku dan engkau, karena engkau telah berkali-kali melanggar kesepakatan dan syarat yang sudah ditentukan tadi. Namun sebelum berpisah, akan aku jelaskan alasan-alasan kenapa aku mengerjakan hal-hal yang ku lakukan tadi.

Pertama, tindakanku merusak kapal, itu karena aku tahu bahwa di pulau seberang, tempat para nelayan akan berlabuh, ada seorang penguasa yang akan merampas kapal-kapal di sana. Dengan merusaknya, maka penguasa itu jadi tak berminat mengambil kapal itu, dan pemilik kapal bisa memperbaikinya kembali tanpa ia harus kehilangan kapal. Sedangkan anak kecil yang aku bunuh tadi, ia adalah anak yang ketika dewasa kelak akan menjadi seorang yang ingkar dan durhaka kepada Allah dan orang tuanya. Dengan membunuhnya, aku justru menyelamatkan nasibnya dari siksa Allah di akhirat kelak.Yang terakhir, tembok rumah yang aku perbaiki tadi, di bawahnya terdapat harta benda orang tua yang diwariskan kepada anak yatim pemilik sesungguhnya dari rumah tersebut.Kalau sampai dinding rumah itu rubuh dan lalu ketahuan di bawahnya terdapat harta peninggalan, niscaya harta itu akan diambil lebih dulu oleh walinya dan penduduk kampong itu, tanpa pernah sampai kepada si anak yang berhak mewarisinya”.

Bersikap rendah hati (tawadlu’), bukan berarti bersikap rendah diri (minder) dengan takut menyampaikan pendapat dan aspirasi; takut berpakaian yang bagus dsb.Imam Abu Hanifah mengajarkan,  sebagai orang yang berilmu, para santri harus tampil dengan pakaian yang bagus dan rapi, agar tidak direndahkan orang lain. Demikian juga, para santri harus berani menyampaikan pendapat dan aspirasi serta menghadapi siapa pun,dengan tetap menjaga sopan santun dan al-akhlak al-karimah.


[1] Al-Imam Abi Zakaria Yahya ibn Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Riyadu al-Sholihin, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Jakarta, 2010, h. 33

Bersambung ke Akhlak kepada Diri Sendiri (2)

Baca juga: Karakteristik Akhlak dalam Islam

Continue Reading

Akhlak Santri

Karakteristik Akhlak dalam Islam

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak
santrinow.com

Pada dasarnya, konsep akhlak dalam Islam –yang menjadi rujukan akhlak santri, kyai (guru) dan wali santri– memiliki cakupan yang sangat luas, karena akhlak berarti agama itu sendiri. Di antara ciri-ciri khas atau karakteristik akhlak Islam  yang membedakan dengan moral dan etika adalah sbb.:

  1. Bersumber dari wahyu al-Qur’an dan al-Sunnah. Akhlak Islam bersumber dari wahyu al-Qur’an dan al-Sunnah yang memiliki kebenaran mutlak dan berlaku sepanjang masa, dimana saja dan kapan saja. Hal ini berbeda dengan moral dan etika yang bersumber dari adat istiadat suatu masyarakat yang bersifat relatif dan boleh jadi berbeda standartnya antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
  2. Berhubungan erat dengan aspek Aqidah dan Syari’ah. Akhlak dalam Islam tidak berdiri berdiri, tetapi berhubungan erat dengan aspek aqidah (keimanan) dan syari’ah (hukum-hukum Islam yang bersifat praktis, baik dalam bidang ibadah, mu’amalah, jinayah maupun lainnya).  
  3. Bersifat Universal. Akhlak dalam Islam, bersih dan bebas dari tendensi (kecenderungan) rasialisme. Apa yang berlaku bagi umat Islam berlaku pula bagi non muslim.Mencuri hukumnya haram, baik terhadap harta orang muslim maupun harta non muslim. Zina hukumnya haram, baik terhadap orang Islam maupun non muslim. Seorang muslim dan non muslim sama-sama berhak mendapatkan keadilan di depan pengadilan.
  4. Bersifat Komprehensif (menyeluruh). Akhlak dalam Islam mencakup akhlak terhadap diri sendiri; hubungan dengan Allah SWT; dengan sesama manusia dan alam lingkungan. Hal ini berbeda dengan moral dan etika yang hanya menekankan hubungan baik dengan sesama manusia dan lingkungannya. Dalam pandangan masyarakat Barat, mengkonsumsi minuman keras, berjudi dan berzina tidaklah melanggar moral dan etika, sepanjang hal itu dilakukan atas dasar suka sama suka, bukan paksaan (perkosaan). Sebaliknya, dalam pandangan Islam, perbuatan tersebut selain melanggar hukum (syari’ah), juga tidak sesuai bahkan bertentangan dengan  al-akhlak al-karimah.  
  5. Bersifat Tawazun (keseimbangan). Islam menghendaki agar umatnya tidak melampaui batas dalam segala hal. Keseimbangan merupakan sifat dasar ajaran Islam, baik keseimbangan antara jasmani dan rohani; keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablun min Allah) dan hubungan sesama manusia (hablun min al-nas); maupun keseimbangan antara urusan dunia dengan akherat. Keseimbangan mencakup hak dan kewajiban, tidak boleh memberikan kepada individu hak–hak yang berlebihan yang mengakibatkan kebebasan tanpa batas, juga tidak boleh memberikan kewajiban kepada individu yang berlebihan sehingga sangat memberatkan. Keseimbangan dan keserasian, merupakan sifat dasar akhlak dalam Islam.
  6. Sesuai dengan Fitrah. Islam datang dengan membawa ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia, karena agama Islam datang dari Allah, sedangkan manusia dengan segala macam fitrahnya juga diciptakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, sangat mustahil jika ajaran-ajaran agama Islam bertentangan dengan fitrah manusia. Islam mengakui eksistensi manusia apa adanya dengan segala dorongan kejiwaannya, kecenderungan fitrahnya; Islam menghaluskan fitrah dan memelihara kemuliaan manusia dengan hukum–hukum dan ketentuan-ketentuannya. Jika manusia melampui hukum–hukum dan ketentuan-ketentuan Allah SWT, maka dapat dipastikan mereka akan terjerumus ke dalam lembah yang hina. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Attin (QS. 95 : 45) : 

    “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik – baiknya kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah – rendahnya”.

    Pada dasarnya, semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu bersih dan cenderung kepada hal-hal yang baik, sebagaimana diungkapkan oleh hadits Nabi SAW:

    “Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (Islam). Maka ibu-bapaknya lah yang menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

    Dalam konteks inilah, ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai apakah kebaikan itu ? Beliau menjawab sbb. :

    “Tanyakanlah kepada hatimu! Kebaikan adalah sesuatu yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, sedang dosa (keburukan) ialah sesuatu yang mengacaukan jiwa dan menimbulkan kebimbangan di dalam hati”.

    Kecenderungan manusia kepada kebaikan ini terbukti dengan adanya persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban. Misalnya, semua peradaban manusia sejak zaman dahulu menganggap hubungan seks dengan sesama anggota keluarga (incest) adalah sesuatu yang buruk. Demikian pula mengenai kebohongan, kesombongan, sikap pengecut, iri hati, dan lain-lain. Sebaliknya, semua peradaban dunia memandang kejujuran,  sikap tawadlu’ (low profile), dan ksatria sebagai suatu sikap yang baik. Akan tetapi, ketika berhubungan dengan lingkungan, norma-norma moral kemudian berinteraksi dengan ruang dan waktunya masing-masing. Masyarakat di Eropa dewasa ini mungkin memandang bahwa hubungan seks di luar nikah adalah sesuatu yang lumrah adanya. Demikian pula hubungan antara orang tua dengan anak. Oleh sebab itu, moral atau akhlak harus memiliki suatu rujukan yang bersifat universal dan abadi. Rujukan yang universal dan abadi tersebut adalah agama Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Sebagaimana difirmankan dalam surat ar-Rum ayat 30 :

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

     Yang dimaksud Fitrah Allah adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka yang tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.

    Dengan demikian, fungsi agama (Islam) dalam konteks ini adalah untuk memelihara fitrah yang telah digariskan oleh Allah SWT di dalam diri manusia supaya tidak menyimpang karena adanya interaksi dengan ruang dan waktu.
  7. Bersifat positif dan optimis. Islam mengajarkan, bahwa kehidupan adalah sebuah anugerah Allah yang harus diisi dengan amal shaleh. Oleh karena itu, manusia harus mengaktualisasikan dan memanfaatkan segala macam potensi yang dianugerahkan oleh Allah SWT untuk melakukan amal kebaikan yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan masyarakat luas, dengan penuh keyakinan dan optimisme, serta melawan pesimisme (keputusasaan), kemalasan dan segala bentuk penyebab kelemahan.Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya agar bekerja keras untuk memakmurkan kehidupan sampai detik terakhir usia dunia. Beliau bersabda :  “Jika kiamat telah (hampir) terjadi sedangkan di tangan salah seorang di antara kamu sekalian ada anak pohon yang ingin ditanamnya, maka hendaklah dia menanamnya hingga  kiamat benar-benar terjadi”.

    Islam mencela sikap frustasi, pasif dan apatis. Oleh karena itu, kita harus tetap tegar dalam berjuang menghadapi kerusakan sosial, dekadansi moral dan segala bentuk ketidak adilan. Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk kepada kita, bila kita melihat kemungkaran kita wajib memberantasnya dengan tangan (kekuasaan). Bila tidak mampu dengan tangan maka dengan lisan, jika tidak mampu dengan lisan maka dengan hati, dan ini adalah selemah–lemahnya iman. Umat Islam pantang putus asa. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Yusuf QS. 12 : 87 :

    ”Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali umat kafir”.

Kedudukan Akhlak dalam Islam

Akhlak mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Bahkan tujuan utama terutusnya Rasulullah SAW kepada seluruh manusia dan jin adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (al-akhlak al-karimah). Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih :

“Sesunguhnya aku diutus (oleh Allah SWT) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

Bahkan, akhlak merupakan pondasi sekaligus puncak dari keimanan dan keislaman seseorang. Hadratus Syeh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim menyatakan, bahwa pada hakikatnya, orang yang tidak beradab (berakhlak) adalah orang yang tidak beriman dan tidak bertegang teguh pada syari’at agama Islam. Beliau mengutip ucapan sebagian ulama sbb. :

“Sebagian ulama berkata; ‘Tauhid (mengesakan Allah SWT) mengharuskan adanya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka tidak ada tauhid baginya. Iman mengharuskan adanya syari’at. Barangsiapa tidak memiliki (mengamalkan) syari’at, maka tidak ada iman dan tauhid baginya. Syari’at mengharuskan adanya adab (akhlak). Oleh karena itu, barangsiapa tidak berhias diri dengan adab (akhlak), maka pada hakikatnya ia tidak mengamalkan syari’at, juga tidak memiliki iman dan tauhid”.[1]

Tujuan Mempelajari & Mengamalkan Ilmu Akhlak

Di antara tujuan mempelajari dan mengamalkan Ilmu Akhlak bagi para santri, kyai (guru) dan wali santri adalah sbb. :

  1. Agar para santri, kyai (guru) dan wali santri menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT (al-muttaqin). Berbeda dengan moral dan etika yang hanya mengatur hubungan sosial antar sesama manusia, akhlak dalam Islam, selain mengatur hubungan sosial (hablun min al-nas); juga mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT (hablun min Allah), bahkan terhadap diri sendiri dan makhluk lain di sekelilingnya, termasuk flora dan fauna. Dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu akhlak Islam secara utuh dan sempurna, maka diharapkan para santri, kyai (guru) dan wali santri menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT (al-muttaqin) yang selalu berusaha melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena mereka yaqin dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT melihat dan memperhatikan hati, ucapan dan amal perbuatan setiap manusia. Dengan menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT (al-muttaqin), maka dapat dipastikan para santri, kyai (guru) dan wali santri akan meraih berbagai kemudahan hidup, termasuk dalam mendapatkan ilmu pengetahuan dan meraih rizki dari jalan yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Thalaq ayat 2- 3:

    ”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.

    Demikian juga difirmankan dalam surat al-Thalaq ayat 4 :

    ”Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.
  2. Agar para santri, kyai (guru) dan wali santri dapat menjalani hidup dengan damai, tenang dan harmonis. Dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu akhlak dalam Islam secara utuh dan sempurna, maka diharapkan para santri, kyai (guru) dan wali santri berhias diri dengan al-akhlak al-karimah sehingga memiliki hati yang suci dan jiwa yang bersih yang tercermin dalam bentuk ucapan dan perbuatan yang terpuji. Kata-kata yang meluncur dari lidahnya selalu jujur dan benar serta memberikan kesejukan dan kedamaian bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Mereka selalu berusaha menghindari kata-kata bohong, tidak benar dan kasar atau kata-kata yang menimbulkan ketersinggungan atau sakit hati orang lain. Mereka selalu berusaha untuk bersikap dan berprilaku yang baik dan terpuji. Mereka selalu berusaha mendamaikan orang-orang yang sedang bermusuhan, bukan sebaliknya mengompori orang-orang yang damai agar bermusuhan dengan menyebarkan fitnah dan berita hoax. Mereka saling menyayangi dan menghormati; saling tolong menolong dan bantu membantu sesuai dengan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dengan cara demikan, dapat dipastikan para santri, kyai (guru) dan wali santri dapat menjalani hidup di dalam pondok pesantren dengan damai, tenang dan harmonis, penuh dengan kasih sayang. Mereka saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, menahan emosi serta saling memaafkan jika terjadi kesalahan.
  3. Agar para santri meraih ilmu yang bermanfaat, para kyai (guru) meraih pahala yang mengalir dari ilmu yang ditransformasikan kepada para santrinya; dan para wali santri memiliki anak sholeh yang sealalu mendokan kepada kedua orang tuanya.  Dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu akhlak dalam Islam secara utuh dan sempurna, maka diharapkan para santri, kyai (guru) dan wali santri meneladani akhlak Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in dan para al-salaf al-shalih sehingga para santri akan meraih ilmu yang bermanfaat serta meraih sukses dalam melaksanakan dakwah di tengah-tengah masyarakat. Jika para santri berhias diri dengan al-akhlak al-karimah maka kehadlirannya dapat diterima oleh masyarakat sekelilingnya. Jika masyarakat merasa senang dengan kehadliran santri, maka mereka bersedia mendengarkan dan mengamalkan ilmu yang diajarkan atau materi yang didakwahkan oleh santri tersebut, sehingga ilmunya bemanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Sebaliknya jika santri berakhlak tercela, maka masyarakat akan bersikap anti pati sehingga tidak akan mau mendengarkan apalagi mengamalkan materi dakawah yang disampaikan oleh santri tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Syeh Muhammad Syakir :

    ”Wahai anakku. Jika engkau tidak menghiasi ilmumu dengan akhlak yang mulia, maka ilmumu lebih berbahaya bagimu dibanding dengan kebodohanmu. Karena orang yang bodoh (jika berbuat salah) masih bisa dimaklumi karena kebodohannya. Akan tetapi orang yang pandai jika tidak berhias diri dengan akhlak yang terpuji, tidak akan dimaafkan”.      

[1] KH. Mohammad Hasyim Asy’ari, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, Maktab al-Turats al-Islami, Pondok Pesantren Tebuirenng Jombang, tt. h. 11.

Baca artikel sebelumnya: Urgensi Akhlak dalam Islam

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending