Connect with us

Artikel

Akhlak kepada Allah SWT (1)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak

Akhlak merupakan cermin dari apa yang ada di dalam jiwa seseorang. Akhlak yang baik merupakan dorongan keimanan seseorang, karena keimanan harus ditampilkan dalam perilaku nyata sehari-hari. Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa pada dasarnya konsep akhlak dalam Islam memiliki cakupan yang sangat luas, karena akhlak berarti agama itu sendiri. Akhlak dalam pengertian ini meliputi berbagai dimensi sbb. : (1). Akhlak manusia kepada Allah SWT. (2). Akhlak manusia kepada diri sendiri. (3). Akhlak manusia kepada pihak lain, baik kepada sesama manusia maupun alam sesemesta, termasuk flora dan fauna yang ada di lingkungannya.

Akhlak manusia kepada Allah SWT bertitik tolak dari sebuah keimanan (keyakinan, pengakuan dan kesadaran) bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT (لااله الا الله). Dia adalah Dzat Yang Memiliki sifat-sifat yang terpuji dan maha sempurna (الصفات الكمالية), baik dalam bentuk sifat-sifat yang agung (الجلال) maupun sifat-sifat yang indah  الجمال)). Dia adalah Dzat Yang Maha Pencipta, yang menciptakan alam semesta; langit dan bumi beserta seluruh isinya. Dia-lah Dzat Yang Menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Tin (95) ayat 4 :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

Allah SWT telah menganugerahkan berbagai macam ni’mat kepada manusia. Di antarnya adalah fisik yang indah dan sempurna. Dia telah memberikan mata untuk memandang, lidah untuk berbicara, telinga untuk mendengar, serta berbagai organ tubuh lain yang sangat kompleks di dalam diri manusia. Dia juga telah memberikan berbagai macam daya rohaniah kepada manusia, baik dalam bentuk ruh, akal, qalbu maupun nafsu. Dengan berbagai daya jasmani dan rohani tersebut memungkinkan manusia berkemauan, berfikir, belajar dan melakukan berbagai aktivitas yang sangat diperlukan dan sangat bermanfaat bagi kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Allah SWT menganugerahkan berbagai potensi tersebut kepada manusia dimaksudkan agar mereka bersyukur kepada-Nya. Sebagaimana difirmankan dalam surat Surat al-Nahl ayat 78 :

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Kata-kata “agar kamu bersyukur” yang disebutkan oleh Allah setelah Allah menjelaskan tentang penciptaan manusia dengan segala kelengkapannya itu, dapat diartikan bahwa potensi jasmani (panca indera) dan potensi rohani (hati sanubari dan naluri) tersebut harus dipergunakan dengan baik untuk menuntut ilmu serta mengolah alam dan isinya.[1] Allah SWT yang telah menganugerahkan berbagai macam tersebut sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada manusia, tentu sangat mampu mncabutnya jika Dia marah karena manusia tidak pandai bersyukur kepada-Nya.

Allah SWT adalah Dzat yang menghidupkan dan mematikan manusia serta makhluk lainnya. Dia-lah Dzat yang menyediakan semua bahan dan sarana kehidupan yang dibutuhkan oleh manusia, baik berupa udara, tumbuh-tumbuhan, hewan, air, pakaian, maupun berbagai material yang diperlukan untuk membangun rumah dsb. Semuanya diperuntukan bagi manusia dan tunduk kepada kemauan mereka. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Jasiyah ayat 13 :

“Dan Dia (Allah SWT) telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

Allah SWT juga telah memuliakan manusia dengan berbagai potensi jasmani dan rohani di atas, serta menganugerahkan berbagai kelebihan dibanding makhluk lainnya. Demikian juga Allah SWT telah memberikan berbagai alat transportasi di daratan dan lautan sehingga memudahkan mereka mengangkut berbagai bahan makanan, minuman, material bangunan serta berbagai benda yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 70 :

“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam (manusia), dan  Kami (memudahkan bagi mereka) pengangkutan-pengangkutan mereka di daratan dan di lautan (untuk memperoleh penghidupan). Kami beri mereka rezki dari yang  baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Berhubung Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik, lengkap dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang sangat diperlukan dalam hidupnya; menganugerahkan berbagai kelebihan dibanding makhluk lainnya; menjamin semua kebutuhan dan rizkinya, maka manusia wajib berakhlak yang baik kepada Allah SWT dengan beriman dan bertaqwa kepada-Nya.

Pengertian taqwa adalah menjaga diri dari perbuatan dosa dengan melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya (التقوى هو امتثال اوامر الله واجتناب نواهيه). Menurut Muhammad Usman Najati, pengertian taqwa adalah; “Menjaga diri dari amarah dan adzab Allah dengan menjauhi perbuatan maksiat dan melaksanakan tata aturan yang telah digariskan al-Qur’an dan dijelaskan Rasulullah SAW.” Dengan kata lain, taqwa adalahmelaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.[2]

       Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan, bahwa essensi taqwa adalah pemeliharaan, penguasaan dan pengendalian diri dari nafsu-nafsu jahat (nafsu ammarah) yang bersemayam dalam diri manusia sehingga ia bersedia melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan demikian, al-muttaqin adalah orang-orang yang melaksanakan nilai-nilai baik dan menjauhi nilai-nilai buruk. Seperti suka menolong, menahan amarah, suka memberi maaf kepada orang lain, menepati janji, sabar, suka kepada kebaikan dan kebenaran, benci kepada kejahatan dan kebohongan, dan sebagainya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak taqwa adalah orang-orang yang suka berbuat buruk, berdusta, bersikap dlalim, amoral dan sebagainya.

Akhlak

Bentuk kongkret akhlak manusia kepada Allah SWT, terutama bagi para santri, kyai (guru) dan wali santri adalah sbb. :

  1. Beriman kepada Allah SWT dengan meyakini, mengakui dan menyadari bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Keimanan ini diekspressikan dalam bentuk mengucapkan dua kalimat syahadat  (اشهد ان لااله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله) yang selalu diulang-ulang dalam shalat, ketika membaca tahiyyat awal dan akhir.
  2. Beriman kepada kitab suci al-Qur’an dengan meyakini, mengakui dan menyadari bahwa kitab suci al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia sepanjang masa agar meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
  3. Meyakini bahwa pada hakikatnya, kebaikan adalah sesuatu yang dipihkan oleh Allah SWT kepada kita, bukan sesuatu yang kita pilih untuk diri kita. Oleh karena itu, janganlah hawa nafsu dan syahwat kita menghalang-halangi untuk taat dan berbakti kepada Allah SWT.[3]
  4. Beribadah kepada-Nya, karena tujuan Allah SWT dalam menciptaan manusia adalah agar mereka mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Dzariyat (51) ayat 56 :

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

Beribadah kepada Allah SWT tidak terbatas dalam bentuk melaksanakan shalat, puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji. Akan tetapi pengertian ibadah sangat luas sekali, meliputi seluruh ucapan, perbuatan dan pikiran yang baik yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah, baik dalam bentuk ibadah mahdlah, ibadah social, bermu’amalah (berinteraksi) dengan sesama manusia dan makhluk lainnya dengan cara yang baik, maupun dalam bentuk melangsungkan pernikahan dan membangun keluarga sakinah mawaddah wa rahmah dengan niat melaksanakan perintah Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dsb. Sungguh pun demikian, akhlak para santri kepada Allah SWT yang paling utama adalah diekspessikan dalam bentuk sbb. :

a). Melaksanakan shalat fardlu tepat waktu secara berjamaah di dalam masjid dengan khusyu’ dan tadlarru’. Karena melaksanakan shalat dengan berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian dengan kelipatan pahala mencapai 27 (dua puluh tujuh) kali. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar:

“Shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian, dengan kelipatan pahala dua puluh tujuh derajat”.[4]

      Demikian juaga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah :

“Demi Allah yang menguasai diriku, sungguh aku telah berniat menyuruh seseorang untuk mengumpulkan kayu bakar (untuk membakar rumah orang-orang mukmin yang tidak mau melaksanakan shalat berjamaah). Kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengumandangkan adzan dan menjadi imam shalat. Setelah itu aku akan melakukan inspeksi ke rumah orang-orang pria dan membakar rumah mereka (yang tidak melaksanakan shalat berjamaah)”.[5]

b). Melaksanakan ibadah puasa pada bulan suci Ramadlan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah (2) ayat 183 :

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

c). Memperbanyak ibadah sunnah seperti shalat rawatib (qobliyah & ba’diyah), shalat tahajjud, shalat dhuha, puasa pada hari Senin dan Kamis, puasa pada hari-hari terang bulan (ayyam al-bid, setiap tanggal 13&14 bulan Qomariyah). Di antara hikmah dan manfaat melaksanakan berbagai ibadah sunnah tersebut adalah sbb. (1). Menambah pahala (2). Menambal ibadah fardlu yang masih kurang atau tertinggal (3). Semakin mendekatkan diri para santri kepada Allah SWT sehingga lebih mudah meraih cinta-Nya (4). Meraih ilmu ladunny yang langsung dianugerahkan oleh Allah SWT kepada para santri. (5). Meraih derajat sebagai wali (kekasih) Allah SWT.   Sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW. dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah RA. :

Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka ia benar-benar menyatakan peperangan dengan-Ku. Tidak ada yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada-Ku yang sebanding dengan menunaikan semua kewajiban yang Kuperintahkan dan senantiasa mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka aku menjadi pendengaran, penglihatan, lidah, hati, tangan, dan kakinya. Ia mendengar melalui Aku, ia melihat melalui Aku, ia berbicara melalui Aku, dan berjalan melalui Aku”.[6]

d). Memperbanyak membaca al-Qur’an. Di antara hikmah dan manfaat membaca ayat-ayat suci al-Qur’an adalah mendekatkan diri kita kepada Allah SWT sehingga hati kita akan merasa tenang dan terhindar dari kegelisahan; terbukanya hati dan pikiran sehingga memudahkan untuk meraih imu yang bermanfaat; membuka pintu-pintu rizki yang halal sehingga insya Allah semua kebutuhan hidup terpenuhi; menambah pahala, karena membaca al-Qur’an merupakan salah satu bentuk amal sholeh; serta menjadikan al-Qur’an sebagai syafa’at (penolong) pada hari kiamat. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Umamah RA. :

“Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at (pertolongan) kepada orang-orang yang membaca (dan yang mengamalkannya)”.[7]

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dari sahabat Utsman ibn ‘Affan RA. : 

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajar al-Qur’an”[8]

e). Memperbanyak berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT. Kata Dzikir, berasal dari bahasa Arab : ذَكَرَ – يَذْكُرُ – ذِكْرًا   yang berarti; mengingat sesuatu di dalam hati atau menyebutnya dengan lidah.[9] Dengan demikian, kata الذكر  memiliki persamaan arti dengan kata الحفظ yang berarti mengingat atau menghafal. Hanya saja, kata الحفظ  berkonotasi menyimpan ingatan, sedangkan kata الذكر  berkonotasi mengungkapkan atau menghadirkan ingatan. Menurut al-Raghib al-Asfahani, kata dzikir terkadang diartikan sebagai “suatu keadaan jiwa yang dengan keadaan tersebut memungkinkan bagi manusia untuk mengingat-ingat pengetahuan yang telah dimilikinya”; dan terkadang diartikan sebagai “hadirnya sesuatu di dalam hati atau ucapan”.[10] Sedangkan pengertian “Dzikr” adalah menyebut Allah atau mengingat kebesaran dan keagungan-Nya atau mensyukuri segala ni’mat-Nya dengan penuh kesadaran disertai pengakuan terhadap kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya serta berjanji akan mematuhi segenap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.[11] Sedangkan berdoa artinya memohon sesuatu kepada Allah SWT.

Para santri, kyai (guru) dan wali santri sangat dianjurkan untuk membanyak berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT agar selalu diingat oleh Allah SWT sehingga diberikan berbagai kemudahan dalam hidup, terutama dalam meraih ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 152 :

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 186 :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

  1. Menjauhi berbagai macam perbuatan maksiat atau dosa, seperti mencuri, berzina, mengkonsumsi minuman keras dan narkoba. Berbagai perbuatan maksiat atau dosa tersebut menimbulkan murka-Nya dan menjauhkan pelakunya dari rahmat-Nya, sehingga menyebabkan hatinya gelap gulita dan tidak mampu menangkap ilmu dari-Nya, karena ilmu adalah cahaya Allah yang tidak akan diberikan kepada orang yang durhaka kepada-Nya. Sebagaimana telah difirmankan al-Muthaffifin ayat 14 :

“Sekali-kali tidak (demikian). Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”.

Demikian juga ucapan Imam Syafi’i yang sangat terkenal di kalangan para santri pondok pesantren salafiyah :

”(Suatu ketika) aku mengeluhkan keburukan hafalanku kepada guruku, Syeh Waki’. Kemudian beliau memberikan petunjuk kepadaku agar aku meninggalkan perbuatan maksiat. Beliau juga menginformasikan kepadaku, bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang suka berbuat maksiat”.  


[1] M. Qurasih Shihab, “Mukjizat al-Qur’an”, (Bandung: Mizan, 1995). Cet. Ke 1 hal. 70 – 71

[2]Muahmmad Usman Najati, “Al-Qur’an Wa ‘Ilm al-Nafs”, (terjemahan Ahmad Rafi’i Usmani, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Pustaka, 1985), h. 304

[3] Muhammad Syakir, Washoya al-Aba’ Li al-Abna’, Maktabah Daar al-Mujtaba, tt. tt. h. 8 

[4] Al-Imam Abi Zakaria Yahya ibn Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Riyadu al-Sholihin, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Jakarta, 2010, h. 300

[5] Ibid.

[6]Muhammad bin ‘Isma’il Abu ‘Abdullah al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar,…..,  juz ke-20, h. 158.

[7] Al-Imam Abi Zakaria Yahya ibn Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Loc. Cit. h. 287

[8] Ibid.

[9] Luwais Ma’luf, Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam,(Beirut: Daar al-Masyriq, 1986), Cet. ke-33,  h. 236

 [10]Al-Raghib al-Asfahani, Mu’jam Mufradat Alfadz al-Qur’an,(Beirut: Daar al-Fikr, tth.),  h. 181 mengungkapkan sebagai berikut :

الذكر تارة يقال ويراد به هيئة للنفس بها يمكن للإنسان أن يحفظ ما يقتنيه من المعرفة وتارة يقال لحضور الشيئ القلب أو القول ولذلك قيل الذكر ذكران ذكر بالقلب وذكر باللسان.

[11] Lihat Fachruddin Hs. Ensiklopedi al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), jilid 2, h. 629.

Artikel

Ngaji Kitab Tasawuf Dari Ulama Syam

Published

on

Turki, JATMAN.OR.ID – Kitab Tasawuf Risalah Mustarsyidin karya Imam Haris Al-Muhasibi (243 H) seperti sebuah ceramah yang ditulis, tanpa bab dan tema mengalir bahkan kadang ada beberapa tema yang diulang. Alhamdulillah kemarin pagi langsung dibaca khatam selama 2 jam oleh Syekh Dr Khaled Kharsah.

Karena khatam saya upayakan untuk merekonstruksi dalam bacaan ringan tanpa menghilangkan subtansi, agar orang yang baru memulai belajar Tasawuf seperti saya dapat dengan mudah memahami. Sebab meskipun kitab ini berukuran kecil namun menjadi rujukan beberapa kitab Tasawuf besar seperti Ihya’ Ulumuddin, Qut Al-Qulub, Risalah Qusyairiyah dan sebagainya.

Saya mengawali dari hal. 90. Sebab bahasan utama dari kitab Tasawuf adalah menjernihkan hati, membersihkan jiwa atau menyucikan kalbu.

قال بعض الحكماء مثل القلب مثل بيت له ستة أبواب ثم قيل له احذر ألا يدخل عليك من أحد هذه الأبواب شئ فيفسد عليك البيت فالقلب هو البيت والابواب اللسان والسمع والبصر واليدان والرجلان والشم فمتى انفتح باب من هذه الأبواب بغير علم ضاع البيت

“Hati, ibaratnya adalah rumah dengan 6 pintu. Pintu-pintu tersebut harus dijaga. Demikian pula, hati memiliki 6 pintu, yakni mata, mulut, telinga, hidung, dua tangan dan kaki. Bila ada pintu yang tidak dijaga maka akan ada maling yang mencuri dar dalam rumah.”

Syetan akan berupaya masuk ke dalam hati karena hati adalah pusat kendali dan kontrol. Jika hati baik maka baik seluruh anggota tubuh. Dan jika hati rusak maka rusak seluruh tubuh (HR Muslim).

Kewajiban mulut adalah berkata jujur baik saat senang atau marah. Menahan ucapan baik saat menyendiri atau banyak orang. Sebagaimana terdapat dalam hadis:

ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﺑﻌﻤﻞ ﻳﺪﺧﻠﻨﻲ اﻟﺠﻨﺔ ﻭﻳﺒﺎﻋﺪﻧﻲ ﻋﻦ اﻟﻨﺎﺭ

“Wahai Rasulullah, beritahu kepadaku sebuah amalan yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka…”

Diantara jawaban Nabi shalallahu alaihi wa sallam:

ﻭﻫﻞ ﻳﻜﺐ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ اﻟﻨﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﻫﻬﻢ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﺎﺧﺮﻫﻢ ﺇﻻ ﺣﺼﺎﺋﺪ ﺃﻟﺴﻨﺘﻬﻢ

“Bukankah manusia dijerumuskan ke neraka tidak lain karena perangkap mulut mereka sendiri?” (HR Tirmidzi)

Mata juga memiliki tugas, yakni memejamkan mata dari hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang dirahasiakan agar tidak dilihat. Sebagaimana dalam hadis:

«اﻟﻨﻈﺮﺓ ﺳﻬﻢ ﻣﺴﻤﻮﻡ ﻣﻦ ﺳﻬﺎﻡ ﺇﺑﻠﻴﺲ ﻟﻌﻨﻪ اﻟﻠﻪ ﻓﻤﻦ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﺁﺗﺎﻩ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻳﺠﺪ ﺣﻼﻭﺗﻪ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ»

“Penglihatan adalah panah beracun dari iblis, semoga Allah melaknatnya. Barangsiapa meninggalkan pandangan (yang terlarang) karena takut kepada Allah maka Allah akan memberikan iman yang dapat ia rasakan manisnya iman dalam hatinya”

Syekh Dr Khaled Kharsah mengutip takhrij dari Syekh Abu Ghuddah terkait riwayat hadis tersebut:

هناك روايات عديدة في الحاكم والطبراني في الكبير باسانيد ضعيفة

Ada banyak riwayat tentang hadis tersebut oleh Al-Hakim dan Thabrani dengan sanad yang dhaif (hal. 93)

Jika hati terlanjur sakit maka penyakit hati diobati (hal. 56)

1. Prasangka buruk

واحم القلب عن سوء الظن بحسن التأويل

Jagalah hati dari prasangka buruk dengan takwil yang bagus

2. Iri hati

وادفع الحسد بقصر الامل

Singkirkan iri hati dengan angan-angan yang pendek

3. Sombong

وانف الكبر بسلطان العز

Buang kesombongan dengan keagungan Allah

4. Menjaga amanah

واحفظ امانتك بطلب العلم

Jaga amanah dengan ilmu

5. Musibah

واستعد الصبر لكل موطن

Persiapkan sabar di semua tempat

6. Nikmat

واصحب النعمة بالشكر

Bersyukur atas nikmat

7. Selalu minta tolong kepada Allah

واستعن بالله في كل أمر

Minta pertolongan Allah dalam setiap hal

8. Tekun

وكل عمل تحب تلقاه به فألزم به نفسك

Setiap amal yang engkau senangi untuk menghadap kepada Allah maka teguhkan hatimu

9. Menghindari keburukan orang lain

وكل أمر تكرهه لغيرك فاعتزله من اخلاقك

Jika tidak senang dari orang lain maka hindarilah

10. Selektif memilih teman

وكل صاحب لا تزداد به خيرا في كل يوم فانبذ عنك صحبته

Jika ada teman yang tidak menambah kebaikan bagi mu maka jangan berteman dengannya

11. Menerima kesalahan orang

وحصن عملك باداب أهل الحلم

Jaga amalmu dengan akhlak mulia

12. Memaafkan

وخذ بحظك من العفو والتجاوز

Sediakan pintu maaf

Oleh: KH. Ma’ruf Khozin

(Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur)

Continue Reading

Artikel

Kelahiran Cahaya Peradaban: Analisa Pergerakan Nabi Muhammad Saw

Published

on

Bekasi, JATMAN.OR.ID – Bayi agung dari klan Bani Hasyim yang lahir pada 12 Robiul Awal tahun 570 M (dalam pendapat lain disebut 571 Masehi) lahir dalam masa konflik itu bernama Muhammad Saw. Bangsa Arab mungkin tidak pernah memprediksi bahwa di tanah panas itu, akan lahir manusia yang mampu mambangun mercusuar peradaban umat manusia kurang dari 1 abad.

Komunitas Yahudi khususnya, mereka menafsirkan bahwa akan ada penerus di dalam komunitas mereka yang akan memperjuangkan “Tanah yang dijanjikan” sebagaimana Musa memperjuangkan kaumnya dari penindasan Fir’aun. Walaupun beberapa Pendeta Yahudi dari mereka yang ahli kitab, juga dari pendeta Nasrani mengakui bahwa akan ada Jabang Bayi yang nanti akan meneruskan Risalah Nabi Ibrahim As., Musa As. dan Isa As. di dalam sejarah Agama Samawi.

Mengapa saya menyebut sebagai Tahun Konflik? Pertama, bahwa pada saat itu, Tanah Makkah yang telah menjadi tempat ziarah seluruh manusia, diserbu oleh Tentara Abrahah yang berambisi menghancurkan Ka’bah yang dibuat oleh Bapak Agama Samawi, Ibrahim As. Mereka iri karena tempat tersebut dijadikan sebagai ritus besar manusia dari berbagai penjuru, khususnya mereka yang bertauhid, untuk kembali mengingat Ibrahim beserta keluarganya. Dapat kita lihat bahwa Abrahah dan Pengikutnya merupakan penganut Kristen dan memiliki tempat ritual sendiri, ia ingin menghancurkan Kabah karena ingin tempat ritualnya menjadi tujuan utama. Menurut Prof. Quraish Syihab, dalam tafsirnya di Surah Al-Fil, menerangkan, bahwa pada Surah Al-Fil ada kata “Kaid” yang berarti ada motif atau sesuatu yang tersembunyi di balik penyerangan Abrahah. Kaid tersebut adalah kedengkian Abrahah terhadap masyarakat Makkah yang mendapatkan keuntungan materi dan kemuliaan akibat banyaknya orang yang mengunjungi Ka’bah.

Kedua, karena pada saat itu terjadi saling klaim antara umat Yahudi dan Nasrani, bahwa Nabi yang meneruskan risalah ialah lahir dari kelompok keduanya.

Muhammad Saw. yang Agung itu kemudian lahir sebagai Bayi yang dicita-citakan agama samawi sebelumnya. Ia lahir dari Bangsa Arab keturunan Abd Manaf, Keturunan Abdul Mutholib, tetua pemegang kunci Ka’bah. Di bawah kendalinyalah Ka’bah diurus. Karenanya beliau tidak pernah menyembah Patung. Karena faham bahwa Tuhan yang disembah adalah Tuhan yang disembah Ibrahim. Bukan Berhala buatan manusia, sebagaimana orang Arab lain kebanyakan menyembahnya. Keluarga keturunan Muhammad kemungkinan besar memahami Sejarah Kenabian karena ketika ditarik garis keturuannya yaitu sampai kepada Ibrahim As melalui Ismail As.

Sebelum lahir, Nabi Agung Muhammad Saw. sudah dalam keadaan Yatim. Ayahnya meninggal pada saat ia masih di dalam kandungan.

Kondisi bangsa Arab pada waktu itu tergolong mapan soal Kesejahteraan (wealth) namun mereka mengalami sebuah disintegrasi Budaya. Hal ini bisa kita lihat akan majunya perdagangan internasional. Bahkan dalam sebuah Teori Genealogi penyebaran Islam, orang Arab sudah berdagang ke Negeri Cina. Bangsa Arab hidup berklan (Clan) dan dipimpin oleh seorang Syaikh, yang memiliki hak prerogatif untuk mengatur harta rampasan perang dan menentukan perang atau tidaknya sekelompok klan. Karakter dipengaruhi lingkungan. Arab ialah tanah panas yang kering, tak heran bahwa mereka mesti berkelompok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan memiliki tatanan politik dalam urusan perang.

Dalam perspektif Sosiologi dan Antropologi, Muhammad Saw. dilahirkan dari Klan Tua, yang dihormati oleh klan-klan lain. Hal tersebut kemudian tidak heran Abdul Mutholib menjadi pemegang kunci Ka’bah. Ketika lahir dari perut Ibunda Aminah, Nabi Muhammad diarak dan diadakan upacara sebagai bentuk penghormatan bahwa telah lahir bayi dari Klan Tua yang terhormat.

Sepertinya jika membuka sejarah, Muhammad sebagai bayi dan masa anak-anak justru seringkali menghadapi situasi yang menyedihkan. Hal ini mungkin dinamakan sebagai “Situasi Ambang Batas”. Bagaimana mungkin Anak yang lahir sudah ditinggal Ayahnya dan ketika umur 6 Tahun menjadi Yatim Piatu dapat membawanya menjadi Pemimpin terkemuka yang sukses mendidik masyarakat arab yang mengalami disintegrasi Budaya parah? Perbudakan, Judi, Membunuh Bayi perempuan, kesalahan orientasi spiritual telah terjadi di masa Muhammad kecil. Jelas secara genetik, intelektualitas Muhammad menolaknya. Inilah awal mulanya ia mentransfigurasi diri dan mentrasformasi masyarakat secara zohir dan batin. Ia akan melampaui “Kemampuan ambang Batas” dirinya sebagai manusia biasa.

Situasi ambang Batas yang dimaksudkan ialah pengalaman merespons keadaan tersulit dalam hidup seseorang. Hal tersebut membutuhkan kemampuan batin dan intelek agar dapat mengendalikan Stimulus (di luar) dan Respons (di dalam) diri Nabi.

Pengalaman menyedihkan, kesulitan hidup, serta kritik atas Budaya bangsanya merupakan hal yang membuat dirinya mampu melampaui manusia biasa sebagai manusia pada umumnya. Bekal-bekal seperti keturunan yang membuatnya memiliki previlage, berada dalam situasi Ambang Batas, serta karakteristik kepribadian yang kuat, ialah modal awal Nabi Muhammad SAW. Hidupnya selalu penuh dengan tantangan dan hampir tidak pernah mengalami “fase nyaman”.

Benar bahwa ketika Muhammad berumur 40 tahun, mengalami fase yang disebut sebagai “menarik diri” (Teori ini seperti dikemukakan Sejarawan Toynbee dalam A Study Of History hal tersebut terjadi pada semua Tokoh Sejarah yang memiliki Kemampuan besar pada Perubahan umat Manusia). Ini merupakan puncak dari Muhammad Saw melepaskan kemampuan biasanya kepada kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki orang lain. Situasi puncak ini merupakan pencerahan bagi dirinya dalam menghadapi realitas eksistensi masyarakatnya. Ia mempelajarinya sembari mencari inspirasi dari keadaan hening. Dalam istilah Jawa, ini dinamakan Tapa. Tapa melepaskan sifat-sifat manusia biasa. Dalam diskursus sejarah, sangat sering ditemukan laku ini pada orang-orang yang membawa perubahan besar. Proses tersebut dinamakan Transfigurasi. Mengolah kepribadian lama, menjadi lebih mumpuni menghadapi masalah.

Sampai akhirnya dia Kembali dalam keadaan yang lebih siap. Kekuatan spiritualitas pribadinya membimbingnya untuk secara terang melakukan transformasi sosial.

Kita menjadi tidak heran kemudian beliau mampu mengemban dua tugas secara langsung dan sukses. Selain sebagai Sayyidin Ing Alaga (pemimpin revolusi) dan Sayyidin Panata Agama (pemimpin spiritual) bagi masyarakat Arab.

Kekuatan konsolidasinya seperti air yang membasahi Kapas. Karena ditopang berbagai macam kemampuan. Ia mempunyai simpul-simpul pergerakan yang kokoh. Terlebih sahabatnya yang tak lain adalah mertua, ponakan, serta menantunya. Muhammad mengikatnya secara genetik. Sehingga kuat sekali pengaruhnya.

Agamanya, adalah agama yang rasional, dan membawa rasa spiritual ke arah yang lebih tinggi. Dari Tuhan yang dibuat, menjadi Tuhan yang membuat. Dari Tuhan yang terlihat dan lemah, ke Tuhan yang Tidak terlihat (namun meliputi) dan Maha Kuat. Agamanya menghargai Eksistensi manusia. Ia melarang praktik Budaya membunuh anak perempuan. Dia juga menyampaikan bahwa seumur hidup seorang anggotanya, adalah belajar. Sudah pasti ia menginginkan bahwa masyarakatnya dapat menjadi kelompok di dunia yang intelek tetapi memiliki rasa penghargaan terhadap eksistensi manusia.

Muhammad Saw. adalah manusia yang patut dipelajari fikir dan geraknya. Sayangnya kita mungkin jarang sekali yang mengkajinya. Padahal secara keilmuan, beliau sedang mempraktikkan bagaimana kita dapat mengantarkan sebuah bangsa yang Tandus, yang berkarakter keras ke berbagai belahan dunia dan mengatakan bahwa “Aku berhasil mengubahnya”.

Semoga Allah menyebarkan wewangian di kuburnya yang Mulia, dengan wangi Kebijaksanaan, dan Teladan kepada seluruh Umat Manusia.

Bekasi, 11 Oktober 2021/ Robiul Awal 1443 H

Fajar Chaidir Qurrota A’yun
(Ketua PK MATAN STAI HAS Bekasi)

Continue Reading

Artikel

Model Manajemen Kepemimpinan Transformasional di Bidang Pendidikan

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Mutu proses pendidikan dianggap baik apabila sumber daya sekolah mampu mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu bagi peserta didik. Hal-hal yang termasuk kerangka mutu proses pendidikan ini adalah kesehatan, keakraban, saling menghormati, kepuasan, dan lain- lain.

Hasil pendidikan dikatakan bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurkuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajran tertentu. Selain itu, mutu pendidikan dapat dilihat dari tertib administrasi.

Salah satu model kepemimpinan pendidikan yang diprediksi mampu mendorong terciptanya efektifitas institusi pendidikan adalah kepemimpinan transformasional. Jenis kepemimpinan ini menggambarkan adanya tingkat kemampuan pemimpin untuk mengubah mentalitas dan perilaku pengikut menjadi lebih baik dengan cara menunjukkan dan mendorong mereka untuk  melakukan  sesuatu yang kelihatan mustahil.

Konsep kepemimpinan ini menawarkan perspektif perubahan pada keseluruhan institusi pendidikan, sehingga pengikut menyadari eksistensinya untuk membangun institusi yang siap menyongsong perubahan bahkan menciptakan perubahan. Sejalan dengan yang diungkapkan O’ Leary (2021) menyatakan bahwa Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seorang manager bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru.

Seiring dengan perubahan kepemimpinan kepala sekolah atau madrasah dalam hal ini pondok pesantren, karena aturan regulasi dari pemerintah melalui peraturan kementrian agama yang ada, maka manajemen kepemimpin juga akan mengalami perubahan. Pondok pesantren adalah salah satu model pendidikan Islam Khas Nusantara.

Secara garis besar metode pendidikan di Pesantren adalah penggabungan antara metode pendidikan modern dan tradisional. Penggabungan dua metode ini didasarkan pada tuntutan zaman, bahwa, kita tidak dapat mengelak dari tantangan, perkembangan, dan kemajuan zaman dengan segala perniknya, tetapi juga kita sepatutnya tidak melepaskan nilai-nilai tradisional yang biasanya mengajarkan tentang nilai-nilai luhur budaya dan agama.

Dr. Suryadi selaku Koordinator Program studi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Al-Ashiriyyah Nurul Iman Parung Bogor, memberikan pelatihan terhadap kepala sekolah, guru, santri dan mahasiswa/I dari pondok pesantren tersebut, yang berjumlah 400 peserta via zoom (22/09).

“Ekspektasi pelatihan ini adalah Menjadikan pondok pesantren Sebagai role model dalam menerapkan model kepemimpinan transformasional bidang Pendidikan,” ungkap Suryadi.

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini diawali dengan Paparan secara Umum oleh Dr. Suryadi, dilanjutkan oleh dr. Santi Anugerahsari, SpM, M.Sc, FISQua (Kepala SMF Mata RSUD Koja)  menyampaikan materi tentang manajemen kepemimpinan di era covid: cara hidup sehat di era pandemic, dilanjutkan oleh  Nining Parlina, S.Pd. Gr., M.Si (Han) menyampaikan materi tentang Manajemen Kepemimpinan : praktik Mindfullness sebagai strategi Manajemen Stress dikalangan pendidik di era disrupsi.

Materi dilanjutkan oleh Rihlah Nur Aulia,MA (Dosen dan peneliti Fakultas Ilmu Sosial UNJ) memperkuat materi  dengan tema Karakteristik Kepemimpinan Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam.  Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh pemateri dari kepala sekolah SMAN 36 Jakarta bapak Drs. Moch Endang Supardi, M.Si., M.Pd menyampaikan Materi tentang Kepemimpinan Transformasional kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di persekolahan. Selanjutnya pemateri pamungkas dari kepala Sekolah SMAN 109 Jakarta menyampaikan materi tentang Kepemimpinan Transformasional dalam manajemen kesiswaan.

Pelatihan ini mendapatkan apresiasi dan antusiasme yang tinggi dari semua peserta, dibuktikan adanya pertanyaan mendalam dari tiap materi yang disampaikan oleh pemateri.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending