Connect with us

Artikel

Akhlak kepada Allah SWT (1)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak

Akhlak merupakan cermin dari apa yang ada di dalam jiwa seseorang. Akhlak yang baik merupakan dorongan keimanan seseorang, karena keimanan harus ditampilkan dalam perilaku nyata sehari-hari. Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa pada dasarnya konsep akhlak dalam Islam memiliki cakupan yang sangat luas, karena akhlak berarti agama itu sendiri. Akhlak dalam pengertian ini meliputi berbagai dimensi sbb. : (1). Akhlak manusia kepada Allah SWT. (2). Akhlak manusia kepada diri sendiri. (3). Akhlak manusia kepada pihak lain, baik kepada sesama manusia maupun alam sesemesta, termasuk flora dan fauna yang ada di lingkungannya.

Akhlak manusia kepada Allah SWT bertitik tolak dari sebuah keimanan (keyakinan, pengakuan dan kesadaran) bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT (لااله الا الله). Dia adalah Dzat Yang Memiliki sifat-sifat yang terpuji dan maha sempurna (الصفات الكمالية), baik dalam bentuk sifat-sifat yang agung (الجلال) maupun sifat-sifat yang indah  الجمال)). Dia adalah Dzat Yang Maha Pencipta, yang menciptakan alam semesta; langit dan bumi beserta seluruh isinya. Dia-lah Dzat Yang Menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Tin (95) ayat 4 :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

Allah SWT telah menganugerahkan berbagai macam ni’mat kepada manusia. Di antarnya adalah fisik yang indah dan sempurna. Dia telah memberikan mata untuk memandang, lidah untuk berbicara, telinga untuk mendengar, serta berbagai organ tubuh lain yang sangat kompleks di dalam diri manusia. Dia juga telah memberikan berbagai macam daya rohaniah kepada manusia, baik dalam bentuk ruh, akal, qalbu maupun nafsu. Dengan berbagai daya jasmani dan rohani tersebut memungkinkan manusia berkemauan, berfikir, belajar dan melakukan berbagai aktivitas yang sangat diperlukan dan sangat bermanfaat bagi kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Allah SWT menganugerahkan berbagai potensi tersebut kepada manusia dimaksudkan agar mereka bersyukur kepada-Nya. Sebagaimana difirmankan dalam surat Surat al-Nahl ayat 78 :

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Kata-kata “agar kamu bersyukur” yang disebutkan oleh Allah setelah Allah menjelaskan tentang penciptaan manusia dengan segala kelengkapannya itu, dapat diartikan bahwa potensi jasmani (panca indera) dan potensi rohani (hati sanubari dan naluri) tersebut harus dipergunakan dengan baik untuk menuntut ilmu serta mengolah alam dan isinya.[1] Allah SWT yang telah menganugerahkan berbagai macam tersebut sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada manusia, tentu sangat mampu mncabutnya jika Dia marah karena manusia tidak pandai bersyukur kepada-Nya.

Allah SWT adalah Dzat yang menghidupkan dan mematikan manusia serta makhluk lainnya. Dia-lah Dzat yang menyediakan semua bahan dan sarana kehidupan yang dibutuhkan oleh manusia, baik berupa udara, tumbuh-tumbuhan, hewan, air, pakaian, maupun berbagai material yang diperlukan untuk membangun rumah dsb. Semuanya diperuntukan bagi manusia dan tunduk kepada kemauan mereka. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Jasiyah ayat 13 :

“Dan Dia (Allah SWT) telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

Allah SWT juga telah memuliakan manusia dengan berbagai potensi jasmani dan rohani di atas, serta menganugerahkan berbagai kelebihan dibanding makhluk lainnya. Demikian juga Allah SWT telah memberikan berbagai alat transportasi di daratan dan lautan sehingga memudahkan mereka mengangkut berbagai bahan makanan, minuman, material bangunan serta berbagai benda yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 70 :

“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam (manusia), dan  Kami (memudahkan bagi mereka) pengangkutan-pengangkutan mereka di daratan dan di lautan (untuk memperoleh penghidupan). Kami beri mereka rezki dari yang  baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Berhubung Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik, lengkap dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang sangat diperlukan dalam hidupnya; menganugerahkan berbagai kelebihan dibanding makhluk lainnya; menjamin semua kebutuhan dan rizkinya, maka manusia wajib berakhlak yang baik kepada Allah SWT dengan beriman dan bertaqwa kepada-Nya.

Pengertian taqwa adalah menjaga diri dari perbuatan dosa dengan melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya (التقوى هو امتثال اوامر الله واجتناب نواهيه). Menurut Muhammad Usman Najati, pengertian taqwa adalah; “Menjaga diri dari amarah dan adzab Allah dengan menjauhi perbuatan maksiat dan melaksanakan tata aturan yang telah digariskan al-Qur’an dan dijelaskan Rasulullah SAW.” Dengan kata lain, taqwa adalahmelaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.[2]

       Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan, bahwa essensi taqwa adalah pemeliharaan, penguasaan dan pengendalian diri dari nafsu-nafsu jahat (nafsu ammarah) yang bersemayam dalam diri manusia sehingga ia bersedia melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan demikian, al-muttaqin adalah orang-orang yang melaksanakan nilai-nilai baik dan menjauhi nilai-nilai buruk. Seperti suka menolong, menahan amarah, suka memberi maaf kepada orang lain, menepati janji, sabar, suka kepada kebaikan dan kebenaran, benci kepada kejahatan dan kebohongan, dan sebagainya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak taqwa adalah orang-orang yang suka berbuat buruk, berdusta, bersikap dlalim, amoral dan sebagainya.

Akhlak

Bentuk kongkret akhlak manusia kepada Allah SWT, terutama bagi para santri, kyai (guru) dan wali santri adalah sbb. :

  1. Beriman kepada Allah SWT dengan meyakini, mengakui dan menyadari bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Keimanan ini diekspressikan dalam bentuk mengucapkan dua kalimat syahadat  (اشهد ان لااله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله) yang selalu diulang-ulang dalam shalat, ketika membaca tahiyyat awal dan akhir.
  2. Beriman kepada kitab suci al-Qur’an dengan meyakini, mengakui dan menyadari bahwa kitab suci al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia sepanjang masa agar meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
  3. Meyakini bahwa pada hakikatnya, kebaikan adalah sesuatu yang dipihkan oleh Allah SWT kepada kita, bukan sesuatu yang kita pilih untuk diri kita. Oleh karena itu, janganlah hawa nafsu dan syahwat kita menghalang-halangi untuk taat dan berbakti kepada Allah SWT.[3]
  4. Beribadah kepada-Nya, karena tujuan Allah SWT dalam menciptaan manusia adalah agar mereka mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Dzariyat (51) ayat 56 :

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

Beribadah kepada Allah SWT tidak terbatas dalam bentuk melaksanakan shalat, puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji. Akan tetapi pengertian ibadah sangat luas sekali, meliputi seluruh ucapan, perbuatan dan pikiran yang baik yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah, baik dalam bentuk ibadah mahdlah, ibadah social, bermu’amalah (berinteraksi) dengan sesama manusia dan makhluk lainnya dengan cara yang baik, maupun dalam bentuk melangsungkan pernikahan dan membangun keluarga sakinah mawaddah wa rahmah dengan niat melaksanakan perintah Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dsb. Sungguh pun demikian, akhlak para santri kepada Allah SWT yang paling utama adalah diekspessikan dalam bentuk sbb. :

a). Melaksanakan shalat fardlu tepat waktu secara berjamaah di dalam masjid dengan khusyu’ dan tadlarru’. Karena melaksanakan shalat dengan berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian dengan kelipatan pahala mencapai 27 (dua puluh tujuh) kali. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar:

“Shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian, dengan kelipatan pahala dua puluh tujuh derajat”.[4]

      Demikian juaga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah :

“Demi Allah yang menguasai diriku, sungguh aku telah berniat menyuruh seseorang untuk mengumpulkan kayu bakar (untuk membakar rumah orang-orang mukmin yang tidak mau melaksanakan shalat berjamaah). Kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengumandangkan adzan dan menjadi imam shalat. Setelah itu aku akan melakukan inspeksi ke rumah orang-orang pria dan membakar rumah mereka (yang tidak melaksanakan shalat berjamaah)”.[5]

b). Melaksanakan ibadah puasa pada bulan suci Ramadlan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah (2) ayat 183 :

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

c). Memperbanyak ibadah sunnah seperti shalat rawatib (qobliyah & ba’diyah), shalat tahajjud, shalat dhuha, puasa pada hari Senin dan Kamis, puasa pada hari-hari terang bulan (ayyam al-bid, setiap tanggal 13&14 bulan Qomariyah). Di antara hikmah dan manfaat melaksanakan berbagai ibadah sunnah tersebut adalah sbb. (1). Menambah pahala (2). Menambal ibadah fardlu yang masih kurang atau tertinggal (3). Semakin mendekatkan diri para santri kepada Allah SWT sehingga lebih mudah meraih cinta-Nya (4). Meraih ilmu ladunny yang langsung dianugerahkan oleh Allah SWT kepada para santri. (5). Meraih derajat sebagai wali (kekasih) Allah SWT.   Sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW. dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah RA. :

Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka ia benar-benar menyatakan peperangan dengan-Ku. Tidak ada yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada-Ku yang sebanding dengan menunaikan semua kewajiban yang Kuperintahkan dan senantiasa mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka aku menjadi pendengaran, penglihatan, lidah, hati, tangan, dan kakinya. Ia mendengar melalui Aku, ia melihat melalui Aku, ia berbicara melalui Aku, dan berjalan melalui Aku”.[6]

d). Memperbanyak membaca al-Qur’an. Di antara hikmah dan manfaat membaca ayat-ayat suci al-Qur’an adalah mendekatkan diri kita kepada Allah SWT sehingga hati kita akan merasa tenang dan terhindar dari kegelisahan; terbukanya hati dan pikiran sehingga memudahkan untuk meraih imu yang bermanfaat; membuka pintu-pintu rizki yang halal sehingga insya Allah semua kebutuhan hidup terpenuhi; menambah pahala, karena membaca al-Qur’an merupakan salah satu bentuk amal sholeh; serta menjadikan al-Qur’an sebagai syafa’at (penolong) pada hari kiamat. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Umamah RA. :

“Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at (pertolongan) kepada orang-orang yang membaca (dan yang mengamalkannya)”.[7]

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dari sahabat Utsman ibn ‘Affan RA. : 

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajar al-Qur’an”[8]

e). Memperbanyak berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT. Kata Dzikir, berasal dari bahasa Arab : ذَكَرَ – يَذْكُرُ – ذِكْرًا   yang berarti; mengingat sesuatu di dalam hati atau menyebutnya dengan lidah.[9] Dengan demikian, kata الذكر  memiliki persamaan arti dengan kata الحفظ yang berarti mengingat atau menghafal. Hanya saja, kata الحفظ  berkonotasi menyimpan ingatan, sedangkan kata الذكر  berkonotasi mengungkapkan atau menghadirkan ingatan. Menurut al-Raghib al-Asfahani, kata dzikir terkadang diartikan sebagai “suatu keadaan jiwa yang dengan keadaan tersebut memungkinkan bagi manusia untuk mengingat-ingat pengetahuan yang telah dimilikinya”; dan terkadang diartikan sebagai “hadirnya sesuatu di dalam hati atau ucapan”.[10] Sedangkan pengertian “Dzikr” adalah menyebut Allah atau mengingat kebesaran dan keagungan-Nya atau mensyukuri segala ni’mat-Nya dengan penuh kesadaran disertai pengakuan terhadap kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya serta berjanji akan mematuhi segenap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.[11] Sedangkan berdoa artinya memohon sesuatu kepada Allah SWT.

Para santri, kyai (guru) dan wali santri sangat dianjurkan untuk membanyak berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT agar selalu diingat oleh Allah SWT sehingga diberikan berbagai kemudahan dalam hidup, terutama dalam meraih ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 152 :

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 186 :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

  1. Menjauhi berbagai macam perbuatan maksiat atau dosa, seperti mencuri, berzina, mengkonsumsi minuman keras dan narkoba. Berbagai perbuatan maksiat atau dosa tersebut menimbulkan murka-Nya dan menjauhkan pelakunya dari rahmat-Nya, sehingga menyebabkan hatinya gelap gulita dan tidak mampu menangkap ilmu dari-Nya, karena ilmu adalah cahaya Allah yang tidak akan diberikan kepada orang yang durhaka kepada-Nya. Sebagaimana telah difirmankan al-Muthaffifin ayat 14 :

“Sekali-kali tidak (demikian). Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”.

Demikian juga ucapan Imam Syafi’i yang sangat terkenal di kalangan para santri pondok pesantren salafiyah :

”(Suatu ketika) aku mengeluhkan keburukan hafalanku kepada guruku, Syeh Waki’. Kemudian beliau memberikan petunjuk kepadaku agar aku meninggalkan perbuatan maksiat. Beliau juga menginformasikan kepadaku, bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang suka berbuat maksiat”.  


[1] M. Qurasih Shihab, “Mukjizat al-Qur’an”, (Bandung: Mizan, 1995). Cet. Ke 1 hal. 70 – 71

[2]Muahmmad Usman Najati, “Al-Qur’an Wa ‘Ilm al-Nafs”, (terjemahan Ahmad Rafi’i Usmani, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Pustaka, 1985), h. 304

[3] Muhammad Syakir, Washoya al-Aba’ Li al-Abna’, Maktabah Daar al-Mujtaba, tt. tt. h. 8 

[4] Al-Imam Abi Zakaria Yahya ibn Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Riyadu al-Sholihin, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Jakarta, 2010, h. 300

[5] Ibid.

[6]Muhammad bin ‘Isma’il Abu ‘Abdullah al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar,…..,  juz ke-20, h. 158.

[7] Al-Imam Abi Zakaria Yahya ibn Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Loc. Cit. h. 287

[8] Ibid.

[9] Luwais Ma’luf, Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam,(Beirut: Daar al-Masyriq, 1986), Cet. ke-33,  h. 236

 [10]Al-Raghib al-Asfahani, Mu’jam Mufradat Alfadz al-Qur’an,(Beirut: Daar al-Fikr, tth.),  h. 181 mengungkapkan sebagai berikut :

الذكر تارة يقال ويراد به هيئة للنفس بها يمكن للإنسان أن يحفظ ما يقتنيه من المعرفة وتارة يقال لحضور الشيئ القلب أو القول ولذلك قيل الذكر ذكران ذكر بالقلب وذكر باللسان.

[11] Lihat Fachruddin Hs. Ensiklopedi al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), jilid 2, h. 629.

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

Artikel

Renungan Menyambut Ramadhan 2021 M

Idris Wasahua, Wakil Ketua MATAN DKI JAKARTA

Published

on

By

 JATMAN.OR.ID – Manusia merupakan makhluk yang hidup di dua alam sekaligus, yakni alam fisik (alam nasut) dan alam metafisik (alam malakut). Tubuh kita hidup di alam fisik, alam yang bisa kita lihat dan kita raba yang terikat ruang dan waktu. Sedangkan, ruh kita hidup di alam metafisik yang tidak terikat ruang dan waktu. Karena berada di alam malakut, ruh kita tidak dapat dilihat oleh mata lahir karena ruh merupakan bagian batiniah dari diri kita. Ruh hanya dapat dilihat dengan mata batin.

Ada sebagian hambah yang terpilih (Karena selalu melatih mata batinnya dengan riyadha keruhanian atau kerana anugerah Allah SWT) yang dapat menengok ke alam malakut sehingga dapat melihat ruh dirinya atau ruh orang lain. Seperti halnya tubuh fisik yang memerlukan makanan/gizi agar bisa tetap sehat dan kuat, ruh juga memerlukan makanan/ gizi. Untuk meningkatkan kualitas ruh agar ia sehat dan kuat, kita perlu memberinya cahaya-cahaya Ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, haji, dan puasa terutama di bulan Ramadhan.

Di bulan Ramadhan ini, kita berusaha menerangi ruh kita dengan berbagai makanan ruhani. Kita memandikan ruh kita dengan proses pensucian batin seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhkan diri dari kemaksiatan. Sebagaimana halnya tubuh fisik, ruh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, ruh yang kekurangan makanan, akan menjadi ruh yang lemah, sakit-sakitan, dan dikuasai setan. Ciri-ciri ruh yang sakit seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kekosongan eksistensial. Singkatnya, ruh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tenteram.

Seperti tubuh, ruh mempunyai rupa yang bermacam-macam, baik buruk, indahnya, bau busuk, harumnya. Rupa ruh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut seseorang “wajahnya mirip binatang”, tetapi pasti ia bukan binatang. Namun, ruh dapat betul-betul berupa binatang. Ruh kita menjadi indah dan baik dengan akhlak yang baik, dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruh. Menurut teori akhlak Imam Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya akan memiliki ruh yang berbentuk babi, orang yang selalu dengki dan dendam akan memiliki ruh yang berbentuk binatang buas, orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatan akan mempunyai ruh yang berbentuk setan (monster), demikian seterusnya.

Ketika ruh turun ke bumi, karena berasal dari Yang Maha Suci, ia datang dalam keadaan suci. Namun, ketika kita kembali kepad-NYA, ruh kita datang dalam bermacam bentuk, tergantung bagaimana kita memberikan makanan kepadanya selama di duni. (Disarikan dari buku “Meraih Cinta Ilahi, Belajar Menjadi Kekasih Allah”, karya Jalaluddin Rakhmat). Bulan Puasa merupakan salah satu bulan yang penuh dengan aktivitas ibadah ritual yang lebih berorientasi pada peningkatan kualitas ruhaniah. Semoga bulan Puasa kali ini dapat kita dayagunakan untuk meningkatkan kualitas, kesehatan dan kecantikan ruh kita agar kelak kembali menghadap Sang Pemilik ruh dalam rupa yang baik. Aamiin

Selamat menjalani Ibadah Puasa. Mohon Maaf Lahir & Batin. Depok, 13 April 2021.

Baca juga: Gus Hamid: Hidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Continue Reading

Artikel

Implementasi Pancasila Melalui Pendekatan Tasawuf Agama

Oleh: Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE., M.M (Kajian Intelijen Spiritual (KIS) DP-BNPT RI)

Published

on

By

Photo: damailahindonesiaku.com/

JATMAN.OR.ID  – Tujuh puluh lima (75) tahun pasca dideklarasikan dalam Pidato 1 Juni 1945 oleh Soekarno, Pancasila masih menghadapi sejumlah tantangan di antaranya adalah dikotomi dan pembenturan Pancasila dengan Islam. Pola doktrinasi Pancasila ala Orde Baru juga telah melahirkan trauma kolektif masyarakat terhadap Pancasila. Pada titik ini lah, implementasi Pancasila menggunakan pendekatan tasawuf agama menemukan signifikansinya.

Dari segi historis, Pancasila sejatinya digali dari nilai-nilai tasawuf dan budaya luhur Bangsa Indonesia. Di samping itu pendekatan tasawuf lebih relevan dan kontekstual dalam kehidupan masyarakat yang dinamis dan plural, sehingga semangat berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila akan mudah diimplementasikan. Nilai-nilai tasawuf agama dapat ditanamkan ke dalam hati dan jiwa masyarakat bangsa Indonesia untuk membentuk dan mengembangkan karakter Pancasilais.

Nilai-nilai Pancasila dan Tasawuf mempunyai keselarasan, dimana keduanya merupakan sumber moral atau akhlak. Tasawuf sebagai sebuah konsep keagamaan dapat memperkuat posisi Pancasila sebagai dasar negara. Pengamalan tasawuf sebagai sebuah ibadah dalam Islam adalah inheren dengan pengamalan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai Pancasila dilihat dari perspektif tasawuf akan semakin memperkuat posisi Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah Bangsa Indonesia. Penghayatan dan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam perspektif tasawuf diharapkan dapat membentuk karakter Pancasilais, yakni karakter yang mulia dan terpuji dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia. Dalam artian, tujuan dari tasawuf yang menitikberatkan tidak hanya keshalehan secara personal (individual), namun juga keshalehan sosial, sejalan dengan apa yang digadang-gadangkan oleh prinsip Pancasila.

Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung arti bahwa manusia Indonesia dalam seluruh kehidupannya harus meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan fondasi agama (akidah-tauhid), sehingga dalam pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Pancasila haruslah menginduk kepada agama. Dalam sudut pandang tasawuf akhlaki berarti menghendaki adanya sikap murāqabah (merasa selalu dalam pengawasan Allah), guna mengontrol setiap aktifitas agar manusia senantiasa menghindarkan diri dari perbuatan tercela, berusaha membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, yang hal tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan takhalli, yaitu pensucian diri, baik hati maupun jiwanya.

Sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan perwujudan dari tahalli, yaitu memperindah diri dengan membangun rasa cinta kasih dalam hati maupun jiwanya, melalui maḥabbah yang menghasilkan kelembutan hati, berupa perasaan cinta, mengasihi, dan menyayangi terhadap sesama yang diwujudkan melalui perlakuan yang adil dan beradab terhadap seluruh makhluk-Nya.

Sila ketiga Persatuan Indonesia mengandung nilai-nilai di antaranya ialah menumbuh kembangkan rasa cinta tanah air. Cinta tanah air sebagai perwujudan maḥabbah yakni bentuk syukur dengan mengelola dan memanfaatkan karunia Tuhan berupa tanah air dengan sebaik-baiknya sebagai wujud pengabdian diri kepada Tuhan. Di dalam sila ketiga juga menghendaki adanya sikap itsar dan futuwwah yaitu lebih mementingkan orang lain dari pada diri sendiri dan selalu berusaha meringankan kesulitan orang lain, rela berkorban. Serta pentingnya persatuan sebagaimana disampaikan dalam ayat wa’tasimu bi hablillah.

Sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung adanya sikap itsar dalam bermusyawarah yaitu lebih mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan, serta sikap zuhud yang mampu mengekang hawa nafsu keduniawian yang menghasilkan sikap qana’ah dan tawakal dalam menerima keputusan yang telah disepakati bersama dalam musyawarah.

Selanjutnya sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, merupakan tujuan yang ingin dicapai bangsa Indonesia. Hal ini berkaitan dengan tasawuf yang dapat diartikan sebagai tajalli (menyambungkan diri dengan dimensi Tuhan), dimana meyakini bahwa cita-cita dan tujuan nasional Bangsa Indonesia hanya bisa dicapai dengan melibatkan “campur tangan” Tuhan Yang Maha Esa (metafisika ketuhanan). Dalam hal ini diperolehnya cahaya (nur) Ketuhanan berupa muncul dan meresapnya sifat keadilan Tuhan dalam diri tiap-tiap manusia Indonesia, yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengembangkan sikap adil terhadap sesama dalam menjalankan kehidupan sosial, sehingga terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Implementasi nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan dan pengamalan tasawuf agama akan menghilangkan celah atau peluang bagi kelompok paham radikalisme untuk membenturkan, men-dikotomi, serta upaya mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Khilafah maupun lainnya. Hal ini merupakan “imunitas” bagi ketahanan nasional terutama aspek ideologi Pancasila, sekaligus sebagai optimalisasi dalam mewujudkan cita-cita maupun tujuan nasional Bangsa Indonesia.

Pemerintah perlu membumikan Pancasila secara holistik, di seluruh level masyarakat, terutama generasi muda, dilakukan dengan metode “kekinian” (milenial), dengan pendekatan tasawuf agama.

Baca juga: Bahaya Syirik dalam Batin Menurut Pandangan Tasawuf

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending